Istriku Sayang Istriku Malang

Istriku Sayang Istriku Malang
Eps. 11 * Kabar Bahagia *


__ADS_3

Pov's Sahir


Tak terasa pernikahanku dengan Nisha sudah memasuki bulan kelima. Hidup berdua bersama orang yang kita cintai memang sangat mengesankan. Di pagi hari orang yang pertama ku lihat adalah Nisha. Senyum manisnya menjadi mood booster tersendiri bagiku.


Aah,,, terima kasih Tuhan atas segala nikmat yang Engkau hadiahkan untukku.


Seperti biasa, setiap pagi Nisha selalu dengan sigap mempersiapkan segala kebutuhanku, mulai dari pakaian dan sarapan. Ya, dia memang istri idaman. Meski sudah ada Bi Irah, asisten rumah tangga yang sengaja kupilih untuk meringankan pekerjaan Nisha sehari-hari. Diawal Nisha sempat menolak, saat kubilang akan membawa Bi Irah sebagai ART di rumah kami, ia bilang masih sanggup tapi aku menikahinya bukan semata menjadikan nya babu. Aku terlalu memanjakan Nisha? Memang iya, karena itu pantas ia dapatkan sebagai bentuk rasa terima kasihku karena ia sudah sudi menjadi pendamping hidupku selamanya... selamanya.


" Pagi istriku yang paling cantik" Kuhadiahi ia kecupan pagi di pipi seraya memeluk tubuh rampingnya dari belakang.


" Pagi juga suamiku yang paling ganteng" ucap Nisha tak mau kalah, aku suka itu.


" Masak nasi goreng favorit aku ya? " kulihat ia sedang mempersiapkan bahan-bahannya.


" iya Mas, udah lama kan aku ngga masakin nasi goreng buatan aku"


" Apapun yang kamu masak, pasti aku makan kok, Sayang. Masakan istriku paling enak" Kuciumi lagi pipi mulusnya yang sudah menjadi candu bagiku.


Nisha terkekeh geli karena ulahku, " Maass,, jangan gangguin dong ahh, gelii tauu" rutuknya.


"Tapi suka kan?" jawabku mencari pembenaran.


" Mas tunggu dulu di meja makan, aku selesain dulu masaknya ya, kopi Mas nanti keburu dingin lho" Ucapnya sambil mengarahkan pandanganku ke gelas kopi yang sudah diatas meja.


" Oke deh,," aku melepaskan pelukanku sebelum beranjak sempat kucuri satu kecupan lagi di pipinya dan sukses membuat Nisha merengek kesal.


Aku selalu suka ekspresi manjanya itu.


Sembari menikmati kopi, kuraih gawai lalu melihat schedule kegiatanku hari ini di perusahaan. Ternyata hari ini kegiatanku lumayan padat. Sesekali kulihat Nisha yang masih berkutat dengan masakannya, ia selalu nampak menawan dalam situasi apapun. Hhhhh,, kenapa aku jadi bucin begini. Tak apalah toh bucin terhadap istri sendiri.


Fokus pada gawaiku teralihkan saat Nisha mulai menumis bumbu nasi goreng, ia seperti sedang menahan sesuatu, mulut dan hidungnya ia tutupi saat bumbu mulai tercium bau khas nasi goreng.


" Kamu kenapa sayang?" Aku beranjak menghampirinya.


" Ngga tahu Mas, akhir akhir ini aku suka mual kalau nyium bau bumbu masakan" jawabnya sambil terus fokus mengorak ngarik telur yang baru saja ia pecahkan.


Belum sempat aku bertanya kembali, Nisha sudah seperti orang yang mau muntah.


"uuoooo"


" Aahh maaf Mas, aku ngga maksud tapi aku mual banget" ucapnya lesu masih menutupi mulut dan hidungnya.


Keringat mulai timbul di keningnya. Aku jadi merasa cemas akan keadaannya saat ini.


" Kamu masuk angin mungkin, udah masaknya ngga usah di terusin, biar nanti Bibi yang lanjut" Aku meraba keningnya yang sudah di basahi keringat dingin.


" Ngga apa apa Mas, nanti juga baikan.

__ADS_1


Aku baik baik aj-..." Belum sempat meneruskan perkataanya, Nisha sudah berlari menuju washtafel.


" Bi, tolong lanjutin masaknya" pintaku sambil berlari mengusul Nisha.


" Iya, Pak" sigap Bi Irah mengambil alih tugas Nisha.


Nisha masih terus mual, ia seperti orang yang mabuk kendaraan, tapi bahkan tak mengeluarkan apapun.


Aku terus memijat pelan tengkuk istriku itu, berharap bisa sedikit membantu.


Kuraih beberapa helai tissue saat Nisha sudah selesai, kubersihkan air sisa basuhan di wajah ayunya.


" Kamu ngga baik baik aja Sayang" Ucapku saat melihat wajahnya yang berubah pias.


" Ngga usah kuatir, Mas. Palingan maagh aku kambuh. Nanti aku minum obat pasti langsung sembuh" jawabnya tenang sambil mengelus lembut pipiku.


Tapi jawabannya tetap tidak membuat kecemasanku sirna. Ku tuntun Nisha menuju kursi makan. Wajahnya tampak pucat.


" Apa aku ngga usah ke kantor aja ya hari ini, aku kuatir Sayang, meski kamu bilang kamu baik-baik aja, aku tetep ngga bisa tenang"


"Maass,, ngga usah berlebihan ahh,, aku beneran baik-baik aja kok"


Tak lama Bi Irah menghampiri dengan membawa hidangan nasi goreng yang sudah siap. Air muka Nisha drastis berubah saat uap masakan nasi goreng mulai menggelitik hidungnya.


"Tuuhh kan, apanya yang baik-baik aja, udah jangan bandel. Kamu tuh harus ke dokter, aku telepon Dara sekarang"


" Ibu hamil mungkin, Pak"


"HAMIL???" seruku terkejut.


" Iya mungkin aja, Pak. Dilihat dari gejalanya sepertinya Ibu tengah berbadan dua" Lanjut Bi Irah.


Pandanganku langsung tertuju pada Nisha.


" Yang, kamu beneran hamil?"


Nisha menggelengkan kepalanya, " Mana aku tahu, Yang"


"Maaf sebelumnya, Bu. Terakhir kali ibu datang bulan, Kapan? Apa Ibu Ingat?" Tanya Bi Irah


"Aaahh iya, Bulan kemarin aku ngga datang bulan. Kalau dihitung-hitung aku udah telat 3 minggu, Mas"


Jawaban dari Nisha sungguh membuatku bahagia.


" Jadi kamu beneran hamil" ku eratkan genggaman di tangannya.


" Buat memastikan lebih baik di test aja dulu, Pak di rumah" pernyataan dari Bi Irah sempat membuatku kecewa.

__ADS_1


Bi Irah masuk menuju arah dapur, tak lama ia kembali sambil membawa alat tes kehamilan dan memberikannya pada Nisha.


Nisha menatap ragu pada alat tes itu, ia menatapku seolah minta persetujuan. Aku menganggukkan kepala mantap memberi ia keyakinan.


"Aku takut hasilnya negatif, Mas. Aku takut kamu kecewa" lirihnya.


"ssstt,, kamu ga boleh bicara seperti itu, apapun hasilnya aku terima" Jawabku penuh dukungan walau di hati yang terdalam, jujur aku pun takut kecewa.


Nisha menghela nafas berat, mempertimbangkan sebentar kemudian ia berjalan menuju toilet.


Menunggu, berharap-harap cemas. Aku seperti orang yang sedang menunggu hasil persentasiku di hadapan para investor asing. Tidaakk rasanya lebih dari pada ketegangan itu.


Kenapa Nisha lama di dalam, Aakhh semakin membuatku frustasi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan.


fyuuuhhh


" Tenang Sahir, tenaangg" kucoba menenangkan diri.


Pintu toilet terbuka, Nisha keluar perlahan dengan hasil tes di tangan.


" Bagaimana??" Tanyaku antusias namun sirna ketika melihat raut wajah sedih Nisha.


"Ngga apa-apa, kita masih banyak punya waktu" kupeluk erat Nisha mengelus rambutnya berharap usahaku bisa menghiburnya.


" Positif" lirih suara Nisha di telingaku.


" Apa??" Tanyaku dibuat terkejut dengan bisikannya barusan. Kulepaskan pelukan, kucengkram erat bahunya.


Nisha tersenyum riang sambil menganggukkan kepala," Aku hamil, Mas. Kita akan punya baby"


Tak sadar aku melompat kegirangan, "Yuhuuuuu, aku akan jadi seorang ayah. Terima kasih Sayangg,, terima kasih sudah memberikan banyak kebahagiaan dihidupku" Aku gendong Nisha saking ku merasa gembira.


Bi Irah terkekeh geli melihat tingkahku.


" Selamat ya Bu, Pak" Ucapnya.


Nisha tersipu malu, saking bahagianya kami tak menyadari kehadiran orang lain selain kami disini.


" Terima Kasih,Bi" Ucap Nisha.


**Bersambung


Alhamdulillah, setelah hiatus beberapa waktu, akhirnya cerita ini bisa lanjut lagi.


Terima kasih untuk MANGATOON yang sudah menyediakan wadah untuk ide cerita biasaku ini. Semoga kedepannya saya bisa lebih baik lagi


Salam πŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


Haturnuhun**


__ADS_2