Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 141


__ADS_3

Masih di rooftop mansion Lincol yang begitu luas, bisa memuat sebuah helikopter di sana. Seperti yang terlihat sekarang. Sebuah helikopter mendarat dengan mulus di rooftop mansion mewah milik Lincol. Sebuah helikopter milik Lucas pribadi. Pria itu kini sedang menggendong seorang wanita cantik yang tidak sadarkan diri.


Lucas, berencana akan membawa Kim jauh dari kota Paris. Ia akan membuat Kim menjadi miliknya. Lucas akan membawa, Kim ke pulau pribadinya yang sangat terpencil. Ia akan membuat Kim kehilangan semua ingatan tentang, dirinya sendiri. Hingga hanya, dirinya lah seorang yang ada di ingatan Kim.


"Pergilah, sebelum ada yang mereka kesini.!" Ujar wanita yang berada bersama Lucas.


"Terimakasih, Laura. Atas rencana dan bantuan," ucap Lucas dengan senyum tipisnya.


"Hm! Tapi semuanya tidak gratis tuan, Lucas.!" Sahut laura.


"Apa yang kau inginkan," Lucas mengamati wajah Laura tajam.


"Semua, yang dimiliki keluarga, Lincol." Jawab Laura.


"Maka malam ini akan menjadi milikmu,"


"Benarkah tuan, Lucas.?"


"Hm! Aku akan mengurus semuanya."


"Baiklah. Senang bekerjasama dengan anda, tuan."


"Hm!


Lucas kini melangkah ke arah helikopter miliknya. Di sana sudah ada dua orang co-pilot yang akan membawa Lucas menjauh dari kota Paris.


Lucas yang sudah siap untuk naik dan dibantu salah satu co-pilot, terkejut tiba-tiba saja co-pilot yang berada di balik kemudi helikopter terkapar dengan darah mengucur di kepalanya.


"Dor."


"Dor."


"Dor."


Suara tembakan itu pun menyerang Lucas dan kedua pilot tadi sudah meregang nyawa dengan masing-masing mendapatkan peluru di kepala mereka.


"Sial! Erang Lucas yang berlindung di balik body helikopter miliknya.


Lucas menatap wajah Kim yang masih tidak sadarkan diri. Ia sudah bertekad akan membawa Kim pergi jauh dari sini. Dan ia pun memberanikan diri untuk membawa helikopternya sendiri.


Lucas mengamati keadaan sekitar. Ia pun keluar dari persembunyian dengan Kim yang masih berada di gendongannya.


Lucas bergerak dengan sangat berhati-hati. Dengan susah payah pria itu membuka pintu helikopter tersebut. Tapi lagi-lagi sebuah peluru menyerangnya.


"Dor."


"Akh! Lucas memekik saat peluru dari timah panas mengenai punggungnya, tapi pria ini masih berusaha menahan tubuh Kim agar tetap berada di gendongannya.


"Dor! Sekali lagi sebuah peluru menembus kaki panjang Lucas. Membuat ia menyerah dan jatuh ke lantai rooftop bersama Kim. Kim terguling jauh dari Lucas. Pria itupun berusaha menahan rasa sakit dan mencoba merangkak untuk mendekati Kim.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, kimby." Bisik Lucas yang kini berusaha bangkit dengan menahan rasa sakit pada kaki dan punggungnya.


"Aku, bersumpah akan membawamu jauh dari sini," monolog Lucas. Ia kini kembali berisi untuk menggendong Kim dan membawanya pergi secepatnya dari sini.


"Bugh! Sebuah tendangan mengenai lengan Lucas yang siap menggendong Kim kembali.


"Jangan menyentuh istriku, brengsek,!" Teriak Arthur geram.


"Kimby! Bangunlah,!"


"Kimby, bangunlah ini kakak,!" Larry membawa sang adik menjauh dari jangkauan Lucas.


*


*


*


"Brengsek! Berani-beraninya kau menyentuh istriku, keparat." Amuk Arthur.


"Hahah! Lucas terdengar terkekeh mendengar ucapan Arthur.


"Asal kau tau dia adalah milikku," ujar Lucas pelan.

__ADS_1


"Kimby, hanya milikku dan selamanya menjadi milikku."


"Sialan! Jangan menyebut nama istri ku dengan mulut kotormu itu.! Teriak Arthur dengan mimik wajah sudah berubah merah padam.


"Kimby, hanya milik Lucas Mouren. Ujar Lucas dengan tersenyum licik.


Arthur yang tidak tahan dengan perkataan Lucas langsung menyerang pria jelek di depannya. Pria yang sudah berani menyentuh istrinya. Pria yang sudah berani ingin membawa kabur istri cantik miliknya.


Arthur mendekati Lucas yang sedang tertatih untuk bangkit. Tapi suami Kim itu menendang punggung Lucas dari belakang, sehingga membuat Lucas terjungkal kembali.


"Aku akan menghabisi malam ini, sialan. Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menyentuh istriku." Geram Arthur.


Terdengar kekehan Lucas yang sangat mengerikan, yang bisa membuat orang akan bergidik takut. Tapi Arthur tidak terpengaruh sedikit pun. Karena dirinya juga seorang pria berdarah dingin.


"Kimby, sudah menjadi milikku sejak dulu. Aku sudah menyentuhnya lebih dulu. Dan mengambil sesuatu berharga darinya." Ungkap Lucas yang mencoba membuat Arthur lengah.


"Brengsek! Arthur yang tidak terpengaruh oleh dan percaya akan ucapan Lucas. Ia hanya tidak bisa membayangkan wanitanya menjadi korban pelecehan pria gila ini.


"Bugh! Arthur kembali melayangkan kakinya ke perut Lucas, tapi pria bengis itu bisa menghindar dengan menggulingkan tubuhnya ke arah samping.


Lucas yang tidak mau tinggal diam, ia pun menyerang Arthur dari arah bawah, melayangkan kakinya ke atas dan mengenai perut keras Arthur.


"Sial! Umpat Arthur sambil mengusap perutnya.


Lucas kini bangkit dan memegang sebuah benda yang sangat berkilau di bawah sinar bulan.


"Kita lihat siapa yang akan mendapatkan, kimby.!" Tantang Lucas dengan seringai liciknya.


*


*


*


"Kau! Jenny yang ingin menyusul Kim dan yang lainnya terkejut melihat Laura berada di mansion Lincol.


"Kakak, Laura?" Kini Lusi yang berseru yang juga merasa heran kenapa Laura ada disini.


"Sedang, apa kau disini.?" Jenny menukik alisnya dan memindai Laura dengan lekat. Begitu juga dengan Lusi yang memicingkan maniknya kerah Laura.


"Bukan, urusan kalian." Sahut laura dengan wajah datar.


"Menyingkirlah! Ujar Laura sambil mendorong pundak Jenny kasar, membuat tubuh Jenny mundur kebelakang. Untung ada Nathan yang menahan tubuh mungil kekasihnya.


"Kakak Laura." Panggil Lusi dan mencekal tangan yang dipenuhi tato itu.


"Lepaskan! Laura menyentakkan tangan Lusi dengan kasar.


"Aku cuma bertanya, kakak Laura kenapa disini.?"


"Bukan urusanmu, Lusi. Menjauhlah."


"Hey! Tunggu dulu. Kau tidak akan semudah itu lepas dariku, wanita licik." Jenny mencekal pergelangan tangan Laura dengan kuat. Membuat Laura meringis.


"Sakit, jaalang.!" Hardik Laura.


"Apa yang kau lakukan kepada, Kim." Ujar Jenny dingin.


"Apa yang ku lakukan bukan urusanmu," ketus Laura.


"Berarti kau akan mati ditangan ku," bisik Jenny.


"Ck! Coba saja kalau kau bisa." Tantang Laura dengan tersenyum remeh.


"Dengan senang hati, Nona Laura.!"


"Cih! Laura berdecih sinis.


diam-diam Laura mengeluarkan sebuah belati di dalam saku celananya. dengan senyum penuh arti, Laura mencoba melukai Jenny.


Jenny yang peka dengan keadaan bahaya refleks menghindar meskipun ia mendapatkan luka goresan di lehernya.


"baby! Nathan beraksi. ia memeriksa luka sang bidadari berkacamata miliknya.

__ADS_1


"kau terluka, baby," pekik Nathan.


"berlebihan! sahut Jenny, dan mendorong pelan kening Nathan.


"aku khawatir, baby!


"cih!


"baby!


"diamlah. aku ingin memberi wanita ini perhitungan."


"hati-hati, baby.!"


"kakak, Laura apa yang kau lakukan.!" pekik Lusi.


"menyingkirlah, Lusi sialan."


"akh! teriak Lusi ketika Laura mendorong tubuh mungil Lusi dengan sangat kasar.


"cih! Laura hanya menatap sinis ke arah Lusi dan kembali melangkahkan kakinya kearah tangga.


tapi langkahnya terjeda saat sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipinya. sebuah tamparan keras membuat kedua pipinya memanas.


"dasar jaalang.! amuk Laura yang tidak terima dengan tamparan yang di berikan Jenny.


"plak! sekali lagi Jenny memberikan tamparan yang lebih keras, tamparan yang menyerupai pukulan di wajah.


Laura mengusap sudut bibirnya, dengan tatapan yang menghunus kepada Kim.


"kau! bentak Laura.


"ck! banyak bicara. pungkas Jenny.


"dor" tanpa membuang waktu lama, Jenny memberikan sebuah salam perpisahan untuk Laura.


"ck! lemah.


"kakak membunuhnya." pekik Lusi.


"dia memang layak mendapatkannya." jawab Jenny dingin.


"kau sangat mengerikan nona, Jenny."


"hm.


*


*


*


"cih, enak saja ingin menyentuh menantuku."


"Haruka."


"iya, nyonya besar.?!


"awasi mereka. aku ingin menyusul anak dan menantu ku."


"baik, nyonya?


nyonya Gabriela, yang sejak tadi memantau dari jauh keadaan di dalam mansion Lincol dan memantau keadaan para anak-anaknya.


nyonya Gabriela geram saat menemuka menantunya dalam keadaan tidak sadar, dalam gendongan Lucas.


nyonya bertambah geram ketika Lucas ingin membawa menantunya menaiki helikopter.


nyonya Gabriela pun menyiapkan sebuah tembakan terbaik untuk memberikan salam perkenalan kepada Lucas dan juga salam perpisahan.


"enak saja mau membawa menantuku, Kim."


"langkahi dulu mayat ku."

__ADS_1


__ADS_2