
Suara riuh tepuk tangan memenuhi seluruh ruangan tengah Mansion Hugo.
Mereka ikut terbawa suasana haru penuh kebahagiaan atas kedua pembelai pengantin yang baru saja mengucapkan ikrar pernikahan untuk seumur hidup.
Kini sang pengantin melakukan proses menyematkan cincin pernikahan di jari masing-masing pembelai.
Lagi-lagi riuh tepuk tangan menjadi melodi dan saksi sejarah dalam hidup Lusi dan Larry malam ini.
Malam ini mereka telah sah menjadi pasangan suami-istri yang sudah mengikrarkan janji sehidup semati dan akan selalu saling melengkapi, suka maupun duka.
Tangisan kebahagiaan dan diikuti oleh senyum kebahagiaan pula bagi seluruh keluarga Hugo dan Kato.
Seluruh keluarga satu persatu mengucapkan selamat untuk sang pengantin yang belum satu jam menjadi suami istri.
Larry dan Lusi juga meminta doa kepada, kedua orang tua mereka yang masih setia di kursi roda.
Kim pun tidak ingin melewatkan acara sakral sang kakak. Ia membawa serta si kembar Lima dengan masing-masing pengasuh terpilih dan terlatih khusus.
Nathan dan Jenny pun ikut serta meramaikan dan juga memberikan selamat untuk Larry dan Lusi.
Terlihat jelas raut wajah bahagia Larry dan Lusi, yang malam ini sudah menjadi pasangan halal dan siap tempur untuk lepas landas roket yang sejak dulu tersimpan dengan rapi di suatu tempat yang tersembunyi.
*
*
__ADS_1
*
"Maaf," ucap Larry yang kini sedang berada di dalam kamar dan membantu sang istri kecilnya membuka gaun pengantin sederhana yang sangat pas di tubuh mungil Lusi.
Lusi membalikkan wajahnya dan ia mendongak untuk menatap wajah pria tampan di depannya. Tingginya hanya sampai dada sang suami. Dan tubuhnya mungkin tiga kali lipat dari tubuh kekar Larry. Lusi tidak akan terlihat bola di balik punggung kekar Larry.
"Kenapa harus minta maaf," tanya Lusi dengan wajah yang dipolesi make up tipis.
Larry tersenyum dan membawa tangan kerasnya ke pipi mulus dan menggemaskan sang istri.
Larry menarik wajah Lusi lembut dan mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Lusi.
Lusiana pun hanya bisa memejamkan matanya merasakan penuh kehangatan kecupan sang suami tercinta.
"Kita hanya melangsungkan pernikahan sederhana dan tak semeriah pernikahan Kim," bisik Larry di kening istri kecilnya dan kembali memberikan kecupan bertubi-tubi di sana.
"Yang penting, daddy, sekarang sudah menjadi milikku dan soal itu aku tidak peduli dan tidak menginginkannya, aku hanya menginginkan daddy menjadi milikku selamanya," imbuh Lusi dengan raut wajah serius dan mata berkaca-kaca.
"Oh, honey. Kau membuatku meleleh dan terhore," sahut Larry dengan senyum bahagia.
"Aku, mencintaimu, honey," bisik Larry sambil tangannya mengusap kulit mulus Lusi.
"Aku, lebih mencintaimu, daddy," balas Lusi dengan kedua tangan mungilnya sudah berada di pinggang keras Larry.
Tangan Larry kini menarik turun gaun pengantin yang melekat di tubuh mungil sang istri, hingga menyisakan sepasang dalaman yang berwarna merah yang sangat kontras dengan kulit putih Lusi.
__ADS_1
Larry hanya bisa menahan gejolak hasraat yang kini sudah mulai membakar seluruh sel-sel kulitnya.
Jari-jari kekar Larry kini sudah mulai menari-nari di setiap kulit punggung sang istri. Menggelitik setiap jengkal kulit mulus sang istri.
Lusi hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan mencengkeram kuat kulit pinggang suaminya.
Bibir Larry kini sudah aktif menjelajahi kulit leher panjang Lusi dan meninggalkan jejak warna merah yang pastinya akan berubah warna keesokan harinya.
Tangan mungil Lusi kini sudah berada di leher panjang dengan jangkung yang kini sudah terlihat naik turun.
Lusi melompat ke atas tubuh tinggi sang suami dan melingkarkan kakinya di pinggang sang suami.
Larry pun segera menahan bobot tubuh mungil Lusi, dengan bibir mereka kini saling bertautan dan ******* dengan sangat lembut.
Larry melangkahkan kakinya ke arah ranjang yang berada di tengah ruangan kamar mereka tanpa melepaskan tautan bibir mereka yang semakin memanas dan menuntun.
Larry membaringkan tubuh Lusi di atas ranjang tanpa melepaskan kedua kaki Lusi di pinggang kekarnya.
Larry membuka dengan tergesa setiap anak kancing kemeja putih yang ia kenakan di bantu oleh Lusi.
Larry melemparkan begitu saja kemejanya dan kembali mencumbuui tubuh mungil istrinya.
Kini bibir Larry berpindah ke leher jenjang Lusi dan turun da semakin turun, hingga sampai kesebuah gunung kembar yang terlihat indah yang sangat pas di genggaman tangannya. Sebuah buah yang menggantung yang masih terlihat segar dan ranum, masih tampak terlihat setengah matang.
skip puasssaaa gaissa
__ADS_1