
Hari besok tiba
Nona muda pulang dari rumah sakit bersama pak kuncoro dan bu Anita. Pak kuncoro berjalan mengambil mobil diparkiran, sedangkan nona muda dan bu Anita menunggu didepan rumah sakit
TIN...
TIN...
TIN....
Arifbol menglakson nona muda dan bu Anita yang sedang berdiri didepan rumah sakit
"Ayo nona muda kita pulang bareng" ujar Arifbol dijendela kiri mobil depan
"Tidak, aku mau bersama orang tuaku! tegas nona muda
Pak kuncoro pun datang dengan membawa mobilnya yang dibelakang Arifbol
"Ayo, kita pulang!" ucap pak kuncoro dijendela kiri mobil
Nona muda dan bu Anita berjalan dengan wajah mencuekkan Arifbol dan masuk ke mobil pak kuncoro
Pak kuncoro mulai melajukan mobilnya, Arifbol mengikutinya dari belakang
Saat diperjalanan
__ADS_1
"Ngapain sih orang gila itu ngikutin kita?" ucap bu Anita sambil menengok ke belakang. Bu Anita duduk dibelakang bersama nona muda
"Biarin lah ma, gila-gila gitu dia masih suamiku" bela nona muda sambil menengok sesaat ke belakang lalu menatap bu Anita
"Apa kamu cinta sama orang gila itu?" tanya bu Anita
"Jujur ya ma, dia gila tapi aku sangat mencintainya"
"Hah, apa?, kau sangat mencintai pria gila itu?" tanya bu Anita dengan terkejut
"Iya ma, aku sangat mencintainya"
"Beri dia kesempatan, aku akan berusaha merubah dia"
"Kita cepat pa urusin perceraian mereka" ucap bu Anita dengan menatap pak kuncoro
"Please dong pa ma, beri Arifbol kesempatan untuk berubah" tangis nona muda sambil memegang tangan mamanya dan menatap orang tuanya secara bergantian dengan tatapan memohon
"Tidak!, aku bilang tidak ya tidak!" bentak pak kuncoro
"Ma, aku sangat memohon ke mama untuk bilang ke papa untuk memberi kesempatan Arifbol buat berubah"
Bu Anita pun diam sesaat seraya menatap mata nona muda lalu menengok sesaat ke arah suaminya
"Oke, aku beri kesempatan" ucap bu Anita
__ADS_1
"Terima kasih ya ma" senyum kecil nona muda
"Mama gimana sih, mama enggak takut kalau Arifbol membunuh orang lagi? dan nama kita tercemar gara-gara punya mantu seorang pembunuh?" bantah pak kuncoro sambil melihat bergantian ke arah bu Anita, nona muda dan ke arah depan (soalnya nyetir, harus fokus ke depan)
"Tapi, ada syaratnya ci" ucap bu Anita sambil melepaskan tangannya yang dipegang nona muda dan duduk tegap ke depan sambil menatap nona muda dan suaminya
"Apa ma syaratnya? ucap nona muda dengan semangat
"Selama 1 bulan, Arifbol tidak boleh membunuh orang dan tidak boleh sifatnya berubah-ubah dan papa dan mama akan tinggal dirumahmu selama 1 bulan untuk mengawasi Arifbol selama 1 bulan, kalau Arifbol sifatnya berubah-ubah dan ngebunuh orang, setelah 1 bulan aku dan papamu akan mengurus surat perceraian kamu dan Arifbol. Kamu setuju?" ucap bu Anita
"Aku setuju kalau Arifbol tidak akan ngebunuh orang ma, tapi ma soal sifat Arifbol berubah-ubah, itu semua butuh proses ma, Arifbol sendiri melakukannya secara tidak sadar alias tidak sengaja kok ma, ini semua efek kecelakaannya dia, mohon dimaklumi ma pa"
"Tinggalin aja Arifbol, aku akan jodohkan kamu dengan anak teman papa" ucap pak kuncoro tiba-tiba
"Iya kau benar pa, kita akan jodohkan cia dengan anak temen papa" sahut bu Anita
"Aku tidak mau pa!, kalau papa memaksa, aku akan pergi dari rumah!" ancam nona muda
"Silahkan, silahkan saja kalau kamu ingin tinggalin rumah demi pria gila itu, tapi papa yakin kalau kamu pasti akan kembali ke kami" ucap pak kuncoro dengan wajah menghina
"Jangan gitu dong pa, dia anak kita satu-satunya" saran bu Anita
"Biarin aja dia membela pria gila itu, aku yakin dia akan kembali ke kita karena tidak betah dan tidak bisa meninggalkan semua fasilitas dari kita" celetuk pak kuncoro
"Kalau cia benar-benar meninggalkan kita dan tidak kembali pa, gimana?" tanya bu Anita dengan cemas
__ADS_1
"Tenang aja ma, aku 100% yakin kalau patricia akan kembali ke kita lagi dan meninggalkan pria gila itu lalu kita akan menjodohkan cia dengan anak temen papa"
Bu Anita lalu diam dan berpikir sedangkan nona muda menangis setelah mendengar semua perkataan papa dan mamanya yang membuat dia terkejut dan sakit hati