Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 113


__ADS_3

Arthur Cedrik Kato, tidak sedikitpun beranjak dari sisi istrinya yang sudah dua hari belum sadar dari tidur panjangnya, Kim sudah melewati masa kritisnya, sekarang yang harus Arthur lakukan adalah mengajak istri tangguhnya itu, terus berbicara agar memancing otak saraf yang rusak akibat racun yang hampir merenggut nyawa sang istri.


Arthur bahkan tidak memperdulikan kesehatan dan juga penampilannya. Hanya panggilan alam menuju toilet lah, ia harus terpaksa meninggalkan istri cantiknya itu, setelah menyelesaikan urusan panggilan alam di dalam toilet, Arthur Kembali lagi kesisi sang istri.


Arthur menatap sendu wajah pucat istrinya, yang masih enggan membuka mata. Ia mengeggam tangan lentik istrinya itu dengan sangat lembut dan membawanya mendekat kearah bibir tipis miliknya.


Arthur mengecup pelan telapak tangan sang istri berulang kali. Ia juga membelai wajah pucat istrinya itu yang masih terlihat aura kecantikan alami dari sang istri.


Arthur setengah bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya kearah wajah pucat Kim. Arthur mengecup seluruh wajah pucat Istrinya dan berakhir di bibir tebal nan seksi Kim yang masih ada rasa manis-manisnya itu.


Arthur Kembali mendudukkan tubuh tingginya setelah, memberikan kecupan di seluruh wajah istri cantiknya. Arthur menyandarkan punggung kokohnya di sandaran kursi yang ia duduki dan mengusap wajahnya, yang kini mulai di tumbuhi bulu-bulu halus disekitar wajah orientalnya. Bulu-bulu halus yang menambah kesan maskulin dan cool.


Arthur menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan. Arthur kembali menatap wajah tanpa makeup istrinya. Ia mencondongkan sedikit tubuh tingginya kearah wajah Kim. Arthur mendekatkan mulutnya di telinga sang istri. Membacakannya mantra-mantra cinta.


"Bangunlah, okusan. Apa kau tidak kasihan pada ku.?"


"Apa kau tidak merindukan pelukan hangat ku.?"


"Bangunlah, okusan ku. Aku merindukan mu. Sangat, merindukan mu."


"Bangunlah, baby. Aku merasa kesepian dan aku rasa tubuhku kurang pasokan belaian dari mu, okusan."


"Aku rindu Mochi ku, aku butuh penambah imun tubuhku," lirih Arthur sambil merebahkan kepalanya di samping telinga istrinya.


"Aku janji akan memberikan semua senjata ku padamu, kalau kau bangun sekarang, okusan. Aku bahkan akan membelikan mu sebuah pesawat tempur jika dalam hitungan jam kau bangun maka pesawat itu akan datang sekarang juga." Lirih pria sipit itu lagi sambil memejamkan matanya.


"Apa, kau serius.?


Sebuah suara lemah dan serak, menyapa Indra pendengaran Arthur, yang membuat Arthur segera menggangkat kepalanya dan ia terhenyak saat mata indah istrinya terbuka lebar dan menampilkan senyum lemah disana.


"Katakan padaku, kau serius ingin memberikan ku pesawat tempur.?" Ucap Kim kembali,membuat Arthur mengangkuk bodoh. dan seketika ia menghamburkan tubuhnya kedalam pelukan sang istri yang begitu ia rindukan.


"Kau, sadar? Kau sudah bangun, okusan.?" Seru Arthur dengan raut bahagia dan lega.


"Apa kau mengharap aku tidak bangun lagi.?


"Apa yang kau katakan itu, okusan. Kau bahkan membuatku hampir gila." Cebik Arthur di sela tangisnya.


"Aku bisa melihatnya." Sela Kim.


"Lihatlah, wajah mu. Kau tidak mencukur kumis mu dan juga bulu-bulu halus di wajah mu ini? Tapi aku suka, kau terlihat sangat tampan." Puji Kim dengan raut wajah lemah dan pandangannya masih sayu.


"Kalau begitu aku tidak akan membuangnya."


"Kau tidak menyapa para penghuni perut mu.?


"Hu'um. Aku tidak berminat menyapa mereka.!" Adu nya pada Kim layaknya seorang anak kecil yang mengadu pada sang ibu.


"Nanti mereka membuatmu sakit, sayang."


"Sekarang, sapalah mereka. Aku takut kau juga ikut sakit. Kalau kau sakit, siapa yang akan mengendong ku? Apa kau rela Natan mengendong ku.?"


"Tidak! Aku tidak akan pernah rela istri cantik ku di sentuh orang lain."


"Makanlah."


"Hm. Apa kau ingin menemaniku.?"


"Hu'um."


"Biar akau menyuapi mu."


"Bantu aku duduk."


"Sebentar.!"


"Ada apa.?


"Apa kau tidak membutuhkan, dokter.?"


"Tidak! Aku hanya membutuhkan mu, sayang."


"Kau butuh di periksa dulu, okusan.!"

__ADS_1


"Oke, tapi aku ingin makan dari tangan mu."


"Baiklah, sekarang duduk lah dulu. Katakan apa kau merasa pusing.?"


"Sedikit."


"Berapa lama aku tertidur.?"


"Dua hari, tiga malam."


"Berarti tidur ku panjang rupanya."


"Hum, dan kau membuatku ketakutan."


"Takut kenapa.?"


"Takut kehilanganmu,!"


"Kau mencintaiku.?"


Pertanyaan Kim sukses membuat Arthur terdiam dan ia menatap dalam manik indah sang istri.


"Aku sudah mencintai mu dari dulu." Lirih Arthur.


"Apa yang kau katakan.?"


"Aku mencintaimu, Kimberly ligh Hugo." Ungkap Arthur dengan nada serius dan pandangan yang menyakinkan.


"Apa kau yakin, mencintaiku.?" Tanya Kim dan membuang pandangannya kesamping.


"Aku yakin. Dan sangat, sangat yakin."


"Apa yang membuatmu yakin.?"


"Karena kau cinta pertama ku."


Kim menyengit dan mengerutkan hidung mancungnya, bertanda ia binggung atas apa yang suaminya itu ungkapkan.


"Maksud kamu apa.?" Tanya Kim binggung.


"Kau menyebalkan." Degus Kim dan mengerucutkan bibirnya.


"Cup! Jangan menggodaku, okusan. Kau tau sendiri benda ajaib ku sangatlah sakti, dia akan terbangun hanya melihat bibir mu mengerucut." Kekeh Arthur.


Kim hanya mencebikkan bibirnya kembali dan satu kecupan singkat ia dapatkan dari suaminya lagi.


"Dasar mesum." Cebik Kim dan dengan segera menutup mulutnya.


"Sekarang buka mulutmu dan mari kita makan.!"


Dengan patuh Kim membuka mulutnya dan menyambut suapan suaminya dengan manja. Pasangan itupun saling berbagi keceriaan di siang hari itu penuh dengan, kehangatan dan kelembutan yang didapatkan Kim dari suaminya, Arthur Cedrik Kato.


*


*


*


Keromantisan penuh cinta dan kehangatan itu harus terganggu, oleh sebuah suara lengkingan khas melambai, yang membuat Arthur tersendak makanannya, apa lagi melihat wajah tersangka.


"Kimberly,!!! Pekik sosok itu dengan suara khas melambai. Catatan: kalian bisa ambil contoh bang solehot lagi teriak manggil duo uping Ipong.


Kim menatap sosok itu, dengan wajah malas. Sementara Arthur hanya bisa terbatuk-batuk melihat pria yang begitu gagah dan macho, tapi di selisik lebih dalam, maka kau akan mendapatkan fakta dan kebenaran, kalau pria ini adalah pria setengah jadi.


"Glek! Arthur meneguk ludahnya kasar, saat sosok itu tersenyum menggoda dan mengedipkan mata padanya.


"Jangan menggodanya." Ujar Kim.


"Aku tidak menggodanya, tapi mataku yang tergoda dan terpesona padanya." Jawab pria melambai itu dan kembali mengerling nakal kearah Arthur.


Arthur pun menyembunyikan wajahnya di pelukan istrinya.


"Lihatlah, dia manis sekali." Sahut pria itu dan ingin menyentuh Arthur.

__ADS_1


"Jangan menyentuh ku." Pekik Arthur dan mengeratkan pelukannya pada istrinya.


"Aku tidak menyentuh mu, tampan. Tapi tangan lentik ku ini tergoda pada tubuhmu yang, wow. Membuat ku, berdenyut." Cerotos pria itu.


"Julio." Hardik Kim.


"Julia, sayang.?"


"Hei. Jangan memanggil istri ku sayang." Arthur menolak Julia alias Julio itu, memanggil istrinya sayang.


"OMG! Apa yang kau katakan, tampan." Pekik Julia dengan gaya terkejutnya.


" Jangan mendekat. Hus … hus … hus …" tolak Arthur ketika Julia mencoba mendekat kearahnya.


"Katakan padaku darling, kalau telinga peka ku ini tidak salah dengar." Ujar Julia penasaran.


"Dia memang suamiku."


"Benarkah!! OMG, Kimberly! Kau menikah tidak mengundang ku? Kau ... memang sungguh terlalu." Rajuk Julio.


"Hei, pulguso. Berhentilah memanggil istri ku mesra." Protes Arthur di balik tubuh lemah istri, ia tidak berhentinya bergedik geli melihat penampilan Julia.


"Julia. Namaku Julia, baby." Ucap Julio dengan nada di buat-buat semenggoda mungkin.


" Bisakah kau mengubur, manusia setengah jadi ini, okusan.!"


"Okusan.?" Julia membeo.


"Aku merasa familiar dengan panggilan mu, baby.?"


"Hei, fulguso jangan memanggil seperti itu. Kau membuatku ingin muntah."


"Kau jahat sekali." Rajuk Julio yang memperlihatkan muka mengelikannya.


"Okusan."


"Hah, aku ingat."


"Apa.?


"Tidak jadi."


"Cih! Menjauhlah, kau membuat suamiku ketakutan.


"Tapi aku terpesona."


"Julio.!!!


"Julia, baby."


"Hei, fulguso! Jangan memanggil istri seperti itu.!"


"Wow. Kau begitu tampan bila sedang marah. Lihatlah Mata sipit mu membuat hatiku bergetar dan berdenyut-denyut."


"Owek."


"Julio."


"Julia, kimberly."


"Terserah. Keluarlah kau membuat suamiku shock."


"Cih, lemah."


"Kakak, ipar. I'm coming.!!


"Astaga, mata kelamku berubah cerah."


"Oh OMG. Kenapa mereka tampan sekali."


"Astaga, astaga, mataku akan bertambah cerah memandangi mahakarya sempurna seperti ini."


"Owek, owek."

__ADS_1


"Julio!!!!!!


__ADS_2