Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 116


__ADS_3

"Clek! 


Seorang wanita dengan tampilan pakaian khas pelayan, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia memeriksa sekeliling untuk memastikan tidak ada satu orang pun yang melihatnya. Setelah ia yakin aman. Wanita itu memasuki sebuah kamar mewah dengan nuansa maskulin. Wanita itu menghirup rakus wangi maskulin yang menguar di udara saat memasuki kamar, tuan muda Kato. Gadis itu berjalan penuh semangat, kearah ranjang king size yang tertata rapi. 


Gadis dengan tampilan culun itu, mengusap ranjang Arthur dan Kim dengan gaya elegan. Ia menghirup kemaja kotar Arthur yang tergeletak di atas ranjang. 


Gadis itu memeluk dan menciumi kemeja kotor Arthur dengan rakus. Ia menghempaskan tubuh mungilnya keatas ranjang Arthur dan Kim, sambil memeluk erat kemeja hitam Arthur.  Dia seakan memeluk nyata tubuh kekar dan tegap pria yang sudah lama ia impikan. Pria yang menjadi cinta pertamanya dan Pria yang sudah membuatnya mengambil langkah sejauh ini demi bisa berada didekat Arthur. Clara. Gadis yang di sapa Clara itu menguling-gulingkan tubuhnya dia atas ranjang king size milik Arthur dan Kim, dengan kemeja hitam milik suami Kim di pelukannya.


"Kapan aku bisa memeluk nyata dirimu, Arthur." Bisik Clara pada dirinya sendiri.


"Aku sudah lama menggilai dirimu. Aku sudah lama menginginkan dirimu, sayang. Tapi kau malah menikahi dengan wanita lain. Apa kau tau? Kalau hatiku begitu hancur saat melihat mu dengan wanita itu tertawa dan bermesraan. Monolognya. Ia menerawang mengingat semua keromtisan Arthur dan Kim. 


Hatinya begitu sakit ketika harus melihat sikap manis dan hangat Arthur kepada istrinya. Ia selalu menghayal kalau yang menjadi Kim itu adalah dirinya.


Clara mendegus kasar dan ia bangun dari ranjang Kim dan Arthur. Ranjang yang menjadi saksi bisu aktivitas bercinta Kim dan Arthur. Saksi hilangnya sebuah keperjakaan seorang Arthur.


Gadis mungil itu, melangkah kearah ruang ganti Arthur. Ia membuka lemari pakaian khusus milik Kim. Ia menatap nyalang gaun yang berjejer rapi disana. Tiba-tiba dada Clara memanas. Ia mengepalkan tangannya dengan tatapan membunuh kearah foto pernikahan Kim dan Arthur yang terlihat begitu serasi.


Clara menghamburkan semua pakaian Kim yang tertata rapi. Clara bahkan menginjak-injak gaun Kim, meremas-remasnya hingga gaun Kim terlihat kusut. Tidak di situ saja. Clara mengambil salah satu gaun Kim dan membawa ke hadapannya.  Clara menyalakan korek api dan membakar gaun Kim dari bawah hingga api itu menjalar keatas.


Clara menatap tajam gaun hitam Kim. "Arthur adalah milikku, wanita sialan." Maki Clara dengan terkekeh sombong.


Clara menjatukan gaun Kim yang terbakar diatas lantai. Ia tersenyum sinis dan menghina. 


"Suatu saat aku akan membakar mu juga wanita sialan. Kau sudah berani mengambil Arthur ku. Seharusnya aku yang menikah dengannya bukan dirimu, sialan."


"Aku tidak akan membuat mu bahagia bersama Arthur ku, wanita murahan."


"Tunggu, saja dirimu akan merasakan akibat dari sikap lancang mu itu. Yang sudah menggoda Arthur ku."


Clara terus saja bergumam. Ia kembali meraih gaun super mewah Kim dan siap untuk membakarnya.


"Gaun yang bagus! Tapi lebih bagus kalau aku yang mengenakannya. Kau wanita murahan tidak berhak menjadi istri Arthur hanya aku yang pantas dan berhak menjadi istrinya. Kau hanya wanita jaalang yang sudah berani menggoda Arthur ku. Aku bersumpah akan melenyapkanmu, setelah kau lenyap maka aku akan menjadi istri Arthur, hahah."  Clara terkekeh dan berbicara sendiri sambil menatap sinis pantulan foto pernikahan Kim dan Arthur.


Clara menyalakan kembali korek apa yang ada ditangannya. Ia akan membakar gaun mewah dan mahal milik Kim. Saat ia sudah mengarah api pada Guan tersebut. Sebuah tangan menghentikan niatnya.


"Kau! Geram Clara. Ia Lalu menyentakkan tangan wanita tersebut dengan kasar.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan." Bentak Clara pada wanita dewasa tersebut.


"Jaga sikap anda, nona. Anda bisa mendapatkan masalah, ingat kita sedang berada di area musuh, jangan sampai mereka  curiga dan menangkap kita, nona." Pungkas wanita itu, yang merupakan asisten pribadi Clara.


"Jangan sampai tujuan, nona menjadi sia-sia."


"Tapi aku hanya ingin merasakan dekat dengan Arthur ku."

__ADS_1


"Bukankah, kau mengatakan kalau Arthur tidak kembali? Dan juga nyonya Gabriel sedang tidak ada di sini kan? Jadi aku bisa puas melakukan apapun di kamar calon suamiku." 


"Tetap saja kita harus berhati-hati. Ingat kepala pelayan disini bukan orang yang mudah dibodohi. Jadi sebelum dia menyadari keberadaan kita di sini, Lebih baik kita keluar segera dari sini.


"Tapi aku masih mau disini."


"Tidak, nona."


"Biarkan aku disini."


"Nona!


"Baiklah, … baiklah."


"Ayo!


Mereka pun keluar dari kamar Arthur setelah membereskan semua kekacauan yang Clara buat didalam kamar mewah tersebut.


Mereka tidak mengetahui kalau kegiatan keduanya di saksikan oleh nyonya besar di mansion itu lewat cctv yang ia sembunyikan di kamar Arthur. 


Mommy Gabriela tersenyum sinis menatap layar persegi dihadapannya yang menampilkan kelakuan Clara dan juga asistennya.


Mommy sudah lama mencurigai Clara saat melamar pekerjaan padanya bersama sang asisten. Mommy yang menyadari ada sesuatu yang aneh itupun menerima Clara bekerja di mansionnya. Ia terus memantau kegiatan Clara. Ia akan pergi dari mansion Kato tengah malam, dan kembali sebelum matahari terbit.


Mommy Gabriela juga baru menyadari kalau Clara sangat mirip pada seseorang yang begitu mommy Gabriela benci.


"Awasi saja gadis itu. bertindaklah kalau dia mulai melakukan hal-hal yang bisa melukai anak dan menantuku."


"Baik nyonya."


"Apa anda ingin pulang sekarang, nona.?


"tidak. aku ingin bertemu dengan seseorang terlebih dahulu."


"baik nyonya."


"Antar aku ke rooftop.?"


"Mari nyonya."


"hum!


mommy dan asistennya, berjalan kearah lift untuk membawa mereka ke atas rooftop rumah sakit. mommy akan bertemu janji dengan seseorang di sana.


"Tunggu dan berjaga lah, disini.!"

__ADS_1


"siap nyonya."


*


*


*


"Apa yang kau dapatkan di kediaman, keponakan ku itu.?" wanita parubaya itu bertanya kepada seseorang yang ia tugaskan untuk memata-matai kediaman Hugo.


"aku belum mendapatkannya nyonya, dan ruangan yang anda maksud memiliki kode khusus." lapor wanita yang berpenampilan tomboi.


"Apa kau tidak memiliki cara untuk membukanya.?"


"aku sudah berusaha, nyonya.!"


"Aku sangat yakin, apa yang selama ini aku cari ada di dalam sana."


"tapi nyonya, ...."


"tapi kenapa? katakanlah.!"


"Hanya anak pertama Hugo lah, yang bisa membuka ruangan itu, nyonya."


"Larry.?


"iya nyonya."


"Bukankah dia sudah mati.?"


"tapi pintu itu tidak akan bisa terbuka, kalau tuan Larry membukanya."


"dia memiliki sidik jari atau kode.?"


"iya nyonya."


"menyusahkan."


"apa rencana anda, sekarang.?"


"kita menjebak wanita itu saja."


"ide bagus, nyonya?


"lakukanlah sekarang."

__ADS_1


"siap langsanakan, nyonya."


__ADS_2