Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 30 - Kadriye


__ADS_3

Di kantornya Taran dengan wajah gusar segera pergi ke ruangannya. Ya, ia mendapatkan laporan bahwa ada seorang wanita tengah mengamuk di ruangannya.


“Kadriye, hentikan perbuatanmu!”


Mendengar suara Taran, seorang wanita dengan pakaian minim berwarna hitam itu pun berbalik ke arahnya, “Menghentikan perbuatanku? Apa kau pikir aku bisa tenang setelah mendengar kabar pernikahanmu!”


“Taran berapa kali aku mengungkapkan rasa cintaku tapi kau selalu menolaknya, aku mencintaimu lebih dari wanita yang kau ambil dari jalanan itu!”


“Apa kau sudah gila, Kadriye? Pergilah dari sini, jangan membuat keributan.”


“Taran aku mencintaimu dengan tulus, kenapa kau tak pernah menganggap cintaku? Aku bisa memberikanmu banyak keturunan dan kita bisa hidup bahagia tanpa anak har*am atau wanita rendahan itu!”


“Sudah cukup Kadriye, kau tidak bisa menghina istri dan anakku sesukamu. Cinta yang selalu kau ucapkan di mulutmu itu hanya kebohongan semata.”


“Aku tidak bohong aku mencintaimu Taran, akan kuberikan semua yang kumiliki untukmu.”


“Kadriye, mau seperti apa pun yang kau lakukan aku tetap tak mencintaimu, aku tahu bahwa sejak kecil kau selalu hidup dengan gelimang harta dan setiap keinginanmu harus selalu terpenuhi.”


“Tapi kau tetap saja tidak bisa memaksa orang lain untuk memenuhi keinginanmu itu.”


“Pada akhirnya kau pun sama seperti pria lainnya!” teriak Kadriye dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


“Kadriye kutegaskan sekali lagi, jangan membuat keributan. Jika kau memang tidak ingin bekerja sama lagi dengan perusahaanku aku akan berbaik hati mengakhiri kontrak ini sekarang!”


“Tidak bisakah Taran kau melihatku selain sebagai Brand ambasadormu? Aku berusaha supaya kau mau mencintai aku, tapi nyatanya kau menikah dengan orang lain.”


“Hubungan yang ada di antara kita berdua hanya sebatas pekerjaan, selebihnya...” Taran menggeleng.


Pria itu dengan santai berjalan ke mejanya dan mengeluarkan amplop coklat dari laci, ia membuka amplop tersebut dan merobek surat kontrak kerja samanya dengan Kadriye.


“Sudah jelas Kadriye? Atau kau ingin aku memperjelasnya lagi?”


Kadriye menatap dalam wajah Taran dengan ekspresi kecewanya. “Aku pikir kau pria yang baik Taran, bagaimana bisa kau mengakhiri semuanya seperti ini hanya demi gadis rendahan itu? Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik demi pekerjaanku, tapi begini balasannya?”


“Selagi aku masih berkata baik padamu maka pergilah Kadriye, tidak ada lagi kerja sama di antara kita. Dan ya, untuk kali ini aku memaafkan perbuatanmu yang mempermalukan keluargaku di depan media pagi ini.”


Taran mendekati wanita itu, dan menatap tajam ke arahnya, “Tapi jika kau melakukannya lagi, maka kau akan lihat bagaimana kariermu sebagai artis kubuat hancur, Kadriye.”


Kadriye yang menatap tak percaya pada Taran, akhirnya melongos pergi meninggalkan ruangan. Ia tak percaya bahwa Taran mengancamnya, sosok yang selama ini selalu diam atau setuju jika Kadriye berbicara, kini malah membentaknya.


Ya, Kadriye adalah seorang artis cantik yang mencintai Taran setelah setuju bekerja sama sebagai Brand ambasador di perusahaan pria itu. Sosok Taran yang selalu menghargainya dan cara sopannya berbicara membuat Kadriye sangat menyukai Taran.


Setiap cara wanita itu lakukan demi mendapatkan perhatian Taran, tapi hasilnya selalu nihil, sosok dinginnyalah yang selalu Kadriye dapati setiap ia mencoba menggodanya.


Segera setelah Kadriye pergi Taran pun memerintah petugas kebersihan membereskan kekacauan di kantornya.


“Kenapa wanita itu bisa menjadi artis dengan sifatnya itu?” gerutu Taran.

__ADS_1


...****************...


Waktu telah menunjukkan pukul 23.44 malam, dan pria itu baru saja sampai di rumahnya, sambil menenteng jasnya Taran pergi ke lantai atas tempat kamarnya berada.


Ketika ia membuka pintu kamar, Taran dapat melihat Shazia yang tertidur pulas sembari memeluk Zihan. Taran tanpa sadar berjalan mendekati ranjang, lekat-lekat ia memandangi wajah istri dan putranya yang tertidur, dan guratan senyum pun terlihat di wajahnya setelah itu.


Cukup lama Taran memandangi keduanya, sampai kemudian ia menarik selimut dan menyelimuti istri dan anaknya itu.


Keesokan harinya, di pagi yang cerah, Shazia terbangun akibat sinar matahari yang berhasil lolos melalui celah jendela. Shazia menggeliatkah tubuh yang dirasa remuk redam dan bangkit setelahnya.


Awalnya wanita itu terkejut kala melihat sosok Taran di samping kanan Zihan yang tertidur hanya menggunakan celana pendek tanpa baju.


“Eh, kenapa aku bisa tidur dengan ayahnya Zihan?”


“Pria ini apa dia pria mes*um?”


Tiba-tiba Shazia terdiam kala mengingat sesuatu.


“Oh, astaga aku lupa, aku kan sudah menikah, ha, ha.” Shazia menertawakan kebodohannya.


“Untung saja aku tak meneriakinya.”


Shazia pun akhirnya membiarkan ayah dan anak itu tetap tertidur, sedangkan ia, setelah mencuci muka dan mengikat rambutnya berjalan pergi ke lantai bawah.


“Kira-kira apa para pelayan sudah terbangun di jam begini?”


“Wah, pantas saja rumah ini selalu bersih tanpa debu, ternyata para pembantunya saja sangat kompeten, ya.”


Tiba-tiba seorang pria paruh baya menyapa Shazia. “Selamat pagi, Nyonya, saya kepala pelayan di rumah ini. Apakah ada yang bisa kami bantu untuk Anda?” tanya laki-laki itu memastikan.


“Oh, selamat pagi paman. Ya, aku ingin tahu di mana letak dapur rumah ini, bisakah paman membantuku?”


“Dengan senang hati Nyonya, mari saya akan mengantarkan Anda,”


Pria paruh baya itu pun lebih dulu berjalan di depan Shazia, ia menunjukkan letak dapur dan menjelaskan bagian dapur tersebut pada Shazia.


“Sampai sini yang bisa saya jelaskan pada Anda, Nyonya. Apakah ada yang ingin Nyonya tanyakan lagi?”


“Ya, aku sudah mengerti paman. Untuk pertanyaan lagi bisakah aku tahu nama Paman?”


“Anda bisa memanggil saya Berkant, Nyonya.”


“Kalau begitu terima kasih paman Berkant,” ucap Shazia.


Berkant mengangguk, “Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi sekarang, jika ada sesuatu yang Anda butuhkah maka panggil saja saya.”


Shazia mengangguk, “Ya, Paman, terima kasih untuk bantuanmu.”

__ADS_1


Rumah ini pun juga ada kepala pelayannya, pasti pekerjaan paman ini sangat sibuk, apalagi harus mengurus semua hal tentang rumah besar ini. Ih, membayangkannya saja sudah membuatku pusing. Shazia


Wanita itu pun berdiri di depan meja kompor, lalu menatap ke sekelilingnya.


“Dapurnya pun juga sangat bersih, bahkan lebih bersih dan luas dari dapur di restoranku, orang kaya memang berbeda, ya.” Celoteh Shazia sembari membuka ganggang Lemari pendingin.


“Wow, bahkan semua stok daging dan ikannya pun lengkap kalau begini, aku bisa masak dengan mudah.”


Shazia pun mengambil bahan yang diperlukan dan mulai memasak. Di tengah kesibukannya Shazia dikejutkan dengan seorang wanita muda berbaju koki.


“Selamat pagi, Nyonya, biar aku tebak Nyonya menantu baru di keluarga ini kan.”


“Ya, perkataanmu benar sekali,” balas Shazia.


“Padahal Nyonya baru datang kemarin, tapi pagi ini sudah sibuk memasak. Nyonya tidak lelah?”


Shazia menggeleng.


“Nyonya, aku dengar Anda punya restoran, apa itu benar?”


Shazia mengangguk.


“Sudah berapa lama restoran Anda buka?”


“Mungkin kurang lebih 5 tahun.”


“Lalu Nyonya, apakah—“


Sebelum wanita muda itu kembali bicara, Shazia segera menghentikannya.


“Berhenti, berhenti berbicara, dari tadi kau selalu bertanya padaku, sekarang giliran aku yang bertanya padamu,” ucap Shazia sembari mengaduk masakan.


“Kau, apakah kau koki di dapur ini? Dan jika iya siapa namamu?”


“Namaku Banou, Nyonya, dan ya, aku koki di dapur ini,” balas Wanita itu.


“Banou maaf jika aku mengacaukan dapurmu dan mengganggu tugasmu,”


“Nyonya kau kan menantu di keluarga ini, otomatis dapur ini pun juga bagian dari milikmu, Nyonya. Lagi pula aku hanya pekerja di rumah ini dan tugas memasakku pun tidak sebanyak itu,” balas Banou ketus.


“Ya, ya, maafkan aku Banou, sekarang bisakah kau memberitahuku di mana letak bumbu?”


“Aku akan mengambilkannya untukmu, Nyonya,” balas Banou sembari mengambil keranjang bumbu dari laci meja.


Saat melihat keranjang bumbu, Shazia mengernyit. “Wah, mentang-mentang pemilik perusahaan, bumbu dapurnya pun semua menggunakan produknya,” gerutu Shazia.


Banou tertawa, “Tidak begitu Nyonya, Tuan tidak pernah menyuruh kami untuk menggunakan produknya. Tapi memang karna bumbunya lebih enak dan berkualitas di banding produk lain, jadi kami memilih untuk menggunakan produk Tuan”

__ADS_1


__ADS_2