Istriku Seorang Mafia

Istriku Seorang Mafia
Bab 61


__ADS_3

Deswey dan Herlan berpelukan yang cukup lama pada hari itu. Bahkan, Deswey sendiri malas bangun karena tidak ingin suaminya terbangun.


"Argh, aku harus berjauhan selama beberapa dengan laki-laki ganteng ini, apakah aku akan rindu padanya?" gumam Deswey dalam hatinya.


"Eeeh istriku sudah bangun yaa, hayo lihat apa di wajahku ada yang kurang?" ucap Herlan sambil memegang wajahnya.


Cup.. (ciuman mendarat di pipi Herlan)


Cup.. (ciuman balasan dari Herlan untuk istrinya)


"Argh, aku bangun dulu ya suamiku, aku ke kamar mandi dulu," ucap Deswey salah tingkah.


Herlan tersenyum melihat sikap malu-malu istrinya.


"Argh istriku begitu romantis, mana gemes banget deh, rasanya mau aku cium terus deh itu mukanya," ucap Herlan dalam hati.


"Tapi, aku akan berjauhan dari nya, sebentar lagi dia harus ke Paris, ehm apakah aku akan merindukan nya?" ucap Herlan dalam hati.


Di kamar mandi.


"Argh, apakah ini yang namanya di perlakukan baik oleh suami sendiri, aku nyaman berada di dekat Herlan, tapi aku takut jatuh cinta padanya dan akhirnya dia akan meninggalkan ku," ucap Deswey bingung dengan perasaannya.


Saat Deswey bergelut dengan pikirannya, dering ponselnya berbunyi dan Herlan pun memanggil istrinya.


"Istriku, ponselmu berdering seperti nya penting dari papa," ucap Herlan teriak.


Deswey pun keluar segera dari kamar mandi, tanpa tahu dia menabrak suaminya yang tepat berada di depan pintu kamar mandi.


"Aduh," ucap Herlan mengeluh sakit.


"Nanti yaa sayang, aku obati aku ganti dulu dengan ciuman," ucap Deswey mencium kening suaminya yang sakit akibat dirinya.


Saat Deswey hendak pergi mengambil ponselnya, Herlan menarik lengan istrinya dan mencium pipi istrinya.


"Argh Herlan, aku mau angkat telpon papa," ucap Deswey memukul dada suaminya.

__ADS_1


Herlan pun melepas lengan istrinya dengan perlahan. Deswey pun membuka jendela kamar dan keluar dari kamar dengan menghirup udara di balkon.


πŸ“ž"Iya pa, ada apa?" ucap Deswey bertanya.


πŸ“ž"Sayang, kamu ke Paris di percepat waktunya, tiket pesawat sudah papa pesan, jadi kamu berangkat malam ini ya," ucap tuan Herley.


πŸ“ž"Baik pa, laksanakan," ucap Deswey.


Deswey tertunduk lesu mendengar kabar malam ini dia harus berangkat.


"Bagaimana aku mengatakan pada suamiku tentang hal ini?" ucap Deswey bingung mengatakannya.


Herlan pun mendekap Deswey dari belakang.


"Kenapa istriku? kamu sedang memikirkan apa cerita saja padaku? apakah keberangkatan mu lebih awal ya?" ucap Herlan bertanya masih memeluk istrinya dari belakang.


"Iya suamiku, kamu benar adanya, malam ini aku berangkat ke Paris, tapi dengan keadaan mu sekarang bagaimana aku tega meninggalkan mu?" ucap Deswey memegang tangan suaminya yang berada di pinggangnya.


"Tidak apa-apa istriku, bukankah itu hal penting bagimu, yang aku harapkan kamu sehat sampai rumah nantinya, jika kamu disana kabari aku lebih lanjut, dan ada sesuatu hal yang mau aku katakan padamu," ucap Herlan kepada istrinya.


"Dengar kan aku dulu, kamu jangan memutar badannya, aku masih mau memeluk mu dari belakang, wahai istriku tercinta Deswey Herley maukah kamu menjadi kekasihku, mau kah kamu menjadi istriku dan mau kah kamu menjadi Ibu dari anak-anak ku, jika jawaban mu iya, makan kontrak paksa kita di batalkan, jika jawaban mu tidak kamu bisa bebas," ucap Herlan selesai dengan pembicaraan seriusnya.


"Suamiku, boleh lah aku berbalik badan," ucap Deswey bertanya.


"Kan tadi aku sudah bilang, kamu jawab dulu," ucap Herlan.


"Herlan sebelum aku memutuskan sesuatu tentang hal itu mau kah, kamu mendengar kisah masa lalu ku," ucap Deswey kepada suaminya.


"Baiklah kita duduk saja di atas kasur kalau begitu," ucap Herlan melepas pelukannya dan mereka duduk di atas kasur.


Deswey memulai ceritanya.


Aku dulu hanya lah wanita yang penuh dosa bahkan kejam sebagian orang mengatakannya. Aku pernah membunuh seseorang laki-laki yang hampir menodai Desy. Hingga aku masuk penjara dan dibebaskan beberapa oleh papa dinyatakan tidak bersalah karena aku melindungi adikku.


Setelah kejadian itu usai bertahun-tahun, aku menjalani hidupku seperti biasa. Hingga suatu hari aku mulai membuka hati buat seseorang, ternyata laki-laki itu adalah suruhan laki-laki yang hampir memperkosa adikku.

__ADS_1


Hari itu pun aku hampir saja dinodai kalau saja papa tidak datang tepat waktu, aku sudah tidak perawan lagi. Papa pun menghajar orang itu hampir saja mati. Papa dinyatakan tidak bersalah dan orang yang hampir memperkosa ku pun di masukkan ke penjara.


Tidak sampai di situ saja, mereka makin berbuat onar pada aku dan Desy, hingga berkali-kali mereka gagal, dari kejadian itu lah aku dan Desy selama satu tahun tidak pernah keluar rumah hingga segerombolan laki-laki bejat tersebut dinyatakan meninggal dunia karena overdosis obat terlarang.


Setelah itu pun kami pindah ke negara ini secara bertahap, memang semua sudah berlalu, karena luka itu aku dan Desy menghindari setiap ada laki-laki yang berpas-pasan dengan kami.


Bahkan, Desy menutupi wajahnya dengan berpenampilan culun jika di kampus, karena luka dan trauma mendalam yang kami alami. Hingga sekarang bagi aku pribadi masih belum bisa berhadapan langsung dengan laki-laki kecuali papa.


Hanya papa laki-laki teraman yang bisa kami peluk dengan erat. Sejak itu lah aku selalu menghindar jika papa terus menjodohkan ku.


"So, Herlan beri waktu buat ku bisa menjawab pertanyaan mu, bisa kah kamu bersabar," ucap Deswey memegang tangan suaminya.


Herlan langsung memeluk istrinya dengan erat, tanpa sengaja air mata menetes di mata Deswey.


"Menangis lah istriku, aku tidak akan melihat wajahmu cantik saat menangis, aku sudah berjanji pada mu, kecuali jika kamu mengizinkan," ucap Herlan masih memeluk istrinya.


Deswey masih menangis, meskipun sudah reda, dia pun bersiap membereskan beberapa barang yang belum usai.


"Istriku kamu ke sini," ucap Herlan memperlihatkan perjanjian surat kontrak nikah mereka, di sobek di depan mata Deswey.


Deswey pun memeluk suaminya dan berkata ;


"Kamu yakin tentang semua ini," ucap Deswey bertanya.


"Iya lah, aku akan bersabar menunggumu, intinya setiap kita punya masa lalu, maka kita hadapi sama-sama agar semua terasa ringan," ucap Herlan tersenyum.


"Baik, tunggu jawaban aku yaa suamiku," ucap Deswey masih dalam pelukan Herlan.


Keduanya pun hanya berpelukan saja di atas kasur, Herlan hanya ingin memeluk istrinya saja.


"Deswey, sudah lama aku menginginkan pelukan hangat seperti ini, aku berharap kita bisa selamanya, dan aku akan bersabar menunggu mu," gumam Herlan dalam hati dan mencium kening istrinya.


Deswey hanya tersenyum dengan tingkah manis suaminya. Keduanya saling bercanda satu sama lain, karena beberapa jam ke depan Deswey harus mempersiapkan keberangkatan Deswey ke Paris.


🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2