Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 28 - Hari Pernikahan


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba, hari di mana status Shazia dan Taran akan berubah setelahnya.


Ya, pernikahan yang diadakan di hotel berbintang itu terbilang sangat mewah, bernuansa pink putih dengan bunga berwarna senada menghiasi setiap sudut ruangan, ditambah dengan lampu kristal yang menjuntai di langit-langit, dan air mancur di tengah ruangan menambah kesannya.


Tak lupa meja-meja tamu pun diatur sedemikian rupa dengan nama para undangan di tengahnya, juga dengan berbagai macam hidangan yang siap menunggu untuk dimakan.


Di sisi lain Shazia si pengantin wanita tengah bersiap-siap untuk hari yang menegangkan dan awal yang baru baginya.


Wanita itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih berhias renda dan permata berwarna senada, riasan tipis dan rambut yang disanggul seolah membuatnya bak putri dalam dongeng. Shazia tak percaya bahwa wanita yang dilihatnya dari pantulan cermin adalah dirinya sendiri.


“Wah, Anda sungguh sangat cantik, padahal sayalah yang merias Anda, tapi malah saya sendiri yang terkejut dengan hasilnya,” puji sang MUA.


Shazia tersenyum kecil. “Itu berarti tanganmu sungguh ajaib bisa mengubah seseorang dalam sekejap.” balas Shazia.


Sang perias pun tertawa, “Itulah pekerjaanku.”


“Shazia!” panggil Erhan dari balik pintu.


“Shazia apa kau sudah siap? Bisakah ayah masuk?” tanya Erhan lagi.


“Ya, ayah aku sudah siap masuklah ayah,” balas Shazia dari dalam.


Erhan pun membuka pintu, ketika ia melihat putrinya tersenyum ke arahnya dengan gaun pengantin dan bunga di tangan, membuat air mata Erhan begitu saja keluar, ia menangis bahagia melihat putrinya itu.


“Ayah kenapa kau menangis? Jika kau menangis seperti itu aku juga ikut menangis,” tanya Shazia sambil mengipas matanya yang mulai berair dengan tangan.


Erhan mendekati Shazia dan tersenyum. “Kau sangat cantik putriku, rasanya ayah tak percaya kau akan benar-benar menikah sekarang.”


“Jika Esmeralda (Ibu Shazia) masih ada pasti dia akan sangat senang melihat putri kecilnya kini telah dewasa dan akan menikah.” Sembari menghapus air matanya yang semakin banyak keluar.


“Ayah kenapa kau berbicara tentang ibu, aku jadi merindukannya kan, aku yakin dari atas sana pun ibu pasti bahagia melihat kita,” balas Shazia sembari memeluk sang ayah.


Melihat ayah dan anak itu membuat sang perias juga ikut terharu. Dan tak lama Zihan ikut menyusul, ia begitu takjub melihat Shazia dengan gaun pengantin.


“Mama kau terlihat sangat cantik!” puji Zihan.


“Benarkah, putra mama juga tampan memakai jas, apalagi warnanya sama seperti jas yang dipakai kakek Olive,” balas Shazia sembari berjongkok merapikan dasi Zihan.


Zihan tertawa kecil, “bukan hanya aku dan kakek Olive, tapi kakek Derya juga memakai jas yang sama.”


“Wow, berarti putraku dan dua kakeknya memakai jas kembar.”


“Tentu saja, Mama. Oh, iya, kakek Olive dan Mama apa sudah siap? Tadi Nenek menyuruhku memanggil kalian.”


“Ya, kami sudah siap,” Balas Erhan.


“Baiklah kakek, mama, ayo kita pergi,” ajak Zihan pada keduanya.


Ketiganya pun pergi bersama, di mana lengan kiri Shazia memegang lengan sang ayah dan lengan kanannya menggandeng putranya itu.


...****************...


Acara pun dimulai, para tamu telah berdatangan dan duduk di tempat yang telah disediakan. Shazia merasa tubuhnya gemetar ketika semua orang menatapnya, beruntung sang ayah dan Zihan berada di sisinya.


Ketiganya berjalan bersamaan menuju panggung di mana Taran telah menunggu kedatangannya. Saat ketiganya mendekati panggung, Taran mengulurkan tangannya pada Shazia.


Shazia pun mendongak, untuk sesaat ia terkesima akan penampilan Taran yang memakai setelan jas berwarna abu. Shazia menerima uluran tangan Taran, dan degup jantungnya pun semakin kencang setelahnya.


Keduanya pun duduk di kursi pengantin dan memulai prosesi pernikahan.

__ADS_1


Setelah melawati prosesi pernikahan dan saling mengucap janji, resmilah keduanya menjadi sepasang suami istri. Para tamu yang datang pun banyak memberi selamat dan mulai mencicipi hidangan yang disajikan.


Di tengah keramaian pesta, sosok yang tak asing bagi Taran muncul. Manorya, wanita tua yang dulu mengantarkan Zihan padanya itu juga datang ke pernikahan mereka.


Wajah Taran pun tampak gusar melihat wanita itu berjalan mendekat ke arah mereka.


“Selamat untuk pernikahan kalian berdua, kuharap kau tak lupa padaku, Taran,” ucap Manorya.


“Ow, lihatlah siapa yang akhirnya menikah. Aku tak menyangka pada akhirnya kau akan menikah juga Taran, sungguh kalian berdua benar-benar serasi,” ucap Manorya sembari melirik Shazia.


Manorya tertawa ketika melihat ekspresi Taran. “Kenapa memasang wajah seperti itu? Kau tidak senang aku datang? Aku jadi mengingat saat kita bertemu sembilan tahun yang lalu, kau memasang wajah yang sama seperti ini.”


“Jika kau sudah tahu maka pergilah dari sini.”


Manorya kembali tertawa, “Belum beberapa menit aku berdiri di sini dan kau sudah mengusirku? Baiklah, aku tidak akan lama di sini.”


“Aku hanya ingin mengusir rasa penasaranku akan pengantin wanitanya. Dan ya, itu di luar dugaan, sepertinya kalian memang pasangan yang ditakdirkan, bukan begitu Nyonya Shazia.”


Shazia yang sejak tadi bingung dan tak tahu siapa orang di depannya itu pun mengerutkan kening. “Hmm, bagaimana Anda bisa mengetahui nama Saya. Dan bisakah saya tahu siapa Anda.”


“Kau tak mengenaliku?”


Shazia menangguk.


Manorya pun tersenyum, “Ya, sepertinya suamimu bisa menjelaskan tentang siapa aku,” balas Manorya sembari turun dari punggung dan datang menghampiri seseorang.


“Bisakah kau memberi tahuku siapa dia?”


“Wanita itu, wanita itulah pemilik hotel tempat di mana semua itu terjadi, dan wanita itu juga yang mengantarkan Zihan ke kediaman Savas.”


“Jadi maksudmu dia tahu semua tentang ibunya Zihan?”


Kalau dia tahu tentang ibunya Zihan, berarti dia tahu bagaimana kabat wanita itu sekarang, tapi kenapa dia tak membawa ibunya Zihan juga pada Taran? Dan kenapa hanya Zihan yang ia bawa. Pasti dia tahu sesuatu kan. Shazia


“Ayah, bagaimana wanita itu bisa masuk ke sini?” tanya Taran pada Derya.


“Tidakkah kau ingat siapa nama suaminya? Walaupun ia telah lama meninggal, sampai sekarang nama suaminya masih berpengaruh, kita tidak bisa melewatkan undangan untuk istrinya. Jadi nyonya Manorya datang ke sini atas nama suaminya,” jelas Derya.


Mendengar penjelasan Derya, wajah dingin Taran masih saja memasang raut kekesalan.


Tak bertahan lama bagi pengantin pria untuk tetap duduk di kursi pengantin, Taran, ia malah meninggalkan istrinya dan sibuk berbicara perihal pekerjaan dengan rekan bisnisnya di sudut ruangan.


“Dasar! Apa pria itu kekurangan uang sampai di acara pernikahannya saja dia terus membicarakan perihal bisnis,” gerutu Shazia


Merasa di tinggal Shazia yang kesal pun juga turun dari punggung dan mencari seseorang yang dapat dikenalnya, dan benar saja matanya itu berbinar ketika melihat seluruh karyawannya di salah satu meja.


Tanpa pikir panjang Shazia menghampiri meja karyawannya. “Bibi Ceyda, Aynur, Esra, Gona Fusun, Cemile, kalian semua datang, aku senang kalian semua bisa datang.”


“Wah pengantin wanita datang ke meja kita, tentu saja Shazia siapa yang akan melewati pernikahan bosnya jika tak ingin di potong gaji,” balas Ceyda.


Shazia tertawa “Bibi, aku tidak sejahat itu untuk memotong gaji kalian,”


“Shazia tentu saja kami akan datang, kau pikir siapa yang akan melawati pernikahan mewah seperti ini, sungguh Shazia aku sangat suka pernikahanmu, makanannya juga sangat enak, kau ingin mencobanya?”


“Benarkah coba suapi aku.”


Aynur pun menyuap dessert-nya ke mulut Shazia.


“Enakkan.”

__ADS_1


“Hmm, benar enak sekali.”


“Ayo Shazia kita coba semua makanan di sini, sayang sekali jika dilewatkan,” ajak Aynur.


“Kau benar, lagi pula ini kan pesta pernikahanku aku harus bahagia hari ini.”


Bersama para karyawannya Shazia mulai mencicipi satu-persatu hidangan, mulai dari makanan pembuka sampai penutup tak luput dari perhatiannya.


“Hmm, makanan di sini lezat sekali, ya!” puji Shazia yang ikut makan di meja karyawannya.


“Kakak, apa tidak papa kau duduk bersama kami, kau kan seharusnya duduk di kursi pengantin kenapa malah duduk di kursi tamu?”


“Cemile, duduk sendirian tanpa melakukan apa-apa itu sungguh sangat membosankan Cemile, ayo, lebih baik kau cepat makan makananmu, kita harus mencoba makanan yang lainnya lagi nanti,” balas Shazia sembari menyuap makanan ke mulutnya.


“Eh, kakak sungguh aneh, di mana-mana pengantin wanita akan bersikap anggun di hari pernikahannya tapi kakak malah sebaliknya.”


“Tidak papa, yang penting kita menikmati pestanya, percuma saja kan mengadakan pesta besar kalau tak menikmatinya,” balas Shazia lagi.


“Oh, iya bibi Ceyda ngomong-ngomong di mana Ece aku tidak melihatnya, apa bibi tidak membawanya?”


“Aku membawanya tapi dia pergi bermain bersama Zihan.”


“Oh, pantas saja aku tak melihat Zihan, ternyata bermain bersama Ece.”


Di tengah asyiknya ketujuh orang tersebut, Shazia tak tahu bahwa para tamu mencibirnya.


“Lihatlah menantu keluarga Savas, tidak beretika sama sekali,” bisik seorang tamu.


“Sungguh memalukan, bagaimana keluarga Savas bisa memilih menantu sembarangan seperti itu? Apa karena putranya belum juga menikah akhirnya mengambil seseorang dari jalanan.”


“Ya, dengar-dengar menantu keluarga Savas hanya seorang wanita pemilik restoran kecil.”


“Apa benarkah, status sosialnya saja sudah sangat berbeda, bagaimana bisa mereka menjadi sepasang suami istri, apa keluarganya Savas tak berniat mencari keluarga yang sepadan dengan mereka?”


“Menurutku bukan dari keluarga Savas, tapi dari wanita itu. Lihatlah dia dan orang-orangnya, apakah menurutmu keluarga Savas akan menerima sifat menantunya yang seperti itu? Menurutku wanita itu menjual dirinya ke Taran Savas dan mendekati putranya juga demi uang. Jadi dia berpura-pura baik di awalnya saja.”


“Tapi walaupun begitu tidak seharusnya dia bersikap seperti itu di acara pentingnya, setidaknya tunjukkan sosok baiknya sedikit di depan umum apa lagi dia tahu kan kalau para tamu di sini bukan sekedar orang biasa.”


Bisikan-bisikan tersebut pada akhirnya didengar oleh Shazia, tetapi wanita itu tetap memilih untuk bodo amat dengan perkataan mereka.


Huh, apa peduliku? memangnya kalian yang memberiku makan?. Shazia


“Nyonya Shazia,” panggil Manorya yang kemudian datang menghampiri meja Shazia.


Shazia pun tersenyum. “Oh, ya, Nyonya, Eh bisakah saya tahu nama Anda?”


“Panggil saja Manorya,” balas wanita tua itu.


“Ya, Nyonya Manorya, terima kasih telah datang ke pernikahan saya,” ucap Shazia.


“Kau sungguh berbeda dari suamimu, justru aku yang berterima kasih karna telah mengundang wanita tua ini. Nyonya Shazia aku harap pernikahanmu berjalan lancar, dan kau hidup bahagia bersama suami dan putramu.”


Shazia mengangguk, “Terima kasih Nyonya.”


“Oh, iya, Nyonya Shazia, bisakah aku mengunjungi restoranmu nanti, ada yang ingin aku bicarakan denganmu?”


“Tentu saja, nyonya Manorya, pintu restoran saya selalu terbuka untuk semua orang,” balas Shazia.


Yah, itu kesempatan bagus untukku, mungkin dari nyonya Manorya aku bisa tahu siapa ibu kandung Zihan. Shazia

__ADS_1


__ADS_2