Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 72 - Fakta Sebenarnya #2


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan, setelah melakukan rutinitas paginya, dan telah selesai bersiap Shazia terlihat menunggu Aslan di ruang tengah.


Di sana bukan hanya ia, tapi juga Zihan juga ayah dan ibu mertua yang menemaninya duduk di ruang tengah. Saat Aslan datang menjemput, Shazia berpamitan pada ketiganya.


“Mama tidak akan lama kan di sana?” tanya Zihan.


“Tidak Sayang, jika semuanya selesai hari ini maka mama akan pulang hari ini juga.”


“Tapi jika tidak sempat mama akan pulang besok, mama tidak akan lama di sana.”


“Mama berjanji?” Zihan menyodorkan jari kelingking.


Shazia tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya, “Ya mama berjanji.”


“Kalau begitu mama harus pulang dengan selamat.”


“Ya, mama akan pulang dengan selamat.”


Setelah memeluk Zihan sebagai tanda perpisahan, Shazia masuk ke mobil, di mana Aslan telah menunggunya.


“Kau siap Kak?”


Shazia mengangguk.


“Baik, mari kita pergi."


...****************...


Sesampainya di kota A, Shazia dan Aslan langsung menuju alamat yang diberikan penjaga kemarin, saat itu hari telah menjelang sore, Aslan yang ingin semuanya cepat selesai segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Aslan, jangan berkendara terlalu laju.”


“Iya, kak, tapi kita harus cepat sampai.”


“Iya, aku tahu, tapi kita bisa—“


Belum selesai Shazia berbicara Aslan sudah memotong pembicaraannya.


“Kak kita sudah sampai,” ucap lelaki itu dengan santai.


“Ah, sudah sampai, ya, baiklah.”


Shazia turun dari mobil, begitu pula dengan Aslan, keduanya melihat ke sekitar, rumah-rumah yang berdiri di sana bisa dibilang sangat mewah, persis seperti perumahan di sekitar kediaman Savas.


Keduanya secara berdampingan melangkah mendekati gerbang, anehnya kala itu penjaga langsung membukakan pintu gerbang dan menyilakan Shazia dan Aslan untuk masuk, seolah mereka sudah menunggu kedatangan Shazia dan Aslan.


“Mari Tuan, Nyonya, silakan masuk, Nyonya Dilara sudah menunggu di dalam.”


“A, tapi kami belum membuat janji temu, lalu bagaimana kalian bisa tahu tentang kami?” tanya Shazia.


“Kami hanya mengikuti perintah Nyonya agar mempersilakan masuk siapa pun tamu yang datang hari ini. Mari biar saya antarkan.”


Shazia dan Aslan saling pandang. Keduanya merasa bingung akan sikap penjaga keamanan tersebut.


“Tidak ada salahnya mempercayai seseorang, ayo kita pergi, Kak,” ajak Aslan.

__ADS_1


Keduanya pun mengikuti langkah dari penjaga keamanan tersebut. Kala pintu terbuka, seorang wanita muncul dan menyambut Shazia dan Aslan dengan ramah.


“Nyonya Manorya?”


Shazia semakain bingung melihat Manorya lah yang menyambutnya.


“Hai, Shazia, lama tidak bertemu denganmu, ayo masuklah, kau ingin mencari tahu tentang anakmu bukan?”


Shazia yang ragu mengangguk pelan.


...****************...


“Jadi Nyonya apa Anda tahu tentang di mana anak kandungku berada.”


“Ya, tentu saja.”


“Di mana dia Nyonya?”


Manorya tersenyum, “Minumlah dulu tehmu, aku menyambut kalian di rumah ini, duduklah dengan santai.”


“Pada akhirnya waktu yang kutunggu telah datang.”


Shazia menyeruput teh yang disajikan Manorya di atas meja. “Jadi ada di mana anak kandungku Nyonya?”


“Kau sepertinya sangat ingin tahu jawabannya, baiklah aku akan memberitahu.”


Mata Shazia menatap lekat Manorya, menanti jawaban yang akan keluar dari mulut wanita itu.


“Aku memberikan anakmu pada orang yang juga memiliki hak terhadapnya.”


“Shazia jika kau selalu lari dari masalahmu, kau tidak akan tahu kebenarannya. Pergilah ke hotelku dan cari rekaman Cctv 10 tahun silam.”


“Apa Anda ingin menyuruhku menguak kembali masa laluku yang tidak mengenakan itu? Aku tidak peduli siapa lelaki itu, yang aku pedulikan hanya anakku, Nyonya.”


Manorya tertawa, “Perkataanmu yang dulu dan sekarang tidak ada bedanya, ya. Aku jadi mengingat dirimu saat mengandung anakmu dulu.”


“Dengar Shazia, Cctv itu adalah jawaban dari semua pertanyaanmu, lihatlah siapa pria itu dan kau akan tahu dengan siapa anakmu sekarang.”


Shazia merasa berat hati untuk kembali ke hotel yang menjadi awal mula dari masa lalu kelamnya. Jika memang anaknya dibesarkan oleh ayah kandungnya kenapa Manorya tidak langsung memberikan alamatnya saja.


“Jika anakku dibesarkan oleh Ayah kandungnya, kenapa Anda tidak memberikanku alamatnya saja?”


“Sudah kukatakan, Shazia. Jangan lari dari masalahmu, jika kau begitu kau tidak akan pernah tahu kebenarannya. Pergilah ke hotelku, aku sudah menelepon mereka agar langsung mengarahkan kalian berdua ke ruang Cctv.”


“Baiklah, kami akan pergi ke sana, Terima kasih Nyonya,” balas Aslan.


Shazia dan Aslan pun pergi dari kediaman Manorya. Di perjalanan menuju hotel Aslan banyak berbicara pada Shazia perihal ibu kandung Zihan.


“Kakak tahu, aku sudah berhasil mendapatkan nomor dari sekretaris Taran yang lama, karna waktu itu dialah yang mencari tahu informasi tentang ibu kandung Zihan.”


“Benarkah lalu kau meminta informasi ibu kandung Zihan?”


“Ya, aku meminta semua informasi yang dulu dimilikinya. Dia bilang dia akan memberikannya segera, tapi karna sudah lama berhenti dari perusahaan Taran, di meminta untuk diberi waktu untuk mencari berkasnya.”


“Oh, begitu.”

__ADS_1


“Dia juga bilang padaku bahwa semua informasi yang dimilikinya hanya informasi lama, bahkan ibu kandung Zihan sudah lama pindah sejak dulu dia mencari informasi tentangnya. ”


“Tidak papa Aslan, aku lahir di kota ini, jika dia sudah tidak tinggal di alamat tersebut, kita bisa tanyakan tetangga yang tinggal di sekitar sana.”


“Ya, kita tunggu saja dia mengirimkan pesan padaku.”


...****************...


Sesampainya di hotel, Shazia dan Aslan benar-benar diarahkan ke ruang Cctv oleh karyawan Manorya. Entah mengapa di sepanjang jalan menuju ruang Cctv, Shazia merasa jantungnya berdegup kencang


“Kakak tidak papa?”


“Oh, tidak, aku tidak apa-apa.”


Ayo Shazia jangan takut, jangan membayangkan masa lalumu lagi, kau pasti bisa menghadapinya. Shazia.


Di sana seorang pria yang menjaga tempat tersebut mengambil sebuah rekaman Cctv dari laci mejanya.


“Rekaman 10 tahun yang lalu kan?”


“Ya, benar apa Anda bisa memutarkannya untuk kami,”


“Ya, tentu bisa,” pria itu kemudian memasukkan rekaman dan memutarnya.


“Kak, aku pergi sebentar, ada yang meneleponku,” ucap Aslan.


“Ya, pergilah Aslan, dan cepatlah kembali ke sini.”


Kini Shazia hanya seorang diri menyaksikan rekaman itu, ia dengan saksama memperhatikannya. Di rekaman tersebut menampilkan sosok Shazia yang masuk dan keluar dari sebuah kamar 126, awalnya Shazia biasa saja melihat dirinya yang dulu.


Sampai ketika seorang pria keluar dari kamar yang sama, betapa terkejutnya Shazia melihat wajah yang terpampang jelas di Cctv.


“Ta-taran.,"


“Ja, jadi, Zihan dia putra kadungku.”


Seketika itu Shazia merasa detak jantungnya melambat, ia tak percaya akan kenyataan di depannya, Shazia berjalan mundur dan di saat bersamaan Aslan datang dan menyodorkan pesan pada Shazia.


“Kakak lihatlah ini, sekretaris lama Taran mengirimkanku alamatnya. Kita bisa pergi ke sana setelah ini."


Shazia menatap layar telepon, dan benar saja alamat yang tertulis di sana, adalah alamat rumah yang dulu ditempati Shazia di kota ini.


Shazia tertawa hampa, “Hah, kenapa takdir begitu mempermainkan kita?”


Shazia tidak tahu ia harus merasa senang atau sedih. Di sisi lain, ia sangat senang jika Zihan adalah putra kandungnya, tapi di sisi lain Shazia amat sedih kala mengingat perkataan Taran dan Zihan.


‘Aku tidak berharap dia muncul di keluargaku.’


‘Mau siapa pun dia aku akan membencinya, Mama.’


‘Aku tidak ingin dia datang ke keluarga kita.’


‘Tanpa dirinya aku kita sudah hidup bahagia mama,’


Perkataan-perkataan Zihan dan Taran itu mulai memenuhi isi kepalanya, Shazia tak dapat menahan kesedihannya dan terduduk di lantai.

__ADS_1


Aslan yang bingung melihat Shazia, mulai melihat rekaman Cctv, dan barulah ia mengerti apa yang terjadi.


__ADS_2