Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 129


__ADS_3

"Okusan.!" Pekik pria sipit dengan raut wajah khawatir memanggil istri cantik dan sempurna miliknya.


Arthur segera saja memeluk istrinya itu, saat berada di dekatnya. Pria itu begitu khawatirnya saat mengetahui sang istri sedang dalam area musuh. Tanpa membuang waktu lagi, Arthur menyusul Istrinya dengan perasaan gelisah dan khawatir. Ia bahkan menjadikan Nathan alat untuk mengeluarkan rasa jengkel dan khawatirnya.


"Kau, membuatku khawatir, okusan. Kau ingin membuat mati dalam gelisah dan khawatir." Arthur berujar dengan nada tegas tapi tersimpan kegelisahan disana.


"Maafkan aku, sayang." Sahut Kim dengan wajah bersalah.


"Oh Tuhan. Aku membenci raut wajahmu ini." Geram Arthur frustasi.


Ia segera membawa istrinya kembali kedalam pelukannya dan menghukum istri cantiknya itu dengan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala Kim.


Arthur membolakan matanya saat menatap kedua wanita yang beda usia itu, sudah tak bernyawa dan dalam keadaan mengenaskan.


"Kau melakukan ini semua.?" Arthur bertanya dengan pandangan mengarah pada, Clara dan ibu nya nyonya Carol.


Kim tidak menjawab, tapi Arthur merasakan anggukan kepala istrinya di dalam pelukannya.


"Kau tega tidak mengajakku, okusan.?" Ujar Arthurku dengan nada merajuk.


Kim melepaskan diri dari pelukan hangat yang mampu membuatnya tenang itu. Ditatapnya lekat manik sipit sang suami yang tajam itu. Kim menghadiahi kecupan bertubi-tubi pada sang suami manjanya itu.


"Aku takut, kau akan mengganggu kesenangan ku, sayang.?" Sahut Kim dengan senyum usil.


Arthur terlihat mendelik dan membuang wajahnya ke arah lain. Pria itu kini dalam mode merajuk.


"Hei. Kenapa kau begitu imut kalau merajuk." Kekeh Kim, sambil membingkai bibir tipis suaminya dengan salah satu tangannya sehingga bibir tipis Arthur membentuk ciuman.


Kim mengecup bibir tipis suaminya yang masih ia mainkan itu. Dan melepasnya saat Arthur menahan tengkuk belakang nya, untuk memperdalam ciuman mereka tanpa memperdulikan sekitarnya. Keduanya dalam mode dunia seakan milik berdua.

__ADS_1


Membuat tiga nyawa dengan status jomblo itu berdecak dan mencebikkan kearah pasangan suami-istri yang dijuluki dunia seakan milik mereka berdua, terus yang lain dianggap numpang duduk ajak gitu. Hm, … hm … sungguh terlalu ….!!


Mulut merah alami Nathan tidak berhentinya bersungut-sungut, melihat kelakuan pasangan suami-istri itu.


"Cih. Dasar pasangan tidak tahu tempat."sungut Nathan.


Kini perhatian Nathan tertuju pada sosok pria gagah dan cool men. Nathan mengkerut bingung, ia lalu mendekati pria tersebut yang sedang saling merangkul dengan, bidadari bermata empat miliknya. Nathan lalu menyingkirkan tangan Larry dari pundak bidadarinya dan mendelik Larry tajam. Nathan meraih pundak mungil Jenny dan membawanya kepelukannya.


"Hey, tuan yang lebih tampan dari wajah ku. Jangan coba-coba menyentuh bidadari berkacamata milikku." Pungkas Nathan dengan wajah tidak suka.


Jenny berusaha menjauh dari pria gila di dekatnya.


"Lepaskan, tuan.!" Bisik Jenny di dalam dada Nathan.


"Tidak.!


"Tuan, Nathan lepas. kau akan membuatku kehabisan nafas." Keluh Jenny.


Jenny pun mendongakkan kepalanya dan tatapan mereka kini bertemu saling mengunci. Keduanya saling mengagumi dalam diam. Saling memuji dalam hati, akan keindahan wajah mereka masing-masing. Nathan sedikit demi sedikit mendekatkan wajahnya dan menghapus jarak mereka. Kini hembusan nafas hangat mereka saling beradu dan menyapa wajah mereka. Jenny begitu dimabukkan oleh tatapan teduh pria bermanik biru terang itu dan ia semakin terhanyut saat hembusan nafas hangat dan aroma jantan itu menyapa wajahnya. Ia bahkan memejamkan kedua mata bulatnya, ketika Nathan menempelkan bibir merah alaminya di atas bibir mungil merekah Jenny. Bibir keduanya masih terdiam di tempat tanpa ingin bergerak ataupun menari-nari disana. Seperti pasangan yang saling bercumbu tanpa tau tempat itu.


"Apa kau menunggu ku, untuk menyesap dan memagut bibir mu lebih dulu.?" Bisik Nathan dengan bibir mereka masih menempel.


Jenny dengan polosnya mengangkuk pelan dengan mata berkilau, membuat Nathan hanya bisa mengerang dalam hati.


"Sial. Dia begitu menggemaskan.!" Teriaknya dalam hati.


Tidak ingin membuang waktu lama, Nathan lantas menyesap bibir mungil Jenny bagian bawah dengan lembut membuat wanita bermata empat itu terlena. Jenny hanya bisa memejamkan mata, dan mulai mengikuti gerakan bibir Nathan meskipun masih terlihat kaku. Nathan menyemakkan jari-jemarinya di belakang kepala Jenny dan menekannya, agar memperdalam ciuman bibir mereka.


Sepasang manusia bermata empat itupun saling menyesap saling merasai, kelembutan dan kemanisan bibir mereka masing-masing.

__ADS_1


Sementara Larry hanya bisa menghela nafas dengan kelakuan pasangan-pasangan yang tidak tau tempat dan kondisi ini. Larry menegur sang adik agar mereka segera meninggalkan tempat ini.


"Kimby." Tegur Larry.


"Hum! Sahut Kim saat terlepas dari jeratan bibir tipis suaminya.


Arthur menatap wajah Larry tajam seakan mengajak gelud.


"Dia kakak ku.!" Bisik Kim.


"What! Pekik Arthur tidak percaya.


Ia memindai wajah tampan dan gagah Larry. Dia seakan iri dengan ketampanan pria di depannya ini.


"Tapi, … tunggu. Aku merasa mengenalnya.?" Cicit Arthur.


"Ayo, kita pulang.!" Ajak Larry.


"Kau berutang penjelasan padaku, okusan."


"Begitu pun dengan ku, sayang. Aku juga butuh penjelasan" sahut Kim dan melirik Larry.


Nathan mengangkat tubuh mungil Jenny dan bermaksud membawanya dan menghindari tatapan, Arthur yang pastinya akan mengganggu mereka.


Nathan yang akan melangkah dengan, Jenny di gendongannya harus terhenti saat, tiba-tiba Arthur menarik topi jaket Hoodie Nathan.


"Kau mau kemana, ...? Urus mereka.!" Perintah Arthur.


Nathan terpaksa memisahkan bibirnya dengan bibir Jenny dengan enggan.

__ADS_1


"Maaf, kita harus menyeda nya. Next kita lakukan lagi. Oke."


__ADS_2