Istri Tangguh Rasa Pelakor

Istri Tangguh Rasa Pelakor
bab 89


__ADS_3

Deru nafas memburu masih terdengar, di dalam kamar yang kini terlihat sunyi. Sepasang suami-istri itu kini saling memburu menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah tautan bibir mereka terlepas secara paksa, saat sang suami hampir saja kehabisan nafas menghadapi ciuman panas sang istri yang begitu lihai. Dia hanya bisa terdiam membeku saat bibir seksi istrinya menari-nari di atas bibir tipis milik pria rupawan itu. Sebuah ciuman yang sangat menuntut dan membuatnya melambung tinggi. Tapi apa daya dirinya tidak bisa mengimbangi permainan bibir sang istri, dia hanya bisa terdiam dan menahan nafasnya.


"Apa kau ingin, aku menjadi janda.?" Geram Kim dengan nafas yang sudah mulai stabil.


"Kau, terlalu cepat dan kau juga menutup lubang hidungku." Lirih sang suami dengan menundukkan kepalanya.


Kim hanya bisa menghela nafas panjang. Dia baru saja mengajari suaminya ciuman dan pelajaran ciuman pertama gagal.


"Astaga ini baru ciuman dan belum lagi permainan intinya." Gumam Kim, dan menatap sang suami.


"Bernafaslah saat kau menciumiku dan ikut aku, ok." Ujar Kim memberikan aba-aba kepada sang suami.


Apakah dia berubah profesi menjadi instruktur senam ranjang? "Oh, Tuhan."


Ini lebih sulit daripada menghadapi dan mengajari para modelnya yang pemula.


"Maaf," cicit Arthur.


"Tidak apa-apa." Sahut Kim.


"Baiklah, mari kita mulai lagi." Ajak Kim.


"M-mulai.?"


"Iya, mulai,!


"Malam ini kita akan mencocok tanam, sebuah ladang yang sudah lama gersang dan aku meminta bantuan mu untuk meneburkan benihmu di ladangku nanti, ok." Ujar Kim, memberi instruksi kepada suaminya.


"Mencocok tanam, ladang, gersang dan benih.?" Ok fix otak sempurna sedikit oon Arthur mulai kasat-kusut.


"Iya, kita akan melakukan aktivitas cocok tanam disini." Ujar Kim lagi.


"M-maksud kamu apa? Kenapa kita akan melakukan cocok tanam di atas tempat tidur? Bukannya cocok tanam di lakukan di ladang.?" Ok. kali ini giliran otak Kim yang mulai mengepul.


"Oh, Tuhan, oh, Tuhan." Ujar Kim, menyebut berkali-kali untuk menghadip sikap polos sedikit oon suaminya.


"Baiklah. Kita ganti membahasa soal cocok tanam. Kita beralih ke istilah pabrik. Jadi malam ini kita akan melakukan pembuatan pruduk terlangka di dunia, kombinasi antara, Jepang, Amerika dan Paris. Karena kau akan memproduksi sebuah produk di pabrik asal Paris, maka kau harus melakukannya dengan sangat sempurna. Ok." Cerotos Kim, semangat.


Sementara Arthur hanya bisa menganga dan mengerjapkan matanya, binggung. Tiba-tiba otaknya di kelilingi suara binatang yang sering berbunyi di malam hari untuk meramaikan suasana sunyi.


"Apa, kau siap." Seru Kim, melihat suaminya yang begitu mengemaskan. Ingin rasanya Kim, mempeerkoosa suaminya itu. Tapi Kim takut nanti suaminya trauma.


"S-siap." Sahut Arthur gugup.


"Baiklah. pertama-tama, kau harus berada di atas tubuhku." Ujar Kim. Memberikan instruksi pertama pada suaminya.


"Diatas tubuh mu." Tanya Arthur, tidak percaya.


"Iya, cepatlah."


"Ok."


Arthur pun bangkit dan duduk sebentar, pria itu sedikit ragu untuk berada di atas istrinya.


"Cepatlah." Sentak Kim.


"Astaga malam pertama macam apa ini. Kenapa aku merasa seperti seorang seorang senior yang memberi sebuah tantangan kepada sang junior." Keluh Kim dalam hati.


"Hei."


"Maaf, baiklah."


Arthur, segera melakukan perintah istrinya dengan menaiki tubuh indah dan menggoda istrinya. Hingga dia kini berada di atas tubuh sang istri. Yang lagi-lagi membuat Kim hanya bisa menepuk jidatnya.


"Apa, yang kau lakukan, suamiku ….!" Geram Kim tertahan.


"Bukankah, kau menyuruhku berada di atas mu.?" Tanya Arthur dengan wajah polos, yang minta di *****.


Bagaimana tidak dia kini sedang berada di atas tubuh istrinya, bukannya ini adalah adengan terbalik? Yang seharusnya berada di atas perut itu sang istri sambil mencumbui suaminya.


"Oh, Tuhan. Aku menyuruhmu berada diatas ku itu, seperti ini." Ucap Kim. Yang menarik kedua tangan suaminya dan meletakkan di antara kedua sisi di sampingnya. Sehingga posisi Arthur kini sedang menggungkuk istrinya.


"Nah, seperti ini. Apa kau mengerti.?"

__ADS_1


"I-iya.


"Next."


"Apa.?


"Mulailah, dengan menciumku atau meminum susu. Kau juga bisa memulai dengan memegang ini." Ujar Kim sambil membawa tangan kaku sang suami kesalah satu aset indahnya yang mencuat tinggi dengan puncak yang berwarna pink.


Arthur hanya mampu melihat tangannya yang kini namplok dengan sempurna dan sangat pas di genggamannya.


Kim membantu suaminya menggerakkan tangan sang suami. Arthur menatap istrinya, dan Kim tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera saja meraut kembali bibir tipis sang suami. Kim menyesap lembut bibir suaminya dan menggodanya dengan gigitan kecil dibawah bibir sang suami


"Balas," bisik Kim di tengah cumbuannya di bibir sang suami.


Dengan gerakan kaku, Arthur membalas cumbuaan sang istri dengan pelan dan lembut.


Kim mengigit bibiir bawah sang suami, sehingga mulut suaminya terbuka. Kim menyusuri tenggorokan suaminya dengan permainan liidahnya yang lihai.


Arthur hanya bisa memejamkan matanya menikmati bermain mulut mereka yang kini mulai memanas. Dan Arthur mulai sedikit demi sedikit bisa mengimbangi permainan sang istri.


Kim memberi aba-aba pada suaminya dengan membantu tangan suaminya untuk memainkan aset berharganya. Arthur pun mengikuti instruksi sang istri. Dia kini asyik meremat dan juga meremass lembut mochi yang kini sudah menjadi kesukaannya.


Kim melempaskan tauatan mereka dan Kim langsung menuju keleher panjang sang suami, Kim memberikan sebuah kecupan dan juga isaapan kecil.


Arthur memejamkan mata dan menikmati permainan istrinya, dia bahkan mengeluarkan suara erangaan kecil.


"Lakukan seperti itu, pada seluruh tubuhku." Bisik Kim dengan suara yang mulai mendayu karena terbawa suasana.


Arthur tidak menjawab. Dia segera melakukan apa yang istrinya lakukan padanya.


Arthur kini mulai, mencumbui ceruk leher istrinya, dia sesekali menyesap, mengecup bahkan mengigit kecil ceruk leher istrinya.


Secara alamiah Arthur bergerak sendiri menyusuri tubuh istrinya. Dari ceruk leher, turun ketulang leher seksi Kim, atas dada dan Arthur menghentikan cumbuannya saat ia sudah berada di puncak gunung mochi yang berwarna pink cerah yang sudah mengeras.


Arthur menatap Kim, seakan meminta izin.


"Minumlah." Ujar Kim yang nafasnya kini sudah mulai berat.


Arthur pun mengarahkan mulutnya ke atas puncak gunung mochi milik, Kim. Pria itu meraup puncak gunung mochi itu dengan semangat. Ia pun mulai menyesapnya dan mengisap gunung mochi tersebut.


Arthur masih asik menghisap susu mochi kesukaannya secara bergantian. Tanpa sadar tangannya mulai mengeriyal kemana-mana.


"Kenapa susu nya, tidak keluar.?" Tanya Arthur binggung.


"Susu apa.?" Balas Kim dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Ini." Tunjuk Arthur kepada gunung mochi, Kim.


"Entahlah." Jawab Kim, maalas.


"Apakah, kita perlu membocornya dengan jarum.?"


"APA.! Pekik Kim.


"Kenapa, kau teriak? Kau tidak setuju kalau aku menusukkan jarum ke sini." Tunjuk Arthur di puncak gunung mochi, Kim yang sudah mengeras itu.


"Itu, tidak perlu," sela Kim.


"Tapi, susunya tidak keluar."


"Memang tidak bisa keluar, sayang. Aku perlu melahirkan dulu baru bisa mengeluarkan asi." Terang Kim, sabar di tengah hasratt yang melandanya.


"Tap ….!" Ucapan Arthur berhenti, saat Kim mendorong tubuh Arthur hingga pria itu telentang. Segera saja Kim meraup kasar kain terakhir yang di pakai sang suami.


"Oh Tuhan. Apakah ini yang dinamakan, basoka ala Hiroshima.?" Pekik Kim, shock saat melihat benda ajaib suaminya yang begitu menantang dan menjulang tinggi dengan gagahnya.


Arthur dengan segera menutup benda ajaibnya.


"A-apa yang kau lakukan."


"Singkirkan tangan mu."


"Tidak."

__ADS_1


"Singkirkan."


"Tidak."


Kim, hanya bisa mengertakkan giginya, dan tatapannya tajam kearah sang suami.


Arthur yang melihat tatapan mematikan sang istri dengan segera melepaskan tangannya yang menutupi benda ajaibnya.


Kim, meraih benda itu dengan lembut dan memainkannya. Kim juga kembali menautkan mulut mereka dan mereka kembali bercumbu dengan tak kalah panasnya. Kim tidak melepaskan tangannya dari benda ajaib sang suami.


Arthur hanya bisa mengeerang dalam cumbuan mereka.


"Hh. Deesah Arthur, saat tangan Kim mengelitik benda ajaibnya.


"Kita mulai pada intinya sekarang." Ajak Kim.


Kim pun melepaskan semua kain yang ia kenakan, dan sekarang wanita itu poolos tanpa sehelai benang pun.


Arthur hanya bisa menahan nafasnya dan memandangi tubuh poloos istrinya yang berada di bawahnya.


"Lakukan, sekarang."


"Lakukan apa.?"


"Masukkan basoka milikmu, kedalam sini." Ujar Kim sambil menunjuk pusat tubuhnya yang kini terbuka lebar di depan wajah suaminya yang hanya bisa melongo dan meneguk salivanya kasar.


"Memasukkannya kesana? Apakah bisa? Aku tidak melihat jalan untuk masuk." Tanya Arthur binggung di tengah hasratt yang menyerangnya.


"Masukkan cepat."


"Aku harus memasukkannya bagaimana.?"


"Kemarilah." Perintah Kim.


Arthur pun mendekat kepada sang istri.


"Kemarikan basokamu." Perintah Kim.


"Ini." Ujar Arthur dan membawa tangan istrinya kearah benda ajaibnya yang sudah menjulang tinggi.


Kim membawa benda ajaib itu kedalam gua ajaib miliknya. Arthur hanya bisa menahan nafas antara binggung dan menikmaatii.


Saat benda itu akan masuk, Arthur menahannya.


"Ada apa.?" Tanya Kim frustasi.


"Apa ini muat.?"


"Muat."


"Tapi aku takut dia tidak bisa masuk."


"Bisa."


"Tapi ini terlalu besar, dan aku lihat lubung yang ini sangat kecil."


"Astaga, cepat masukkan."


"Tidak, aku takut menyakiti mu."


"Tuan Arthur Cedrik kato, masukan." Pekik Kim yang sudah tidak sabar.


"Tapi ini, pasti tidak akan bisa masuk dan tidak akan muat." Tolak Arthur.


"Shi*t." Umpat Kim.


Kim segera saja membanting tubuh suaminya dan langsung menduduki perut kotak-kotak suaminya itu. Kim dengan segera memasukkan benda ajaib sang suami dengan paksa. Hingga benda itu melesat sempurna kedalam, tanpa hambatan apapun.


"Ahh, mommy." Eraang dan desaah Arthur, hingga mulutnya menganga dan kepalanya mendongak keatas. Sedangkan Kim, merasakan sesuatu yang sangat sesak di dalam inti tubuhnya.


"Hangat."


"Geli."

__ADS_1


"Hg, apa ini. Kenapa sangat menyenangkan."


"Hg, mommy."


__ADS_2