
Zihan yang senang akan berita tersebut, langsung pergi ke kamar sang kakek dan nenek, keduanya tak kalah terkejutnya kala mendengarnya.
“Kakek nenek, paman Aslan sudah pulang. Dan kalian berdua tahu, mama Shazia, benar-benar ibu kandung Zihan!” teriak Zihan sembari melompat ke atas ranjang.
“Yang benar, Zihan. Dari mana kau tahu itu?” tanya Defne.
“Paman Aslan yang mengatakannya.”
Sontak Derya dan Defne saling pandang.
“Hah, Derya dia memang tepat menjadi menantu di keluarga ini.”
“Aku jadi menyesal telah menghinanya.”
“Lalu di mana mamamu, Zihan?”
Seketika Zihan terdiam, ia lupa menanyai sang paman karna terlalu senang.
“Tunggu sebentar kakek, nenek, aku akan tanya pada paman Aslan.”
Zihan segera turun dari ranjang dan berlari mencari sang Paman, setelah lama mencari ke sana kemari, barulah Zihan mendapati sang paman berada di kamar tamu.
“Paman Aslan!”
“Paman Aslan!”
“Paman Aslan!”
“Ya, kenapa Zihan, kenapa kau mencari paman?” tanya Aslan yang telah merebahkan dirinya di ranjang.
“Paman, di mana Mama, katanya dia berjanji untuk pulang juga.”
“Mamamu, masih di kota A, ada pekerjaan yang masih diurusnya di sana.”
Seketika wajah Zihan berubah kecewa, “Padahal mama sudah berjanji, kenapa mama tidak pulang?”
“Tidak papa Zihan, besok pasti mamamu akan pulang.” Ucap Aslan menenangkan.
Pagi harinya ributlah kediaman Savas, karna Shazia tidak bisa dihubungi dan Aslan memberitahu semua orang tentang fakta itu. Sontak saja Erhan dan Aynur, juga ayah dan ibu Aslan datang berkunjung.
__ADS_1
Semua orang berkumpul di ruang tengah dan menanyakan kebenaran tersebut pada Aslan, Aslan kembali menjelaskan semunya pada seluruh keluarga.
Tampak wajah bersalah di wajah Erhan, ia langsung memeluk Zihan yang duduk di sampingnya.
“Maafkan kakek, membuatmu susah Zihan.”
“Tidak papa kakek, jika kakek tidak seperti itu, aku tidak akan bertemu dengan papa.”
...****************...
Berhari-hari sudah Shazia berada di kota A, ia sama sekali tidak berani mengangkat telepon dari keluarganya. Shazia terus-menerus mengurung diri di kamar hotel.
Ia hanya akan keluar jika waktunya makan. Shazia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia sangat takut untuk menghadapi hal yang akan terjadi nanti.
Saat Shazia tengah termenung di dekat jendela, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang, wanita itu pikir itu adalah seseorang yang mengantarkan makanan untuknya, mengingat waktu sudah menjelang makan siang kala itu.
Akan tetapi ketika Shazia membuka pintu, ia begitu terkejut akan sosok yang kini berdiri di hadapannya.
“T-taran.”
“Kenapa kau tidak mengangkat teleponku, Shazia?”
Shazia menunduk ia tidak sanggup menatap mata Taran “A-aku, aku.” Shazia berjalan mundur dan Taran pun semakin berjalan maju.
Shazia menggeleng, “A-aku tidak melarikan diri.”
Taran mengangkat dagu Shazia, “Menataplah kemari, kenapa kau menghindar untuk menatapku?”
Dengan takut-takut Shazia menatap Taran, Taran dapat merasakan deru nafas Shazia yang tak beraturan setelah bertemu dengannya. Tanpa kata-kata Taran langsung mengecup bibir Shazia.
Shazia terkejut dengan apa yang dilakukan Taran.
“Ini adalah hukuman karna kau lari dariku,” ucap Pria dingin tersebut sembari memeluk sang istri.
“Jangan lari dariku lagi, aku tidak ingin kehilanganmu.”
Shazia menangis seketika di pelukan Taran, melihat istrinya menangis Taran segera melepas pelukannya dan menenangkan Shazia.
"Taran, aku benar-benar minta maaf."
__ADS_1
"Aku, aku wanita yang buruk untuk menjadi seorang ibu."
"Ta, tapi kumohon jangan pisahkan aku dari Jihan. Aku tak ingin berpisah darinya" pinta Shazia sambil memegang erat lengan Taran.
"Shazia, dengarkan aku. Siapa yang akan memisahkanmu dari Zihan. Aku tidak akan memisahkanmu dari putramu sendiri.”
"Jadi jangan menangis.”
"Aku tahu masa lalu kita memang buruk Shazia, tapi hal itu bukan menjadi alasanku tuk membencimu. Itu bukan salahmu.”
"Tidak, Shazia, tidak aku tidak membencimu. Aku sangat mencintaimu, dan aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
"Biarkan semua tetap berada di tempatnya, Shazia. Ayo, jalani lagi kehidupan kita, aku, kau dan putra kita, Zihan.”
"Mama!
Sontak Shazia melirik ke arah sumber suara.
"Zihan!"
Zihan yang melihat Shazia menangis segara datang mendekat. “Mama, kenapa mama menangis. Apakah itu karnaku?"
"Tidak, tidak sayang itu salahmu"
"Mama, Zihan tak membenci mama, justru Zihan sangat senang, ketika paman mengatakan, bahwa Mama adalah ibu kandung Zihan.”
"Bisakah mama memeluk Zihan?"
Shazia terenyuh, ia langsung memeluk putranya dengan erat, di perlukan Shazia Zihan meminta sang papa untuk memeluknya juga. Sehingga keluarga kecil itu saling berpelukan.
"Semoga keluarga kita selalu bahagia Mama, Papa."
*
*
*
...*Tamat*...
__ADS_1
Oke, Cerita Kleo tamat sampai di sini, rasanya gak nyangka bisa menamatkan cerita ini sampai benar-benar akhir, setelah Kleo menulis novel pertama yang judulnya 'Pernikahan Balas Dendam,' yang akhirnya benar-benar menggantung 😅, ini cerita yang menurut Kleo jadi pengembangan diri untuk menulis setelah novel pertama.
Terima kasih untuk para pembaca yang udah setia ngebaca cerita kleo, dan makasih juga yang udah ngasih Vote dan komentar untuk cerita ini. Semoga kita bisa ketemu di cerita Kleo yang lain. See u, thank you😉