Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 73


__ADS_3

Gerald dan Olivia keduanya kembali seperti sedia kala. Bahkan mereka tidak banyak ketika bertemu, lebih tepatnya keduanya salah tingkah.


Hingga suatu hari keduanya harus di hadapkan bahwa mereka bekerja di satu proyek yang sama dan harus berdua mengerjakan nya.


"Baik sudah di putuskan kalau Gerald dan Olivia yang akan di utus," ucap papa Olivia.


Keduanya hanya bisa terdiam, karena tidak mampu menolak, karena jika papa Olivia membuat keputusan maka tidak ada yang bisa mengubahnya.


"Olivia dan Gerald kalian berdua ke ruang papa ya," ucap papa Olivia.


"Baik pa," ucap keduanya.


Gerald dan Olivia menuju ruangan papa Olivia, keduanya saling membuang muka satu sama lain, papa Olivia sudah menyadari hal itu, maka dari itu dia ingin menanyakan langsung pada keduanya.


"Silahkan duduk, papa mau bertanya sama kalian," ucap papa Olivia.


Keduanya pun duduk dengan tenang meskipun gelisah dengan pertanyaan yang akan ditanyakan.


"Olivia dan Gerald, kalian berdua ada apa? kenapa saya merasa kalian berdua tidak biasanya dan juga kalian hari ini lebih banyak diam seperti biasanya, kalian bicaranya satu persatu," ucap papa Olivia


"Gerald sama Olivia hanya beda pemahaman saja kok pa," jawab Gerald.


"Iya pa benar yang dikatakan oleh Kak Gerald," ucap Olivia.


"Baiklah papa mempercayai nya, karena papa tidak ingin kalian berdua tidak baik, karena kalian adalah harapan papa dan keluarga," ucap papa Olivia.


"Iya pa," ucap keduanya.


"Tapi entah kenapa insting papa mengatakan kalau kalian memiliki perasaan satu sama lain," ucap papa Olivia.


"Tidak pa, bagaimana mungkin kan Olivia kan adik ku?" ucap Gerald.


"Oke kalau begitu Gerald silahkan kembali ke ruangan mu ya, papa ingin bicara dengan Olivia," ucap papa Olivia.

__ADS_1


"Baik pa, Gerald permisi dulu," ucap Gerald pamit.


Papa Olivia pun berbicara serius dengan anaknya.


"Olivia jujur sama papa, apakah kamu sudah tahu kalau Gerald bukan kakak kandung mu?" ucap Papa Olivia mengamati wajah anaknya.


"Argh apa? nggak mungkin lah pa, aku awal nya merasa bersalah dengan perasaan ini, bahkan aku terus menghindari perasaan ini sebab aku merasa mencintai saudara kandung ku sendiri, tapi kenyataan apa?" ucap Olivia pura-pura syok.


"Kamu tidak salah Olivia, papa minta maaf belum sempat memberi tahu mu, dan apakah perasaan mu terhadap Gerald masih ada?" ucap papa nya bertanya.


"Kalau masih ada kenapa? kalau nggak kenapa? tolong papa jawab," ucap Olivia bertanya.


"Ehm, papa hanya butuh jawaban Olivia bukan bertele-tele seperti ini," ucap papa bertanya pada Olivia.


"Yaa itu jawaban Olivia, papa mau mengancam agar kami tidak bersama kan, lagian juga cinta ku bertepuk sebelah tangan, sepertinya Gerald hanya menganggap ku sebagai adiknya bukan wanita," ucap Olivia menjawab.


"Bukan begitu, kalau kamu memiliki perasaan pada Gerald belum saat nya kalian bersama, jika ada waktu buatlah scenario yang papa inginkan selama perusahaan yang dijalankan Gerald sekarang kuat, maka papa mengikhlaskan kalian berdua bersama, papa malah setuju kamu bersama Gerald, akan tetapi Olivia bisa kah bersabar sejenak," ucap papa Olivia.


"Ta-pi pa," ucap Olivia terbata-bata.


"Aku mau balas dendam pa, Herlan tidak mau menerima aku," jawab Olivia dengan nada kesal


"Olivia, perusahaan Herlan sudah banyak membantu perusahaan kita, jadi papa berharap kamu jangan berpikir menganggu mereka, jika sampai terjadi papa tidak akan tinggal diam atas perbuatan kamu," jawab papa Olivia mengancam.


Olivia pergi dengan hati yang kesal, awal dia bahagia papa nya merestui hubungannya dengan Gerald akan tetapi semua itu memerlukan waktu. Sedangkan perasaan sakitnya harus di pendam, semua itu membuat perasaan Olivia bercampur baur.


Di sisi lain dia sudah bergabung dengan organisasi black white, di sisi lain dia hanya ingin bersama Gerald laki-laki yang saat ini ingin dimiliki nya.


Perasaan yang sama terjadi di ruang kantor Gerald.


"Argh, bagaimana ini aku penasaran dengan pembicaraan Olivia dengan papa? apakah Olivia di hukum sama papa? atau Olivia akan di pecat oleh papa, argh aku harus bagaimana?" teriak Gerald dalam hatinya.


Selama kekacauan yang terjadi di hati selama setengah jam, Olivia masuk untuk meminta tanda tangan. Gerald pun kembali tenang dan bersikap santai.

__ADS_1


Setelah selesai Olivia ingin pergi akan tetapi di cegat oleh Gerald.


"Olivia, tadi papa berbicara apa dengan kamu? kamu baik-baik saja kan, coba katakan," ucap Gerald khawatir.


Olivia pun menoleh dia pun melaju perlahan dan Gerald pun mundur perlahan dan tubuhnya menabrak meja.


"Kak Gerald khawatir dengan aku, atau membenci ku atas kejadian tadi pagi," ucap Olivia bertanya dengan berada di depan Gerald.


"Ehm...," ucap Gerald.


"Tenang saja, kita masih punya waktu untuk berbicara, kata papa kita berdua harus menyelesaikan proyek yang akan kita tangani beberapa hari ke depan, maka dari itu kita kerja kan sama-sama, agar tidak menimbulkan kecurigaan kita kerjakan saja di kantor," ucap Olivia berbicara tanpa melihat Gerald.


"Olivia, lihat wajah aku, apakah aku begitu menjijikkan di matamu?" ucap Gerald mulai nada kesal.


"Aku pergi ya kak Gerald, jangan terlalu baperan loe, kita sekarang kerja, nanti jika hati ku sudah membaik aku janji akan menceritakannya," ucap Olivia pergi begitu saja.


Gerald pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya, hanya karena kedua tidak berdua di satu kasur, membuat Gerald hanya memikirkan Olivia, bahkan kekhawatiran nya melebihi kasih sayang seorang adik.


"Argh, kenapa sih aku selalu gelisah begini? apa yang harus aku lakukan agar tidak sedih begini?" ucap Gerald dalam hati.


Gerald pun berusaha fokus, begitupun dengan Olivia ketika memaparkan deviasi mereka. Semua karyawan bertepuk tangan atas penyampaian Olivia, mereka merasa kagum kepada Olivia yang bisa menyampaikan persentase tersebut dengan gampang dan mudah di mengerti.


Sore pun menjelang, semua karyawan pada pulang kecuali Olivia dan Gerald yang masih sibuk membuat laporan tersebut. Laporan tersebut di buat di ruangan Gerald karena memiliki sofa untuk istirahat.


Saat keduanya fokus, terjadi sesuatu pada Olivia, dia bersin-bersin dan flu. Olivia pun rebahan sejenak. Akan tetapi Gerald khawatir dengan keadaan Olivia yang belum bangun dari tidurnya.


Gerald pun menatap kening adiknya, betapa terkejut Gerald bahwa Olivia dalam kondisi badan panas, dia pun membereskan semuanya, dan bergegas membawa barang mereka. Gerald pun menelpon security untuk membantu barang mereka.


Setelah sampai mobil, Gerald pun mengucapkan terima kasih dan pergi begitu saja untuk mengantarkan Olivia ke rumah sakit.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


Penasaran kisah keduanya, lanjut besok nyook.

__ADS_1


Like dan comment dong, bunga dan vote agar penulis semangat🀭


Terima kasih


__ADS_2