Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 53


__ADS_3

Setelah Deswey di rawat di rumah sakit selama seminggu dan pemulihan di rumah suaminya. Herlan masih saja sibuk dengan perusahaan nya, sejak Deswey pulang hanya sekali Herlan menyambut kehadiran nya ketika di rumah, setelah itu dia sibuk.


Herlan memang sibuk akhir-akhir ini melakukan pertemuan dengan beberapa klien, sehingga bicara dengan istrinya hanya pertama ketika Deswey keluar dari rumah sakit.


Ketika Herlan pulang pun istrinya sudah tidur, ketika Herlan berangkat kerja istrinya masih terlelap tidur, karena Herlan berangkat nya lebih berangkat dari biasanya.


Maka hal itu lah, Very pun harus bangun pagi lebih awal datangnya dari Herlan, bahkan terkadang Desy suka marah kesibukan yang melanda calon suaminya.


Herlan datang lebih awal dari Very, hingga Herlan menghubungi Very.


Dering ponsel Very pun berbunyi.


📞"Yaa Bos, saya sekarang di parkiran akan sampai 5 menit," ucap Very menjawab.


📞"Langsung saja ke ruang rapat yaa Very," ucap Herlan langsung menutup.


Very pun berlari, tanpa sengaja kakinya menendang roda mobil yang di sampingnya.


"Aww sakit banget, argh sudah ditunggu," ucap Very langsung berlari meskipun kaki sakit bagian kiri.


Very pun berlari semampunya, tiba dengan waktu 10 menit, Herlan yang melihat hal yang tak biasa kesal dengan sikap Very yang terlambat.


Rapat pun selesai, Herlan meminta Very menghadapnya. Namun, Very terlanjur mengangkat telpon calon istrinya dan tanpa sengaja Desy mendengar Herlan memarahi calon suaminya.


"Very, kalau kamu telat seperti tadi, aku potong gaji kamu, tidak biasa kamu telat begini, bedakan urusan kantor dengan pribadi," ucap Herlan mendengus kesal.


Very mode diam tidak menjawab sama sekali.


"Saya berharap tidak akan terulang lagi yaa Very, karena saya tidak mau ini terulang kembali, jadi atur kembali disiplin kamu," ucap Herlan pergi meninggalkan Very begitu saja.


Very pun terduduk di atas kursi kesakitan, dia pun berbicara dengan dirinya sendiri.


"Maaf Herlan, aku terlambat 10 menit karena kaki ku tidak sengaja tertendang mobil di samping, jalan pun sudah, kalau di ketahui Desy pasti dia ngomel, calon istriku itu bawelnya luar biasa, meskipun aku menyayanginya, apakah aku harus izin saja yaa? argh alasan aku karena ini nanti dibilang cengeng," ucap Very bergumam sendiri panggilan telpon tersebut pun langsung dimatikan.


Desy pun bergegas berpakaian kebetulan hari itu tidak ada jadwal kuliah, dia pun berpenampilan cantik, papa dan mama nya heran dengan penampilan anaknya.


"Tunggu, kamu mau kemana?" ucap papa bertanya.

__ADS_1


"Aku mau menemui calon suamiku pa," ucap Desy dengan lantang.


"Kenapa kamu harus ke kantor sayang, kan bisa menelpon saja?" ucap mama nya.


"Ada hal yang penting ma, nanti aku ceritakan, pokoknya aku mau naik mobil ke sana, Desy izin ya papa dan mama," ucap Desy menyalim orang tuanya.


"Baiklah, hati-hati yaa sayang," ucap mama nya.


Desy pun mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sambil dia menelpon kakaknya. Namun, Deswey tidak mengangkat sebab Deswey sedang bersama mertuanya menata tanaman mertuanya, Nyonya Heva sedang tidak sehat jadi lebih memilih di rumah saja.


"Argh, kenapa kakak tidak mengangkat telpon ku, lihat saja Bang Herlan, jika terjadi dengan calon suamiku tidak akan ku diamkan," ucap Desy mendengus kesal.


Beberapa menit kemudian.


Desy pun tiba di loby perusahaan namun tidak diperbolehkan karena tidak ada kartu pengenal. Karena kekesalannya sudah ditingkat akut, dia pun menelpon Nyonya Heva melalui telpon rumah.


Dering ponsel rumah nyonya Heva pun berbunyi.


"Baik tunggu nona, nanti saya sampaikan dulu," ucap pembantu tersebut.


"Baiklah," ucap Nyonya Heva berdiri dengan dibantu pembantu dan Deswey.


📞"Ya Hallo, ada apa Desy sayang?" ucap Nyonya Heva.


📞"Nyonya Heva, tolong bicara dengan securty di sini bahwa aku calon Very dan ada hal penting calon suamiku nggak angkat telpon, nanti aku ceritakan cerita detailnya," ucap Desy berbicara cepat.


Desy pun memperdengarkan kepada tim keamanan tersebut.


📞"Terima kasih Nyonya Heva, nanti saya ceritakan jika sudah selesai urusan saya," ucap Desy langsung menutup panggilan tersebut.


Desy pun berlari ke ruangan calon suaminya, tepat saja Very tengah menahan kesakitan pada kakinya.


Desy mengetok pintu, Very mengenali langkah kaki tersebut, dan memperbolehkan Desy masuk.


"Hayoo, kita ke rumah sakit sekarang periksa kaki kamu," ucap Desy mendesak.


"Kamu tahu darimana Desy, kaki ku sakit," ucap Very penasaran.

__ADS_1


"Hayoo ke rumah sakit, lihat luka di kaki itu, haayoo," ucap Desy menarik tangan Very.


"Tapi kerjaan ku masih banyak," ucap Very merengek.


Saat keduanya berdebat, masuklah Herlan.


"Desy, kamu ngapain kamu ke sini? lagian calon suami mu nanti pulang, sekarang belum saatnya," ucap Herlan.


"Pekerjaan, dari tadi Very berlari saat kakinya sedang pincang kena tendang ban mobil, Abang Herlan memang tega yaa," ucap Desy marah.


"Tunggu, maksudnya apa? aku tidak tahu jika Very terluka," ucap Herlan menjawab.


"Hayoo Very, jika kamu tidak nurut, maka jangan lagi dengerkan omongan apapun tentang ku," ucap Desy melangkah pergi meninggalkan Very.


"Tunggu, aku akan ikut kamu Desy, tapi papah aku," ucap Very langsung berdiri dengan kaki yang terasa pedih.


Herlan yang melihat itu merasa bersalah memarahi Very tadi, tapi bagaimana bisa Desy tahu kalau dia memarahi Very.


"Tunggu, kalian heran kan kenapa aku bisa tahu sebenarnya," ucap Desy menjawab isi hati Herlan.


"Very, kamu ingat saat aku menelpon keluar di mobil, saat itu kamu mengangkat telpon ku, karena belum kamu matikan, aku pun mendengar kamu ngedumel kesakitan, lalu berlari menuju Herlan dan kamu dimarahi karena hampir telat," ucap Desy pergi meninggalkan Herlan begitu saja.


Very hanya terkesima dengan perhatian Desy, sebab dia tidak pernah sama sekali mendapatkan perhatian seperti ini. Hal itu malah diberikan oleh Desy yang sebentar lagi akan jadi istrinya.


Bagi Desy gampang memapah calon suaminya, ketika Herlan hendak membantu di lepas tangan itu dari tangannya Very, dan berkata :


"Maaf Abang Herlan, kali ini aku sungguh kecewa dengan kamu, ke depannya kalau punya masalah jangan di campur adukkan masalah kantor dan masalah pribadi, Abang tenang saja Desy tidak akan lama marahnya, tergantung apa yang di derita calon suamiku," ucap Desy langsung melongos usai bicara.


Herlan hanya merunduk dengan hal itu, Deswey yang mendengar hal itu, jadi penasaran dengan yang terjadi. Desy tidak pernah sejarah itu, jika dia marah berarti orang tersebut memang penting bagi hidupnya.


Herlan pun kembali ke kantornya dan merenungkan semuanya, di saat dia merenung istrinya mengetok pintu. Namun, Herlan terdiam dan Deswey masuk begitu saja.


"Siapa yang menyuruh kalian masuk ke ruangan ku?" ucap Herlan penuh amarah sambil memandang arah yang dituju, namun dia terkejut saat dilihatnya ternyata Deswey.


Herlan pun langsung terdiam, Deswey yang memahami perubahan sikap suaminya mengerti arti kegalauan hati Herlan tersebut.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2