Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 27 - Tentang Zihan


__ADS_3

Keesokan harinya, di siang yang cerah. Defne dan Zihan pergi mengunjungi restoran Shazia, beruntung tak banyak pengunjung hari itu sehingga Defne bisa leluasa berbicara dengan Shazia.


“Selamat siang, Mama!” sapa Zihan yang berjalan menghampiri Shazia.


Shazia yang tengah menyajikan makanan pada pengunjung pun membalas tanpa menoleh, “Selamat siang putraku, bagaimana harimu hari ini, sayang?” tanya Shazia.


“Semuanya berjalan baik mama.”


“Oh, benar—“ perkataan Shazia terputus kala melihat Defne yang berdiri di samping Zihan.


Alis mata Shazia terangkat, bingung dengan wanita tua di samping Zihan.


“Kau tampaknya bingung siapa aku. Aku adalah calon ibu mertuamu Shazia,” ucap Defne tersenyum simpul.


“Ah, kalau begitu salam kenal, Nyonya. Mari silakan duduk,” balas Shazia sembari membereskan salah satu meja dan menyuruh keduanya duduk di sana.


“Maaf mengganggu waktu bekerjamu Shazia.”


“Tidak papa, Nyonya. Lagi pula hari ini tidak terlalu banyak pelanggan.”


“Sebenarnya aku kemari untuk melihat seperti apa wajah calon menantuku, dan juga untuk membicarakan soal pernikahan.”


Di saat bersamaan Aynur yang tahu akan kedatangan Defne segera menyeduh teh dan menyajikan pada ketiganya.


“Terima kasih, Aynur,” balas Shazia.


“Terima kasih untuk tehmu, Nona,” ucap Defne.


Aynur mengangguk lalu meninggalkan meja ketiganya.


“Kau benar-benar cantik, dan seorang wanita mandiri, kau memang cocok disandingkan dengan putraku.”


“Jangan memuji seperti itu Nyonya, aku hannyalah wanita biasa yang jauh dari kata cantik dan tak sesempurna itu,” balas Shazia.


“Jangan memanggilku dengan sebutan Nyonya, panggillah aku ibu,” balas Defne


“Baik, i, ibu me, mertua,” balas Shazia terbata-bata.


Defne tersenyum mendengar Shazia memanggilnya.


“Jadi Shazia pernikahan akan dilangsungkan pada hari Jumat.”


“Hari Jumat? Maksud I-ibu hari Jumat minggu ini?”


“Tentu saja, lebih cepat lebih baik.”


“T-tapi aku belum mempersiapkan semuanya bagaimana...”


“Apakah Taran belum mengatakannya padamu, semuanya sudah disiapkan oleh pihak kami. Mulai dari dekorasi, makanan, undangan, juga gaun semuanya sudah siap. Tinggal menunggu harinya Saja,”


“Secepat itu? Kami baru bertemu dua hari lalu dan lusa pernikahannya sudah dilangsungkan?”


“Tentu saja, untuk apa kita menunda waktu lebih lama? Shazia aku tahu kau terkejut, kami ingin kau secepatnya menjadi keluarga Savas.”


Shazia terdiam, ia mengangguk pasrah.


Defne mengeluarkan beberapa undangan dari tasnya, “Ini undangan yang tersisa setelah kami menyebar sebagiannya, terserah kau ingin mengundang siapa Shazia.”


Shazia mengambil amplop undangan berwarna merah tersebut, ia takjub ketika melihat undangan mewah berukir dan terikat pita berwarna senada. Tanpa pikir panjang Shazia membukanya, cukup aneh rasanya kala melihat namanya terukir di undangan itu.


Wanita itu tak percaya bahwa sebentar lagi ia akan menjadi istri dari seseorang, Shazia merasa semuanya seperti mimpi.


“Te, terima kasih ibu,” balas Shazia.

__ADS_1


“Tampaknya hanya itu yang bisa aku sampaikan padamu, kuharap dia hari pernikahan kau sudah siap.”


“Oh, iya satu hal lagi, besok kau dan Taran harus pergi ke butik untuk fiting gaun pernikahan kalian. Mungkin pukul 12 siang dia akan menjemputmu kemari.”


“Dan jangan lupa nenek, aku akan ikut bersama mama dan papa,” ucap Zihan menambahi.


“Ya, kau juga akan ikut bersama mama dan papamu,” balas Defne.


“Baiklah, karna masih banyak yang harus diurus, ibu harus pergi. Maaf mengganggu waktumu dan terima kasih untuk tehnya,” ucap Defne lagi.


“Ya, Ibu.”


“Zihan, ayo kita pergi,” ajak Defne.


“Tidak Nenek aku ingin berada di restoran mama saja. Nenek saja yang pergi,” balas Zihan.


“Ya sudah kalau begitu.”


“Shazia aku titip Zihan padamu, maaf anak ini banyak merepotkanmu.”


“Tidak papa, I-ibu mertua.”


Zihan dan Shazia pun mengantar kepergian Defne, keduanya berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan pada Defne yang memasuki mobil.


Keduanya pun kembali masuk, di sana mereka di sambut senyum Aynur yang penuh arti.


“Ada apa Aynur, kenapa wajahmu seperti itu?”


“Kau seperti tidak tahu saja, hayo siapa yang akan menikah minggu ini? Zihan katakan pada bibi, siapa yang akan menjadi Mamamu?”


“Mama Shazia!” balas Zihan antusias


“Benar sekali, ha, ha.”


“Aynur kembalilah ke pekerjaanmu,” balas Shazia kesal.


“Mitos dari mana lagi yang kau ambil itu Aynur? Ayo cepat kembalilah ke pekerjaanmu.


“Ya, nenek sihir cerewet, aku pergi.”


...****************...


Waktu dengan cepat berlalu, malam yang dingin kembali datang, terlihat Shazia tengah sibuk menyusun bumbu yang dibelinya siang hari tadi. Ya, dibandingkan dengan malam sebelumnya, Shazia merasa lebih tenang kali ini.


Di tengah asyiknya ia, Shazia tak menyadari jika ada seseorang yang memencet bel pintu, sampai ketika bel berbunyi beberapa kali baru wanita itu sadar.


“Eh, sepertinya Ayah datang.”


Shazia segera berjalan membuka pintu.


“Ayah, selamat da—“


Shazia tak dapat melanjutkan kata-katanya kala melihat orang di hadapannya, perkiraan Shazia tampaknya salah bukannya Erhan melainkan Taranlah yang datang.


“Ada urusan apa kau datang kemari, tuan Taran?” tanya Shazia.


“Aku ingin berbicara denganmu,”


“Berbicara? Em, kalau begitu masuklah Tuan kita berbicara di dalam.”


Shazia segera menyeduh kopi dan memberikannya.


“Ini kopi untukmu, Tuan. Maaf jika aku hanya bisa menghidangkan kopi kemasan untukmu, karna aku tak punya banyak uang untuk membeli kopi mahal seperti yang ada di rumahmu,” ucap Shazia sembari duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Taran.

__ADS_1


“Memangnya kapan aku meminta kopi mahal padamu?”


“Ya, mungkin saja kau akan mengeluh karna aku hanya menghidangkan kopi kemasan.”


“Aku tidak seburuk itu nona Shazia, Dan...”


“Dan apa? Kau mencari minuman ? Maaf saja tuan di sini tidak ada minuman keras restoranku adalah restoran halal.”


Taran diam menatap sinis pada Shazia.


Shazia yang menyadari itu akhirnya mulai serius “Baiklah, tuan Taran sekarang apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Shazia.


“Aku ingin berbicara tentang Zihan.”


“Kau ingin memberikan Zihan padaku? Dengan senang hati aku akan menerimanya jadi kita tak perlu menikah,” balas Shazia dengan nada bercanda.


“Walaupun kau memohon pun aku tak akan memberikan putraku, nona Shazia.”


Shazia tertawa, “Kenapa kau selalu serius Tuan? aku hanya bercanda.”


“Dengar Shazia aku akan menjelaskannya secara singkat padamu, tentang Ibunya Zihan.”


Mendengar itu binar mata Shazia mememperbaiki duduknya dan mulai serius menatap Taran.


“Zihan dia anak yang lahir dari hubungan satu malamku dengan seorang wanita.”


“Oh, jadi maksudmu kau melakukan one night stand?”


“Ya, bisa dibilang seperti itu.”


“Seseorang mencampurkan obat dalam minumanku, dan setelahnya aku tak mengingat apa pun.”


“Kau tak mengingat apa pun yang kau lakukan dengan wanita itu sedikit pun?”


Taran mengangguk, “Bahkan wajah dan nama wanita itu saja aku tak tahu.”


Shazia menatap tak percaya pada Taran, “Lantas bagaimana kau bisa percaya kalau Zihan benar-benar putramu dengan wanita itu?”


“Entah itu disebut ikatan batin atau bukan, sejak Zihan datang ke kediaman Savas dan aku menggendongnya untuk pertama kali, aku sudah meyakininya dialah putraku.”


“Dan sebagai tambahan aku tak pernah melakukan hubungan dengan siapa pun selain dengan wanita itu,”


“Lalu bagaimana dengan orang tuamu apakah mereka menerima kehadiran Zihan?”


“Untuk awalnya tidak sama sekali, sampai aku melakukan tes DNA seperti yang mereka inginkan, dan hasilnya Zihan benar-benar putraku, baru di saat itulah mereka secara perlahan mulai menerima Zihan.”


“Berarti selama ini kau merawat dan membesarkan Zihan sendirian, lalu dengan wanita itu apakah tidak ada kabarnya sampai sekarang?”


Taran menggeleng lalu menyeruput teh yang disajikan Shazia.


“Wanita itu apa dia tidak punya perasaan? Meninggalkan putranya begitu saja setelah lahir dan tak sedikit pun menghawatirkan putranya selama 9 tahun ini.”


“Ingin rasanya aku datang dan menampar wajahnya, mungkin memang Zihan lahir bukan dari keinginannya tapi apa dosa anak itu? Wanita itu dia benar-benar melupakan putranya,” gerutu Shazia.


“Oh, ya, satu hal yang ingin kutanyakan padamu, kenapa kau memberi tahu tentang ini padaku?”


“Aku hanya ingin kau tahu, agar ketika kau menikah denganku kau tak menyesal.”


Shazia tersenyum kecil, “Tak peduli seburuk apa pun masa lalumu, Taran. Aku akan tetap menerimamu, aku tak peduli tentangmu di masa lalu, aku tidak peduli seburuk apa kau di masa lalu, dan aku tak peduli tentang siapa ibu kandung Zihan. Karna ketika aku telah memutuskan untuk menikah denganmu di saat itulah aku menerima segala tentangmu dan Zihan.”


Taran terdiam mendengar kata-kata Shazia, ia menatap lekat wanita itu lalu mengangguk pelan.


Setelahnya Taran beranjak dari kursi yang didudukinya, “Tampaknya tak ada lagi yang bisa kita bicara nona Shazia, aku harus pergi dan terima kasih untuk kopinya.”

__ADS_1


Shazia mengangguk, “Ya, dan jangan lupa besok kita bertiga harus pergi ke butik untuk fitting gaun pernikahan.”


Taran mengangguk, bersamaan dengan itu Shazia pun berdiri dari kursinya dan mengatar kepergian Taran sampai di ambang pintu.


__ADS_2