
pagi-pagi sekali Kanaya sudah terbangun ia tengah berjongkok di wastapel keringat membasahi pelipisnya ai terus memuntahkan isi perutnya tubuhnya pun terasa lemas
Rakha yang mendengar suara Kanaya di kamar mandi bergegas menyusulnya Rakha nampak cemas mendapati Kanaya tengah muntah-muntah di pijat nya tengkuk Kanaya dan ia benahi rambut sang istri agar tak menjuntai ke depan
''sayang kau kenapa, apa kau sakit ?''
''tidak, aku tidak tau dari semalam perutku rasanya tidak nyaman emmm.... oekk''
tutur Kanaya dengan terengah... dibasuhnya wajah dan mulutnya Rakha mengambil handuk dan membantu mengeringkan wajah Kanaya yang nampak pucat
''wajah mu sangat pucat ''
Rakha menangkup wajah sang istri
namun belum juga Kanaya menjawab tubuhnya limbung dan ia jatuh pingsan dalam rengkuhan Rakha
''sayang... sayang kau kenapa jangan buat aku cemas ''
Rakha pun membopong tubuh Kanaya dan membaringkannya di tempat tidur dengan cepat ia memanggil kedua orang tuanya
Adam dan Sarra bergegas saat mendengar sang anak memanggil mereka ke kamar Rakha
''ada apa sayang, kenapa pagi-pagi begini kau teriak-teriak dan apa ini cepat pakai bajumu ''
tukas Sarra yang melihat tampilan Rakha yang hanya memakai celana panjang tanpa memakai atasan karna Rakha memang selalu tidur bertelanjang dada
''mom, Kanaya pingsan setelah muntah-muntah dari tadi , aku takut terjadi sesuatu pada istriku tubuhnya sangat lemah ''
cemas Rakha
''Kau jangan cemas biar Daddy panggil dokter kita
Adam pun beranjak untuk mengambil handphone nya dan menghubungi Dokter sementara Sarra ia tersenyum kecil melihat tingkah sang anak yang nampak begitu cemas dihampirinya Kanaya yang tengah berbaring di kecupnya kening Kanaya
dengan mengulas senyum
''kau jangan cemas ini gejala biasa bagi wanita yang sudah menikah ''
''maksud mommy?''
Rakha penasaran dengan sikap mommy nya terlihat santai dengan memakai piyamanya Rakha menghampiri Kanaya
yang masih tak sadarkan diri
tak lama dokter yang di panggil Adam pun tiba Adam membawa Dokter tersebut ke kamar Rakha
''kau''
Rakha menatap sang dokter yang ternyata temannya sendiri
''iya aku, om Adam yang menghubungiku katanya istrimu sakit ''
Dadd, kenapa kau panggil Dokter gila ini sih apa Dokter dirumah sakitku sudah mati semua hingga harus dia ''
kesal Rakha
Adam hanya terkekeh
''dia dokter obgyn terbaik dirumah sakit kita Rakha lagi pula dia juga sahabatmu jadi akan sangat baik kalau dia yang akan menangani istrimu''
ungkap Adam
Sarra menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabat itu yang setiap bertemu tak pernah akur namun bersahabat baik
''tunggu dulu kenapa dokter kandungan apa ... kalian pikir istriku... '
__ADS_1
' Rakha menatap kedua orangtuanya yang terlihat menganggukan kepalanya
''agar keyakinan kami terbukti cepat lah periksa Kanaya''
kembali Sarra berkata
Rakha seolah tak percaya kalau yang ia pikirkan benar Dokter Andra pun beranjak untuk memeriksa Kanaya
di keluarkannya peralatan dari dalam tasnya
namun saat akan membuka selimut yang menutupi tubuh Kanaya
Rakha kembali berteriak''
tunggu apa yang akan kau lakukan pada istriku kenapa kau mau membuka selimutnya''
''aku mau memeriksa istrimu woyyy kalau selimutnya tidak di buka bagaimana aku bisa memeriksanya kau ini
''Dokter itupun kesal dengan sikap Rakha
Adam dan Sarra kembali menepuk kening mereka
melihat sikap posesif Rakha
''dia sama seperti mu ''
ucap Sarra kesal di liriknya Adam
''tentu saja dia kan memang putraku '
' Adam terseyum bangga ia kembali teringat akan sikapnya dahulu pada Sarra
''aku yang akan memegang alatnya kau yang mendeteksinya , tidak terima penolakan ''
tegas Rakha
Andra pun mengheula napasnya dengan kasar
''Kau... berani kau mengataiku ku pecat kau dari rumah sakitku''
hardik Rakha
''ah ya... yaa... terserahlah pake ngancem-ngancem segala''
Andra pun mengalah
''arahkan stetoskopnya di dada istrimu ''
titah Andra
Rakha melakukan sesuai arahan Dokter nya itu
Andra mendengarkan dengan seksama
''lalu sekarang arahkan kebagian perut istrimu ''
Rakha pun melakukan semua arahan dari Andra
Andra nampak tersenyum tipis pria berkacamata itu lalu menyuruh Rakha memasang alat tensi darah untuk memerikaa tensi darah Kanaya ditangan sang istri
''istrimu baik-baik saja semua gejala yang dialaminya itu normal untuk masa kehamilannya selamat bro... istrimu tengah mengandung usia kehamilannya baru akan menginjak 3 minggu untuk memastikan datang saja nanti ke rumah sakit aku akan mengatur jadwalnya untukmu '' papar Dr Andra
Rakha yang mendengar kabar bahagia itu tampak tak kuasa untuk menahan air matanya karna bahagia di peluknya sahabatnya itu
''tanks bro... kau sudah memberikan kabar yang sangat membahagiakan untukku mulai besok aku akan menaikan gajimu juga akan mengangkatmu menjadi direktur rumah sakit Mahendra Hospital'' ucap Rakha dengan rasa teramat bahagianya
''kau serius?'' aku pegang kata-katamu '' dan terima kasih atas bonusnya''
__ADS_1
ucap Dokter itu
Adam dan Sarra memeluk sang putra
''selamat ya sayang kau akan menjadi seorang Daddy'' ucap Sarra
''tanks Momm''
begitu pun Adam
''kau memang kebanggaan Daddy son'' selamat jaga istrimu dengan baik jang pernah sekalipun kau mencoba menyakitinya ia putri Daddy ''
''siap Boss''
sahut Rakha yang mendapat pelukan dari sang ayah
mereka pun pergi meninggalkan Rakha bersama Kanaya
Rakha mengahampiri Kanaya di kecupnya kening sang istri nampak Kanaya mulai tersadar saat sesuatu yang hangat menerpa keningnya
''kau sudah sadar sayang''
Kanaya melirik Rakha tengah menatapnya ia pun menggeser tubuhnya dan mendekap tubuh suaminya itu
''ehmm... tapi kepalaku masih sedikit pusing''
Rakha memeluk erat tubuh Kanaya
'istirahatlah aku akan menemanimu ''
''mmh...
''Kanaya mengangguk
''kau sepertinya sangat menyukai aroma tubuhku '
bisik Rakha
''kau benar aku juga tak tau , tapi aroma tubuhmu membuatku nyaman apa kau keberatan?
tanya Kanaya
''tentu saja tidak sayang, kalau merasa nyaman kau bisa menghirup aroma tubuhku sepuasmu''
tutur Rakha di ciuminya wajah Kanaya mulai dari kepala , mata, pipi, hidungjuga bibir Kanaya tanpa terlewat
''terima kasih kau sudah memberiku kebahagiaan yang tak ternilai harganya di banding apapun aku sangat mencintaimu ''
''sayang, apa maksudmu aku tidak mengerti ''
Kanaya yang tak paham akan kata-kata suaminya itu
Rakha menarik tangan Kanaya dan menuntunnya ke perutnya dan perlahan ia mengelus perut sang istri
Kanaya menatap wajah Rakha dengan menutup mulutnya ''
apakah ini benar?a-aku sedang hamil?''
Rakha mengiyakan ucapan sang istri
''benar sayang kau tengah mengandung tadi Dokter memeriksamu usia kehamilanmu menginjak 3 minggu ''
Kanaya dengan berbinar ia memeluk Rakha ia pun tak dapat menahan rasa bahagia dan harunya hingga airmatanya pun menetes begitu saja
''aku hamil...ini ... ini bukan mimpikan
''Kanaya masih tak percaya dengan dirinya
__ADS_1
'iya kau hamil... kau sedang mengandung anakku anak kita buah cinta kita ''
kebahagiaan yang mereka rasakan kian membuncah saat tau mereka akan dikaruniai seorang anak.