Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 62 - Aku menyayangimu Papa


__ADS_3

Sepulangnya dari panti asuhan, Shazia dan sang ayah langsung menjemput Zihan dan Ece. Ece sangat senang kala mengetahui ada sang kakek yang datang, sangat berbeda dengan Zihan yang sejak keluar dari sekolah berwajah kesal.


“Ada apa Zihan kenapa kau tampak murung?” tanya Erhan.


“Ya, kakek Olive benar, sejak tadi kau diam saja, ada apa Zihan?” tanya Ece.


“Tidak papa,” balas Zihan ketus.


Sampai saat ketiganya telah pulang ke kediaman Savas, Zihan tetap saja memasang wajah kesal. Derya dan Defne yang kala itu tengah bersantai di ruang tengah pun menyapa cucunya itu.


“Zihan sayang selamat datang, apa yang terjadi denganmu?” tanya Defne.


“Aku tidak papa, kenapa selalu saja bertanya-tanya!” teriak anak laki-laki itu yang kemudian langsung berlari ke lantai atas.


Zihan yang tiba-tiba berteriak nyaring tentu saja mengejutkan Derya dan Defne, begitu pula dengan Shazia dan Ece.


“Bibi apa yang terjadi dengan Zihan?” tanya Ece.


“Bibi juga tidak tahu, dia terlihat sangat kesal sejak tadi.”


“Kalau begitu biar aku menyusulnya bibi.”


“Tidak perlu Ece, biarkan dia sendiri di kamarnya, nanti jika amarahnya mereda baru kita menyusulnya," cegat Shazia.


Shazia datang menghampiri ayah dan ibu mertuanya, ia dan Ece duduk bersebelahan di sofa.


“Ada apa dengan Zihan, Shazia?” tanya Derya.


“Aku juga tidak tahu ayah mertua, sejak keluar dari sekolah dia terlihat kesal.”


“Anak itu benar-benar mirip seperti ayahnya,” gerutu Defne.


Setelah lama berbincang, Shazia dan Ece pun pergi ke lantai atas, Ece pergi kamarnya dan begitu pula dengan Shazia, ia berganti baju dan meletakkan tasnya di lemarinya.


Barulah wanita itu pergi mendatangi kamar putranya, untung saja putranya itu tidak mengunci pintu kamar, sehingga Shazia bisa masuk dengan mudah.


“Zihan sayang, mama masuk, ya.”


Shazia menghampiri Zihan yang duduk meringkuk di atas ranjang, ia mengusap pelan rambut putranya itu dan memeluknya.

__ADS_1


“Katakan pada Mama, ada apa, sayang?”


"Kenapa kau begitu kesal, apakah Zihan marah pada seseorang?"


Untuk sesaat Zihan terdiam.


“Mama, hari nilaiku lebih rendah dari Altan, dia malah mendapatkan nilai paling tinggi ke kelas, jika terus begitu bagaimana aku bisa jadi juara lagi.”


“Ini semua karna aku terus bermain, jadinya nilaiku rendah.”


Shazia melepaskan pelukannya, ia lalu mengubah posisi duduknya semakin dekat dengan putranya.


“Zihan sayang dengarkan Mama, nilai bukanlah sesuatu yang menentukan masa depanmu, dia hannyalah angka. Jika memang nilai menentukan masa depan, sudah dari dulu mama tidak akan sukses dengan restoran, mungkin sekarang mama hanya akan menjadi gelandangan karna selalu mendapatkan nilai rendah saat sekolah.”


“Zihan, di dunia ini ada banyak orang pintar, bahkan ada di setiap tempat. Tapi orang baik, jujur, bisa menghargai orang lain, dan punya rasa empati banyakkah mereka?”


Zihan terdiam, ia menatap lekat Shazia, menanti kata-kata yang akan keluar dari mulut sang ibu.


"Tidakkan, tak masalah jika nilaimu berkurang, apa artinya nilai, jika Zihan tidak bisa menghargai orang lain. Mama tahu kau kesal karna nilaimu. Tapi mama ingin kau jadi orang yang baik, orang yang jujur, dan orang yang bisa menghormati orang lain."


"Jika hanya kecerdasan yang Zihan punya, tapi tak punya rasa empati dan menghormati, akankah orang lain bisa menghargaimu, nilai sempurnamu hanya akan jadi hal percuma, Sayang."


"Nah putra mama tahu kesalahannya."


Shazia mengangkat dagu Zihan, “Nah sekarang tersenyumlah, putra Mama kan anak yang manis, tidak baik jika terus murung seperti itu.”


Zihan tersenyum, “Baiklah sekarang aku akan minta maaf pada kakek dan nenek.”


Shazia ikut tersenyum senang, “Itu baru putranya, Mama.”


"Ayo, mama akan mengantrakanmu menemui Kakek dan Nenek."


...****************...


“Diamlah sedikit Taran, jika kau terus saja bergerak bagaimana bisa aku merapikan dasimu.”


“Aku bisa melakukannya sendiri kenapa kau harus repot-repot.”


“Hari ini kau kan akan berangkat, apa salahnya jika seorang istri membantu suaminya bersiap.”

__ADS_1


“Ya, terserah kau saja,” balas Taran pasrah.


“Apa semuanya sudah kau persiapkan, baju tidur, alat mandi, dan jas, apa semuanya sudah kau masukan ke koper.”


“Semua sudah disiapkan, untuk perlengkapan mandi semua sudah ada di hotel untuk apa aku mempersiapkannya.”


“Ya, ya, aku lupa kau kan orang kaya, kau bisa menginap di hotel VVIP tanpa harus repot-repot membawa banyak barang,” balas Shazia dengan nada meledek.


“Jika aku orang kaya, kau pun juga istri orang kaya, kenapa harus menyindirku seperti itu?”


“Entah, aku suka saja meledekmu,” balas Shazia sembari merapikan jas Taran.


Wanita itu kemudian mundur beberapa langkah dan memperhatikan penampilan sang suami dari atas sampai bawah. “Nah ini baru Taran yang kukenal.”


“Papa, mama!” panggil Zihan dari luar kamar.


Mendengar putranya memanggil sontak membuat Shazia segera membuka pintu.


“Zihan, ada apa sayang?”


“Aku masuk, ya, Mama.”


Shazia mengangguk, ia bersama putranya kembali menghampiri Taran.


“Ada apa Zihan?” tanya sang Ayah.


“Hari ini papa berangkat ke luar kota kan? Berapa lama?”


“Ayah tidak akan lama seperti dulu, mungkin dua atau tiga hari, dan paling lama satu minggu.”


“Apa kau ingin ayah membawakan sesuatu untukmu dari sana?” tanya Taran lagi.


Zihan menggeleng, “Aku hanya ingin papa pulang dengan selamat, karna ada aku dan mama yang menunggu kepulangan papa di rumah.”


Taran mengangguk sembari mengelus kepala putranya.


Zihan tanpa diduga langsung memeluk tubuh sang Ayah, “Aku menyayangimu papa, jadi papa harus pulang dengan selamat.”


Shazia tersentuh kala melihat kedekatan ayah dan anak itu, meski Taran terlihat hanya diam dipeluk oleh putranya, tapi Shazia tahu perubahan ekspresi suaminya itu, sorot matanya yang memandang dalam Zihan dan guratan senyum yang sedikit terlihat di dekat bibirnya, membuatnya tahu bahwa Taran sangat menyayangi putranya.

__ADS_1


__ADS_2