
Ketika hari menjelang sore, Shazia terlihat mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Hari ini ia telah belajar banyak tentang kehidupan.
Bahwa tidak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini, dibalik kesuksesan dan kepopularitasan ternyata ada juga yang tak bahagia dan sangat kesepian.
Sebelum kembali ke restoran, Shazia terlebih dahulu pergi menjemput Ece dan Zihan yang berbeda sekolah.
“Wow, bibi apa ini sekolah Zihan?”
Shazia mengangguk.
“Sangat mewah dan bagus, ya. Pasti membutuhkan waktu lama membangun bangunan sekolah ini.”
“Ya, pasti uang yang dikeluarkan juga tak main-main,” timpal Shazia.
“Pasti seru sekali bisa bersekolah di sini, nanti aku akan meminta Zihan bercerita bagaimana pengalamannya bersekolah di sini.”
“Memangnya sekolahmu tidak seru?”
“Tentu saja seru aku punya banyak teman di sekolahku, bibi. Makanya aku ingin Zihan menceritakannya padaku nanti, agar aku bisa membandingkan sekolah siapa yang paling menyenangkan.”
Shazia tertawa kecil, “Kau ini ada-ada saja Ece.”
Di saat bersamaan Zihan keluar dari gedung sekolah, wajahnya terlihat senang kala melihat Ece dan Shazia yang menunggunya.
“Zihan ayo cepat kemari!” panggil Ece.
“Iya, iya,” balas Zihan setengah berlari.
Senyum Ece semakin mengembang melihat Zihan datang menghampiri keduanya.
“Zihan aku punya sesuatu untukmu, coba kau tebak apa itu.”
“Makanan? Permen?”
Ece menggeleng, “Coba tebak lagi.”
“Aku tidak tahu Ece, memangnya kau ingin memberikan apa?”
Ece tersenyum, ia mengambil dua gelang dari tasnya, “Taraaa, gelang persahabatan dengan inisial nama.”
Tanpa minta persetujuan Zihan, Ece langsung memasang salah satu gelang ke lengan Zihan.
“Jangan pernah dilepaskan, ini adalah salah satu tanda persahabatan kita.”
__ADS_1
Zihan memandang gelang tali di lengannya, “Ya, baiklah aku tidak akan melepaskannya.”
“Sekarang mana gelang milikmu, biar aku yang memasangkannya.”
Zihan langsung mengambil gelang terakhir dari lengan Ece dan memasangkannya di tangan anak perempuan itu.
Melihat aksi keduanya tentu membuat Shazia merasa gemas, apa lagi melihat wajah lucu keduanya, ingin sekali Shazia mencubit pipi gembul itu.
“Ayo anak-anak sekarang saatnya kita pergi ke restoran. Jangan sampai para bibi di restoran memarahi kita karna terlambat kembali.”
Kedua anak manis itu segera naik ke motor dan Shazia mulai menjalakan motor tuanya itu.
...****************...
Saat malam hari tiba, di kamarnya, Shazia tengah bersantai di atas sofa sembari menonton film lewat laptop. Taran yang kala itu baru kembali dari ruang kerjanya, tiba-tiba duduk di samping Shazia.
“Shazia bagaimana masalah dengan Kadriye?”
“Oh, semua berakhir dengan baik, ternyata dia orang yang benar-benar kesepian, bahkan di rumah yang sebesar itu dia hanya tinggal bertiga bersama dua pembantunya.”
“Sekarang aku paham kenapa kau selalu memaafkan semua perbuatan Kadriye, apa sejak awal kau sudah menyadari itu?”
“Ya, sejak ia mengatakan ‘Kaulah satu-satunya pria yang mengerti aku' membuatku menyadari ada yang salah dengannya.”
Shazia tersenyum ia kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Taran. “Taran kau itu terkadang peka terkadang juga tidak,”
“Ya, itu kan menurutmu, dan ini adalah penilaianku.”
“Shazia.”
“Ya, ada apa?”
“Menurutmu bagaimana Aslan dan Aynur itu?”
Shazia menatap Taran, “Tumben sekali kau penasaran dengan hubungan orang lain, biasanya kau akan acuh?”
“Aku hanya penasaran karena mereka terlihat akrab. Apalagi saat mereka berdua membicarakan kita di kantor?”
“Oh, iya, Aynur ada menceritakan ini padaku, katanya kau menyuruh dirinya dan Aslan memilih beberapa desain logo baru dari ratusan gambar yang dikirim, benarkah itu?”
Taran mengangguk.
Shazia tertawa, “Tega sekali kau pada mereka berdua, Kau tahu, saat kembali ke restoran, Aynur sampai mengeluh sakit kepala karna harus melihat setiap logo dan membaca deskripsi logo-logo itu.”
__ADS_1
“Kalau menurutku Aynur dan Aslan itu terkadang seperti tikus dan kucing, tapi terkadang mereka terlihat seperti sepasang kekasih. Tapi aku akan tetap mendukung mereka berdua, siapa tahu jika Aynur memang ditakdirkan untuk Aslan.”
“Jika mereka memang memiliki hubungan itu pasti akan susah, kau tahu seperti apa bibi Aergul, dia pasti akan menentangnya.”
“Ya, kau benar. Bibi Aergul itu kan orang yang selalu ingin pendapatnya didengar, tanpa ingin mendengar pendapat orang lain.”
Di sisi lain, Ece yang tidak dapat tidur karna hujan lebat, diam-diam menyelinap pergi ke kamar Zihan, suara derit pintu yang terbuka sontak membuat Zihan yang kala itu tengah mengerjakan PR-nya menoleh ke arah sumber suara.
“Ece? Ada apa kau ke kamarku?”
“Aku tidak bisa tidur,” balas Ece sembari menutup pintu.
Anak perempuan itu kemudian pergi menghampiri Zihan yang berada di meja belajar.
“Kau masih mengerjakan PR, ya? Setiap malam aku melihatmu ada di meja belajar, apakah guru di sekolahmu selalu memberikan PR, Zihan?"
“Tidak juga, biasanya jika tidak ada PR aku akan mempelajari lagi pelajaran yang belum kumengerti.”
“Huh, ternyata kehidupan sekolahku lebih menyenangkan darimu, ibu guru di sekolah sangat jarang memberikan PR, dan kami memiliki waktu istirahat lebih banyak, jadinya kami bisa puas bermain.”
“Oh, benarkah,” balas Zihan yang masih fokus pada bukunya.
“Tentu saja, nanti kita bercerita lagi selesaikan saja PR milikmu.”
“Memangnya kau tidak kembali ke kamarmu Ece?”
“Aku takut untuk kembali, jadi aku akan tidur bersamamu.”
Zihan kembali menoleh ke arah Ece, “Ece, Kakekku mengatakan laki-laki dan perempuan itu tidak boleh tidur bersama, kecuali jika mereka sudah menikah.”
“Ya, aku akan tidur di bawah saja, jadi aku minta selimut dan bantalmu, ya,” balas Ece sembari mengambil apa yang diinginkannya dari atas ranjang.
Anak kecil itu segera membentangkan selimut dan tidur di atasnya. “Zihan maukah kau berjanji padaku?”
“Ya, berjanji tentang apa?” tanya Zihan sambil menutup bukunya.
“Kau sudah selesai dengan PR?”
Zihan mengangguk.
“Maukah kau berjanji, jika nanti besar kau akan menikah denganku? Jadinya kita bisa tidur bersama.”
Zihan beranjak dari kursinya dan menghampiri Ece, “Ya, aku berjanji, jika nanti kita dewasa aku akan menikahimu,” balas Zihan.
__ADS_1
Ece tersenyum, “berjanjilah kau tidak akan melanggarnya.”
“Ya, aku berjanji.”