
Tangisan dan isakan masih terdengar di tahanan bawah tanah yang berada di mansion Lincol.
Kim dan Larry berjalan dengan langkah pelan mendekati kedua orang tua mereka.
Semua orang yang berada di sana ikut terisak dan merasakan sesak di dada mereka.
Arthur bahkan tidak sanggup menahan derai air matanya saat, melihat istri yang begitu dicintainya menangis dengan begitu pilu. Membuat pria sipit itu merasakan, sesuatu hantaman keras menimpa dadanya.
Mommy dan lainnya hanya bisa memalingkan wajah mereka. Mereka tidak sanggup menyaksikan atau melihat pemandangan di dalam tahanan sana.
Pemandangan seorang ibu dan ayah yang terpasung dengan kondisi tubuh keduanya kurus kering dan begitu lusuh. Mereka bagaikan sebuah barang yang tersimpan lama dan membuat barang tersebut, menjadi karatan dan rusak.
Sama halnya kondisi mommy dan Daddy, Kim. Yang tampak terlihat tak terawat. Dengan tubuh mereka yang kotor, kurus yang hanya terlihat tulang-belulang mereka.
Tatapan kedua orang tua itu, kosong. Mereka seakan mayat hidup. Tidak sedikitpun mereka merespon panggilan atau sentuhan Kim dan Larry.
Larry dan Kim, tanpa jijik memeluk kedua orang tua mereka. Orang tua yang mereka rindukan meskipun keduanya di nyatakan sudah meninggal.
Rasa syukur bercampur perasaan miris kini yang dirasakan Kim dan Larry.
Mereka bersyukur kedua orang tua yang begitu mereka rindukan masih hidup. Pun merasa miris yang membuat keduanya hancur seketika, di saat mendapati keadaan orang tua mereka yang membuat perasaan keduanya hancur seketika.
Kim menyentuh tangan lemah sang mommy yang hanya tinggal tulang itu. Kim tidak dapat menahan tangisnya, saat menatap tangan sang mommy, yang dulunya penuh kasih sayang dan kelembutan itu kini berubah yang hanya meninggalkan kulit dan tulang.
__ADS_1
"Mommy! Lirih Kim menggenggam tangan mommynya dengan lembut dan hati-hati, seakan ia takut tangan sang mommy akan hacur.
Kim kembali terisak ketika mendapat wajah lesu dan tak terawat sang mommy. Wajah yang dulunya bagaikan peri tanpa sayap baginya itu, kini tidak bisa dikenali lagi. Wajah mommynya seperti seorang mayat yang di awet kan.
"Mommy! Ini kimby," lirih Kim diselingi tangisan pilu. Dan ia memeluk tubuh rapuh mommy Caroline. Memeluknya tanpa merasa jijik sedikitpun. Memeluk sang mommy dengan raungan yang menyayat hati yang mendengarnya.
"Mommy. Ini kimby," racau Kim.
Di katupnya wajah sang mommy dan diciumnya wajah tanpa ekspresi itu. Diciumnya seluruh wajah sang mommy tanpa jijik pun.
Manik Kim dan sang mommy saling menatap satu sama lain. Kalau Kim menatap mommy dengan perasaan hancur, sakit, terluka dan bersyukur.
Sedangkan sang mommy menatap Kim dengan tatapan kosong dan wajah tanpa ekspresi.
Tapi tetap sama sang mommy masih diam dengan kebisuan dan tatapan kosong menerawang kedepan.
Kim menghapus air matanya. Setelah itu ia menarik nafas panjang.
Kim beralih menatap sang daddy yang keadaannya tidak jauh bedanya dengan sang mommy.
Kim meraih tangan sang daddy yang ikatannya sudah terbuka. Kim mengelus tangan yang dulunya kokoh dan penuh cinta menggenggam tangan mungil Kim kecil dan menuntunnya untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu bersama.
Kembali Kim menjatuhkan air matanya yang tidak henti-hentinya mengenang di kelopak mata indahnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Kim berteriak histeris saat ini, untuk mengeluarkan seluruh rasa sesak di dalam dadanya. Hatinya terasa sakit dan ngilu melihat pemandangan ini.
"Daddy! Lirihnya. Mencoba memanggil sang daddy. Siapa tahu daddy bisa merespon panggilannya, tapi semuanya nihil. Keadaan sang daddy tidak ada bedanya dengan mommy.
Larry hanya bisa terisak di sudut ruangan. Ia tidak sanggup melihat ini semua. Ia tidaklah sekuat sang adik yang mampu menahan rasa sakitnya.
Larry mendekati sang daddy dan juga adiknya. Ia kedua orang tuanya itu dengan tangisan pilu yang sangat menyakitkan.
"Okusan! Arthur yang sejak tadi berdiam dan menyaksikan keharuan penuh luka itu dalam diam.
Ingin rasanya Arthur menghancur tempat tuan Lincol sekarang juga. Ketika mendengar dan melihat tangisan pilu menyesakkan dada itu.
"Sebaiknya kita membawa, mommy dan Daddy dari sini, okusan." Ujar Arthur.
"Yang dikatakan Arthur, benar sayang. Kita harus membawa keduanya ke rumah sakit." Sela mommy Gabriela.
Kim dan Larry secara bersamaan mengangguk, menyetujui saran mommy.
Arthur membantu sang Istri bangkit. Arthur memapah tubuh lemas istrinya keluar dari tahanan tersebut.
Begitu pun Larry, yang di bantu oleh Lusi yang matanya sudah membengkak dan hidungnya memerah.
Mereka pun semua meninggalkan ruangan tahanan bawah tanah milik tuan Lincol. Mereka semua bersama-sama melajukan mobil mereka kearah rumah sakit.
__ADS_1
"Semoga, mommy dan Daddy, baik-baik saja," batin Kim.