
Olivia berbicara dengan seorang lelaki cukup lama, membuat Gerald cemburu dibuatnya. Hingga dia serba salah karena keduanya seperti tertawa bahagia. Hingga lelaki tersebut pergi begitu saja.
Gerald yang sudah terlihat oleh Olivia pun berjalan seperti biasanya di depan Gerald, hingga Gerald pun menegur Olivia.
"Olivia, kakak mau bicara dengan kamu di kantor sekarang," ucap Gerald menuju ke kantornya.
Olivia mengikutinya tanpa berbicara dan sambil melihat ponsel. Saat tiba di depan pintu Gerald, kening Olivia kena pintu karena dia tidak melihat keberadaan nya.
"Jeduk..." suara kening Olivia kena di pintu.
"Aw," teriak Olivia.
Gerald pun berdiri dan langsung memeriksa Olivia, dan langsung di suruhnya duduk di kursi tamu. Gerald pun mengambil kotak P3K dan menyembuhkan luka Olivia.
Olivia hanya memandangi Gerald sepintas saat dia di olesin obat oleh Gerald, setelah selesai Olivia melempar pandangannya ke arah lain.
"Ke depannya hati-hati ya, ohya kita diskusikan tentang keberangkatan kita beberapa hari ke depan, agar nanti penyampaian bisa bergilir gitu," ucap Gerald sambil memberikan dokumen yang harus di baca Olivia.
"Oke Kak baiklah, untuk sekarang ini saja kan, nanti kita diskusikan jika sudah saya pelajari, waktu pertemuannya kan tinggal 3 hari lagi," ucap Olivia.
"Iya benar banget Olivia," ucap Gerald.
Saat Olivia ingin keluar, Gerald pun memberanikan bertanya.
"Olivia, siapa lelaki yang kamu ajak bicara tadi?" ucap Gerald bertanya.
Olivia sengaja tidak menghiraukan pertanyaan Gerald, dia ingin Gerald terus mengajarnya sehingga dia sendiri yang menyatakan perasaan pada dirinya. Hingga Olivia berbicara di dalam hati.
"Argh, lega banget lihat Kak Gerald seperti itu, kamu akan merasakan bagaimana perasaan di abaikan itu? dan itu terjadi pada ku saat engkau mengacuhkan ku, jadi aku berharap kamu dapat merasakannya," gumam Olivia.
Gerald pun kembali fokus meskipun dia masih memikirkan perihal pria yang bersama dengan Olivia. Gerald bukan tipekal lelaki yang tidak berani hanya saja dia tidak bisa kalau berhubungan dengan adiknya. Dia pun segera menghubungi Olivia yang tengah membaca dokumen tersebut.
"Ehm telpon dari Kak Gerald, bahas masalah apa sih?" gumam Olivia mengangkat telpon Gerald.
Olivia mendiamkan saja, setelah bunyi telpon selesai dia pun mengirimkan pesan, bahwa dirinya saat ini tidak bisa diganggu karena ada kesibukan. Sehingga Olivia tidak mengangkat telpon tersebut.
__ADS_1
Saat Gerald hendak menghubungi Olivia kembali, malah dia di suruh rapat pertemuan dewan direksi sehingga hari itu dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Olivia.
Di tempat lain dan berbeda.
Desy dan Very berbulan madu, semua sudah di rencanakan oleh keluarga mereka, bahkan pakaian yang di koper Desy pun sudah dipersilahkan oleh nyonya Heva dan mama nya.
Saat keduanya sampai di sebuah apartemen yang mereka sewa, mereka pun bergilir buat masuk ke kamar mandi. Very pun lebih dulu, karena Desy ingin rebahan sejenak, sehingga Desy pun rebahan. Hingga suara bel berbunyi.
Ternyata makanan mereka sudah di persiapkan. Desy pun menerima dengan wajah tersenyum sebab dia sangat kelaparan. Desy pun meletakkan makanan di atas meja, dia hanya memakan sedikit karena dia tahu, sekarang tinggal berdua di apartemen bersama suaminya.
Setelah Very selesai, Desy pun memberi tahu bahwa makanan sudah datang, dia hanya memakannya sedikit, Very hanya tersenyum dengan sikap istrinya padahal harusnya dia makan tidak harus bersama makannya jika sudah lapar.
Setelah Desy selesai mandi, dia pun membuka kopernya. Saat dilihatnya, tidak ada pakaian yang cocok dengannya.
"Arrrgh," teriak Desy dengan keras.
Very pun menghampiri Desy yang teriak dengan sangat kencang, karena dia khawatir jika terjadi kenapa-kenapa.
"Sayang kamu kenapa?" ucap Very bertanya.
"Kamu lihat deh sayang, pakaian yang di siapkan mama dan nyonya Heva, mereka nggak mikir kali kalau kita tidak hanya di rumah saja," ucap Desy sambil memilih pakaiannya.
Very hanya tersenyum dan tertawa dengan sikap kepolosan istrinya.
"Sayang, pakai saja yang bisa kamu pakai jangan ngambek begitu," ucap Very menahan tawa atas sikap istrinya.
"Iih nyebelin, kamu kenapa malah tertawa sih sayang, coba jelaskan ini pakaian apa? kalau nggak aku ngambek loe sayang," ancam Desy sambil memilih pakaian yang akan dikenakan.
"Pakailah dulu pakaian yang mau kamu kenakan setelah itu makan, nanti aku jelaskan pada istri ku tercinta," ucap Very tersenyum.
"Benar loe sayang, aku ganti pakaian dulu kalau begitu," ucap Desy mengambil pakaian dan memakainya di kamar mandi.
Setelah selesai Desy pun ke tempat meja makan, untuk makan bersama. Setelah selesai, Desy menunggu suaminya yang sedang membereskan makanan untuk di buang ke kotak sampai.
Desy menunggu suaminya dengan sabar, hingga dia tertidur dengan pakaian tidur yang sangat seksi, Very pun memindahkan istrinya ke kasur dengan perlahan. Very pun membereskan pakaian yang di berantakan istrinya.
__ADS_1
Saat Very rebahan di atas kasur, sambil melihat ponselnya, kaki istrinya sudah berada di atas perutnya. Setelah dibenarkan posisinya, dia pun malah bertingkah seperti jarum jam yang terus bergerak, hingga perjalanan lingkaran jam pun sampai Desy merasa nyaman berada di pelukan suaminya.
Very pun tidak menyadari akan hal itu, karena Very sudah tertidur setelahnya, yang dia tahu mereka hanya berdekatan saja.
Pagi pun menjelang, Desy yang bangun lebih dulu, tercengang dengan keduanya berpelukan dan teriakannya memecahkan telinga Very yang berada di sampingnya.
"aaaaaghhh," teriak Desy dengan keras.
"Ya ampun istriku, kenapa kamu teriak begitu sih? aku masih di sampingmu? siapa yang membuatmu terluka?" ucap Very sambil mengucek matanya.
"Itu sayang, kamu memeluk ku dengan telanjang dada dan aku memeluknya, nyaman sih tidurnya sih, aku pikir bantal sayang, ternyata otot dada kamu," ucap Desy sambil tersenyum malu.
"Ya ampun istriku, sini mendekatlah padaku," ucap Very menyuruh istrinya.
Desy pun mendekati suaminya yang tadinya agak menjauh karena dia terkejut.
"cup...," ciuman pun mendarat ke kening dan pipi istrinya.
Desy yang mendapatkan ciuman tersebut hanya salah tingkah, ketika Desy malu-malu bunyi bel pintu apartemen mereka. Desy pun keluar dan benar saja makanan mereka telah di antarkan. Very pun pergi ke kamar mandi untuk mengucek matanya.
Desy pun mempersiapkan kopi sachet yang dia sediakan untuk di minum oleh suami nya dan menyiapkan air putih di meja makan mereka.
Setelah selesai Very dan Desy kembali sarapan pagi, Very dan Desy bercanda satu sama lain. Hingga adegan yang tak terduga terjadi. Tanpa sengaja Desy menyentuh tangan istrinya, dan mereka pun saling berpandangan satu sama lain.
Sehingga membuat keduanya saling pandang, dan terjadilah sesuatu yang menggemparkan dunia persilatan keduanya (hahah, tahu sendiri kan apa yang terjadi setelahnya)
Sensor.
Sensor.
ππππ
Penasaran, lanjut episode selanjutnya.
like dan comment ya, terima kasihβΊοΈ
__ADS_1