
"Akhh!!
"Bugh."
"Oh sial. Apa yang kau lakukan, baby." Degus Nathan sambil bangkit dari lantai, pria bermata empat ini baru saja mendapatkan sebuah tendangan selamat pagi dari bidadarinya. Nathan mengusap bokongnya yang terasa panas.
"Kenapa kau ada di kamarku.?" Dengan kening mengkerut Jenny, menatap pria tampan di hadapannya. Ia terkesima sesaat karena dirinya baru pertama kali melihat Nathan tanpa mata kacanya.
"Oh Tuhan. Dia tampan sekali." Batin Jenny berteriak.
Nathan beringsut kembali naik keatas ranjang. Pria itu mendorong pundak Jenny, sehingga wanita itu berbaring kembali. Nathan lantas menggungkuk Jenny di bawah kendalinya. Mata mereka saling beradu dan saling menatap lekat. Tangan Jenny terulur menggapai wajah tampan di atasnya, Jenny mengusap wajah yang terhiasi oleh bulu-bulu halus itu di sana. Yang terlihat begitu maskulin.
"Apa kau tau ini kamar, siapa.?" Nathan mendekatkan bibirnya ke telinga Jenny, pria itu berbisik dan sengaja menghembuskan nafas hangatnya. Tubuh Jenny beraksi, ia merasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Nathan sengaja menggosokkan wajah berjambang nya pada wajah merona Jenny, yang membuat wanita itu mengeliatkan kegelian.
"Katakan, apa ini kamarmu, baby." Bisik Nathan lagi.
Jenny terlihat memperhatikan setiap isi dan sudut kamar. Detik itu juga, mata bulatnya mendadak membeliak terkejut. Ia menatap Nathan yang tersenyum usil padanya.
"Kenapa aku bisa ada disini.?" Tanyanya dengan wajah bingung yang menggemaskan.
Nathan mengecup sekilas bibir ranum Jenny dan menggerak-gerakkan hidungnya di hidung mancung Jenny.
"Kenapa kau begitu menggemaskan, baby." Ujar Nathan, pria itu lalu menggigit kecil ujung hidung wanita yang ada di bawahnya.
"Katakan, kenapa aku ada disini.?" Tanyanya lagi, sambil menjauhkan wajah bak dewa itu dari wajahnya.
Nathan menepis pelan tangan mungil Jenny yang menghalanginya untung menciumi wajah imutnya.
"Mungkin kau tidak sambil berjalan? Atau mungkin kau tidak bisa tidur karena terlalu merindukan ku, sehingga diam-diam kau masuk kedalam kamarku." Dusta Nathan.
"I-itu tidak mungkin.!" Bantah Jenny.
"Yang mana?
__ADS_1
"Kalau aku tidur sambil berjalan."
"Kalau begitu kau merindukanku."
"I-itu juga tidak mungkin."
"Oh yah?
"Hu'um."
"Bohong. Pasti kau merindukanku, kan? Semalam saja kau begitu nyenyak tidur di dalam pelukan ku."
"Tidak mungkin."
"Sayangnya, itu yang terjadi,"
"Kenapa aku tidak mengingat apapun.?"
"Entahlah. tapi percayalah, kau begitu menikmati pelukan ku, Baby.?
"Lepaskan tanganmu, baby,!" Bisik Nathan.
Jenny terlihat menggeleng cepat. Ia menguatkan tangannya untuk menutupi wajahnya saat Nathan ingin membukanya.
Percayalah Jenny sangat malu, mendengar ucapan Nathan, kalau dirinya sangat menikmati pelukan pria di atasnya.
"Tatap aku, baby.! Bisik Nathan.
Jenny menggelengkan kepalanya, iya bisa merasakan nafas hangat Nathan.
"Baby.! Suara Nathan sudah berubah berat dan serak.
Libano kelelakiannya di pagi hari mencuat seketika. Hanya karena melihat tingkah menggemaskan Jenny, Nathan sudah Landa keresahan. Sesuatu dibawah sana sudah berdiri tegak. Dan sudah memberontak menginginkan sesuatu yang bisa membuatnya mabuk dan berakhir memuntahkan sesuatu yang akan menjadi kecebong.
__ADS_1
"Sial! Umpat Nathan dalam hati.
"Aku bisa khilaf, kalau terus berada di dekatnya." Monolognya dan ia menjauh dari atas tubuh Jenny. Pria itu turun dari ranjang, berjalan ke arah kamar mandi. Ia butuh sesuatu untuk membuat sang pegulat tangguh tertidur lagi.
"Sial! Nathan terus saja mengumpat, dan memaki dirinya. Niat hati ingin menggoda bidadari berkacamata miliknya, malah ia harus memakan sendiri umpannya.
"Oh Tuhan. Aku bisa gila."
Jenny menjauhkan tangannya dari wajah merah meronanya, saat ia merasakan pergerakan Nathan yang sedang turun dari ranjang dan juga suara umpatan pria itu.
Jenny menghela nafas lega. Segera saja Jenny meninggalkan kamar Nathan, si culun mesum itu.
"Akhh! Teriak dari arah bawa mengejutkan semua para penghuni mansion Kim.
Jenny yang penasaran lantas mendatangi asal suara tersebut. Ia bisa melihat wajah tegang dan shock Kim. Begitu juga dengan Larry yang terlihat lunglai dan terduduk di sofa.
"Ada apa?
Jenny menatap sebuah bingkisan yang sudah berbuka itu. Jenny mendekat dan beberapa saat kemudian di membelalakkan maniknya saat melihat isi dari bingkisan tersebut.
"I-ini.?"
"Entahlah!
"Apa yang harus kita lakukan sekarang."
"Bersiaplah, kita serang markas mereka."
"Apa kau yakin.?
"Hm. Sangat yakin."
"Baik, malam ini kita akan menyerang markas mereka.
__ADS_1
"Hm, baik."