
Very sibuk dengan pikirannya yang kacau. Sedangkan Desy sibuk melihat pemandangan yang berada di depannya.
Desy pun menyeruput teh dengan perlahan. Very hanya menatap saja, namun tidak bisa lama karena jantung masih belum selesai dengan kerjanya.
Desy pun mendekati Very yang memfotoi pemandangan yang berada di depan mereka.
Desy pun langsung merampas foto tersebut..
"Ceklekkk...," (suara kamera)
"Nie hadiah foto berdua dengan aku,kirim ke ponsel aku dulu yaa, agar aku pasang wallpaper," ucap Desy langsung memberikan ponsel Very.
Dan Desy kembali fokus ke ponselnya.
Very bingung dengan semua tingkah Desy. Namun, dia tidak menghiraukan perasaan nya itu dan di gubrisnya saja.
Hingga Desy kembali bertanya, dan lamunan Very pun kembali buyar.
"Hey Very, kita nanti mau kemana lagi hari ini, kita ke wisata lain kan," ucap Desy tersenyum kecil.
"Baiklah, oke nanti kita berjalan lagi, tapi kita nikmati di Danau Genewa dulu yaa, udara dan suasana di sini sangat enak di lihat," ucap Very.
"Baiklah kalau begitu, kita nikmati udara dan suasana disini, kapan lagi kan bisa menikmati nya berdua dengan orang yang kita sayangi," ucap Desy bicara lirih.
"Apa?" ucap Very.
"Hahaah, tidak ada kok aku lagi menikmati pemandangan Danau Genewa sehingga ingin berlama disini," ucap Desy tersenyum kecil.
Very pun tersenyum dengan ucapan Desy. Desy geram dengan sikap Very yang tidak memahami perasaannya sama sekali.
***
Deswey dan Herlan pun mengikuti jamuan tersebut, bahkan terlihat Deswey ikut membantu suaminya berbicara.
"Kamu beruntung Herlan, mendapatkan istri multitalent seperti Deswey," ucap Teo kepada Herlan.
"Hehehe, sungguh beruntung aku Teo, tapi kamu juga beruntung mendapatkan istrimu, intinya setiap wanita di samping kita itu memiliki kelebihan dan kekurangan nya tersendiri," ucap Herlan menjelaskan.
__ADS_1
"Ohya Resya, bagaimana kamu bisa mengenal suami mu," ucap Deswey menanyakan.
Resya pun menceritakan perjalanan cintanya dengan suaminya yang penuh dengan liku-liku, bahkan jika dituliskan ke sebuah novel pasti akan beratus bab. Sehingga, baginya cinta dengan penuh pengorbanan seperti itu patut untuk diperjuangkan.
Begitu antusias Resya menceritakan semua pengalamannya. Deswey yang mendengar itu mengangguk memahaminya, bahkan terkadang gelak tawa ada di antara komunikasi mereka. Setelah selesai Resya bercerita, Resya pun kembali bertanya dengan Deswey.
"Deswey, bagaimana perjalanan cintamu dengan Herlan?" Ucap Resya bertanya.
"Haha, emang kamu mau mendengar dengar cerita ku," ucap Deswey tersebut kecil.
"Iya dong, dari tadi aku cerita banyak dengan kamu, jadi kepo lah, karena setahu saya Herlan memiliki pacar sebelum dia menikah bernama Olivia, dan kami pun tahu kenapa dia putus?, maka ketika dia diberitakan akan menikah, membuat kami kolega dan teman-teman tidak percaya, jadi tolong ceritakan," ucap Resya bertanya.
"Emang berapa tahun Herlan berhubungan dengan pacarnya dulu," ucap Deswey kepo.
"Ehm lumayan lama sih lupa berapa tahunnya?, yang pasti mereka berdua bahagia banget," ucap Resya.
"Ohw begitu, kalau saya dengan Herlan, tidak pacaran dan tidak mengenal satu sama lain, hanya dipertemukan oleh mama Heva," ucap Deswey singkat.
Saat Resya mau bertanya kembali, dering ponsel Deswey berbunyi.
"Sebentar yaa Resya, saya angkat telpon dari mama ku dulu," ucap Deswey langsung mengangkat telpon dari mama nya.
"Deswey, kamu segera ke Rumah Sakit Graha sekarang, papa kena tembak sekarang kami berada disini dan telpon adikmu yaa," ucap Mama Geby menutup telepon nya.
Deswey pun langsung pergi begitu saja, tanpa dia menghiraukan suaminya. Namun, dia kembali lagi dan berbisik ke suaminya.
"Herlan, aku harus ke Rumah Sakit Graha sekarang, kamu terusi saja pembicaraan dengan kolega mu ya, urusan papa ku lebih penting daripada urusan lain," ucap Deswey melangkah.
Saat Deswey melangkah ingin pergi, Herlan menyambar tangan istrinya.
"Teo, saya pamit duluan yaa, mertua saya masuk rumah sakit, makanya istri saya terlihat panik," ucap Herlan bergagas.
"Okey," ucap Teo.
Deswey dan Herlan pun memasuki mobil. Deswey pun menghubungi Very. Very pun mengangkat telponnya Deswey.
"Hallo Very, sekarang kalian menuju ke Rumah Sakit Graha ya, papa saya masuk rumah sakit tolong kasih tahu Desy, kita bertemu disana okey," ucap Deswey.
__ADS_1
"Baik Nyonya," ucap Very.
Very pun mengajak Desy segera masuk ke dalam mobil. Desy pun mengikuti saja meskipun dia bingung dengan kekhawatiran di wajah Very.
Very pun segara mengendarai mobilnya dengan cepat.
"Desy, tadi kakak mu menelpon aku, karena ponselmu tidak bisa dihubungi, papa mu masuk rumah sakit, maka dari itu kita harus segera kesana," ucap Very khawatir.
"Apaa? Papa masuk rumah sakit," ucap Desy tanpa bicara dan menangis begitu saja.
"Desy, aku mohon tahan dulu tangisanmu, sekarang berdoa saja kesembuhan papa mu yaa, saya lagi berusaha cepat agar kita segara sampai di rumah sakit graha," ucap Very sambil mengemudi.
Desy pun berhenti menangis dan Very bisa fokus mengemudinya. Dia tidak tahan jika melihat Desy menangis seperti itu, bagi Very hal yang paling tidak disukainya melihat wanita menangis apalagi jika wanita itu adalah Desy, meskipun di hatinya masih belum jelas.
Setengah jam kemudian semua datang ke Rumah Sakit Graha, Desy dan Deswey yang datang nya tidak berjauhan langsung memeluk mama mereka.
Sehingga, terjadi haru biru dan tangisan yang terlihat. Desy tidak berhenti lagi menangis. Begitupun dengan Deswey.
Dokter pun keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana dokter, keadaan suami saya?" Ucap Nyonya Geby.
"Peluru yang ada di tubuh Tuan Herley sudah berhasil kami keluarkan jadi sekarang sedang masa pemulihan, silahkan di jenguk tapi jangan di ajak bicara yang berat-berat," ucap dokter.
"Baik Dokter, terima kasih," ucap Herlan.
Deswey, Desy dan Nyonya Geby pun masuk ke ruangan tersebut. Sedangkan Very dan Herlan menunggu diluar karena di batasi. Sehingga, kedua laki-laki di luar berharap cemas diluar.
Nyonya Geby, Deswey dan Desy langsung memeluk laki-laki yang mereka cintai yang memakai selang infus tersebut. Tiada henti ketiga wanita tersebut menangis.
Herlan dan Very yang berada diluar bingung, apakah harus masuk atau gimana?, karena itu masih privasi keluarga Tuan Herley.
"Deswey, sudahlah menangis nya, kasian suami yang menunggu di luar," ucap Mama Geby pada Deswey.
"Desy kamu berama Very dulu yaa sayang, sepertinya papa kalian akan bangun sebentar lagi, biasanya jika hal begini, papa kalian hanya ingin mama berduaan dengannya, tugas kalian sekarang menenangkan diri dan segera makan siang," ucap Mama Geby.
Desy dan Deswey memahami semua instruksi mama nya. Dan akan membawakan makanan serta buah.
__ADS_1
Deswey dan Desy pun keluar dari ruangan tersebut, meskipun sudah di seka air mata masih mengalir di wajah cantik mereka.
🍁💐💐💐🍁