
Desy dan Very menikmati malam dengan saling menyatu sama lain, meskipun selalu saja ada canda tawa di sela penyatuan mereka. Seperti hal nya yang pertama kali mereka lakukan.
"Suamiku, pelan-pelan masukannya, katanya sakit loe," ucap Desy pada Very.
"Sayang, aku pasti pelan kok, kamu tenang saja ya," ucap Very mencarinya.
"Ih kok lama suamiku, sudah dapat belum," ucap Desy tidak sabar.
"Ya ampun istriku, coba hidupkan lampu meja agar sedikit terang," ucap Very.
"Tapi, tangan ku tidak sampai sayang," ucap Desy.
Saat Very ingin melangkah kan tangan nya ke lampu meja.
"Bless... masuk dengan sempurna,"
"Aaaaaargh," teriakan menggelegar seisi kamar tersebut.
Mendengar teriakan istrinya, dia pun perlahan memaju mundurkan.
Desy kesakitan dan kenikmatan bukan main, walau ada saja kelucuan setelah ronde pertama tersebut.
......(sensor)......
Pagi pun telah menjelang Desy dan Very pergi meninggalkan hotel menuju perjalanan mereka selanjutnya, karena Desy ingin melihat suasana laut.
Desy sangat bahagia bersama Very, begitupun dengan Very. Ketika Desy menampakkan sikap seorang wanita, Very dengan sabar menjadi suami yang selalu berusaha meluruskan sikap istrinya, seperti hal nya ketika mereka tiba di suatu tempat.
"Sayang, izinkan aku ya makan udang kali ini saja," ucap Desy memohon pada suaminya.
"Dengarkan yaa istriku, selama kamu di sampingku, jika kamu memakan sesuatu yang membuat tubuh mu sakit, maka aku akan marah besar dengan mu," jawab Very.
"Ehm, kamu nggak seru sayang, aku pikir menikah bisa membebaskan aku dari aturan orang tua ku ternyata dalam menikah ada aturan dari suami ku," ucap Desy cemberut.
"Baiklah sayang, dari tadi kamu mengomel terus, jadi begini saja, aku selesai makan sekarang, silahkan kamu pesan udang, akan tetapi jika alergi mu kambuh jangan mengeluh sakit," ancam Very pergi begitu saja.
"Oke thanks suamiku," ucap Desy bahagia.
Desy pun memesan udang yang dari dulu yang dia inginkan, karena setiap makan dia harus selalu memfoto dan mengirim pada mama nya. Sekarang suaminya sudah mengizinkan walaupun dengan sikap marahnya.
__ADS_1
Very pun hanya memantau istrinya dari luar mobil, menatap istrinya yang lahap memakan makanan yang sudah di nantikan ya sejak dulu.
[Semoga tidak terjadi apa-apa pada mu istriku] gumam Very.
Setelah setengah jam selesai, Desy pun menemui suaminya.
"Sayang, gatal," teriak Desy kepada suaminya.
"Ya Allah sayang, muka kamu memerah juga bintik-bintik merah, pasti alerginya keluar, hayo kita ke rumah sakit sekarang, aku tahu lokasi yang dekat dari sini," ucap Very langsung melakukan mobilnya.
"Suamiku, apakah kamu sudah memprediksi ini semua?" ucap Desy sambil meringis.
"Iyalah, mama mu yang bilang, bahwa 5 tahun yang lalu kamu tidak memakan udang karena alerginya membuat kondisi tubuhmu drop makanya aku tahu semuanya, sudah terjadi juga, kamu jangan menggaruk ya sayang, nanti jadi luka," ucap Very.
"Iya, walau gatal banget ini sayang," ucap Desy meringis.
Very pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sampailah 10 menit klinik terdekat. Desy pun langsung konsultasi dan diberikan resep oleh dokter tersebut.
Desy pun langsung meminum obat tersebut untuk pencegahan awal, Very pun memberikan minuman kepada istrinya.
"Suamiku, aku janji ke depannya akan menuruti semuanya, jangan marahi aku lagi ya suami ku, aku akan tidur saja menahan gatal ini," ucap Desy berusaha tidur.
Very menggendong istrinya menuju apartemen mereka. Setelah sampai dia pun meletakkan istrinya di atas kasur secara perlahan.
"Cepat sehat ya istriku, aku di sampingmu," ucap Very mencium kening istrinya.
Very pun mengerjakan tugasnya yang diberikan oleh Herlan, meskipun bukan deadline akan tetapi lebih baik dikerjakan jika memiliki waktu.
Desy pun terbangun ketika sore menjelang. Very pun menatap kening istrinya dengan sabar.
"Sayang, kamu tetap di atas kasur ya, badan kamu panas, kalau pun mandi cukup aku lap saja ya sayang, sekarang ayo minum obat dulu," ucap Very memberikan obat kepada istrinya.
Desy pun meminum obat tersebut, setelah selesai Desy pun menangis dengan sejadi-jadinya.
"Kamu kenapa istriku? sini aku peluk," ucap Very melebarkan tangannya.
"Nggak boleh, kata dokter saat aku sakit jangan bersentuhan kulit dengan siapapun termasuk suamiku, jadi sayang aku tidak mau kamu kena juga," ucap Desy menghindar.
"Baiklah, okey akan tetapi obat dan makanan yang di sediakan kamu makan ya sayang, malam ini kita di rumah saja sambil menonton," ucap Very membujuk istrinya.
__ADS_1
"Nggak mau, malam ini aku mau rehat saja sayang, nanti kalau ada adegan romantis, aku ingin memeluk kamu, lah ini pelukan saja tidak boleh jadi aku harus segera sembuh agar bisa pelukan dengan kamu," ucap Desy meringis.
"Tapi kan kita beda golongan darah sayang," ucap Very.
"Argh, pokoknya aku nggak mau kamu sakit, kalau kamu sakit siapa yang mengurus aku dan menghiburku dan satu lagi, jangan bilang ke papa dan mama aku, kalau mereka tahu pasti bakal aku di omelin habis-habisan," ucap Desy memohon.
"Iya sayang, aku janji tidak berkata apapun tentang kamu sekarang, kalau begitu kamu silahkan rebahan lagi," ucap Very kepada istrinya.
Desy pun kembali berisi dengan tenang.
Di tempat lain.
Gerald dan Olivia pulang bersamaan karena keduanya berada di sebuah restoran karena meeting maka dari itu keduanya berjalan bersamaan.
Hujan pun turun dengan lebatnya. Desy bingung karena dia kesini memakai taxi sebab mobilnya berada di bengkel, saat Desy sibuk melihat keadaan Gerald memberikan jaketnya pada Desy.
"Hayo kita pulang ke apartemen ku saja yang dekat, kamu tenang saja, aku akan menjaga mu dengan baik," ucap Gerald bicara tanpa melihat.
"Kalau bicara lihat lawan bicaranya sayang," ucap Olivia memegang mulut Gerald.
"Apa? kamu bilang sayang? ehm sejak kapan bilang begitu?" ucap Gerald penasaran.
"Hayo kita pulang, aku sudah lelah," ucap Olivia.
Gerald pun berlari menuju parkiran nya, dan menepi kan mobilnya pas di depan Olivia. Olivia pun masuk mobil tanpa terkena hujan sama sekali.
Saat Gerald mengemudi belum lama mereka berjalan Gerald sudah bersin.
"Kak, nanti berhenti di mini market ya, aku mau beli cemilan di apartemen kakak buat stok saja," ucap Olivia beralasan.
"Oke siap Olivia adikku," ucap Gerald sambil melajukan mobilnya.
Mobil pun tiba di depan mini market, Olivia pun membeli beberapa keperluan nya termasuk membeli obat dan jahe untuk sang kakak.
💜💜💜💜
Bagaimana kelanjutannya?
penasaran, tunggu saja ya☺️
__ADS_1
like dan comment ya, terima kasih☺️