
"Hg," leguhaan halus itu lolos dari mulut seorang wanita yang, hanya bisa pasrah kepada kenikmatan yang di berikan oleh suaminya di bawah sana.
"Honey," racaunya saat sesuatu dalam pusat tubuhnya akan meledak, ketika permainan Indra pengecap sang suami bermain begitu terampilnya.
Kim menjepit kepala suaminya dengan kedua pahanya saat sesuatu dalam dirinya yang tidak bisa lagi ia tahan kini akan meledak. Dan detik berikutnya ia menjepit dan memperdalam kepala suaminya saat, sesuatu itu kini telah tiba dan membuatnya berteriak nikmaat.
Dengan nafas yang naik-turun dengan di dukung oleh keringat yang kini telah membajiri tubuhnya, Kim menatap sang suami yang mata sipitnya sudah berkilat oleh birahii dan haasrat.
Kim mengalungkan kedua tangannya di ceruk leher sang suami dan menariknya untuk menyatukan bibir mereka kembali.
"Hg." Leguhaan mereka berdua kini terdengar nyaring di dalam kamar mereka, ketika sang benda ajaib milik, Arthur sudah menembus sang lawan yang begitu mengigit benda ajaibnya.
"Okusan," desaah Arthur, saat benda kebanggaannya itu kini sudah tenggelam di dalam gua ajaib sang istri. Ia pun mulai mengeraakkan pinggangnya dengan perlahan dengan tangannya yang masih aktif membelai salah satu mochi kesukaannya.
Arthur menundukkan wajahnya dan meraih bibir merekah istrinya yang sedang terbuka sedikit, saat menikmati hentakannya di bawah sana.
Kim hanya bisa membalas cumbuan suaminya dengan kedua tangannya meeremat punggung kokoh suaminya, sesekali dia mengigit punggung suaminya, ketika hentakaan suaminya di bawah sana makin tak terkendali.
Suara penyatuan nikmaat mereka kini mengema di kamar luas dan mewah itu. Di barengi suara ranjang yang ikut mengiringi suara penyatuan mereka, jangan lupa juga para nakes yang berdiri tegak di pinggir ranjang kini juga ikut menciptakan suara yang mengiringi suara menyatuan mereka yang begitu menggila dan penuh gairaah.
"Honey, aku m-mau, …." Kim tidak mampu berkata-kata lagi saat puncak pelepasan kenikmatan itu kini akan meledak kembali.
"Bersama, okusan." Bisik Arthur dengan suara berat dan serak.
Tak lama kemudian suara raungan dan lengkingan terdengar bersaut dari mereka, dan diakhiri suara pecah pas bunga yang ada di atas nakes.
"Kebiasan yang buruk." Kekeh Kim, melirik vas bunga yang hancur itu.
Arthur tak menjawab, dia kini hanya bisa mengatur nafasnya di tengah-tengah gunung kembar rasa mochi, milik sang istri.
Kim mengusap dahi suaminya, yang masih terlihat keringat yang ditimbulkan oleh sisa percintaan panas mereka.
Arthur mendongak saat dirasa nafasnya sudah normal kembali. Ia memberikan kecupan hangat di bibir seksi isterinya dan terakhir di kening sang istri yang masih terdapat keringat di sana.
"Mandilah. sebentar lagi waktunya makan malam." Suruhnya lembut dan bangkit dari tubuh istrinya.
"Kau mau kemana, sayang.?" Tanya Kim dengan hidung yang mengerut.
"Aku ingin menemui, Natan di ruangan kerja sebentar, cup." Jawab Arthur sambil memakai pakaiannya.
"Mandilah. Aku tinggal sebentar, ok. " Cup."
"Sayang, aku masih merindukan mu." Rengek Kim manja, dan kedua tangannya kini ia rentangkan.
Arthur kembali naik ke ranjang dan masuk kepelukan istrinya.
"Aku, hanya sebentar, okusan."
"Aku masih merindukan mu. Aku masih ingin memeluk suami manisku ini."
"Sebentar saja, okusan. Aku ingin membahas sesuatu yang penting bersama, Natan."
"Sayang,"
"Sebentar saja, okusan."
"Mandilah."
"Gendong aku."
"Baiklah, permaisuri ku, suamimu ini akan mengantarmu memasuki kamar mandi."
Kim tertawa renyah mendengar ucapan suaminya.
Arthur mengangkat tubuh polos Kim keatas gendongannya dan membawa istrinya itu, kedalam kamar mandi.
"Tunggu disini." Ujar Arthur, menurunkan tubuh istrinya diatas closed.
Pria itu lalu mendekat kearah bak mandi, dan mengisinya dengan air hangat. Setelah dirasa cukup, Arthur mengambil sabun dan juga wewangian untuk di tambahkan ke dalam bak mandi tersebut.
"Mandilah, okusan ku." Suruh dan kembali mengendong istrinya itu dan memasukkan istrinya ke dalam bak mandi tersebut.
"Terimakasih, sayang." Ucap Kim tulus. Ia memejamkan matanya saat bibir tipis suaminya mengecup keningnya."
__ADS_1
"Aku tinggal, ok."
"Hum."
"Jangan terlalu lama, didalam sini. Ini sudah malam, aku tidak ingin kau sakit, okusan."
"Iya,"
"Sampai ketemu di meja makan,"
"Hm."
Arthur pun meninggalkan sang istri yang kini menikmati rendaman air hangat yang disiapkan oleh suami sipit dan manisnya.
*
*
*
"Ck! Kau membuatku lumutan, karena menunggu mu hanya untuk melihat lubang hidungmu." Gerutu Natan kesal.
Arthur tidak menimpali omelan pria bermata empat itu. Dua mata bermanik biru dan dua mata kaca yang berwarna bening.
"Kau belum merasakan, yang namanya pengantin baru, dude."
"Cih. Tanpa menikahi pun, diriku tetap merasakan yang namanya pengantin baru."
"Dasar Casanova culun."
"Berhentilah memanggil ku seperti itu, sepupu lacknat."
"Cih,"
"Katakan, apa yang kau temukan,!"
"Dua buah gunung kembar yang padat dan kenyal dan yang paling penting ada manis-manisnya." Celutuk Natan sekenanya.
"Brengsek." Maki Arthur kesal.
Natan hanya mencebikkan bibir merah alaminya. Bibir yang membuat para wanita klepek-klepek padanya.
"Satu, …" seru Natan menjeda ucapannya.
"Mereka kelompok membunuh bayar, geng starblack."
"Dua, …" kembali Natan menjeda ucapannya.
"Mantan kekasih mu itu, larat. Baby sugar mu itu adalah mata-mata dari kelompok gengster Yamukade."
"Yang ketiga, … sudah habis." Perkataan terakhir Natan, berhasil mendapatkan sebuah lemparan pena tepat di keningnya.
"Aww, sakit sialan," ringis Natan.
"Katakan, padaku tentang starblack."
"Starblack adalah, … bintang hitam." Sahut Natan.
Yang lagi-lagi mendapatkan lempar, yang kali ini sebuah pajangan di atas meja kerja Arthur.
"Akhh," sialan kau Arthur." Umpat Natan.
"Cepat katakan." Perintah Arthur tanpa menghiraukan ringisan sepupunya itu.
"Mereka, geng membunuh bayaran yang ditakuti di kota ini."
"Terus tentang, ….!"
"Tentang siapa? Tentang sugar baby mu.?"
"Ck, bukan."
"Yamukade. Mereka membayar wanita itu untuk mencari semua informasi tentang mu."
__ADS_1
"Mengapa mereka mengincar ku.?"
"Entahlah, tapi kita harus berhati-hati, karena besar kemungkinan mereka akan datang menyerang kita."
"Hm, kau benar. Aku cuma mengkhawatirkan, mommy dan istri ku."
"Kau tau sendiri, gengster Yamukade sangatlah berbahaya."
"Kau benar. Jadi kau harus berhati-hati mulai sekarang, dude."
"Hum, tentu."
"Apa kau ingin, menyerang kelompok membunuh bayaran itu.?" Natan bertanya sambil bangkit dari duduknya.
"Kau menemukan lokasi markas mereka.?" Sahut Arthur dengan pertanyaan.
"Hm. Dan mungkin sekarang mereka sedang bersiap untuk menyerang kita." Jawab Natan.
"Kalau begitu, ayo kita menyerang mereka terlebih dahulu." Cetus Arthur.
"Baiklah. Tapi sebelum kita menyerang mereka, alangkah baiknya kita menyapa para cacing di dalam perut kita dulu." Sahut Natan.
"Ck." Arthur hanya bisa berdecak kesal.
Jhonatan tidak lagi menyahuti decakan sepupunya. Pria itu kini keluar dari ruangan kerja Arthur. Perutnya yang berdemo menuntutnya kearah ruang makan.
"Mommy," panggil pria bermata empat itu, saat melihat mommy Gabriela menyiapkan makan malam.
"Selamat malam, son." Sapa mommy tulus.
"Selamat malam juga mommy." Balas Natan dengan tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.
"Kau begitu manis, sayang." Puji mommy.
"Itu tidak perlu di ragukan lagi, mom. Semua wanita menyebutku seperti itu." Ujar Natan bangga.
"Cih." Balas mommy berdecih.
"Duduklah dengan tenang." Perintah mommy.
Natan pun dengan patuh menuruti perintah mommy Gabriela.
"malam, mom." sapa pasangan pengantin baru itu.
"malam juga, sayang." balas mommy membalas kecupan menantunya.
"Selamat malam kakak ipar.!" sapa Natan ramah.
"malam." sahut Kim cuek.
Jhonatan hanya mencebikkan bibirnya mendengar sahutan cuek Kim.
sementara Arthur tersenyum bangga pada Natan.
"cih. punya istri es saja bangga." gerutu Natan.
"Kemana, jenny sayang.?" tanya mommy kepada Kim.
"mungkin sebentar lagi dia bergabung, mom." jawab Kim.
"hm."
merekapun kini mulai melakukan makan malam dalam diam dan hikmah.
tapi itu tidak bertahan lama saat sebuah suara cempreng yang menyakiti telinga mereka. Natan dan Arthur bahkan tersendat oleh makanan mereka sendiri.
"mommy, !!!!! teriak jenny.
"jenny." pekik Kim sambil mengusap punggung suaminya.
sementara Natan kembali tersendat kali ini dengan air yang ia minum, ketika melihat wajah Jenny. yang dalam mata hati dan mata keranjangnya sangatlah cantik.
"apakah ini yang dinamakan, jodoh. yang sama-sama memiliki mata empat.?
__ADS_1
"sejak kapan bidadari memakai kacamata.?"
"sejak, kapan mommy memiliki bidadari yang jatuh dari surga? dan sekarang berdiri tepat di hadapanku.?"