
Deswey dan Herlan pun sedang berdiskusi hebat di dalam kamar mereka, bahkan keduanya terlihat canda tawa nya tampak dari keduanya.
"Sayang, kita main tebakan yook," ucap Herlan menggoda istrinya yang tengah rebahan.
"Tebakan apa coba aku mau denger," ucap Deswey memandang suaminya.
"Tapi sayang, ada hukuman nyo loe," ucap Herlan mulai kelihatan taring nya.
"Emang apa hukumannya?" ucap Deswey penasaran.
"Kalau salah harus mencium yang benar, kalau benar kasih uang yang ada di dompet kita," ucap Herlan mengambil dompetnya dan dompet istrinya.
"Haha, sejak kapan kamu ambil dompet di tas ku sayang," ucap Deswey kepada suaminya.
"Sejak aku mikir kita main tebak-tebakan hihi," ucap Herlan dengan senyuman manisnya.
Herlan dan Deswey pun mengeluarkan uang yang ada di dompet masing-masing, Herlan yang berisikan uang ratusan sebanyak 10 lembar, sedangkan Deswey berbagai uang recehan dengan nominal tidak sampai 100 ribu rupiah.
Herlan pun bertanya pada istrinya, karena dia terhenyak dengan isi dompet istrinya.
"Sayang, kenapa dengan isi dompet mu? kok isinya uang receh semua, bilang kamu perlu berapa nanti aku transfer sayaang," ucap Herlan khawatir.
"Haha, aduh suamiku biasa saja kali, aku sengaja isinya begitu lagian kamu ambil dompet yang tas nya bagus ya," ucap Deswey tertawa.
"Iya lah, kan itu yang suka kamu bawa kemanapun kita berpergian" ucap Herlan bertanya kembali.
"Hihi, yaa itu sayang, kalau kamu ambil dompetnya dari tas ke pesta begitu lah isinya, akan tetapi jika kamu mengambil tas kecil ku warna hitam ada dompet di sana, coba lihat lah," ucap Deswey menunjukkan tas yang diberi tahu istrinya.
"Wait sayang," ucap Herlan menuju tas tersebut dan mengambil dompetnya dan benar isinya merah dan biru semuanya.
"Apa perbedaan dua dompet ini sayang?" ucap Herlan bertanya.
__ADS_1
Deswey pun menjelaskan kepada suaminya dengan sangat detail, malah dia semakin salut dengan sikap sederhana istrinya yang bisa menempatkan tempat.
"Jadi, kamu sengaja mengisi dompet pesta dengan yang receh sengaja mau melihat teman-teman seperti apa di hadpanmu ketika kamu tidak memiliki uang," ucap Herlan mengatakan yang di sampaikan istrinya tadi.
"Tepat banget sayang, karena dulu pernah punya pengalaman, akibat aku mentraktir teman-teman, pulang-pulang nya di marahi sama papa, sejak itu papa mengajarkan aku akan sesuatu hal, papa bilang bukan masalah saya menghabiskan uangnya, akan tetapi manfaat dari uang kita itu buat apa?" ucap Deswey menjelaskan.
"Wah, tuan Herley memang mendidik mu dengan sangat keras ya sayang, terus filosopi uang banyak di tas hitam lusuh mu itu apa? tadi kamu belum menjelaskan nya sayang," ucap Herlan bertanya karena penasaran.
"Karena aku suka ke pemukiman warga sayang, jadi terkadang aku dapat tugas dari pemerintah memantau penduduk di sana, selain melihat sisi ekonominya akan tetapi aku juga harus mempelajari hidup masyarakat, kebanyakan dari mereka tidak mau menerima uang cuma-cuma, jika pun mendapat bantuan, mereka harus masuk dalam kriteria tersebut, sehingga aku pun membeli barang-barang sembako yang mereka butuhkan," ucap Deswey menjelaskan pada suaminya dengan ekspresi tangan di gerakan nya.
"Sayang, sepertinya setiap kamu menjadi Duta semuanya tertarik dengan semua penjelasan mu ya, karena begitu lugas dan tegas dalam pengucapan nya," ucap Herlan mendekati istrinya dan mencium kening istrinya.
Deswey bersemu malu dengan wajahnya seperti merah muda kayak kepiting rebus. Herlan paling suka menggoda istrinya, karena melihat Deswey bersemu merah pipinya sangat manis dan gemesin.
"Sayang, jadi nggak kita main tebak-tebakan nya," ucap Deswey bertanya karena dia dalam pelukan suaminya sekarang.
"Nggak jadi sayang, aku terpesona dengan rahasia mu, tapi aku makin penasaran kejutan apa lagi yang membuat ku kagum pada istriku," ucap Herlan memegang hidung istrinya.
"Haha, ih sayang kamu selalu saja pegang hidung ku kalau sedang ekspresi menggoda begitu," ucap Deswey mencubit pinggang suaminya.
Deswey pun tertawa karena kegelian, Herlan semakin menjadi menggelitik istrinya, hingga Deswey pun mendapat cela dia pun membalas menggelitik suaminya, Herlan pun teriak sangat kuat, hingga nyonya Heva dan lainnya menggedor kamar keduanya.
Mereka pun langsung berdiri dan membuka pintu.
"Kalian kenapa teriak-teriak mama pikir ada sesuatu gitu?" ucap nyonya Heva bertanya khawatir.
"Iya kak Deswey dan kakak ipar, kita pikir tadi ada penyusup gitu," ucap Desy ikut bertanya.
"Hehe, maaf ma, tadi kita berdua sedang main-main bercandaan gitu, eh akunya teriakan nya terlalu besar, hingga membangunkan kalian semua, maaf ya," ucap Herlan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh begitu, kalau mau buat anak jangan teriak gede sayang, bisa-bisa lama nanti mama dan lainnya penasaran teriakan kalian," ucap nyonya Heva sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ehm nggak kok mama Heva, tadi Herlan menggelitik aku, jadi giliran aku menggelitik Herlan, eeh dia nya malah teriak besar banget ma, maaf ya ma," ucap Deswey meminta maaf.
"Iya-iya mama paham, kalau begitu mama kembali ke kamar ya," ucap nyonya Heva pergi begitu saja.
"Oke deh kak, kalau begitu kami juga kembali ke kamar kalau begitu, selamat malam," ucap Desy mengajak suaminya kembali ke kamar.
Very hanya melambaikan tangan ke Herlan, karena dia pun sangat mengantuk. Begitupun dengan Deswey dan Herlan yang kembali ke kamar mereka.
"Ih gara-gara kamu nie Herlan," ucap Deswey mengatakan pada suaminya dan langsung rebahan.
"Iya maaf sayang, aku lupa kalau kita di rumah," ucap Herlan mengelak.
"Huuuuu dasar Herlan, belum bisa move on. atas kebersamaan kita di honeymoon waktu itu," ucap Deswey tersenyum.
"Iya lah sayang, karena sejak itu kita berdua sudah menyatu, dan hadir cinta di antara kita, yaa aku bahagia banget lah, siapa juga nggak bahagia sayang," ucap Herlan rebahan.
Deswey pun hanya mengangguk perkataaan suaminya, dia pun langsung terlelap dalam tidur, karena matanya sudah sangat mengantuk. Begitupun dengan Herlan yang akhirnya tertidur juga.
Di tempat berbeda.
Olivia masih memikirkan keluarganya hampir setiap malamnya, dan untungnya selalu ada Gerald menenangkannya yang berada di sampingnya.
Olivia merasa tenang dengan keberadaan Gerald, karena Gerald dia menerima semua sikap orang tuanya dan keluarganya, meskipun mereka semua baik jika perkara uang, hanya saja tidak boleh ikut campur urusan masing-masing.
"Kak Gerald terima kasih selalu menemani di setiap kesedihan ku," ucap Olivia menangis dalam pelukan Gerald.
"Iya Olivia, intinya kamu sekarang sudah tahu keluarga mu seperti apa? untuk merubah mereka tidak lah gampang, jadi untuk sekarang kita berdoa semoga semua kembali ke jalan nya," ucap Gerald memberi nasehat pada Olivia.
Olivia pun tertidur, begitupun dengan Gerald setelah menenangkan adiknya, dia pun pergi meninggalkan apartemen adiknya, karena apartemen dirinya dengan adiknya berdekatan, hanya saja sekarang Olivia butuh sendiri untuk menenangkan pikirannya.
💜💜💜💜💜
__ADS_1
like dan comment, vote dan gift
terima kasihðŸ¤