Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 94


__ADS_3

Masih di dalam kamar yang bernuansa romantis, yang habis di hiasi layaknya pasangan pengantin baru. Terlihat sepasang manusia telah tertidur lelap di atas ranjang yang sudah berantakan. Ranjang yang masih menyisakan sisa-sisa percintaan panas.


Itu terlihat ranjang yang di taburi kelompok mawar merah, berserakan di lantai, dan pakaian mereka yang terlihat seperti pakaian pengantin pun, ikut berserakan di lantai.


Manik mata coklat itu bertambah nyalang, saat maniknya berkeliaran menelisik semua barang-barang yang berserakan di mana-mana.


Wanita yang kini wajahnya sudah di banjiri oleh air mata kebencian dan sakit hati. Dadanya terasa perih dan sangat menyesakkan. Tangannya pun kini berdarah akibat gepalannya yang begitu kuat, sehingga kuku-kuku jarinya menancap di kulit telapak tangannya. Rasa perih ditangannya, tak sebanding dengan rasa sakit yang di rasakan di dalam dadanya.


Dia yang rela mempertaruhkan keselamatan nyawanya sendiri, demi bisa bertemu pria yang sudah mengisi hatinya sejak lama. Dia yang akan memberikan kabar bahagia tentang kehamilannya, kini harus mendapati sang suami, sedang menikmati tidur nyenyak bersama perempuan yang sangat ia kenal.


Manik coklat itu, kini menyoroti tubuh sang wanita yang tertidur dengan nyamannya di dada lebar suaminya. Dia tidak akan menerima ini semua, ia yang hidup menderita di penjara, sedangkan dua manusia dihadapannya malah asyik bercumbu dan tertidur nyenyak di atas penderitaannya.


Lotte mendekati pasangan yang terlelap itu, dengan langkah pelan. Ia mengambil benda tajam yang ada di wadah buah di atas nakes.


Lotte menyoroti tubuh wanita itu nyalang, serat akan permusuhan dan kebencian.


Wanita yang selama ini membantu dirinya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, mengajarinya tentang banyak hal. Seperti, mengajarinya hidup mewah, bersenang-senang, foya-foya dan yang paling penting dia mengajari sebuah kelicikan yang akan membuat lawannya bertekuk lutut padanya.


Siapa yang menyangka dirinya malah masuk dalam permainan licik wanita ini. Memanfaatkan dirinya untuk mendapatkan pria yang ia peluk erat. Dan menjadikan dirinya kambing hitam. Memberikannya keberanian untuk merebut Malvin dari Kimberly. Selalu memberikannya rencana agar bisa memisahkan, Malvin dan Kimberly.


Ternyata di balik itu semua ada yang diinginkan wanita ini, yaitu menjadikannya tumbal.


Apakah Sekarang dirinya akan menjadi mesin pencetak anak buat wanita ini.


"Apa, yang kau rencanakan, Mogan." Bisik Lotte di telinga Mogan. Membuat wanita itu mengeliyat dan melenguh.


"Selamat jalan, Mogan." Bisik Lotte lagi.


Belum sempat Mogan membuka matanya, sebuah benda tajam menusuk kulitnya tepat di atas dadanya. Mogan membeliakkan matanya terkejut, ketika Lotte tersenyum licik diatas wajahnya.


Lotte menekan benda itu, semakin dalam, dengan pandangan kebencian.


"Matilah kau wanita, sialan." Bisik Lotte.


"Akhhh." Pekik Mogan kesakitan.


"Lotte, apa yang kau lakukan." Lirih Mogan sambil memegangi dadanya yang kini mengeluarkan cairan yang berbau amis.


"Menghabisimu." Bisik Lotte.


"Akhhh." Teriakan Mogan dan kali ini berhasil membangun Malvin.

__ADS_1


Malvin yang mendengar suara kesakitan Mogan, langsung terjaga dan pria itu membolakan matanya saat melihat pemandangan di sampingnya.


Mongan yang kini sudah tergulai tak berdaya akibat tusukan benda tajam yang masih menancap di atas dadanya.


Malvin juga melihat Lotte dengan bringasnya menusuk berulang kali, wanita yang ada di samping.


Malvin mendorong Lotte kasar, hingga wanita itu terjungkal kebelakang dan membentur guci yang ada di kamar Malvin.


"Aahkk." Ujar malvin, dengan perkataan yang tidak jelas


"Aaa." Teriaknya mencoba membangun Mogan yang sepertinya sudah meregang nyawa.


"Akhh." Teriak Malvin kencang, sambil mengelus perut Mogan yang terdapat benihnya disana.


Malvin menatap Lotte tajam. segera pria itu bangkit dari sisi Mogan dan mendekati Lotte, yang menatapnya dengan wajah kecewa.


Malvin langsung menekan leher Lotte dan membenturkan tubuh Lotte Kedinding kamar pria itu. Dengan kemarahan yang sangat mengerikan, Malvin menekan leher Lotte kuat, membuat wanita itu, hampir kehabisan nafas, kalau ia tidak bertindak cepat dengan menusukkan benda tajam itu kelengan Malvin.


Tangan Malvin terlepas dari leher Lotte, saat benda yang ada di tangan wanita itu melukai lengannya cukup dalam.


Sedangkan Lotte, menghirup udara dengan rakusnya, dia lalu berdiri dari lantai saat dirinya merosot kebawah. Karena rasa sakit hati dan kecewa, Lotte mendekati Malvin dan tanpa berkata-kata Lotte langsung menancapkan benda itu di perut Malvin hingga berkali-kali.


"Matilah kalian semua pengkhianat." Lirih Lotte dengan suara, serak dan penampilannya kini sangat mengerikan. Cairan merah itu mengenai wajahnya dan juga pakaiannya.


Lotte menatap tubuh tak berdaya Malvin dan Mogan yang kini dibanjiri oleh cairan merah berbau amis itu. Lotte terkekeh sendiri seperti orang gila. Kekehan bercampur tangisan menakutkan.


"Hahaha." Lotte tertawa di selingi tangisan menyedihkan.


"Aku membunuhnya, haha." Aku membunuh mereka."


"Aku pembunuhan, hahaha."


"Mereka yang salah, sudah mengkhianatiku."


"Jadi mereka yang salah."


Lotte terus saja berteriak dan Meracau, bahkan tertawa sendiri. Dia bagaikan seseorang yang sudah kehilangan kewarasannya, akibat berbuatnya sendiri.


Dia menyoroti mayat malvin dan Mogan dengan senyuman dan tangisan.


"Aku, membunuh mereka," hahah." Dengar aku membunuh Meraka, hahha."

__ADS_1


*


*


*


Pagi sudah menyapa para makhluk bumi yang masih bergelut di bawah selimut tebal mereka. Cahaya emas yang indah sudah mulai menyinari di segala penjuru di kota metropolitan itu.


Sepasang mata coklat nan tajam itu, sejak tadi memindai pemandangan indah di sampingnya. Pemandangan hasil karya maha kuasa yang begitu sangat indah dan sempurna. Tak bosan-bosannya pria bermata sipit nan tajam itu, memandangi wajah istrinya yang masih terlelap. Wajah polos tanpa makeup itu begitu sangat menggoda imam-nya, yang kini mulai sedikit demi sedikit menurut, akibat aktivitas panasnya bersama sang istri, membuat tingkat kepolosannya memudar.


Kini yang ada di pikiran pria itu, adalah susu cap gunung kembar, rasa mochi dan tentu saja ada label halal-nya.


Jangan lupa gua ajaib sang istri yang selalu membuat si benda ajaib mendadak migren atau berdenyut-denyut, saat melakukan percobaan mencocok tanam. percobaan pertama dan seterusnya membuat dirinya tidak pernah puas, malahan ingin nambah lagi dan lagi, meskipun harus melalui bimbingan khusus dari sang istri.


Jari panjang Arthur, terulur untuk menyentuh seluruh wajah polos istrinya yang masih terlelap.


Arthur menyusuri wajah Kim, dari mata bulat, bermanik biru kehijau-hijauan, yang dilengkapi bulu mata lentik, tebal dan panjang, Jangan lupa alis istrinya yang indah terukir tanpa sulam apapun.


Jari itu berpindah kehidung, pipi dan terakhir bibir tebal istri yang mengandung pemanis alami, yang selalu membuatnya ingin mengecupi bibir seksi di hadapannya berkali kali.


Arthur memajukan wajahnya, bermaksud untuk mengecup bibir sang istri, tapi niatnya terhenti saat manik biru kehijau-hijauan itu terbuka.


"Ehe, maaf." Cicit Arthur gugup.


"Pagi." Sapa Kim. Wanita itu memberi kecupan manis di bibir sang suami.


"P-pagi. Balas Arthur gugup.


Pria itu bermaksud menjauhkan wajahnya di atas wajah istrinya, tapi Kim langsung merangkul punggung kokoh suaminya. Mereka kini saling menatap tanpa jarak. Kim berpindah memeluk ceruk leher suaminya dan kembali memberikan kecupan di bibir tipis sang suami dengan sedikit bumbu lumutan dan sesapan panas.


Arthur membalas cumbuan istrinya itu, dengan mengikuti cara permainan bibir dan lidah istrinya, yang begitu lihai dalam sesap- menyesap.


Cumbuan yang begitu menyenangkan di pagi hari itu, membuat suhu tubuh mereka memanas. Arthur bahkan lebih merapatkan tubuhnya ke tubuh sang istri.


Tanpa instruksi, tanpa bimbingan, tanpa gugup, tanpa rasa takut dan tanpa aba-aba, Arthur meraih salah satu, susu cap gunung kembar, rasa mochi, istrinya. Ia sejak tadi merasa terpanggil untuk menyapa gunung yang kini terasa hangat di telapak tangan kekar Arthur. Apalagi si pucuk gunung pink merekah itu, yang sejak tadi mengintip, seakan-akan memanggil dirinya untuk merasainya kembali, benda yang ada rasa manis-manisnya itu.


Ok skip. Ingat malam Jumat gais.


Jadi kita skip ajah, adegan nina-nuna-nonu-nya, di pagi hari. Kita lanjut malam ajah oke👍👍🤣🤣🤣🤣


__ADS_1


mampir yuk gais di karya teman akoh.


__ADS_2