
Deswey pun tertidur pulas. Sedangkan Herlan hanya menatap istrinya lekat saat tidur.
[Istriku kalau sedang tidur, cantik juga ya. Argh, kalau lihat dari dekat Deswey memang wanita yang berbeda, semua karakter nya berbanding terbalik wanita ideal ku, sejak kapan aku jadi peduli dengan istriku, apakah cinta itu benar-benar tumbuh di hatiku, tapi argh aku sudah pernah dilukai seorang wanita, takut hal yang sama terulang, tapi bagaimana kalau ternyata istriku malah menyukai Gerald] gumam Herlan dalam hati.
Herlan pun ikut terlelap dalam tidurnya.
Dalam mimpi Herlan.
"Tidak ma, Herlan tidak ingin berpisah dengan Deswey," teriak Herlan.
"Kamu harus mengikhlaskannya Herlan, Deswey bukan istri kamu lagi," gumam Nyonya Heva.
"Tiiidak, aku mencintai Deswey, sangat mencintainya, aku tidak rela ma Deswey jadi milik orang lain," teriak Herlan.
Herlan pun terbangun dari mimpinya.
"Aku cinta Deswey ma," teriak Herlan bangun dari tidurnya dan dilihat oleh istrinya.
"Eheem Herlan, tadi kamu katakan apa? sekarang silahkan minum deh, mungkin capek dari mimpi tadi," ucap Deswey yang memandang Herlan dengan senyumannya.
Herlan salah tingkah dengan perkataan istrinya.
Herlan malah ke kamar mandi untuk mencuci muka.
"Argh, sungguh malu di dengar istriku, bisa geer dia aku bilang cinta dalam mimpiku, tapi aku tidak rela jika dia bersama lelaki lain, kontrak selama 5 tahun itu bisa di sepakati jika kedua belah pihak merasa cukup, argh kesal dengan pernikahan kontrak, apakah harus ku akhiri saja dan mengatakan bahwa aku mencintai istriku," gumam Herlan dalam hati.
"Suamiku, kamu ngapain dalam kamar mandi? cepat keluar, aku mau minta tolong," teriak Deswey.
Herlan pun keluar dari kamar mandi.
"Kenapa Deswey? kamu mau minta tolong apa?" ucap Herlan bertanya.
"Aku mau buah itu, tolong kupasin ya," ucap Deswey manja dengan memohon.
__ADS_1
"Baiklah, aku pikir tadi apa sih?" ucap Herlan.
Herlan pun mengupas buah untuk istrinya. Setelah selesai di kupas, Herlan memberikan pada istrinya.
"Ini buah buat mu istriku, aku udah kupasin," ucap Herlan menyerahkan.
"Siapin, aku mau suamiku yang memberikan buah ke aku," ucap Deswey sambil manja dengan suaminya, sengaja Deswey seperti itu untuk menggoda suaminya.
"Idiih, sejak kapan kamu minta siapin? biasanya juga makan sendiri," ucap Herlan pada istrinya.
Deswey manyun mendengar sikap suaminya, yang tidak bisa memperlakukannya dengan manis. Deswey pun langsung memakan buah tersebut, padahal baru saja Herlan mau memberikan pada istrinya.
Herlan terdiam melihat sikap Deswey yang berubah kembali 180 derajat jadi dingin.
[Aduuh, aku salah untuk kedua kalinya, harusnya jika dia bersikap manja, aku mengabulkan nya, susah jika sikapnya mulai dingin kembali] gumam Herlan dalam hati.
Dering ponsel Deswey pun berbunyi.
📞"Ya Hallo, bagaimana keadaan semua anak buah?" ucap Deswey bertanya pada tangan kanannya.
📞"Tidak apa-apa, tetap melakukan pengamanan, dan buat yang lain berjaga-jaga ya, kalian harus menjaga diri kalian," ucap Deswey pada anak buahnya.
📞"Siap bos, keadaan bos bagaimana?" ucap Tangan kanannya Deswey.
📞"Mungkin besok saya sudah pulang kok, tapi saya istirahat di rumah suamiku, jadi nanti kita bicarakan kembali jika saya kembali markas," ucap Deswey.
📞"Siap bos," ucap Tangan kanannya.
Panggilan telpon pun terputus.
Kembali sunyi di antara Herlan dan Deswey. Herlan bingung memulai kembali. Deswey pun enggan berbicara dengan suaminya. Saat Deswey ingin turun dari kasurnya, dia hampir saja terjatuh kalau tidak di pegang oleh suaminya. Namun, Deswey mengelakkan tangan suaminya.
Deswey pun menuju kamar mandi. Setelah selesai Deswey kembali ke tempat tidurnya. Herlan mau mulai bicara, namun pintu ruangan ada yang mengetok.
__ADS_1
"Kak Deswey," ucap Desy memeluk kakaknya yang diiringi oleh Very di belakangnya.
Very merasakan jika kedua suami istri memiliki pertengkaran hari ini. Namun, Very pura-pura tidak tahu, karena Herlan orangnya gengsian jika bercerita dengan orang lain.
"Kakak, lengan mu kena tembak ya, dan aku dengar dari papa kakak di utus oleh kedutaan untuk ke Perancis," ucap Desy bicara panjang lebar.
Herlan yang mendengar hal itu terkejut, dengan berita yang dibawa oleh Desy.
Deswey sudah memberi isyarat pada adiknya, tapi adiknya tidak memahami kondisi tersebut. Sehingga Deswey memilih diam saja. Very yang paham dengan posisi canggung tersebut langsung menarik Desy dan meminta izin untuk pergi sejenak.
"Herlan dan Deswey, aku dan Desy pamit dulu, masih ada hal yang perlu kami beli untuk keperluan pertunangan kami," ucap Very memegang tangan Desy.
Desy terkesima dengan sikap Very, dia pun melambaikan tangannya ke kakaknya dan ke kakak iparnya Herlan. Setelah keduanya keluar, Herlan pun memulai pembicaraan.
"Deswey, apakah benar yang dikatakan Desy? sebenarnya kenapa kamu jadi wakil kedutaan untuk ke Perancis? peran apa kamu dalam pemerintahan?" ucap Herlan bertanya.
"Maaf Herlan, jika pun aku mengatakan nya kamu tidak akan memahaminya," ucap Deswey menjawab.
"Katakan saja, aku akan menyimpan rahasia jika itu harus di save, jika memang itu suatu rahasia," ucap Herlan duduk dan melihat istrinya menjawab.
"Selain saya seorang pemimpin mafia dari Paris, saya juga agen rahasia dari negara ini, Swiss dan Paris tempat markas ku bolak-balik, aku tidak bisa memberi tahu bekerja sama dengan siapa, yang pasti mereka tidak tahu dengan dengan identitasku, aku selalu menyamar dan menyebut diriku dengan miss Wey, dan mungkin saja jika suatu saat nanti aku jarang pulang ke rumah, maka jika kamu menginginkan perceraian dengan ku bisa kita lakukan sekarang Herlan," ucap Deswey menatap Herlan.
"Argh, kamu berkata apa Deswey? meskipun pernikahan kita hanya kontrak saja itu belum berlangsung selama 5 tahun, kita baru menjalani pernikahan 3 bulan, kenapa kamu mengatakan hal itu Deswey di saat seperti ini?" ucap Herlan mulai kesal dengan istrinya.
"Kita berdua tidak ada keterikatan hubungan karena cinta, kita melakukan pernikahan ini agar mama Heva bahagia, karena bagi ku kebahagiaan orangtua itu hal yang utama, dan lagian juga kita sering cekcok dan berdebat, hal itu bisa menganggu fokus kamu kerja, sedangkan aku tetap bisa fokus karena aku sudah memilki pola dengan kehidupan ku, jadi berpikirlah Herlan tentang semua ini," ucap Deswey mulai berbicara serius.
"Jadi yang kamu mau hubungan kita di landasi rasa cinta, maka kamu akan mempertahankan hubungan ini, begitukah yang kamu pikir Deswey," ucap Herlan bertanya.
"Herlan, cinta ku sudah mati seiring berjalannya waktu, karena tidak ada satu pria pun yang mampu membuka hatiku, mungkin pikiran ku bukan kesana, atau memang aku belum memikirkan cinta, maka cinta yang kamu hadirkan pun hanya palsu dan sementara, bagaimana mungkin aku menganggap hal itu tulus dan nyata?" ucap Deswey menyatakan semua isi perasaannya.
Untuk sesaat Deswey dan Herlan pun terdiam, Herlan pun pergi ke kamar mandi dengan alasan mencuci muka. Padahal Herlan menghapus air matanya yang hampir terjatuh, begitu pun dengan Deswey yang menghapus air matanya di saat Herlan sudah pergi.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya kita tunggu saja episode selanjutnya?