
Perlahan-lahan nyonya Heva sembuh dari sakitnya, begitupun dengan Deswey yang harus lebih banyak istirahat karena janinnya perlu istirahat lebih banyak.
Sehingga nyonya Heva dan Deswey untuk beberapa menikmati hari-hari mereka hanya di kamar saja dan di lingkungan rumah.
Akan tetapi Herlan selalu mengajak istrinya keluar sesekali di sekitaran komplek agar istrinya tidak bosen. Hingga suatu hari kedua nya berjalan berduaan.
"Sayang, kamu nggak malu jalan dengan ku dalam kondisi tidak memakai make-up sama sekali," ucap Deswey bertanya pada suaminya.
"Ya Tuhan sayang, kenapa kamu nanya begitu? lagian istriku itu cuma kamu, wanita ku itu cuma kamu, jadi aku tidak peduli kamu berpenampilan kayak mana, selama kamu nyaman aku enjoy saja sayang," ucap Herlan sambil menggandeng tangan suaminya.
"Terima kasih sayangku," ucap Deswey mencium karena terlalu senang.
Herlan hanya tercengang melihat istrinya inisiatif di tempat umum. Herlan pun berbisik ke telinga istrinya.
"Sayang, kamu benaran mencium aku nie, kamu tahu kan ini di tempat umum, akan tetapi kamu masih saja mencium ku dengan lembut, kita lanjut rumah ya," ucap Herlan menjahili istrinya.
"Ih maaf sayang, kan aku repleks tadi, lanjut di rumah gimana? kamu tahu kan kata dokter aku itu tidak boleh stres dan juga harus banyak istirahat," ucap Deswey mukul dada suaminya dengan manja.
"Aduh sakit sayang," ucap Herlan pura-pura sakit.
"Mana sakitnya, coba aku lihat, mana sayang tunjukkan sakitnya," ucap Deswey mencari sumber sakitnya.
"Nggak ada sayangku, hatiku sakit jika kamu selalu menolak melakukan itu," ucap Herlan memberi kode dengan tangannya.
"Hihi, aku juga mau sayang, akan tetapi kan untuk sementara ini aku mau istirahat untuk pemulihan ku sayang," ucap Deswey berkata dengan suaminya.
"Haha, baiklah istriku tercinta, kamu tenang saja, aku akan menunggu mu sayang, tapi setidaknya kamu yang puaskan aku sayang," goda Herlan sambil tersenyum.
"Ih nakal kamu sayang sama aku," ucap Deswey mengejar suaminya yang berlari.
Keduanya tampak bahagia dengan kebersamaan itu. Tanpa di sadari Olivia dan Gerald melihat keduanya di dalam mobil. Keduanya pun memandang satu sama lain. Hingga terdiam menyaksikan keduanya.
__ADS_1
Seperti memiliki kode keras, Gerald pun menepikan mobilnya dan memandang Olivia. Tanpa pikir panjang Olivia mendekati Gerald sendiri dan menciumnya.
Keduanya berciuman cukup lama sekitar 10 menit lamanya, setelah merasa puas giliran Gerald yang menyerang balik, keduanya hanya larut dalam ciuman mereka, Sebab keduanya harus mengikuti meeting setelah selesai keduanya pun merapikan pakaian mereka tanpa bicara apapun.
Hingga waktu terlalu lama buat mereka, hingga berhenti di lampu merah, Olivia pun bergumam.
"Maaf Kak Gerald," ucap Olivia berkata.
"Kenapa kamu harus minta maaf Olivia? bukankah kita berstatus pacaran, dan juga kita melakukan suka sama suka, dan juga mungkin kita cemburu dengan kebersamaan kita, maka wajar jika kita meluapkan semua emosi ini," ucap Gerald menjawab.
"Kak, bisakah kita menikah sirih saja," ucap Olivia bicara serius.
"Apa? menikah? kamu serius mau menikah dengan kakak Gerald," ucap Gerald dengan nada terkejut.
"Iya, meskipun tidak ada yang tahu hubungan kita, setidaknya jika kita melakukan di luar batas secara agama kita sudah sah," ucap Olivia bicara dengan tegas.
"Kamu serius dengan hal ini Olivia jangan bermain dengan sebuah pernikahan, kakak nggak mau kamu menyesal, dan kamu belum melihat lelaki lainnya," ucap Gerald bertanya.
"Buka begitu sayang maksudnya aku, apakah kamu sudah siap menjadi seorang istri? aku tahu siapa kamu? jika kamu menjadi istriku maka aku tidak akan banyak menuntut mu karena aku ingin kamu perlahan menjadi seorang istri, maka pikirkanlah matang-matang, jika sudah matang, maka kita akan bicara dengan papa kamu," ucap Gerald dengan nada serius namun lembut.
"Kok mau bilang ke papa sih, apakah papa akan menyetujui pernikahan kita?" ucap Olivia mulai mendengus kesal.
"Sayang aku tahu keinginan kamu, akan tetapi papa belum tahu hubungan kita, setidaknya papa merestui hubungan kita, aku mau hubungan kita legal secara agama dan negara, meskipun kita menikah secara sederhana, aku tidak peduli tentang hal itu, tapi papa mu harus tahu, karena beliau yang membesarkan aku sayang," ucap Gerald meminta pengertian pada Olivia.
"Baik sayang, aku akan menunggu jawaban mu dan persetujuan papa, akan tetapi selama itu kita kembali ke apartemen masing-masing," ucap Olivia mendengus kesal.
"Ya ampun sayang, ngambek kamu parah banget sih, aku sudah terbiasa bangun dengan aroma tubuh kamu," ucap Gerald sambil fokus mengemudi.
"Makanya kita nikah sirih dulu baru bilang ke papa," ucap Olivia mulai ngambek.
"Yaa, pokoknya tetap pada kata ku sayang, kita bicara dengan papa dulu, setelah itu baru bagaimana keputusan nya?" ucap Gerald.
__ADS_1
Olivia pun hanya memperlihatkan muka cemberutnya. Sampailah mereka di kantor, Gerald kembali ke ruangan nya begitupun dengan Olivia. Setelah sampai mereka pun menuju ruang rapat. Hingga papa nya merasa jika keduanya memiliki permasalahan.
Setelah rapat usai, keduanya di minta untuk menemui papa mereka di ruangannya, awalnya Olivia enggan akan tetapi papa nya sendiri yang langsung menelpon Olivia.
Olivia pun datang lebih dulu, setelah itu baru Gerald datang, keduanya pun duduk berhadapan dengan papa mereka.
"Kalian berdua sedang memiliki masalah apa? katakan dengan papa, papa tahu kalau kalian berdua menjalin hubungan pacaran, tapi kan papa sudah berpesan kalau di kantor jaga sikap kalian, jangan sampai yang lain mencurigai kalian," pesan papa pada keduanya.
"Ehm papa kok bisa tahu kalau kita memiliki hubungan," ucap Olivia menjawab.
"Sikap kalian itu sudah tergambar, papa kan sudah bilang dengan kalian coba bertahan dulu sampai situasi stabil, papa janji akan merestui kalian ke hubungan resmi," ucap papa menjawab pertanyaan Olivia.
"Begini pa..." saat Gerald mau bicara di cegat oleh Olivia.
"Biarkan Olivia saja yang bicara, pa aku hanya meminta papa datang sebagai wali kami, kami pun tidak akan mempublikasikan hubungan kami yang penting papa merestui, cukup itu saja, selain itu Olivia akan mempersiapkan hal lainnya," ucap Olivia.
"Maksud kamu, kalian mau menikah secara diam-diam tanpa pesta begitu," ucap Papa Olivia terbelalak.
"Iya, Olivia tidak masalah belum di publikasikan, akan tetapi Olivia juga tidak di jodohkan dengan siapapun kecuali dengan Gerald," jawab Olivia serius.
"Kalau kamu bagaimana Gerald terhadap Olivia?" ucap papa Olivia dengan nada serius.
"Aku juga serius dengan Olivia pa, akan tetapi opsi Keduanya beri aku waktu setengah tahun buat sebuah rencana akan tetapi hal ini perlu waktu, dan lebih ekstrim," jawab Gerald dengan nada serius.
Papa Olivia melihat sikap Gerald makin takut dengan rencanya, karena rencana Gerald terkadang diluar nalar manusia kebanyakan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Penasaran
like, comment, gift dan vote
__ADS_1
terima kasih🤭