Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 101


__ADS_3

"Tok, … tok … tok …."


"Masuk!


Setelah mendengar sahut dari dalam, seorang wanita seksi dengan rambut panjang terurai, berwarna kuning kecoklatan, membuka pintu ruangan sang big boss.


"Selamat siang, tuan." Sapa sekestaris baru Arthur.


"Hm." Jawab Arthur dengan deheman.


"Katakan.!" Perintah Arthur dingin, tanpa melihat sang sekestaris yang berusaha mencari perhatian, Arthur yang hanya fokus pada dekumen berkas di hadapannya.


Cleopatra merapikan penampilannya dan mengangkat sedikit bawahan span miliknya dan membuka satu anak kancing pada blus ketat yang ia kenakan.


"Apa kau tuli dan bisu.?" Ujar Arthur dingin, yang mana membuat Cleopatra tersedat kaget.


"M-maaf tuan. Satu jam lagi anda ada pertemuan dengan, investor dari Dubai, tuan." Lapor Cleopatra.


"Hm, ada lagi."


"Tidak ada lagi, tuan,"


"Keluarlah.!" Perintah Arthur.


"Ada yang anda butuhkan lagi tuan.?" Tanyanya penuh harap.


"Suamiku, tidak butuh sesuatu, jadi keluarlah." Sela Kim, yang menyahuti pertanyaan sekestaris model ulat keket itu.


Kimberly yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik Cleopatra yang berusaha mengambil perhatian sang suami.


Dia tidak akan membiarkan, wanita model ulat keket betina ini, mendekati suami tampan dan manisnya.


"Tidak semudah itu, Marimar." Batin Kim sinis.


"Bukankah begitu, sayang.?! Ujar Kim pada suaminya.


"Apa.?" Sahut Arthur yang sejak tadi hanya fokus memeriksa dokumen berkas yang menumpuk.


"Apa kau membutuhkan sesuatu, sayang.?" Seru Kim, sambil menghampiri suaminya.


Arthur mengulurkan tangannya untuk menyambut, istri cantiknya itu dan langsung mendudukkan sang istri di atas pangkuannya.


"Aku membutuhkan susu rasa mochi ku, okusan." Sahut Arthur jangan lupa senyum penuh maksud terlihat di wajah tampan bermata sipit ini.


"Ck! Dasar mesum."


"Aku hanya menginginkan, susu cap gunung kembar rasa mochi dan ada label halal-nya tentunya." Sahut pria itu kembali, dengan alis yang naik-turun.


"Ternyata suami polosku mesum juga." Kekeh Kim, sambil mencubit kedua pipi suaminya.


"Kau tambah mengemaskan, sayang."


"Benarkah."


"Hu'um."


"Aku ingin membawa mu, ke ranjang."


"Dengan senang hati aku ikut, okusan."


Pasangan suami-istri itu tidak mengindahkan kehadiran seorang gadis yang sejak tadi menyaksikan keromantisan mereka dengan rasa iri hati dan iri dengki tentunya.


"Kau masih disini.?" Sela Kim, yang melihat Cleopatra masih berada di ruangan suaminya.


"Apa kau ingin menyaksikan kami bercinta.?" Sarkas Kim sinis.

__ADS_1


"Keluarlah." Perintahnya dingin.


Dengan perasaan kesal Cleopatra keluar dari ruangan Arthur, niat hati ingin mendapatkan perhatian sang big boss, tapi apa yang ia dapatkan sebuah adengan romantis yang membuat hati irinya mengepul.


"Cih! Dasar bibit pelakor." Cebik Kim.


"Sejak kapan suamiku ini, mempunyai sekestaris wanita model kayak gitu.?" Cebik Kim kesal.


"Sejak tadi."


"Tadi.?


"Hum. Jhonatan yang membawanya kemari."


"Aku tidak suka dia dekat-dekat dengan mu."


"Aku juga tidak suka. Mata ku bisa sakit melihat wajah penuh olesan makeup itu."


"Yah, sudah pecat saja."


"Baiklah, okusan ku yang tercantik."


"OH, suamiku yang manis dan tampan."


Kini bibir mereka sudah beradu dan saling melilit lidah di dalam rongga mulut mereka, setelah mulut manis mereka mengeluarkan pujian.


Kini cumbuan mereka, makin dalam dan makin menyelut emosi birahi mereka masing-masing. Arthur bahkan kini turun menjelajahi leher panjang dan indah istrinya. Memberikan sebuah tanda kepemilikan di sana, sebuah tanda yang bisa berubah warna, yang sebelumnya berwarna merah lama-lama akan, berubah warna ungu kebiru-biruan.


Kim meremas rambut rapi suaminya saat suami polos bin oon-nya itu, sudah mendaki gunung kembar, rasa mochi miliknya, tentu saja dalam, kemasan yang terjamin kemurnian dan ke sterilisasinya.


"Hg." Leguhaan lolos dari bibir seksi Kim, ketika merasakan bibir suaminya kini bermain-main di atas pucuk gunung kembarnya yang memiliki warna yang dapat, mencerahkan mata Arthur tentunya.


Sementara Arthur sibuk menikmati sumber imun-nya. Ia begitu semangatnya menyesaap sumber imun-nya itu secara bergantian dan sesekali memberikan sensasi gigitan yang mampu membuat istrinya melayang tinggi.


"Sayang," tegur Kim, ketika suaminya sudah meraba kearea terlarangnya.


"Hm, sebentar saja, okusan."


"Jangan sekarang, sayang,"


"Sebentar, okusan. Aku masih ingin."


"Kau ada bertemuan, sayang." Ujar Kim dan mendorong kepala suaminya itu yang masih enteng di dua aset rasa mochi-nya.


"Ck! Padahal aku masih ingin menikmati mereka." Sahutnya sendu dan menatap benda indah miliknya dan milik istrinya.


"Nanti kita lakukan di mansion, sayang."


"Janji.!


"Hu'um."


"Baiklah, okusan ku."


"Ayo, saatnya melakukan pertemuan, sayang. Apa aku boleh ikut.?"


"Tentu saja boleh,"


"Apa tidak apa-apa? dengan penampilan ku seperti ini.?"


Arthur menelisik penampilan istrinya dan diapun memberikan jari jempol, yang bertanda ok.


"Baiklah, mari kita berangkat sekarang, sayang."


"Mari, okusan."

__ADS_1


Pasangan pengantin baru itupun keluar dari ruangan dan berjalan kearah lift yang akan mengantar mereka kelantai dasar. tanpa menghiraukan wajah kesal dan iri hati Cleopatra.


*


*


*


"Ting."


"Kau tak apa menungguku di mobil, okusan.?" Ucap Arthur saat mendapatkan panggilan telepon dari asistennya.


"Hm. Baiklah tapi jangan lama-lama, aku takut merindukan mu, sayang." Goda Kim jangan lupa senyum cantik wanita itu.


"Tentu, okusan ku."


Kimberly pun meninggalkan suaminya, setelah memberikan kecupan di bibir tipis suaminya itu.


Kimberly berjalan dengan langkah yang begitu anggun dan elegan. Semua orang yang berpasan dengannya begitu mengagumi kecantikan alami miliknya.


Kim menghentikan langkahnya, ketika sebuah tubuh sintal dan wajah yang, di hiasi make-up super tebal menghalangi jalannya. Kim hanya memutar matanya dan segera memasang wajah datar.


"Ck! Kenapa perusahaan suamiku dipenuhi ulat keket." Batin Kim kesal.


"Permisi, nona." Seru Kim ramah.


"Kau, darimana dan kenapa kau menaiki lift khusus, big boss disini.?" Sahut wanita dengan dandanan Sangat menyakitkan mata.


"Maaf, itu adalah urusan saya, nona.!? Jawab Kim dingin.


"Cih, pasti kau hanya wanita murahan, yang menjadi partner ranjang, big boss." Celutuk wanita yang memiliki rambut merah menyala itu.


"Astaga. Kenapa aku harus menghadapi begitu banyak, bibit-bibit pelakor di perusahaan suamiku sendiri.?" Geram Kim dalam hati.


"KATAKAN, APA KAU PATNER RANJANG, TUAN MUDA KATO.!! Bentak Pamela, gadis yang begitu menggilai suaminya.


"Iya aku patner ranjang, tuan muda, Kato." Balas Kim enteng.


"Dasar, murahan. Berani-beraninya kau menggoda pria incaran ku." Pekik Pamela dan menunjuk-nunjuk wajah datar, Kim.


"Itu urusan saya, nona." Balas Kim santai. yang membuat Pamela kepanasan dan kepalanya sudah mengepul, siap untuk memberi makian dan perhitungan pada wanita yang berani-beraninya menggoda pria, idamannya dan juga idaman para wanita di perusahaan Kato group.


"Dasar, wanita sok kecantikan."


"Memang saya cantik dan plus alami. Bukan cantik kalengan ataupun oplosan." Sindir Kim pedas.


"Kau! Geram Pamela.


"Iya saya, nona."


"Dasar wanita, murahan." Maki Pamela, dengan wajah geram.


"Maaf, saya wanita mahalan, nona. Dan saya tidak menjual tubuh saya dengan cara murahan, seperti model nona ini, memamerkan tubuh anda seperti wanita jaalang yang berada di club." Sarkas Kim pedas dan tajam setajam silet.


"Aku, rasa anda salah tempat nona, untuk pamer tubuh disini."


"Aku rasa anda tidak berniat bekerja di perusahaan ini. tapi anda sedang berniat jual diri. Katakan padaku berapa harga diri anda.!" Ujar Kim, dengan mulut tanpa efek filter itu.


Sedangkan Pamela, hanya bisa mengeram dengan kepala yang sudah berasap akibat, kepulan yang berlebih efek dari perkataan panas dan pedas Kim.


Gadis itu hanya bisa berniat menampar, Kim. Tapi gerakannya itu, bisa di baca oleh Kim, yang dengan gesitnya menahan telapak tangan Pamela yang ingin menampar wajahnya.


Kim memelintir tangan Pamela, sehingga gadis itu meringis sakit, mungkin tangannya itu sudah patah, itu terdengar dari suara, krek dari tangan kanan Pamela. Bukan itu saja, Kim juga menarik rambut gadis itu dan membenturkannya ke dinding, sehingga dahi Pamela mengeluarkan cairan merah segar. Kim juga memberi sebuah tamparan kiri kanan yang cukup, keras yang membuat Pamela tak sadarkan diri.


"Cih." Decih Kim, dan meninggalkan Pamela di sana dalam keadaan tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Bibit pelakor memang harusnya, di singkirkan dengan cara sekali Gibas, dan membungkam mulut hinanya dengan hinaan juga." Gumam Kim, sambil berjalan kearah pintu keluar masuk perusahaan Kato group.


__ADS_2