Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 110


__ADS_3

Arthur dan gengnya kini masih bertarung bersama para musuhnya. Arthur bahkan tidak memandang bulu musuhnya itu. 


Semua orang yang ada di lokasi penyerangan masih bertarung sengit, dengan sekuat tenaga mereka. Ada yang saling memukul dengan tangan kosong, mengunakan benda tajam dan juga senjata api.


"Awas,! Teriak Natan saat sebuah peluru mengarah kepada Jenny yang sedang asyik membantai para musuh yang menyerangnya.


Dengan gerakan cepat Natan berlari kearah Jenny dan mendorongnya bersama dirinya, sehingga mereka berguling di tanah, peluru pun meleset dan mengenai musuh yang lain. Jenny yang murka segera melemparkan belati yang ia pegang kearah pria itu dan mengenai tepat di jantungnya.


"Wow. Lemparan yang sangat tepat sasaran." Puji Natan.


Pria itu bangkit dari atas tubuh Jenny, setelah itu ia mengulurkan tangannya untuk membantu wanita dibawahnya berdiri. Jenny menerima uluran tangan pria diatasnya dengan tersenyum tulus.


"Terimakasih," ucap Jenny tulus, saat berhasil bangkit dari tanah.


"Berhati-hatilah dan perhatikan sekeliling mu, jangan terlalu asyik dengan dunia mu, sehingga melupakan keselamatan mu sendiri." Ucap Natan serius memberikan peringatan penting kepada wanita manis dan imut di depannya.


"Baik, terimakasih atas sarannya." Sahut Jenny."


"Baiklah mari kita basmi mereka dulu, setelah itu kita lanjut mojok."


"Mojok apa.?


"Lupakan," 


"Eh, culun mesum, katakan padaku mojok apa.?"


"Awas di belakang mu," seru Natan.


Jenny pun menegok kebelakang dan sebuah tinjuan hampir saja mengenai wajah imutnya. untung saja wanita itu cepat mengelak. Jenny membalas pria yang menyerangnya dengan bogeman di perut pria gempal itu dan bukan di situ saja, Jenny juga menendang alat vital pria itu untuk membuat lawannya yang memiliki tubuh besar itu tumbang. Saat pria itu sudah kesakitan Jenny tiba-tiba membanting tubuh besar Pria itu keatas tanah dan terakhir Jenny menginjak leher pria itu hingga tewas.


Tak lama datang lagi beberapa orang menyerang wanita bermata empat itu. Jenny meraih samurai yang berada di punggungnya.


"Sret." 


"Sret." 


"Sret."


Jenny membasmi para musuh itu tanpa ampun dengan menyerang area, jantung leher dan juga perut lawannya.


Penampilan wanita imut itu kini berubah bagaikan seorang pembunuh mengerikan dengan percikan darah di seluruh tubuhnya. 


Jenny pun kembali membabat dan membasmi para musuh yang kebanyakan sudah tumbang dan tinggal tersisa sedikit.


Natan tersenyum melihat keberanian wanita mungil dan imut itu. Penampilan boleh culun tapi jangan tanyakan soal keberanian dan kegerian wanita ini.


Natan pun ikut menghabisi musuh mereka yang tinggal sedikit itu. 


"Hei, …" teriak Natan memanggil Jenny.


Jenny menoleh sambil melawan musuhnya.


"Ikut aku," suruh Natan sambil mengedikkan kepalanya kearah rumah kayu itu.


Jenny mengangkuk dan wanita mungil itu melayangkan samurainya tinggi dan mengarahkannya tepat di area kulit di atas jantung musuhnya. 


"Sret." Samurai yang ditangan Jenny kini menyayat kulit pria itu tepat di dadanya. Pria itupun tumbang dengan darah mengucur keluar dari luka menganga lebar di atas jantungnya.


"Ternyata kau begitu mengerikan, bidadari bermata empat." Sinis Natan.


Jenny tak menimpali ucapan Natan. Ia menatap sekelilingnya sambil mengikuti langkah Natan memasuki rumah kayu itu.


"Kim dan tuan Arthur ada didalam.?"


"Hum, hati-hati disini banyak perangkat berbahaya."

__ADS_1


"Darimana kau tau.?"


"Karena aku memiliki enam mata." 


" Enam mata.?"


"Hu' um."


"Mata apa saja, aku baru tau ada manusia memiliki enam mata.!" Sahut Jenny.


"Nanti aku beritahu, ok."


"Ck, kau membuatku penasaran."


"Kau juga membuat salah satu dari diri ku penasaran,"


"Apa.?"


"Sesuatu yang tersembunyi."


"Apa.?"


"Lupakan."


"Ck, kau begitu menyebalkan."


"Awas,! Tegur Natan dan menarik jenny ke sisinya, ketika sebuah perangkat senjata tajam hampir mengenai jantung mereka."


Jantung Jenny berdebar kencang dan wajahnya mendadak pucat.


"Kau tidak apa-apa.?" Tanya Natan.


Jenny hanya mampu menggeleng pelan dengan wajah yang masih shock.


"Apa tempat ini begitu banyak perangkat.?"


"Hum, banyak.  Bahkan disekeliling tempat ini di pasangin perangkat." Ujar Natan sambil menatap sekeliling yang memang terdapat banyak sekali perangkat yang mematikan. Jangan salah kacamata yang pria tampan ini kenakan bukan sembarang kacamata.


Kacamata Natan adalah kacamata khusus yang ia buat sendiri untuk memantau keadaan di sekeliling area musuh, seperti sekarang ini.


"Perhatikan langkah ku dan ikuti aku." Suruh Natan. Ketika kacamata canggihnya menangkap sebuah benda tajam tertanam di bawah lantai. 


Dengan hati-hati mereka melangkah melewati lantai marmer itu. Sedangkan Natan menghitung lantai yang tertanam sebuah perangkat disana.


"Tetap perhatikan sekeliling mu dan Jangan jauh-jauh dariku."


"Baik."


Mereka berdua pun menelusuri lorong itu dengan wajah binggung, bagaimana tidak, dari luar terlihat seperti rumah lusuh, Tapi setelah masuk kedalam terdapat banyak terowongan yang memiliki banyak sekali perangkat mematikan.


Tauatan tangan mereka tidak pernah terlepas selama menyusuri terowongan jebakan itu.


*


*


.


*


Sedangkan Kim dan Arthur kini berada disebuah ruangan bawah tanah, yang begitu luas dan terdapat banyak sekali para tawanan di dalam sini.


Manik tajam Kim menyoroti para tahanan itu satu bersatu dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca.


Netranya menangkap seorang bocah kecil yang sedang meringkuk di dalam tahanan itu yang begitu menyedihkan.

__ADS_1


Kim mendekati bocah itu yang sedang terisak pilu.


Kim berjongkok di depan bocah perempuan itu, yang wajahnya sudah di penuhi lebam di mana-mana.


"Hei," sapa Kim dengan suara serak.


Bocah itu mendongak kearah Kim, bocah itu langsung menjauh saat melihat dirinya, wajah begitu ketakutan dan gemetar.


"Jangan siksa saya, ... jangan, ... Daddy tolong." Racau bocah perempuan itu.


Kim hanya bisa mengeggam pagar besi sel itu dengan erat. Hatinya begitu sesak dan dadanya tiba-tiba menjadi ngilu.


Hatinya ikut hancur melihat keadaan bocah di bawah umur itu, harus menerima siksaan.


"Okusan," sela Arthur dan ikut berjongkok di dekat istrinya.


"Mereka begitu jahat, sayang. Lihatlah mereka begitu tega menyekap anak kecil yang tidak memiliki kesalahan. Aku tidak akan membiarkan ini terjadi pada anak-anak lain, kita harus melakukan sesuatu dan melempaskan semua tahanan disini, sayang." Racau Kim dengan air mata yang sudah membanjiri pipi mulusnya.


"Tenanglah, okusan. Lebih baik kita temukan dalang ini semua, setelah itu kita kembali kesini."


"Kau benar. Kita hari pokus mencari orang tua sialan itu."


"Ayo kita mencarinya dan kau harus berhati hati sepertinya dia sudah tau keberadaan kita." 


"Hm, bukankah itu lebih baik."


"Makanya ayo kita mencarinya,"


"Apa yang akan kau lakukan pada pria tua itu."


"Melenyapkannya."


"Apa sesuatu yang terjadi dengan mu dan  pria itu.?"


"Ada. Dialah yang menghabisi nyawa kedua orang tua ku dan kali ini aku yang akan menghabisi pria tua itu.


"Aku sudah mencarinya kemana-mana, ternyata dia bersembunyi di sini."


"benarkah.?"


"hum."


"ayo kita mencari pria tua itu, sebelum dia melarikan diri."


"hum, ayo."


Kim dan Arthur bangkit untuk mencari keberadaan pria tua yang menyebabkan kedua orang tuanya tiada. Kim akan mencari tahu tentang dalang dibalik terbunuhnya sang ayah.


Kim tidak akan memaafkan orang-orang yang melenyapkan kedua orang tuanya. Kim akan mencari dalang pembunuh kedua orang tuanya itu.


"anak kecil tunggu disini. aku janji akan datang dan membebaskan mu, bersabar, lah." ujar Kim, membuat anak kecil itu berbinar bahagia.


anak kecil itupun mengangkuk setuju.


tangan Kim terulur untuk menyentuh puncak kepala anak perempuan itu.


"tunggu di sini, ok."


"aku akan segera kembali untuk mu."


kembali bocah itu mengangkuk patuh.


Kim dan Arthur kini keluar dari ruangan itu dan mencoba menyesuri satu persatu ruangan itu.


untuk mencari pria tua yang menjadi dalang atas pembunuhan kedua orang tuanya.

__ADS_1


__ADS_2