Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 22


__ADS_3

Tembakan itu tidak mengenai Deswey dan Herlan, lalu keduanya pun berlari sekuat-kuatnya.


"Herlan, kamu di sini dulu yaa biar aku yang mengalihkan mereka," ucap Deswey.


Deswey pun menggunakan earphone nya.


"Yaa test, sekarang posisi di jarum jam 12, lihat arah ke kiri dan sebagian dari kanan," ucap Deswey.


"Siap nona," ucap penembak 1 dan penembak 2.


Herlan pun memegang tangan istrinya dan berkata :


"Deswey, kamu tidak mempercayai sebagai seorang suami yang bisa melindungi mu," ucap Herlan kesal.


"Aku percaya kok kamu bisa melindungi dirimu sendiri, nanti kita lanjutkan berantemnya setelah baku tempak selesai," ucap Deswey melempar pistol ke tangan suaminya.


Deswey pun menggantikan kostum pakaiannya, Herlan yang melihat hal itu tidak menyangka istrinya sudah mempersiapkan itu semua.


"Sampai ketemu lagi suami ku tercinta," ucap Deswey mengerlingkan matanya.


"Deswey," teriak Herlan.


Baku tembak pun tak terelakkan terjadi di sekitaran pantai wisatawan pun berhamburan berlarian menjauh akibat baku tembak tersebut. Tembakkan Deswey tepat mengenai sasaran.


Dooor....dooor...


Bunyi peluru yang keluar dari pistol bergantian tak tergantikan, seolah-olah dunia sudah berakhir. Ketika semuanya hampir selesai Deswey berlarian ke tempat tersembunyi, hingga seseorang dari geng black white mendapatkan Sandra Deswey yang lengah di saat dia bersembunyi. Deswey tidak tinggal diam, dia pun menggerakkan kaki dan lengannya meninju seseorang yang menyergapnya.


Braaakkk... braaakkk...


Korban pun berjatuhan, Deswey meninju dan menembak sasaran, meskipun kaki dan lengannya hanya kena sedikit tembakan membuatnya dirinya melemah. Hingga dia pun terjatuh pada seseorang.


"Deswey, teriak Herlan menembak seseorang yang ingin menyerang istrinya,"


doooorr.......


Herlan pun mengangkat tubuh istrinya dan meminta kepada yang lainnya untuk mengurus para geng Mafia tersebut. Deswey pun dilarikan di rumah sakit terdekat di pantai tersebut.


"Please, buka matamu Deswey, kami udah janji dengan aku, kita akan bertemu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu dengan dirimu," ucap Herlan menangis.


Setelah sampai di ruangan tersebut, Deswey pun diperiksa oleh dokter dengan cepat.


Beberapa jam kemudian.

__ADS_1


"Bagaimana dokter keadaan istri saya?" ucap Herlan.


"Istri anda perlu istirahat beberapa hari di sini dan jangan sampai dia banyak bergerak, untuk lainnya aman, hanya saja ada beberapa tulang yang sedikit retak hal itu hanya perlu dengan istirahat dan tidak banyak melakukan hal-hal yang berat," ucap dokter.


"Baik dokter terima kasih atas bantuannya," ucap Herlan.


"Sama-sama, ohya istri anda termasuk wanita yang kuat, peluru hanya melukai lengan saja karena saya mengetahui luka blesetan di lengan nya bekas tembakan peluru," ucap dokter.


"Baik dokter, thank you," ucap Herlan.


Dokter tersebut meninggalkan Herlan, Herlan pun menjaga istrinya dengan baik, di depan sudah ada yang berjaga. Herlan pun keluar dan meminta tolong pada pengawal Deswey.


"Saya mau meminta nomor ponsel mu untuk berjaga-jaga, dan belikan barang-barang dan makanan yang saya tulis di kertas tambahkan juga makanan kalian berdua," ucap Herlan.


"Tapi tuan herley sudah memberikan kami lebih dari cukup, jadi belum saat nya kami istirahat untuk makan dan bersantai tuan Herlan," ucap pengawal 1.


"Hehe, kalian itu manusia, meskipun kalian pengawal istri ku saat ini nona kalian tengah terbaring disana, jadi yang memiliki perintah adalah saya," ucap Herlan.


"Baik Tuan Herlan akan kami laksanakan perintahnya," ucap pengawal 1.


Pengawal 1 pun pergi meninggalkan tempat tersebut, sementara tinggal lah pengawal 2 yang berjaga di depan pintu kamar pasien nona Deswey.


"Oke pengawal 2 berjaga disini yaa, dan ini minum dan roti buat kamu," ucap herlan.


"Tapi tuan," ucap pengawal 2.


Herlan pun kembali menemui istrinya yang belum bangun dari pingsannya. Herlan mengingat masa-masa indah mereka sebelum baku tembak itu terjadi, ada kata-kata yang terngiang dalam ingatannya.


[nikmati masa bersama kita saat ini, entah kapan kita akan merasakan kebersamaan ini tanpa harus hati-hati]


[Aku saat ini sangat bahagia, bisa merasakan hal-hal yang baru meskipun pernikahan kita berawal dari paksaan, dan tak mungkin aku jatuh hati duluan padamu suamiku]


Perkataan yang membalas di atas Herlan, mengingat dia yang begitu risih akan keberadaan Deswey. Namun, sekarang sungguh berbeda wanita itu sudah berhasil mengaduk-aduk perasaannya bahkan hidup tanpa Deswey bagai memiliki ruh namun tak bernyawa.


Lamunan Herlan pun buyar, ketika ponselnya berdering.....


drrrrtttt.... drrrrrrtttt....


"Yaa Hallo Papa Herley Bagaimana keadaan Deswey sekarang?" ucap Tuan Herley.


"Masa pemulihan Pa, semuanya baik-baik saja hanya kata dokter cukup istirahat dan tidak banyak bergerak," ucap Herlan.


"Syukurlah terus kamu sendiri bagaimana?" ucap tuan Herley.

__ADS_1


"Saya hanya sedikit luka Pa, tapi sudah di obati oleh dokter," ucap Herlan.


"Baiklah, Papa dan Mama Geby,serta Nyonya Heva akan segera kesana, kirim sharelock ya," ucap tuan Herley.


"Siap Pa, hati-hati dijalan," ucap Herlan.


Tuan Herley, Nyoba Geby dan Nyonya Heva pun dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Deswey di rawat.


Herlan pun menghubungi Very untuk menjaga Desy. Very pun menyampaikan informasi penting ke Desy.


"Nona Desy sudah tahu kan informasi dari Tuan Herley bahwa kakak mu masuk rumah sakit karena terluka," ucap Very.


"Sudah tahu, tadi papa mengirim pesan pada ku, aku di suruh stay di sini saja, kalau kakak Deswey sudah sadar baru aku video call dengan kakak," ucap Desy berbicara dengan wajah sedih dan berat.


"Maaf Nona Desy, ini saya mengantar pesanan dari nona," ucap pengawal nya.


"Thanks yaa, dan ini buat kalian berdua yang berjaga di sana," ucap Desy.


"Taapi nona..." ucap pengawal tersebut.


"Nggak ada tapi-tapi, terima dan makan saja, aku bukan papa atau pun kak Deswey yang tidak membolehkan kalian makan kecuali sesuatu waktu begitu kan aturannya, maka perintah itu saat itu belum dulu berlaku kalian cukup menuruti perintah saya," ucap Desy tegas.


"Baik nona," ucap pengawal tersebut.


Pengawal itu pun pergi dengan cepat, karena waktu makan mereka tidaklah banyak. Very yang melihat hal itu hanya menatap senyum ke arah Desy.


"Ohya, sekretaris kakak ipar, kita kembali ke ruang tadi yaa, dan tolong bawakan barang ini aku membawa yang ringan saja, terima kasih Very," ucap Desy dengan langkah cepat menuju ruangan rahasia tersebut.


Desy dan Very pun kembali ke ruangan tersebut. Desy beristirahat sejenak sedangkan Very membaca buku seperti yang dilakukannya saat diluar ruangan ini.


"Very, bisakah kamu ke sini sebentar," ucap Desy.


"Baik nona," ucap very.


Very pun menghampiri Desy ditempat tidurnya dan duduk di samping Desy. Desy pun menarik tangan Very dengan kuat dan langsung memeluknya, Very ingin melepaskan pelukan itu tapi entah kenapa ada guratan kesedihan didalam diam Desy.


"Nona, ku mohon lepaskan, jika nona," belum selesai Very berbicara Desy sudah menutup mulut Very dengan jarinya.


"Biarkan aku dalam pelukanmu, aku ingin menangis tanpa harus kamu melihatku, karena aku tidak ingin siapapun melihat ku menangis."


Tangisan itu pun keluar dari wajah cantik dengan uraian air mata dari Desy. Wanita yang terlihat anggun, cerdas dan tidak banyak bicara menangis dihadapannya. Very hanya mengelus rambut Desy kala itu, Desy pun makin erat memeluk Very. Entah apa yang di rasakan oleh Desy tiba-tiba menangis seperti itu.


🍁💐💐💐🍁

__ADS_1


Kira-kira apa penyebab Desy menangis yaa?


Next Bab 23


__ADS_2