
"Kenapa dia belum bangun,?" Tanya mommy Gabriela, sambil menatap Lusi yang masih tertidur.
"Ini sudah sore, tapi kenapa dia belum bangun, kakak," tanya Kim yang merasa heran dan khawatir.
"Kakak," sentak Kim, saat Larry hanya terdiam.
"Kata dokter, dia tidak apa-apa. Ini semua hanya pengaruh obat yang dia minum," jawab Larry yang masih setia di sisi Lusi.
"Obat?" Cicit Kim dan mommy Gabriela.
"Hm. Obat tidur," jawab Larry.
"What," pekik mom Gabriela.
"Pantas," gumam Kim.
"Kakak serius, dia tidak apa-apa.?" Kim bertanya kepada Larry yang hanya ingin meyakinkan kakaknya itu.
"Hm, kata dokter begitu. Dia hanya butuh tidur sampai pengaruh obat tidurnya hilang,"ujar Larry.
"Syukurlah," ucap mommy Gabriela.
"Jadi, apa rencana kakak sekarang,?" Tanya Kim.
"Menikahinya, apa lagi," sahut Larry.
"Really,?"
"Hm! Aku ingin malam ini,"
"What," teriak Kim dan mommy Gabriela.
"Kakak, serius akan menikahinya malam ini,?" Tanya Kim sekali lagi.
"Kakak yakin dan sangat yakin," ujar Larry dengan wajah serius.
"Apa mom dan kimby, ingin menolong ku,?"
"Tentu kakak, aku akan selalu mendukungmu,"
"Tenanglah, son. Mommy akan menyiapkan segalanya untuk pernikahan kalian malam ini."
"Aku hanya butuh yang sederhana, mom,"
"Maka, mommy dan Kim akan mengabulkan permintaanmu."
"Terimakasih,"
"Kakak, jangan seperti itu. Ini sudah kewajibanku untuk menyiapkan keperluan pernikahan, kakak,"
"Terimakasih, sayang." Larry memeluk adik satu-satunya itu dan mencium kening Kim.
"Kakak, menyayangimu," ucap Larry.
"Hm. Aku juga menyayangi, kakak," balas Kim.
"Baiklah, Kim. Sebaiknya kita mulai menyiapkan keperluan pesta sederhana pernikahan, putra satu-satunya keluarga Hugo," imbuh mommy Gabriela.
"Mommy, benar." Kim menyetujui ajakan mommy Gabriela.
"Baiklah, kakak. Jaga pengantin wanita kakak baik-baik. Kami akan menyiapkan pesta pernikahan untuk kakak." Kim mengecup pipi Larry dan dia meninggalkan kamar Lusi dan disusul sang mommy.
"Ingat. Jangan macam-macam dulu," perintah mommy Gabriela.
"Jangan khawatir, mom," sahut Larry.
Setelah memberikan peringatan kepada Larry. Sang mommy menyusul Kim, keluar dari kamar Lusi.
Si kembar Lima sendiri sedang tertidur di kamar mereka. Dan Kim menyiapkan beberapa baby sitter untuk menjaga kelima anaknya.
__ADS_1
Tentu saja dalam pengawasan Kim dan mommy Gabriela sendiri.
Mereka tidak ingin kecolongan lagi.
Mereka tidak ingin musuh memasuki Mansion mereka dan menyakiti kelima bayi kembar Kim dan Arthur.
*
*
*
Larry masih betah menatap wajah imut gadis kesayangannya, yang masih terlelap cukup lama, akibat pengaruh obat tidur yang Lusi minum.
Larry yang merasa khawatir membawa Lusi ke rumah sakit dan ia pun bisa merasa lega saat mendengar hasil pemeriksaan dokter, yang mengatakan kalau Lusi hanya dalam pengaruh obat tidur dengan dosis yang banyak.
Lusi hanya butuh tidur lama untuk menghilangkan pengaruh obat tidur dalam tubuhnya tersebut.
Setelah itu keadaan Lusi akan baik-baik saja.
Larry hanya bisa mengerutut kesal oleh tingkah Lusi yang meminum begitu banyak obat tidur.
Hampir saja ia overdosis, dan juga Larry cepat membawanya kerumah sakit.
Larry kini ikut berbaring di samping Lusi dan memainkan wajah kekasihnya yang hilang selama tiga bulan lamanya.
Membuat Larry tidak enak makan dan tidur.
Ia akan terbayang-bayang wajah imut Lusi dan juga tingkah menggemaskan Lusi.
Larry meraih telapak tangan Lusi dan mendekatkannya ke bibir tebal seksi dan memberikannya beribu-ribu kecupan hangat.
Ia juga merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah imut gadisnya.
Memainkan bibir mungil Lusi yang nampak begitu menggoda Larry sejak tadi.
Larry hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan dirinya yang ingin menyerang bibir mungil gadisnya yang begitu merekah indah apalagi dengan warna pink alami.
Lusi tak sedikitpun merasa terusik oleh gangguan Larry.
Ia masih saja terlelap dengan damai nya. Ia tidak merasakan bibir Larry yang kini menciumi puncak kepalanya.
"Bangunlah, putri tidurku," bisik Larry di puncak kepala Lusi.
"Hey, honey bangunlah. Sebentar lagi kita akan menikah. Tidak mungkin kan aku menikahi putri tidur," ujar Larry dengan terkekeh pelan.
"Honey," usik Larry dengan memainkan bibir mungil kekasihnya.
"Bangunlah," usik nya lagi, yang kali ini sambil mengecup bibir merekah Lusi.
"Hg! Terdengar lenguhan halus dan lembut dari gadis di atas tubuh Larry.
Larry tersenyum dan semakin mengusik tidur Lusi.
"Daddy, aku masih ngantuk," racau Lusi yang matanya masih tertutup rapat.
"Bangunlah, honey," bisik Larry.
"Hm! Gumam Lusi.
"Buka matamu, dan lihatlah," ujar Larry dengan bisikan.
Dengan mata yang masih berat Lusi membuka sebelah matanya dengan perlahan.
Hal pertama ia lihat adalah kulit dan daging keras.
Tapi tunggu sejak kapan daging memiliki bulu-bulu halus? Batin Lusi.
Ia pun kembali menutup matanya yang masih sangat berat dan tidak sanggup terbuka.
__ADS_1
"Apa yang terlihat,?" Tanya Larry.
"Daging."
"Daging,?"
"Hm, daging keras dan berbulu," racau Lusi.
"Kau, tau dengan siapa kau bicara, honey." Larry yang sudah merasa gila karena hasraatnya tiba-tiba bangkit dan kini sudah berada di ubun-ubun.
Hanya karena melihat tingkah Lusi yang mengemaskan.
"Tidak," jawab Lusi pelan.
"Kenapa,?"
"Karena aku tertidur? Jadi aku tidak bisa bicara." Oke pix tingkat uji coba kekuatan untuk menahan sesuatu yang sudah terbangkit dan menegang seperti pembangkit tenaga listrik.
"Sial," maki Larry.
"Kenapa gadis ku ini sangat mengujiku,?" Geram Larry.
Percayalah sesuatu dibawah sana sejak sudah tidak sabar untuk lepas landas.
"Tunggu! Tiba-tiba Lusi mengangkat kepalanya dan membuka kedua mata bulatnya yang indah.
Ia menatap wajah di bawahnya sangat lekat dan lama.
"Daddy?" Lirihnya.
"Iya, honey ini aku," jawab Larry dengan intonasi suara yang sudah serak-serak becek.
"Kenapa, daddy ada di bawah,?" Tanya Lusi yang masih setengah sadar.
"Karena, kau ada di atas, honey," balas Larry setengah mengerang.
"OH Tuhan, ternyata ujian ini sangatlah berat," batin Larry.
"Atas? Lusi membeo dengan wajah yang begitu imutnya.
"OH, mommy maafkan aku," ujar Larry.
Larry lantas menarik tengkuk Lusi dan menabrakkan bibir mereka. Larry ******* dan menyesapp lembut bibir yang sejak tadi menggodanya itu.
Lusi yang masih terdiam dengan mata yang berkedip-kedip lucu. Ia masih mencoba mencermati ini semua.
"Apakah, ini mimpi? Tapi kalau mimpi kenapa seperti nyata,?" Batin Lusi.
"Rasanya nyata dan manis, legit," batin wanita itu lagi.
"Sungguhkah ini mimpi? Kalau iya aku berharap tidak bangun lagi."
"Aku, sangat merindukan bibir, daddy yang legit."
Lusi terus saja terdiam menikmati cumbuan bibir Larry di bibir merekah miliknya.
Ia tidak dapat berkutik sedikitpun. Ia tidak juga membalas ciuman bibir Larry, dia hanya terdiam dengan berang batinnya yang bertanya-tanya.
"Kenapa, kau tidak membalas ciuman ku.?" Larry bertanya saat melepaskan tautan bibir mereka.
Lusi terdiam menatap dalam wajah tampan pria dewasa di bawahnya.
"Apakah, di alam mimpi kita juga bisa berbincang,?"
"Apa?"
"Apakah, aku masih tidur dan bermimpi,?"
"Oh, astaga,"
__ADS_1
Larry pun menarik kembali tengkuk Lusi dan menyatukan kembali bibir mereka. Dan mencumbu bibir mungil, merekah itu dengan sangat lembut penuh penghayatan.