
"Clek." tiba-tiba pintu kamar rawat Malvin, terbuka membuat dua manusia yang sedang ber cumbu sontak terkejut dan mengalihkan pandangan mereka kearah pintu.
"Oh, astaga." pekik seorang wanita manis berkacamata, saat mata empatnya menangkap adengan menjijikkan menurut wanita yang berada di belakangnya.
"Maaf, mengganggu silakan lanjutkan." sinis jenny dan menggeser tubuhnya, yang melindungi sosok wanita dengan tatapan dinginnya.
"S-sayang." seru, malvin kelimpungan dan menyentakkan kepala Lotte dari benda keramatnya.
"K-kimberly." Lotte membeo, dengan wajah pias.
"Menjijikan." desis Kim.
"S-sayang." sapa Malvin gugup.
"Apa, aku salah melakukan itu pada suami ku sendiri." sindir Lotte dan menatap Kim sinis.
"Tutup, mulutmu, Lotte." ujar Malvin.
"Why, Malvin. bukankah itu sudah kewajiban ku melayani mu di manapun dan kapanpun? daripada aku harus menjadi istri durhaka tidak tau diri." sindir Lotte lagi, dengan bibir mencebik dan mata menatap Kim sinis.
"Lotte, tutup mulutmu. jangan berkata seperti itu pada kim-ku." hardik Malvin, yang tidak terima oleh sindiran Lotte kepada Kim.
__ADS_1
"Ayolah, Malvin apa yang kau harapkan dari wanita arogan ini. dia tidak akan pernah memuaskan mu dan hanya aku yang mampu memuaskan mu, sayang. seperti tadi dan kau begitu menikmatinya." ujar Lotte dan membelai dada bidang Malvin yang masih polos. dia tersenyum sinis pada Kim yang masih bergeming di depan pintu.
"Diamlah Lotte." bentak Malvin kembali. dan menepis tangan Lotte kasar.
"Ck, terserah." decak Lotte cegah.
"Kim, sayang." panggil Malvin dengan wajah tanpa dosanya dan tidak tau malunya.
Kim berjalan mendekat kearah Malvin dan Lotte, sedangkan jenny menunggu di didepan pintu ruangan itu.
Dengan raut wajah bahagia dan mata berbinar malvin tersenyum kepada Kim. sementara Lotte mencebikkan bibirnya dan menatap Kim sinis.
"Ternyata kau sudah membaik rupanya.?" pertanyaan Kim membuat Malvin melambung tinggi.
"A-apa, maksudmu, sayang.?"
"Kau, pikir Malvin sudah meninggal.!? ucap Malvin dan Lotte bersamaan.
"Yah, aku harap begitu." sarkas Kim, dengan wajah cueknya.
"Kau.! tunjuk Lotte pada Kim.
__ADS_1
"Lihatlah, Malvin. istri yang kau tangisi dan kau perjuangkan ini . apa ini yang kau harapkan dari dia. istri tidak tahu diri sepertinya, kau rela melukai dirimu, tapi lihat apa yang dia katakan." ucapan Lotte, membuat hati Malvin berdenyut sakit.
Sedangkan Kim hanya terdiam dengan gaya angkuhnya.
"Lihatlah, Malvin." tunjuk Lotte kepada Kim.
Malvin pun melihat kearah Kim yang hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.
"Lihatlah, istri yang sangat ku cintai itu. dan lihatlah wajah menyebalkannya. dia sama sekali tidak pernah peduli padamu, Malvin. dia hanya menginginkan hartamu. dia pasti tidak pernah mencintaimu, coba kau pikir kalau dia mencintaimu, dia tidak akan memilih karirnya dan sering meninggalkan mu dan dia juga lebih memilih karirnya daripada mempunyai anak dari benih mu. apa istri yang seperti ini yang kau banggakan Malvin." Perkataan demi perkataan Lotte, membuat Malvin menerawang kebelakang saat masih bersama Kim.
Malvin pun membenarkan ucapan Lotte.
Lotte tersenyum puas, saat umpang yang ia berikan kepada Malvin termakan oleh pria itu. terlihat raut wajah Malvin yang berubah merah.
Malvin, menyoroti tajam Kim dan menelisik wajah cantik istri pertamanya itu.
"Apa, itu benar Kim? kau tidak pernah menginginkan ku, kau hanya menginginkan keberhasilan ku dan kekayaan ku untuk menopang karir mu di dunia model.?"
"KATAKAN KIMBERLY." teriak Malvin murka.
ternyata hasutan Lotte berhasil membuat Malvin terpancing. dan pria itu meradang, ingin rasanya Malvin mendekati Kim, yang berjarak dua meter darinya.
__ADS_1
"Mari bercerai."
"TIDAK. AKU TIDAK AKAN MENCERAIKAN MU, KIMBERLY.!!!!