
Lusi yang berjalan dengan senyuman merekah terus mengembang di wajahnya.
Ia bahkan bertingkah layaknya seorang remaja yang sedang dilanda kasmaran.
Wajah imutnya terlihat merona dan tersipu malu. Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya, ia sibuk dengan rasa membuncah di dadanya.
Tingkahnya itu tidak lepas dari mata tajam seorang pria yang berdiri tegak di depan sana. Dengan tangannya yang terkepal erat dan wajah berubah merah, rahang tegasnya bahkan mengetat saat melihat wajah dan tingkah Lusi.
Larry berdiri sambil berkacak pinggang di depan sana, jalanan yang akan dilalui Lusi untuk menuju kamarnya di lantai dua di Mansion Hugo.
Larry seakan sengaja menunggu wanita itu. Ia begitu geram ketika netra nya di suguhkan adegan Lusi dan Kenzie yang sedang berdua di taman belakang. Ia makin geram ketika Kenzie menarik Lusi dan membawanya pergi.
Larry pun bermaksud mengikuti, Lusi dan Kenzie, tapi sayang langkahnya dihalangi oleh adik ipar lacknat nya bersama sepupu culun suami adiknya itu.
Akhirnya Larry hanya bisa menunggu Lusi dan Kenzie kembali, meskipun ia harus menahan rasa penasaran dan was-was. Dan disinilah sekarang pria bermanik biru kehijau-hijauan itu dengan kedua tangannya di pinggang dan tatapannya menghunus ke arah gadis yang berjalan sambil menunduk itu.
"Bugh"
"Awwh! Ringis Lusi saat keningnya menabrak sesuatu yang keras tapi tunggu, "kenapa kenyal-kenyal dan wangi.?" Batin Lusi dengan hidungnya yang mengendus-endus.
Ia pun bingung ketika netra hijaunya mendapati sebuah kain di depannya berwarna hitam.
Dengan perlahan manik Lusi menyusuri ke arah bawah. Dan alis indahnya menukik saat menemukan sepasang kaki," kaki? Cicitnya sambil menggaruk belakang kepalanya.
Lusi pun kembali mengarahkan maniknya keatas secara perlahan. Dan seketika mata lebarnya yang bermanik hijau itu membola, dan mulutnya pun ikut terbuka.
Lusi masih mematung di tempatnya dengan kepala dengan otak polos itu mendongak keatas.
Ia memandangi wajah tampan Larry yang terlihat horor dengan mata tajamnya menatap Lusi, seakan-akan ingin menerkam gadis yang ada di depannya ini.
Dan itulah yang sejak tadi Larry tahan. Saat melihat tingkah polos gadis di depannya ini. Ia hanya bisa mengerang ketika Lusi bertingkah menggemaskan sejak tadi di hadapannya.
Ingin rasanya Larry membawa gadis ini ke dalam kamarnya dan mengurung gadis imut ini, yang sialnya bertambah imut ketika pipi Lusi merona.
"M-maaf tuan." Lirih Lusi menyadarkan Larry dari pikiran kotornya.
"Kau mau kemana, gadis nakal." Bisik Larry dan menarik tubuh mungil Lusi, saat gadis itu mundur dan bermaksud ingin melarikan diri.
"A-aku mau ke kamarku, tuan." Sahutnya gugup. Ayolah jantung gadis itu kini sedang berdisko ria, berada di pelukan hangat dan wangi pria matang dan gagah ini.
"Tidak semudah itu, gadis nakal," bisik Larry yang yang menundukkan wajahnya di dekat telinga Lusi dan sengaja menghembuskan nafas hangatnya disana.
Terang saja tubuh Lusi menegang dan meremang. Ia merasa perutnya digelitik ribuan kupu-kupu.
Larry merangkul erat pinggang ramping gadis yang ada di pelukannya itu. Dan merapatkan tubuh mereka.
Dengan sekali hentakan, kini tubuh mungil yang tingginya hanya sebatas dadanya itu, sudah berada di atas gendongannya. Lusi seperti seekor anak Kuala yang menempel di tubuh induknya. Tapi Lusi beda ia menempel di tubuh kekar pria dewasa yang sialnya membuatnya hanya terdiam membisu.
"A-apa yang tuan lakukan? Turunkan aku, tuan.!"
Pinta Lusi dengan perasaan bercampur- campur.
Larry menulikan ucapan lirih malu-malu Lusi. Ia terus melangkah kearah kamarnya yang berada di lantai tiga.
Lusi hanya bisa mengeratkan kedua kakinya di pinggang keras Larry dan mengeratkan pegangan tangannya di ceruk leher Larry.
"Tuan mau membawa ku kemana.?" Tanya Lusi. Ia sejak tadi mengintip di balik leher Larry, dan ia bingung kemana pria dewasa ini akan membawanya,. "apakah, pria ini akan membuangku? Dari rooftop kebawah.?" Batin Lusi.
Lusi menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Larry dan ia menatap wajah Larry dengan mata yang berkaca-kaca.
Larry menghentikan langkahnya dan membalas tatapan Lusi yang matanya berkilau oleh genangan air mata.
Larry mendudukkan dirinya di sofa malas yang ada lantai tiga. Larry menatap dalam wajah gadis yang ada di pangkuannya.
"Ada apa.?" Bisik Larry sambil mengusap air mata Lusi yang lolos dari mata lebarnya yang indah.
"Katakan, kenapa kau menangis," tanya Larry, dengan intonasi suara lembut mendayu.
__ADS_1
"Tuan." Lirih Lusi dengan isakan.
"Hm! Gumam Larry dengan suara mulai terdengar berat. Ayolah Larry laki-laki dewasa yang normal. Disuguhkan pemandangan menggemaskan di depannya membuat jiwa kelaki-lakiannya bangkit. Apalagi Lusi duduk pas di atas inti pusat tubuh nya.
"Katakan, gadis nakal." Bisik Larry tepat di wajah Lusi dan tangan Larry kini menyusut di sela-sela helaian rambut Lusi.
Lusi memejamkan matanya saat hembusan nafas hangat dan beraroma maskulin itu menyapu seluruh wajahnya. Bulu kuduknya meremang ketika jari-jari kokoh Larry menari-nari di tengkuknya.
"Cup! Sebuah kecupan hangat Larry berikan di atas bibir mungil Lusi.
Lusi pun membuka matanya dan tanpa sadar ia menyentuh bibirnya yang masih terasa bibir hangat Larry di sana.
"Katakan, kenapa kau bersedih.?" Tanya Larry sambil mengusap pipi kenyal Lusi, " cup." Larry meninggalkan kecupan di sana di pipi kenyal gadisnya.
"Apa aku punya salah kepada, tuan.?" Ujar Lusi dengan wajah polosnya.
Larry tersenyum kecil dan kembali ia mencium pipi Lusi.
"Ada! Jawab Larry.
"Apa? Tanya Lusi dengan tatapan serius.
"Banyak." Ucap Larry singkat.
"Banyak? Lusi membeo.
"Bisa tuan jelaskan salah saya apa.? Lusi bertanya dengan wajah penasaran.
Larry kembali tersenyum dan ia menggesekkan hidung mancung mereka gemes. Dan di akhir kecupan manis kembali di bibir mungil Lusi.
"Katakan tuan." Rengek Lusi.
"Baiklah!
"Pertama. Berhentilah memanggil ku tuan.!" Pinta Larry.
"Daddy!
"Daddy? Lusi kembali membeo dengan kening mengkerut bingung.
"Hm!
"Kenapa aku harus memanggil anda, daddy? Andakan bukan suami mommy ku." Jawab Lusi dengan polos.
"Bukan begitu, girl." Geram Larry.
"Terus? Jangan bilang tuan ingin menjadi daddy tiriku.!" Pekik Lusi.
perkataan Lusi membuat Larry menganga dan juga gemes. pria ini hanya bisa bersabar menanggapi sikap polos Lusi.
🌹 Larry ligh Hugo 🌹
"Oh iya kenapa anda memanggil ku, honey? Namaku kan bukan honey, tapi Lusi. LUSI." Tekan Lusi sambil mengeja namanya.
Larry hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah polos gadisnya ini.
"Aku tidak peduli. Kau harus memanggilku, daddy dan aku akan memanggilmu, honey."
"Tapi kenapa.?"
"Shut, diamlah." Larry menyela ucapan Lusi dengan sebuah kecupan.
"Tapi tu, …." Uraian protes Lusi terhenti ketika Larry menarik tengkuk Lusi dan menyatukan bibir mereka. Larry bahkan menyesap dan ******* bibir mungil Lusi dengan lembut.
"Panggil aku, daddy." Bisik Larry saat melepaskan tautan bibir mereka dan menghapus sudut bibir Lusi yang basah.
__ADS_1
Lusi pun mengangguk patuh dengan wajah merona dan bibir yang di katup rapat-rapat.
"Kesalahanmu yang kedua. Aku tidak suka kau dekat dengan Kenzie." Dan ketiga. Kau tidak boleh dekat dengan pria manapun." Titah Larry membuat Lusi menganga.
"Aku rasa ini bukan rentetan kesalahan ku? Tapi ini adalah sebuah perintah." Cebik Lusi.
"Pintar."
"Tapi kenapa aku tidak boleh dekat dengan Kenzie.?"
"Karena kau milikku, gadis nakal." Bisik Larry dan menarik tubuh Lusi agar lebih menempel kepadanya.
"Milik anda?
"Panggil aku daddy, honey.!"
"D-daddy.!"
"Oh, aku suka."
"Jawab aku kenapa daddy, mengatakan aku milikmu."
"Karena mulai sekarang kau milikku, honey."
"Why?
"Karena hanya aku yang akan memiliki mu.!"
"Ish. Tidak adil.
"Aku tidak peduli."
"Kau sungguh menyebalkan.!
"Tapi aku sungguh menyukaimu, honey." Bisik Larry.
"Kau membuatku malu, daddy."
"Aku, suka suaramu saat memanggilku, daddy."
"Begitukah?
"Hm!
"Daddy!
"Ucapkan sekali lagi.!"
"Daddy!
"Lagi!
"Daddy,"
"Oh honey!"
"Ehem. Jam adegan romantis nya habis dan waktunya tidur."
"Tidur, tidur, tidur."
"Sial!
"Dasar adik ipar lacknat!!!!
🌹 Lusiana 🌹
__ADS_1