Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 77


__ADS_3

Sesampainya di apartemen Gerald. Gerald pun langsung masuk ke kamar mandi, setelah selesai dia pun keluar mengambil pakaiannya.


"Aaaaaghhh," teriak Olivia.


Gerald langsung menutup bagian dada nya dengan tangan.


"Maaf Olivia, kakak lupa kalau ada kamu, pandangan kamu cari ke yang lain saja," ucap Gerald menuju ke lemarinya yang berbeda ruangan.


Saat Gerald ingin mengenakan pakaian, teriakan datang dari arah dapur.


"Aaaaaghhh," teriak Olivia.


Gerald pun segera datang tanpa memperdulikan dirinya masih bertelanjang dada.


"Kenapa Olivia? memeriksa tubuh adiknya," ucap Gerald khawatir.


Olivia pun langsung memeluk Gerald, Gerald yang mendapatkan serangan tersebut tidak bisa bergerak sama sekali.


"Gerald bisakah seperti ini dulu," ucap Olivia memeluk dengan nyaman.


"Iya boleh, tapi kakak lupa memakai baju tadi langsung ke sini, coba bilang apa yang terjadi yang membuat luka begini?" ucap Gerald penasaran.


"Cup..." ciuman mendarat ke bibir Gerald.


Gerald hanya tersenyum dan berkata ;


"Olivia, kakak bertanya maka kamu harus menjawab, jangan sampai kakak marah sama kamu," ucap Gerald tegas.


Olivia pun menjulurkan tangannya yang kena jipratan minyak goreng.


"Ayo duduk di kasur, kakak ambil kotak P3k dulu agar nggak perih nantinya," ucap Gerald mengambil kotak P3k.


Setelah mendapatkan nya Gerald mengobati adiknya.


"Sayang, terima kasih ya," ucap Olivia tiba-tiba.


"Olivia, jangan sembarang berkata demikian, kamu sedang luka loe ya, diam dulu," ucap Gerald.


"Sayang, bisakah kata itu aku ucapkan ketika kita berdua, dan begitu pun dengan kakak," ucap Olivia bicara dengan tegas.


Gerald pun selesai mengobati luka tersebut, dan dia pun duduk menghadap ke Olivia dan mencium tangan Olivia.

__ADS_1


"Aku juga menyayangi Olivia layaknya wanita pada umumnya, akan tetapi apakah kamu tidak apa-apa jika hubungan kita harus diam-diam di depan orang lain," ucap Gerald bertanya pada Olivia.


"Tidak apa-apa, lagian dengan kita seperti biasa nya dengan orang lain di luar sana, mereka tidak akan curiga sama sekali, selama kakak memperlakukan ku dengan baik saat kita berdua," ucap Olivia.


"Baiklah sayang, kakak berjanji jika itu mau mu," ucap Gerald.


"Iih, ini bukan mau ku saja, tapi mau nya kita berdua," ucap Olivia.


Keduanya pun kembali berpelukan, sementara itu mereka tidur bersama tidak melakukan apapun. Karena mereka besok pagi nya harus menyelesaikan meeting mereka dengan baik.


Pagi pun tiba.


Gerald telah merapikan meja yang mana makanan sudah di antarkan oleh pelayan apartemen, mereka langsung bertemu kolega pada pukul 09.00 sedangkan sekarang masih pukul 06.30.


Olivia masih memeluk guling di kasurnya, hingga dia mencari keberadaan Gerald tidak ada disampingnya, dia pun teriak dengan sekencang-kencangnya.


"Kak Geraaaaald, kamu dimana?" teriak Olivia.


Gerald pun menuju kamar sengaja secepatnya, dan mendekati Olivia.


"Kenapa kamu Olivia mimpikah?" ucap Gerald khawatir.


"Cium aku, aku merindukanmu," ucap Olivia memegang pipi dam bibirnya sambil mata masih tertutup.


Olivia pun menarik lengan Gerald dia pun mencium pipi dan bibir kakak Gerald dan langsung mengunci memeluk dirinya. Gerald benar-benar tidak bisa berkutik sama sekali.


Gerald pun menurutinya saja, Olivia memang sedang lelah akibat lembur kemarin malam.


"Baik, kita istirahat sebentar ya, setengah jam yaa,, setelah itu kita sarapan okey," ucap Gerald berbisik ke telinga Olivia.


"Okey," ucap Olivia isyarat tangan.


Keduanya pun beristirahat sementara selama setengah jam.


Setelah setengah jam lewat, Olivia pun mandi dan menuju meja makan, di susul oleh Gerald yang sudah menunggu meja makan. Keduanya pun makan bersama, dan tidak lupa bercanda di sana.


"Kak Gerald, berarti mulai hari ini kita jadian kan, dan ini hari pertama kita pacaran," ucap Olivia berbinar.


"Iya sayang, ini hari pertama kita," ucap Gerald mencium kening Olivia.


Olivia pun bahagia bukan main, dia pun makan dengan lahapnya, dan semangat melakukan aktivitas nya.

__ADS_1


"Tapi ingat ya Olivia, ketika di tempat kerja kita harus profesional ya," ucap Gerald mengingatkan.


"Okey kak, itu aman lah yang penting kita saling percaya saja," ucap Olivia.


Keduanya pun menyelesaikan makannya, karena waktu menunjukkan pukul 08.30 ,keduanya harus bersiap menemui kolega mereka.


Olivia dan Gerald pun pergi berdua menuju pertemuan mereka, sampailah di tempat mereka berdua datang lebih awal. Setelah kolega nya datang mereka pun membicarakan hasil pertemuan meeting kemarin.


Di tempat berbeda.


Desy masih terbaring lesu karena alerginya masih dalam tahap pemulihan sehingga beberapa hari keduanya hanya menetap di kamar saja, meskipun Desy bosen akan tetapi Very selalu menyempatkan menghibur istrinya, hingga Desy pun tiba-tiba menangis.


"Kamu kenapa menangis istriku? apa yang membuat mu terluka? apakah ada yang ingin menyakiti mu atau ada yang membuat mu terluka karena hal itu, atau hal lainnya," ucap Very bertanya.


"Kalau aku menuruti kamu tidak makan udang, pasti kita udah jalan-jalan dan buat anak," ucap Desy sambil menangis.


"Hahaha, kamu bilang ap sih sayang?" ucap Very tertawa terbahak-bahak di kala istr6 menangis.


"Kok kamu tertawa sih suamiku, istrimu sedang sakit loe sekarang, dan kita terkurung di apartemennya ini beberapa hari, kamu tidak bosen apa?" ucap Desy masih menangis.


Very pun mendekati istrinya dan menghentikan pekerjaan di depan leptop.


"Dengarkan istri ku, kamu sekarang istriku, tanggung jawab ku, dan pasti nya aku harus menjaga mu, lagian juga itu hal baik kan sayang kamu bisa istirahat lebih banyak, kaya dokter juga jika kamu rutin minum obat maka akan segera sembuh dengan cepatnya," ucap Very menghibur istrinya.


"Ehm iya sih, aku akan berusaha sembuh buat suamiku," ucap Desy mulai menghapus air matanya.


"Nah itu baru istriku, adiknya nyonya Deswey, anak kesayangan tuan Herley dan nyonya Geby," ucap Very mencium kening istrinya.


Desy pun kembali memegang ponselnya karena hatinya sekarang sudah tenang di yakinkah oleh suaminya. Hingga suara Desy menganggu ketika dia mulai kesal.


"Ih apaan mereka nie? nanya oleh-oleh segala, nggak tahu apa aku lagi sakit? semuanya menyebalkan," ucap Desy mendengus kesal.


Saat Very berada di balkon, Desy mendengar percakapan Very dengan seseorang menceritakan tentang dirinya. Akan tetapi Very terus memuji Desy istrinya yang serba bisa, setalah selesai Desy mematung di depan suaminya.


"Sejak kapan kamu berdiri di sini sayang?" ucap Very bertanya.


"Jangan sentuh aku !!! kenapa kamu bilang ke teman mu kalau aku bisa semuanya, kalau aku bisa memasak, dan bisa mengerjakan pekerjaan rumah, apakah kamu menikahi ku agar aku jadi Ibu rumah tangga begitu?" ucap Desy dengan penuh emosi.


"Kamu salah tanggap sayang, dengerkan dulu," ucap Very berusaha menjelaskan.


Desy pun menutup dirinya dengan selimut dan menangis di dalam selimut, Very terus membujuknya akan tetapi Desy tetap kekeh tidak mau mendengar, Very pun hanya pasrah saja.

__ADS_1


💜💜💜💜


__ADS_2