Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 99


__ADS_3

"KELUARLAH.!" Pekik Arthur, pada gadis yang kini sedang berjalan kearahnya.


"Stop." Sentak Arthur.


"Ayolah, honey. Aku tidak pernah mengkhianati mu. Mateo, lah, yang menggoda ku, honey." Elak Calista mencoba megambing hitamkan Mateo, demi mengamankan posisinya sebagai kekasih dari seorang pengusaha terkaya.


"Bohong." Bentak Arthur.


"Aku tidak berbohong, honey." Ujar Calista dengan wajah memelas.


"Jangan mendekat.!" Hardik Arthur. Saat gadis itu sudah berjarak dua langkah darinya.


Arthur bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah hati-hati kearah jendela kaca besar.


"Come on, honey. Maafkan aku, kalau aku terlalu memaksa mu waktu itu." Mohonnya dengan memasang mimik wajah sedihnya.


"Aku cuma inigin memberikan, apa yang aku jaga selama ini padamu, honey. Apa itu salah.?" Sarkas Calista dengan tidak tahu malunya.


"Cih! Kehormatan apa yang kau banggakan, Calista? Kalau kau hanyalah wanita murahan." Jawab Arthur telak, membuat Calista bungkam.


"Aku sudah melihat apa yang kau lakukan bersama, Mateo dan aku juga mendengar, kalau kau hanya menjadikan ku ladang dolarmu saja." Perkataan Arthur lagi-lagi membuat Calista bergeming dan bungkam seribu bahasa.


"Jadi, keluarlah. Kita tidak ada urusan lagi, dan mulai saat ini kau bukan apa-apa ku lagi." Ucap Arthur tenang.


Calista hanya bisa menganga tidak percaya atas semua ungkapan dan perkataan pria yang dia kenal begitu polos, lugu dan mudah di bodohi itu, kini dengan tenangnya mengusir dirinya dan memutuskan hubungan mereka.


"Aku tidak akan mau berpisah dengan mu, honey." Sentak Calista, yang kini mengeluar Jurus air mata buaya nya.


"Tidak ingin berpisah denganku atau hartaku." Sahut Arthur sinis.


"Tidak honey, aku sangat mencintaimu. Jadi aku mohon jangan lakukan ini padaku." Mohonnya sambil berjalan kearah Arthur.


"Berhenti. Jangan mendekat."


"Aku tidak akan mau berpisah dengan mu, honey, dan kau harus menjadi milikku selamanya." Ujar Calista, mendekati Arthur sambil mulai melepaskan atasnya.


"APA YANG KAU LAKUKAN." Bentak Arthur yang mulai panik.


"Menjadikan kau milikku, honey." Jawab Calista dengan tersenyum menggoda.


"JHONATAN." Teriak Arthur.


"JHONATAN." Teriaknya lagi yang mulai panik, saat Calista sudah meloloskan atasnya yang meninggal cetakan gunung mengerikannya.


"Jangan mendekat." Pinta Arthur, ketakutan.


"Hei, kenapa kau begitu takut melihat tubuh indahku ini, honey."


"Menjauhlah, hus … hus ….!" Usir Arthur, seperti mengusir seekor kucing.


"Lihat aku, honey."


"T-tidak. Aku tidak akan mau melihat tubuh menakutkan mu itu. Jadi kumohon menjauhlah,"


"Natan,!!!!


"Ck! Aku yakin setelah aku merasakannya, kau akan ketagihan, honey. Goda Calista, yang kini sudah membelai dada bidang Arthur.


"Jangan menyentuh ku.!" Arthur menepis kasar telapak tangan gadis yang sudah setengah telanjang itu.


"Come on, honey. Mari kita bersenang-senang hari ini." Bisik Calista yang sudah merapatkan tubuhnya pada tubuh Arthur.


"Menjauhlah." Arthur mendorong tubuh Calista, kebelakang.


"Akh, kau jahat sekali, honey. Kau sudah berani menyakiti ku.!" Bentak Calista berang.


"Aku, tidak akan melepaskan mu, kau ini, honey. Kau harus menjadi milikku." Geramnya.


Calista bangkit dan segera mendekati Arthur yang mencoba melarikan diri. Tapi percobaan melarikan diri pria itu gagal saat gadis gila itu, menariknya kasar dan menghembuskannya ke atas sofa.


"A-apa yang ingin, k-kau lakukan.?" Tanya Arthur ketakutan.


Calista hanya terdiam dengan memasang senyum menggoda penuh arti. Gadis itu mulai membuka kancing bawahnya, yang kini sedang berdiri di hadapan Arthur. Calista layaknya seorang penjahat kelamin yang ingin menodai seorang lelaki.(adeh, … ini mah terbalik.)


"Jangan lakukan itu."

__ADS_1


"Menjauhlah dan lepaskan aku."


"Tidak akan, honey. Sebelum aku mendapatkan benih berharga mu." Sahut Calista.


"J-jangan."


"Tolong, … tolong … tolong!"


"JHONATAN, TOLONG AKU.!"


"Natan, tolong.!!!


"SIAPAPUN DI LUAR SANA TOLONG AKU.!!!


*


*


*


Sementara di luar ruangan.


Asisten Arthur yang tak lain dan tak bukan, sepupunya sendiri Jhonatan. Kini pria gagah dengan wajah bak dewa Yunani itu sedang menempelkan telinganya di daun pintu ruangan Arthur. Ia sejak tadi mencuri dengar, perdebatan Arthur dan Calista.


pria itu juga tak menghiraukan permohonan, menyedihkan sepupu manjanya itu. Pria dengan kacamata bening yang menghiasi wajah tampannya, berpikiran pasangan yang ada di dalam ruangan mewah itu sedang melakukan drama merajuk, yang sering ia saksikan pada pasangan aneh yang ada didalam.


"Cih! Drama lagi." Cibir Natan.


"Dasar anak mommy Gabriela, di kasih enak-enak nolak." Cibirnya lagi, yang masih menempel telinganya di daun pintu.


Kefokusannya terganggu, saat sebuah tepukan halus mengenai pundaknya.


Pria dengan kacamata bening itu, menoleh kebelakang dan mendapati Cleopatra di sana.


"Tuan, sedang apa.?" Tanya gadis dengan rambut kuning kecoklatan itu.


"Sedang mencuri." Sahut Natan, melirik sebentar pada gadis seksi di belakangnya.


"Mencuri.?" Cicit Cleopatra.


"Mencuri dengar." Sahut Natan cuek.


Cleopatra mengerutkan hidup oplasnya dan juga alis yang di sulam super tebal itu.


"Maksud anda.?"


"Shut. Diamlah, kau berisik sekali."


Mereka berdua tersendak saat mendengar suara sang big boss sedang meminta tolong. Dan terdengar begitu ketakutan.


"Tuan Natan, bukankah itu suara tuan muda, kato? Apa yang terjadi dengan beliau? Cepat tuan tolong dia." seru Cleopatra panik sambil mendorong punggung Natan.


"Shut. Diam."


"Tapi tuan, di dal-"


"Shut diam. Mereka sedang melakukan drama."


"Tapi kenapa tuan muda, Kato ketakutan, tuan.?!


"Dia memang seperti itu. Nanti juga kau akan mendengar desahaan mereka."


"Desaaha apa.?"


"Ck. ******* percintaan."


"Memangnya tuan muda sedang bersama kekasihnya, Tuan.?"


"Hum."


"Tapi kenapa tuan muda seperti ingin di nodai.?"


"Entahlah. Mungkin kekasihnya sedikit kasar."


"Mengerikan."

__ADS_1


Begitulah bisikan dua karyawan yang tidak punya akhlak ini. Dia tidak mengetahui ketakutan big boss mereka di dalam. Natan dan Cleopatra masih menempelkan kuping mereka dengan sangat baik, di daun pintu. kuping mereka seperti menggunakan lem terbaik dunia yang begitu eratnya menempel di daun pintu kokoh ruangan sang big boss.


Sesekali mereka mengerutkan kening atau mereka saling menatap binggung, saat pria menyedihkan di dalam sana meminta tolong.


"Sepertinya, tuan muda sedang di lecehkan, tuan.?!


"Apa tuan tidak kasihan."


"Shut, berisik."


"Kita dengarkan saja, suara desaah mereka."


"Tapi, sepertinya tuan muda, Kato sedang ketak-" ucapan Cleopatra terjeda saat mendengar suara lembut nan berat di belakang mereka.


"Siapa yang ketakutan.?" Tanya nyonya Eliza.


Cleopatra menoleh kebelakang dan ia pun segera menegakkan tubuhnya, saat mengetahui siapa gerangan yang menganggunya mencuri dengar, suara keributan di dalam ruangan big boss.


"Maaf, nyonya Eliza." Sahut Cleopatra ramah dan gadis itu melirik Kim yang berdiri tenang dengan wajah datar.


"Ehem." Nyonya Eliza berdehem untuk mengusik konsentrasi pria berkacamata yang sedang mencuri dengar itu.


"Tuan Jhonatan." Sapa nyonya Eliza.


"Tuan Jhonatan." Sapanya lagi.


"TUAN JHONATAN." Pekik nyonya Eliza.


"Ck! Apa." Sahut Natan menoleh sedetik dan bermaksud kembali ke posisinya, menempelkan telinganya di daun pintu, tapi niatnya terhenti saat dia merasa melihat bayangan seorang bidadari cantik yang jatuh dari surga berada di belakang ku, oh ya.


Segera saja Natan menolehkan leher panjangnya. Dan seketika pria berkacamata itu, melotot dengan raut terkejut atas apa yang ia lihat di hadapannya ini.


Wajah Pria itu mendadak menjadi binar kekaguman atas keindahan sosok peri di hadapannya yang begitu cantik.


"Apakah ini yang dinamakan, kau bidadari jatuh dari surga tepat di hadapan ku, oh ya." Gumam Natan yang maniknya kini berbinar dan di penuhi sinar bintang-bintang.


"Apa yang terjadi." Akhirnya sang bidadari jatuh dari surga itu, mengeluar suara lembut namun terkesan dingin. Ok berarti dia bidadari es." Gumam Natan.


"Tuan.?"


"Halo, hei tuan." Seru Kim, yang berusaha menyadarkan pria konyol di hadapannya.


"Hm, maafkan aku bidadari.!" Sahut Natan dengan senyum penuh pesonanya.


"Apa yang terjadi.?" Kim bertanya kepada Cleopatra, yang hanya mendapatkan kesinisan dari gadis itu.


"Nyonya Eliza.?" Kim bertanya kepada nyonya Eliza dengan raut binggung melihat tingkah karyawan disini.


"Maaf, nona muda." Jawab nyonya Eliza.


"Nona muda.?! Natan dan Cleopatra membeo bersamaan.


"Sejak kapan mommy Gabriela, punya anak gadis.?" Gumam Natan dalam hati.


"Minggir." Pintah Kim dingin saat mendengar jeritan suaminya di dalam.


Kim mendorong tubuh tinggi Natan kesamping, hingga pria itu terjungkal jauh dan mengenai meja kerja Cleopatra.


"Nyonya Eliza. Aku tidak mau melihat mereka lagi di perusahaan suami saya." Sarkas Kim dingin. Dan tak lama kemudian.


"Brakkk." Terdengar bunyi nyaring dari tendangan kuat Kim pada pintu kokoh ruangan big boss di perusahaan Kato group.


Natan, Cleopatra dan nyonya Eliza, membeliakkan manik mereka melihat kekuatan super, istri dari pewaris Kato group.


"Wow. Apakah bidadari surga jatuh dari langit, berubah menjadi wonder woman.?" Gumam Natan kagum.


Sedangkan nyonya Eliza dan Cleopatra hanya bisa meneguk air ludah mereka.


Mereka bertiga Kembali terkejut saat mendengar suara teriakan kesakitan dari dalam.


"Wow."


"Sepertinya ini seru, pertarungan antara bidadari rasa wonder woman vs boneka maneki buruk rupa, yang akan memperebutkan seorang pria manja kadaluarsa."


"Baiklah. Mari kita saksikan pertarungan ini."

__ADS_1



__ADS_2