
"Clek."
Pintu kamar terlihat terbuka dari luar dan seorang pria tinggi dan bertubuh kekar memasuki kamar itu, sambil memperhatikan ponselnya, tanpa menyadari keberadaan seorang wanita yang sedang berdiri di depan cermin.
"Apa, kau bisa menolong ku.?"
Sapaan suara lembut nan mendayu, mengejutkannya, Pria itu segera mengalihkan pandangannya dari benda pipih di tangannya dan, "glek," pria itu hanya bisa menelan salivanya kasar.
Saat netra coklat terangnya, di suguhkan oleh punggung mulus sampai di atas bagian dua benda padat yang menonjol dibagian belakang wanita itu.
"Glek." Kembali Arthur menelan salivanya, saat mendadak tenggorokannya terasa kering. Jangkuk seksinya pun tak henti-hentinya terlihat bergerak.
"Hei, … bisakah kau menolong.?" Kembali suara itu terdengar lembut menyapa Indra pendengaran Arthur.
"B-bisa." Sahut pria itu gugup.
"Kemarilah dan tolong aku." Pinta Kim, yang merasa kelelahan setelah berusaha menurunkan resleting gaun pengantin yang ia gunakan.
Dengan patuh, Arthur mendekati istrinya. Arthur menghentikan langkahnya setelah ia berjarak dua langkah dari Kim.
"A-apa yang harus aku bantu." Tanya Arthur gugup dan memalingkan wajahnya saat dia dihadapkan oleh keindahan punggung yang putih mulus.
"Oh, Tuhan. Apakah ini ujian untukku.?" Monolog pria yang kini sudah mendapatkan gelar suami.
"Mendekatlah." Perintah Kim tanpa menoleh kearah suaminya.
"A-aku, disini saja." Jawabnya yang mulai merasa gusar.
"Bagaimana kau bisa menolong ku, kalau kau tidak mendekat padaku." Sambung Kim dan dia menoleh kebelakang.
"Kemarilah cepat, aku sudah gerah." Perintah Kim kembali, saat suaminya tak bergerak sedikitpun.
"Gerah." Arthur membeo.
"Cepatlah." Sentak Kim.
Arthur mendekat kepada Kim dengan letupan jantung yang berdetak kencang dan tubuhnya mendadak gemetar.
Arthur sudah berada tepat di belakang punggung indah Kim. Ia bahkan memejamkan matanya, untuk menikmati aroma wangi yang tercium dari rambut dan tubuh istrinya. Arthur begitu menghayati aroma tubuh istrinya itu .
Kim menoleh kembali kebelakang dan mengejutkan suaminya.
"Bukalah cepat." Pinta Kim.
"Buka.?" Cicit Arthur.
"Hu'um."
"Turunkan resleting gaunku." Pinta Kim kembali.
"Resleting.?" Arthur kembali membeo.
"Iya, resleting gaun ini! Cepatlah aku sudah tidak tahan." Seloroh Kim.
"T-tidak tahan.?" Tiba-tiba saja pikiran pria itu mendadak kotor.
"Oh, Tuhan." Geram Kim.
"Kumohon cepatlah."
"T-tapi kenapa harus aku.?"
"Jadi kau mau aku menyuruh orang lain membuka gaunku dan kau mau tubuh indahku ini di lihat orang lain.?" Sarkas Kim.
Dengan segera Arthur menggeleng di belakang Kim seakan wanita itu bisa melihat gelengannya.
"Cepatlah." Pinta Kim pelan.
Dengan jantung yang mulai dag, dig, dug serr, Arthur mengarahkan tangannya kearah punggung Kim. Tangan gemetar milik Arthur mulai meraih resleting yang berbentuk sangat kecil itu.
"Cepatlah sedikit, kau begitu lamban." Seru Kim tidak sabaran.
"Ini, baru aku mulai." Cicit Arthur dengan nafas yang menderu kencang menyapu punggung Kim.
"Jangan seperti itu kau membuatku geli."
"A-apa.?
"Cepatlah, aku sudah tidak tahan."
__ADS_1
"Baik sabarlah sedikit lagi."
"Akhh."
"Kenapa.?"
"Kau, terlalu buru-buru."
"Sakit."
"A-apanya yang sakit."
"Kau mengenai kulitku."
"Astaga, maaf."
*
*
*
Sementara di luar kamar.
"Kenapa, Kim begitu tidak sabaran.?" Tanya Jenny di balik pintu kamar Arthur dan Kim.
Jenny dan mommy Gabriela yang di temani asistennya, sejak tadi berada di balik pintu kamar Arthur. Mereka mencuri dengar suara-suara dan juga berkata dari dalam kamar Arthur.
"Kenapa, Kim berteriak.?" Bisik Jenny kaget.
"Itu pasti karena kehebatan benda ajaib putraku." Seloroh mommy.
"Benda ajaib.?" Cicit Jenny.
"Iya. Benda ajaib Made in jepang dan Amerika." Ujar mommy antusias.
"Mommy, yakin benda ajaib putraku sangatlah hebat. Soalnya benda ajaib putraku, terbuat asli dari Amerika dan di produksi oleh mesin berkualitas tinggi dari jepang. Bukankah itu yang dinamakan, kombinasi pembuatan mesin yang bisa menghasilkan benda yang berkualitas." Seloroh sang mommy dengan hebohnya.
Sedangkan jenny hanya bisa mengerjap dengan mulut terbuka.
"Tutup mulutmu." Perintah mommy dan langsung menutup mulut gadis di sampingnya.
"Mommy, kenapa.?"
"T-tidak apa-apa."
"Kenapa Kim berteriak dan meringis, mom." Tanya Jenny polos.
"Mungkin, gua ajaib Kim lagi kekeringan." Cetus mommy asal yang masih menempelkan telinganya di pintu kokoh Arthur.
"Gua ajaib? Kekeringan.?" Jenny begitu tampak binggung sehingga hidungnya terlihat mengerut.
"Iya. Dan kau juga memilikinya," jawab mommy.
"Memiliki apa, mom." Tanya jenny lagi kali ini wajahnya nampak sangat penasaran.
"Lawan untuk, benda besar, tinggi menjulang ,kokoh, tegang, dan tangguh." Seloroh mommy lagi asal.
"Mom. Apa yang anda maksud." Geram Jenny frustasi.
"Astaga." Sahut mommy sambil menepuk kepalanya pelan.
"Lupakan. Nanti juga kau tau sendiri, dasar gadis polos." Decak mommy malas.
"Kenapa sunyi, mom.?"
"Entah.?"
"Apa mungkin mereka mengetahui kita ada disini.?
"Tidak mungkin."
"Atau mungkin saja mereka selesai, mom."
"Selesai? Tapi kenapa sesingkat itu? Bukankah produk luar, biasanya tahan lama? Atau Arthur kalah dari lawannya? Belum juga dua menit masah udah ka-O." Sugut mommy.
"Akh, sia-sia mommy, menyuruh Haruka mematikan bereda suara kamar Arthur. Baru juga mommy dengar pekikan Kim. Ini tidak asyik." Gerutu mommy.
Jenny hanya menatap raut kesal sang mommy dengan wajah binggung.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memberi anak itu, mantra-mantra khusus dari jepang, yang bisa membuat wanita berteriak dan menangis." Gumam mommy.
Sementara di dalam kamar.
"Maaf, aku tidak sengaja." Arthur yang tidak sengaja membuat kulit punggung Kim terjepit resleting gaun pengantin wanita itu.
Kulit punggung Kim terlihat lecet, dan itu membuat Arthur kelimpungan.
"Tidak apa-apa, terimakasih." Ucap Kim sambil memegangi gaun bagian depannya, agar gaun pengantin itu tidak terjatuh.
"Sebentar," Arthur menahan pundak, Kim, saat wanita itu ingin berbalik.
"Kenapa.?"
"Bolehkah, aku meniupnya."
"Lakukanlah. Kau juga boleh, mengecupnya, mengusapnya dan bahkan mencumbunya. Bukankah aku istri sekarang? Jadi lakukanlah yang ingin kau lakukan pada tubuhku, aku milikmu sekarang." Pungkas Kim tenang.
Arthur hanya bisa bergeming mendengar penuturan, istrinya.
"T-tidak. Aku hanya ingin meniupnya saja." Sahut Arthur gugup.
Segera saja pria itu mendekatkan bibirnya kearah punggung Kim yang lecet dan meniupnya pelan. Membuat sekujur tubuh Kim tiba-tiba bereaksi, atas sapuan nafas hangat suaminya.
Kim hanya bisa memejamkan matanya dan mengigit pelan bibir bawahnya, agar suara desaahannya tidak terdengar.
Sedangkan Arthur, hanya bisa menahan rasa gugup dengan debaran jantung yang meletup-letup. Tanpa sadar telapak tangan kekar Arthur membelai punggung mulus istrinya dan menghirup aroma tubuh wangi sang istri.
"Hm, wangi, lembut, licin dan Putih bersih" Batin Arthur, menikmati punggung terbuka istrinya. (Hahaha, Bayangi aja bestie, Arthur lagi jadi model iklan sabuun)
"Apa, kau sudah selesai.?" Pertanyaan Kim sontak membuat Arthur kelabakan dna salah tingkah.
"S-sudah." Ucapnya gugup.
Kim berbalik dan sejenak mereka saling berpandangan. Kim tersenyum tipis pada suaminya.
"Terimakasih." Ucap Kim tulus.
"I-iya." Balas Arthur, sambil memalingkan wajahnya kesamping.
"Kenapa kau memalingkan wajahmu." Tanya Kim heran.
"Apa kau menyesal menikah dengan ku? Itu sebabnya kau tidak ingin melihat wajah ku? Apa karena aku seorang janda dan lebih tua darimu, sehingga kau merasa tertekan.?" Ujar Kim dengan tatapan yang tidak bisa terbaca.
Mendengar ucapan istrinya, segera saja Arthur menatap wajah Kim.
"Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak menyesal menikah denganmu. Aku juga tidak perduli dengan status mu ataupun usiamu!? Aku cuma malu dan gugup, soalnya ini kali pertama aku alami." Tutur pria itu dengan intonasi suara selembut mungkin.
"Malu? Bukankah kau memiliki seorang kekasih.?" Tanya Kim heran.
Arthur mengangkuk dengan wajah sendu.
"Mandilah." Sela Arthur, saat melihat mulut Kim yang ingin mengeluarkan kata-kata lagi.
"Baiklah." Sahut Kim.
Tanpa rasa canggung ataupun malu. Kim langsung melepaskan tangannya yang berada di bagian depan gaun itu, sehingga gaun pengantin itu kini merosot ke bawah. Dan terpampang, lah, tubuh indah Kim dengan sempurna di depan wajah suaminya yang langsung menganga.
Arthur yang melihat pemandangan sebuah gunung kembar, yang memiliki puncak gunung berwarna pink. gunung itu mengalah keindahan gunung puji yang berada di negara asal sang mommy, sebuah gunung kembar yang begitu indah di depan wajahnya membuat netra coklat Arthur membola, antara terkejut dan takjub. Arthur refleks mengarahkan telapak tangannya, untuk menutupi bagian tubuh Kim yang terbuka.
"A-apa yang kau lakukan." Sentak Arthur gugup dengan wajah yang sudah memerah.
"Membuka gaunku." Jawab Kim tenang.
"Terus apa yang kau lakukan.?" Tanya Kim balik dan melihat tangan suaminya kini bertengger di atas bulatan indahnya.
"Menutupi tubuhmu." Balas Arthur dengan dada yang sudah naik-turun.
"Menutupi tubuhku yang bagian ini." Sahut Kim dan melirik kearah tangan suaminya yang begitu enteng dan nyaman disana.
Arthur pun mengikuti arah pandang Kim. Dan detik berikutnya dia kembali terhenyak dan membeku, saat menyadari tangannya sudah tercetak dengan pasnya di bulatan indah sang istri.
"Aku juga merasakan, sesuatu yang mengeras." Seloroh Kim. Karena sejak tadi dia sudah merasakan ada sesuatu benda yang keras menyentuh perut ratanya.
"Lepaskan, dulu tanganmu, aku ingin membersihkan badan dulu. Setelah itu kau boleh menguasai tubuhku." Ujar Kim dan menyingkirkan telapak tangan suaminya yang masih entek di dua aset indah berharganya.
Arthur hanya bisa memandangi telapak tangannya itu, dan menggerak-gerakkannya seperti meremas squishy.
"Dua buah moci yang besar, kenyal, dan padat."
__ADS_1