
Deswey pun kembali ke kamarnya untuk mandi sore. Namun, entah mengapa hari itu Deswey tidak berhenti tersenyum saat kebersamaan mereka tadi. Hingga Deswey berdebat dengan dirinya sendiri.
[Arg, bahagia banget ternyata bercanda dengan suamiku, aargh kok aku mulai mengatakan kalau Herlan suamiku, argh apakah cinta sudah bersemi di hati ku?, argh aku tidak percaya sudah jatuh cinta pada nya?, seorang Deswey mencintai seorang laki-laki seperti Herlan yang tidak sehebat papa, argh mungkin hanya imajinasi ku saja, nggak mungkin Herlan jatuh cinta denganku] begitulah percakapan yang terjadi pada diri Deswey.
Diwaktu yang sama, namun ruang yang berbeda.
Herlan di kamar mandi pun melakukan hal yang sama, dia tersenyum sambil duduk di kamar mandi, senyum-senyum sendiri seperti jatuh cinta anak remaja.
Gejolak hati pun bergemuruh di hati Herlan.
[Argh bahagia rasanya bisa bergurau dengan Deswey ternyata dia istri yang menyenangkan, ku pikir dia wanita tanpa cinta, tapi bagaimana mungkin dia suka dengan ku?, laki-laki lemah dihadapannya, aku bahkan tidak sebanding dengan papa nya, atau aku benar-benar jatuh cinta pada nya dan tidak ingin jauh darinya] gumam Herlan dalam hatinya.
Kedua pasangan tersebut bergelut dengan gemuruh hati masing-masing hingga Nyonya Heva heran dengan kedua pasangan tersebut sudah lama dari kamar atas tapi tidak juga keluar.
Herlan yang berada di ruang tamu sedangkan Deswey yang berada di kamar.
Saat keluar tanpa sengaja keduanya saling memandang dan bersamaan menuju ruang makan.
Deswey menunduk selama menuruni anak tangga begitupun dengan Herlan mereka berdua diam membisu setelah sampai meja makan.
Nyonya Heva yang melihat keduanya bingung dengan diam keduanya.
"Herlan dan Deswey hayoo makan, kalian kenapa diam dan melamun?" Ucap Nyonya Heva melibaskan tangannya kepada keduanya.
Namun, keduanya masih dalam tatapan kosong dengan diam.
Nyonya Heva pun teriak.
"Herlan, Deswey, makaaan!" teriak Nyonya Heva.
"Argh apa ma?" Ucap keduanya bersamaan.
"Makanannya jangan dilamunin, kalian makan saja sekarang, iih nyebelin deh," ucap Nyonya Heva.
"Ohw iya ma, maaf Deswey lagi mikirin kesehatan mama Heva dan papa Herley," ucap Deswey menjawab.
"Iyaa ma, aku juga sama memikirkan papa mertua dan mama juga," ucap Herlan mengucapkan hal yang sama.
Mereka bertiga pun makan dengan bahagia.
Di tempat berbeda.
"Desy, hayoo makan," teriak mama Geby.
__ADS_1
"Iyaa ma, tunggu sebentar," ucap Desy keluar dari kamarnya.
"Bagaimana acara pertunangan kalian dengan Very nanti?" Ucap Nyonya Geby bertanya.
"Ehm, kita mau langsung menikah saja ma, terus juga acaranya jangan terlalu mewah, kan bulan kemarin habis menikahnya Kak Deswey, kami dengan Very ingin menikah bersama anak-anak di panti," ucap Desy sambil duduk.
"Iya bisa semua, tapi kalian harus tetap memilih jika ingin langsung menikah, tapi itu pemikiran siapa sayang?" Ucap Nyonya Geby bertanya sambil mengunyah makanannya.
"Ehm sayang dan anakku sekarang di meja makan, jadi jangan berbicara dulu ya," ucap Tuan Herley.
Desy dan Nyonya Geby pun berhenti berbicara karena Tuan Herley sudah berjata demikian.
Satu keluarga itu pun dengan khidmat tanpa ada berbicara apapun. Setelah selesai Tuan Herley pun pamit kepada istrinya.
"Sayang aku ke kantor dulu," ucap Tuan Herley pada istrinya.
"Sayang," teriak Tuan Herley memberikan kode cium pipi.
Nyonya Geby pun memahaminya. Dia pun mendekati suaminya dan menciumi seluruh wajahnya. Karena tubuh Tuan Herley tinggi agar istrinya mudah menggapainya dia pun duduk.
Cuup... (ciuman pun mendarat ke pipi suaminya)
Tuan Herley pun tersenyum dengan sikap istri nya dan pergi dengan berpamitan pada Desy juga anaknya.
Selama mereka menikah papa dan mama nya tidak pernah terlihat bertengkar. Hanya saja kadang papa suka marah, dan mama tidak memperdulikan nya, biasanya jika papa nya marah hal prinsip yang di langgar di dalam rumah tersebut.
Seperti halnya saat makan tadi, Tuan Herley tidak menyukai hal itu karena dia suka ketenangan ketika makan. Maka, Nyonya Geby dan Desy hanya mengalah karena mereka memang bersalah.
Desy jadi membayangkan jika dirinya nanti berkeluarga, bahkan dia mulai membayangkan punya anak bersama Very. Namun, yang membuatnya kembali tersenyum tertawa adalah karena sikap Very yang dingin seperti es bahkan lebih dingin dari kakak iparnya.
Namun, hal itu menjadikan Desy penasaran bersikap dengan Very.
Karena Very sulit banget di ajak ngobrol. Kalau tidak di ajak ngobrol duluan maka tidak akan bicara. Hal itu lah terkadang membuat Desy geram dengan Very.
Namun, bedanya Very sangat sabar menghadapi sikap manja dan egoisnya Desy. Desy pun memahami itu, bahkan Very sudah bisa menentukan sikap dengan Desy sehingga dia pun mengikutinya.
Desy benar-benar sudah mencintai Very dengan sangat baik. Namun, dia tidak mau terlalu intens takutnya Very akan takut dengannya.
***
"Istriku malam nanti, kamu sibuk nggak," ucap Herlan bertanya pada Deswey yang menyiapkan tas kerjanya.
"Malam ini bisa, tapi besok giliran kamu yaa Herlan temani aku menemui geng Mafia di markas," ucap Deswey memberikan tas suaminya.
__ADS_1
Karena Herlan sudah berada di dalam mobilnya tadi sedang di periksa oleh Deswey terlebih dahulu.
"Apaa geng Mafia?, ehm nggak salah sayang," ucap Herlan terngangah..
"Aduuuh suamiku, kenapa dengan mulutmu yang ternganga begitu?" Ucap Deswey sambil tersenyum.
"Ehm aku heran saja yang kamu masih berhubungan dengan geng Mafia," ucap Herlan mendelik.
"Masih tapi kami aksi sosial sayang, nanti kamu denger dan lihat saja deh," ucap Deswey.
"Tunggu istriku, kamu tadi menyebutkan sayang, kamu udah mau menyebutkan kata itu," ucap Herlan tersenyum menggoda
"Heheh, cepat berangkat nanti terlambat ke kantor, aku masuk ke rumah dulu ya Herlan," ucap Deswey begitu saja karena malu.
"Yaa sudah sayang, aku pergi kerja dulu ya, kalau kangen video call saja," ucap Herlan melambaikan tangan ke istrinya.
"Baik Herlan," ucap Deswey melambaikan tangannya juga.
Nyonya Heva yang melihat keduanya hanya tersenyum dengan sikap malu-malu keduanya.
" Suami istri tapi masih saja malu-malu," ucap Nyonya Heva.
Nyonya Heva pun harus berangkat juga karena ada pertemuan dengan para investor. Nyonya Heva pun berpamitan dengan Deswey. Deswey pun mencium tangan mertuanya.
Nyonya Heva sangat senang dengan sikap menantu nya. Terlebih lagi sikap ramah yang selalu ditunjukkan padanya.
Nyonya Heva dan Herlan pun sudah tidak ada di rumah. Deswey pun kembali sepi dengan rumah sebesar itu.
Setelah Deswey melakukan beberapa pekerjaan, dia pun beristirahat sejenak di atas kasurnya.
Saat dia ingin memejamkan mata.
Dering ponselnya kembali berbunyi.
"Yaa Hallo, ada apa?" Ucap Deswey berbicara seadanya.
"Bos bisa video call sejenak, ada yang mau dibicarakan," ucap anak buahnya.
"Ehm telpon saja dulu, lagi posisi istirahat ini," ucap Deswey.
Deswey pun berbicara serius dengan anak buahnya. Hingga keterkejutan terjadi pada ekespresi Deswey.
"Apaaaa?"
__ADS_1
🍁💐💐💐🍁