
Sebuah mobil terparkir gagah di depan sebuah mansion mewah di kawasan elite di kota Paris.
Sebuah high heels hitam nampak terlihat terlebih dahulu keluar dari mobil, di susul sebuah tubuh seksi dan menggoda yang mengenakan gaun seksi berwarna hitam. Gadis itu melempaskan kacamata hitamnya dan menatap pintu kokoh mansion itu.
Wanita itu berjalan kearah pintu mansion dan memencet bel yang terdapat di bagian dinding dekat pintu.
Wanita cantik berambut pendek itu berdiri membelakangi pintu. Dia menenteng tas mewahnya yang senada dengan gaun yang ia kenakan.
Tak lama pintu Mansion kokoh itu terbuka. Wanita itupun membalikkan badannya kearah pelayan yang membuka pintu tersebut.
"Apakah, tuan malvin ada.?" Wanita itu bertanya dengan wajah dingin.
"Ada, nona." Ujar sang pelayan.
"Izinkan, aku masuk." Pinta wanita itu.
"Silakan." Pelayan itu mempersiapkan wanita yang kini berlenggang memasuki mansion mewah dan megah itu.
"Silakan, duduk nona dan tunggu sebentar saya akan memberitahu tuan m, Malvin." Izin sang pelayan sopan setelah mempersilakan wanita itu untuk duduk.
"Antarkan saja aku langsung ke kamar Malvin." Perintah wanita itu dingin.
"T-tapi nona."
"Antarkan aku." Perintah wanita itu lagi.
"Cepat antarkan aku, ada yang ingin aku sampaikan pada, Malvin." Ujar wanita itu bersekeras.
"Baiklah. Mari ikut aku."
Dengan terpaksa pelayan itu mengantarkan wanita keras kepala itu kekamar, Malvin.
"Clek."
"Maaf, tuan ada yang ingin bertemu dengan, anda.!" Lapor pelayan tadi dengan takut-takut.
Malvin hanya mengangguk dna mempersilahkan tamunya masuk.
Pelayan itupun mempersilahkan wanita tadi masuk dan ia langsung kembali kearah dapur.
"Selamat siang, Sayang." Sapaan wanita itu mengejutkan Malvin yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
Malvin mengalihkan perhatiannya kepada, suara lembut yang menyapanya.
Malvin membeku dan terkejut, atas wajah cantik yang ia lihat di depannya.
"Mogan.?" Lirih Malvin tanpa suara.
"Iya, ini aku sayang." Seru Mogan dan ia menghampiri pria yang kini membeku di tempatnya.
"Apa, yang terjadi pada mu Malvin, sayang.?" Tanya Mogan heran dengan kondisi Malvin yang sangat menyedihkan.
"Lihatlah, wajah mu, sayang." Seru Mogan.
"Kenapa, kau jadi seperti ini.?" Pekik Mogan.
__ADS_1
"Kemarilah, aku akan membersihkan wajah mu." Pinta Mogan.
"Inilah, hukuman mu atas apa yang kau lakukan padaku dulu. Kau rela meninggalkan ku demi wanita kejam itu. Kau bahkan mencampakkan ku setelah aku mengajarimu banyak hal tentang nikmatnya bercinta." Decak Mogan, yang kini sudah berada di dekat Malvin.
"Seandainya, waktu itu kau tidak memilih wanita itu, mungkin kau tidak akan seperti ini, sayang."
"Aku, tau kau masih sangat mencintaiku, Sayang."
"Kau, hanya terobsesi semata dengan Kim. Oleh sebab itu aku masih mencintaimu sampai sekarang." Pungkas Mogan yang mengecup sekilas wajah Malvin.
"Pergilah." Malvin memberi isyarat lewat tunjukan jarinya ke arah pintu.
"Apa, wanita itu membuat bisu.?" Mogan berpura-pura terkejut. Padahal dia sudah tahu kondisi Malvin.
"Tenanglah, aku kesini ingin memberimu, ini." Mogan mengeluarkan sebuah amplop putih berisi sebuah surat pemeriksaan.
"Bacalah, sayang." Perintah Mogan dan kembali memberi kecupan pada kening Malvin.
Malvin menerima amplop itu dan segera membaca isi kertas yang terselip di dalam amplop tersebut.
Malvin mengerutkan hidungnya binggung dengan isi kertas tersebut.
"Positif." Ujar pria itu dalam diam.
"Iya, aku sedang hamil anakmu, sayang." Sorak Mogan bahagia.
Sedangkan Malvin hanya menatap kertas itu bergantian dengan Mogan. Wajah pria itu penuh kebingungan dan juga penuh tanda tanya.
"Aku hamil, sayang. Aku hamil anak kamu, anak kita, Malvin." Seru Mogan dengan wajah penuh haru.
Pria itu masih belum paham akan semua yang Mogan tunjukkan padanya. Malvin hanya terdiam, mengingat, kapan dia dan Mogan melakukannya.
"Ck." Apa kau lupa sebelum kau melakukan hal bodoh, kau menghabiskan malam panjang bersama ku? Kau bahkan menumpahkan benihmu berkali-kali." Ujar Mogan dengan sikap tenang.
Malvin menyengit binggung dan matanya berbinar bahagia saat sudah mengingat semua yang di bicarakan Mogan.
"Cih, begitu saja kau sudah lupa." Decak Mogan.
Malvin menarik Mogan kesisi nya dan menyentuh perut Mogan yang masih rata.
Mogan mendongak melihat wajah Mogan yang tersenyum padanya. Malvin menarik wajah Mogan dan mengecup bahkan menyesap bibir seksi wanita itu.
"Terimakasih." Ucapnya dalam diam.
"Mogan hanya mengangguk dan kembali menyesap bibir Malvin. Mogan segera duduk di atas pangkuan Malvin. Dan meraba-raba tubuh pria itu.
"Jangan." Ujar Malvin memberi peringatan dengan mulut yang bergerak.
Mogan yang paham, hanya tersenyum dan menghentikan berbuat nakalnya.
"Tenanglah, sayang kita akan membalas wanita licik dan kejam itu nanti." Ujar Mogan yang masih berada di pangkuan Malvin.
Malvin hanya mengangguk sambil mengelus-elus perut Mogan.
"Selamat kau akan menjadi Daddy." Ucap Mogan dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Malvin kembali mengangkuk. Wajahnya yang senduh kini, berubah ceria dan bahagia.
"Kau, tau? Usianya sudah memasuki 8 Minggu." Seloroh Mogan antusias.
Malvin kembali mengelus perut Mogan dengan penuh kelembutan.
Mogan sendiri, merasa puas atas semua rencana yang sudah ia susun rapi, kini hasilnya membuatnya meraih kemenangan.
"Dasar, wanita-wanita bodoh." Maki Mogan dalam hati.
"Aku, masih sangat mencintaimu, Malvin. Dan itu akan selalu dan aku tidak akan pernah berpaling dari rasa cinta yang aku miliki hanya untukmu, sayang." Mogan mengatakan semua perasaannya yang selama ini ia pendam.
"Karena rasa cintaku pada mu aku rela menjadi budak nafsumu dan akhirnya kau meninggalkanku dan lebih memilih wanita yang tidak pernah mencintaimu." Ungkap Mogan dengan mata sudah berkaca-kaca.
Malvin segera, membawa tubuh Mogan kedalam pelukannya dan mengelus-elus pundak wanita itu yang terlihat bergerak oleh isaknya.
Malvin meraih wajah Mogan dan kembali menyesap bahkan melumut panas bibir seksi Mogan.
Merekapun saling bercumbu panas tanpa harus melakukan penyatuan, karena Malvin tidak akan mampu melakukannya. Senjata kesayangannya tidak akan bisa berkerja lagi, karena hanya terdapat sepotong dan itupun masih dalam keadaan koma.
*
*
*
sementara Lotte, kini tampak gusar sejak tadi karena belum juga mendapatkan kabar dari Mogan.
Lotte terlihat mondar-mandir, di area sel-nya, sambil menggigiti kuku-kuku tangannya sendiri.
" kemana, wanita sialan, itu." umpat Lotte sambil mengusap wajahnya kasar.
"akh, Mogan sialan." maki wanita itu frustasi.
"Apa, yang sedang kau lakukan, Mogan." geram Lotte.
Lotte mendegus, berdecak bahkan mengeluarkan sumpah serapah pada, Mogan.
wanita itu begitu gelisa dan perasaannya merasa kacau.
"apa, yang sebenarnya kau rencanakan, Mogan.!?
"aku, berharap kau tidak melakukan sesuatu kepadaku."
"kalau itu sampai terjadi, maka aku akan membuat perhitungan pada mu."
"lihat saja."
Lotte menggenggam kuat besi yang menjulang itu dengan kuat. dia memiliki firasat buruk tentang Mogan.
Mogan seperti seorang yang sangat misterius.
Lotte bahkan tidak mengenal seluk-beluk wanita yang bernama Mogan itu. setaunya Mogan tidak mempunyai siapapun di dunia ini lagi?
"kenapa aku merasa menjadi kambing hitam disini.?"
__ADS_1