Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 103


__ADS_3

"Ternyata istriku sangatlah mengerikan." Arthur mengacak rambut pendek istrinya gemes.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu? Kalau aku sangat suka hal yang menantang adrenalin ku." Sahut Kim dan segera duduk di bangkuan suaminya.


"Kau juga suamiku yang manis dan yang paling penting tahan godaan." Kekeh Kim dan menyelipkan ke dua tangannya di ceruk leher suaminya.


"Karena hanya kau yang bisa menggodaku, okusan." Jawab Arthur dan menarik pinggang istrinya. Dan detik berikutnya pasangan itupun saling menyesap dan melumut dengan lembut.


"aku merasa sudah tergila-gila padamu, okusan." Ungkap Arthur saat melepaskan tautan bibir mereka. Dia menatap lembut istrinya sambil membelai wajah tanpa bintik-bintik istrinya.


"Aku tidak akan mungkin tergoda oleh wanita model manekin, kalau aku saja memiliki istri yang begitu cantik."


"Wow. Kau sudah pandai menggombal suamiku."


"Kenapa tidak, kalau aku hanya menggombal istriku yang cantik ini."


"Oh, kau makin manis." Sahut Kim sambil melebar mata sipit suami dan tertawa terbahak-bahak.


"Kau mulai nakal yang, okusan." Balas Arthur dan menciumi seluruh wajah istrinya.


Mereka pun saling bercanda dengan diselingi cumbuan dan tawa renyah dari Kim.


Kemesraan penuh kehangatan itu harus terganggu, saat tiba-tiba dari arah belakang sebuah mobil Mercedes Benz hitam menabrak mobil mereka begitu kuat, sehingga Kim hampir terjungkal kebelakang, untung saja dengan gesip Arthur, menahan tubuh istrinya.


"Kau tidak apa-apa, okusan.?" Tanyanya dengan wajah khawatir.


Kim menggeleng dengan raut wajah terkejut.


Mereka heran siapa gerangan yang sudah berani mengganggu dan ingin melukai mereka.


"Brak."


"Brak."


"Brak."

__ADS_1


Kini mobil Mereka sudah terkepung oleh mobil yang sama, mobil Arthur sudah berada di tengah mobil para pengacau yang menggangu aktivitas bermesraan mereka.


Arthur melihat keselilingnya dan dia menajamkan mata sipitnya kearah mobil-mobil yang sudah mengepung mereka. Sedangkan Kim hanya bisa mengintip di balik pelukan suaminya. Sejak tadi Arthur tak sedikitpun melempaskan istrinya itu, dia begitu takut istri cantiknya terluka.


"Mereka siapa, sayang.?" Tanya Kim sambil mendongakkan kepalanya.


Arthur menundukkan dan mengecup sekilas bibir tebal istrinya itu. "Entahlah, okusan," sahut Arthur yang merangkul istrinya erat.


"Mereka musuh mu, sayang.?" Tanya Kim kembali dan melihat mobil yang berada di sebelahnya.


"Sepertinya bukan." Balas Arthur dan kembali menyembunyikan wajahnya istrinya ketika lagi-lagi mobil musuh menyerang mobil mereka.


"Tuan, kita harus bagaimana.?" Kali ini sang sopir yang bertanya dengan wajah binggung.


"Tenanglah dan jalankan terus mobilnya." Perintah Arthur dingin.


"Mereka terlalu banyak tuan.?!


"Hm, hubungi Jhonatan dan beri lokasi kita sekarang, suruhnya kepada sang sopir.


Sang sopir itupun melangsankan tugas yang diberikan tuannya, ia mengaktifkan Earpiece yang terpasang di telinganya dan melakukan panggilan kepada asisten Jhonatan.


"Brak." Lagi-lagi hantaman keras kembali menyerang mobil mereka.


"Bagaimana, apa kau sudah memberitahu Jhonatan.?"


"Sudah tuan."


"Baiklah, kita tinggal mengalihkan perhatian mereka sampai Jhonatan dan pasukan kita kesini."


"Siap tuan."


Sopir Arthur yang terlatih itupun, menginjak padel gas dan melaju kencang di jalanan cukup ramai di Los Angeles itu. Kini mobil mereka saling kejar-kejaran di jalan yang padat para pejalan kaki.


"Pasang seat belt mu, okusan." Pinta Arthur dengan raut wajah khawatir.

__ADS_1


"Eh, kenapa wajah mu begitu tegang." Sahut Kim.


"Aku hanya mengkhawatirkan mu, okusan.?"


"Tenanglah sayang dan mari kita lawan mereka, ok."


"Baiklah, okusan. Mungkin kita akan bersenang-senang kali ini."


"Hum. Semangat."


"Ok, semangat."


Mereka pun kembali tertawa dalam suasana yang berbahaya dan menegang. Sang sopir hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah aneh majikannya.


"Kau, memiliki senjata, sayang.?" Tanya Kim dengan binar wajah penuh harap.


"Aku hanya menyimpan beberapa belati dan samurai." Jawab Arthur.


"Oke. Sepertinya kita cari tempat yang aman untuk bersenang-senang, suamiku." Ujar Kim sambil mengerlingkan matanya.


"Aku setuju, okusan." Sahut Arthur dengan seringai.


"Ken. Bawa kami ketempat yang luas, agar kami lebih leluasa bermain-main."


"Bukankah begitu, okusan.?"


Kim hanya mengangguk dan mereka saling tersenyum devil.


"Kau siap, okusan." Tanya Arthur saat mobil mereka berhenti di sebuah lapangan sunyi yang dikelilingi oleh tebing.


"Hm."


"Waktunya bermain, okusan."


Mereka pun keluar dari mobil dengan masing-masing senjata di tangan mereka.

__ADS_1


Kim memegang dua belati yang sangat tajam. Sementara Arthur memakai samurai kesayangannya yang begitu mengkilat. Sementara sopir Arthur berdiri di belakang kedua majikan itu. Yang sudah bersiap untuk membasmi para buruannya.


__ADS_2