Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 21 - Menantu


__ADS_3

“Tuan saya sudah menyelesaikannya tugas yang Anda berikan, ini adalah berkasnya.”


Derya membuka amplop coklat tersebut, terdapat identitas dan foto Shazia di sana.


“Dari semua informasi yang saya dapatkan, nama lengkap nona itu Shazia Altair, tak punya keluarga maupun saudara selain ayah kandungnya sendiri, ayahnya bernama Erhan Altair, dulunya mereka tinggal di kota A, lalu ayahnya memindahkan semua bisnisnya ke ibukota bersamaan dengan kepindahan mereka kemari.”


“Setelah lebih dari setahun tinggal di sini Nona Shazia mulai membuka restorannya hingga sekarang. Untuk pendidikannya Anda bisa melihat di kertas yang saya berikan.”


“Terima kasih untuk penjelasan yang kau berikan.” Balas Derya sembari memperhatikan foto ayah Shazia.


“Apa dia benar-benar ayahnya Shazia?” tanya Derya sambil menunjuk foto.


Pelayan pribadinya itu pun mengangguk, membuat sebuah senyum muncul di wajahnya.


“Tampaknya mereka benar-benar di takdirkan.”


“Tolong kau cari berkas di gudang tentang siapa saja yang pernah berhutang padaku, dan cari apakah nama ayah Shazia ada di daftar tersebut.”


“Baik saya akan segera mengambilnya.”


Tak butuh waktu lama, pelayan itu kembali sambil membawa map berwarna merah, ia langsung memberikan itu pada Derya.


“Saya sudah mencarinya, dan benar, ada nama Erhan Altair di sana.”


Derya pun membuka berkas tersebut, ia kembali mengingat apa yang terjadi lebih dari 20 tahun yang lalu, walaupun sekarang tak banyak yang ia ingat tapi ingatan tentang Erhan masih benar-benar segar dalam ingatannya.


...Kilas Balik...


“Saya berjanji tuan, saya akan membayar semuanya secara bertahap.”


“Ya, aku percaya. Karna kau tak pernah mengingkari janjimu.”


“Terima kasih, Anda mau meminjamkan saya.”


Derya tersenyum, “Seharusnya aku yang berterima kasih karna kau menyelamatkanku dari truk yang melaju kencang, jika kau tak menolongku mungkin aku sudah tinggal nama sekarang.”


Erhan tertunduk malu, “Itu bukan seberapa dari apa yang Anda lakukan untuk saya.”


“Ya, kau begitu anggaplah uang itu sebagai rasa terima kasihku Erhan.”


“Tidak tuan, bagaimana pun caranya nanti saya pasti akan mengembalikannya, saya akan membangun usaha.”


“Oh, ya, lalu apa jaminan yang bisa kau berikan untukku?” tanya Derya dengan nada bercanda.


Erhan yang tahu Derya bercanda pun berucap “Jika nanti usaha yang saya lakukan jatuh bangkut maka saya akan memberikan putri saya sebagai menantu,” balas Erhan dengan tawa.


“Wah kau sungguh berbeda, orang-orang memberikan jaminan uang jika usaha mereka berhasil tapi kau memberikan putrimu jika usahamu gagal.”


Derya pun menulis jaminan tersebut di berkas sebagai tambahan, lalu menyuruh Erhan menandatanganinya


“Baiklah sekarang tandatangan di bawah sini.”

__ADS_1


...Kilas balik selesai...


Ya, Erhan dulunya pernah meminjam uang untuk membangun usaha, walau jaminan Erhan akan itu adalah putrinya, ia berhasil mengembalikan pinjaman pada keluarga Savas, sejak itu Derya tak pernah lagi mendengar kabar Erhan.


Tetapi walaupun begitu, Derya tak pernah melupakan sosok pria yang penuh tekad dalam dirinya itu.


“Dan kini, walaupun kau sudah membayar semua hutangmu, kau harus tetap menempati janjimu Erhan.”


Derya tersenyum senang, “Karna sepertinya mereka memang ditakdirkan.”


Derya pun menyusun kembali berkas tersebut dan menyuruh sang pelayan untuk menyimpan. Tak lama Defne datang menghampiri suaminya.


“Derya foto kita bersama Zihan sudah datang, apa kau ingin melihatnya?”


“Secepat ini? Bukankah foto itu baru dikirim kemarin malam.”


“Zihan yang meminta agar itu di cetak secepatnya, ayo pria tua jangan bermalas-malasan seperti itu, mari kita lihat fotonya.”


“Baiklah,” dengan malas Derya berdiri dari tempatnya.


Keduanya pun pergi bersama ke ruang tengah, dapat terlihat Zihan telah datang lebih dulu dan langsung membuka bungkusan foto.


Setelahnya muncul senyuman yang sangat cerah dari wajah anak itu, membuat sang kakek dan nenek yang penasaran mendekat ke arahnya.


Ya, itu adalah potret Zihan bersama Derya dan Defne kemarin, sang cucu memberikan kejutan untuk Derya yang berulang tahun dan kemudian mengambil gambar walaupun tanpa Taran di sana.


“Kakek nenek lihatlah foto kita sangat indah.”


Zihan mengangguk sembari membuka bungkusan kedua.


“Zihan yang kedua itu foto siapa?” tanya Derya.


“Kakek lihat saja nanti.”


Bungkusan yang terbuka menampilkan potret Shazia, Taran juga Zihan saat acara pemberian penghargaan, betapa senyum Zihan semakin merekah ketika melihatnya.


“Aku tak menyangka akan sebagus ini setelah dicetak!”


Defne dan Derya saling pandang ketika melihat potret ketiganya yang dicetak besar tersebut. Apalagi melihat ekspresi sang cucu membuat sepasang suami istri itu tak dapat berkata apa-apa.


“Paman, paman!”


“Ya, Tuan muda, ada apa?”


“Pama tolong gantung fotoku bersama mama dan papa di kamarku, dan gantung fotoku bersama kakek dan nenek di ruang tengah, ya.” Perintahnya pada sang pelayan.


Tentu saja perkataan Zihan membuat para orang tua itu terperanjat termasuk sang pelayan yang dipinta.


“Wah foto ini ... paman akan segera mengantungkannya untuk Tuan muda.”


“Terima kasih paman,” balas Zihan.

__ADS_1


Ketika sang pelayan telah pergi membawa foto besar yang telah berbingkai itu, Defne mulai bertanya pada sang cucu.


“Zihan, cucuku. Apa perempuan yang berfoto bersamamu dan ayahmu itu, adalah Shazia yang kau cerita pada kami selama ini?”


“Ya, Nenek. Dialah Mama Shazia.”


“Mama? Kau memanggilnya mama?”


Zihan mengangguk, ia tak berbicara lebih lanjut dan malah pergi mengikuti pelayan yang akan memasang foto.


“Defne apa menurutmu, wanita itu cocok untuk keluarga kita?”


Defne menghela nafas menatap kepergian cucunya. “Dia dengan mudah dapat mengambil hati Zihan yang bahkan kita sendiri sulit mendapatkannya.”


“Jika wanita itu bisa mengambil hati Zihan dalam waktu singkat, maka begitu juga dengan kita Derya, aku tak pernah bertemu dengannya, tapi Zihan selalu membicarakan kebaikannya.”


“Walaupun aku tak pernah bertemu dengannya, aku akan senang dia bisa jadi menantu di rumah kita ini, Derya.” Balas Defne sembari menatap Derya dengan senyum.


“Ya, aku pun setuju. Kau lihat saja dalam waktu dekat, dia pasti akan menjadi menantu di rumah kita.”


Sedangkan di sisi lain, gadis yang dibicarakan itu tengah beristirahat setelah letih melayani para pelanggan, ia duduk di balkon sembari menyesap tehnya, tak lama Aynur datang menyusul dan langsung duduk di salah satu kursi.


Wanita itu menatap Shazia penuh harap, seolah menunggu Shazia untuk bercerita.


“Apa yang kau tunggu?” tanya Shazia.


“Tentu saja cerita yang menarik darimu.”


“Apanya?”


“Tentang sebutan mama dan foto yang ditunjukkan Zihan padaku kemarin dari telepon genggamnya.”


“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” balas Shazia.


“Shazia, ayolah!” pinta Aynur dengan wajah memelas.


Shazia menghela nafas, “Ya, baiklah gadis cerewet, aku akan ceritakan dari awal.”


Shazia pun menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir acara penghargaan tersebut, membuat Aynur yang mendengarnya tertawa dan mulai menggoda Shazia.


“Lihatlah Shazia betapa Zihan benar-benar menyayangimu seperti ibunya sendiri.”


“Ya, Aynur aku masih merasa seperti mimpi dia memanggilku dengan sebutan mama.”


“Ya, Shazia, sejak awal kedatangannya, dia sudah begitu dekat denganmu.”


“Tapi Aynur, walaupun aku begitu senang, aku benar-benar takut kehilangannya.”


“Jika suatu saat tuan Taran menikah, masihkah dia memanggilku dengan sebutan mama? Masihkah mereka mengizinkannya dekat denganku, yang hanya seorang wanita pemilik restoran kecil ini.”


“Shazia. Jangan patah semangat seperti aku yakin Zihan tidak akan melupakanmu dengan mudah, kau tahu kan sifat keras kepalanya seperti apa.”

__ADS_1


__ADS_2