Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 47 - Persiapan pergi


__ADS_3

Saat Shazia membawa masuk Ece, terlihat orang-orang yang ada di ruang tengah menatap keduanya.


“Shazia siapa anak yang kau bawa itu?” tanya Defne sembari memperhatikan Ece dari atas sampai bawah.


Sebelum Shazia sempat menjawab, Ece langsung bicara mengenalkan dirinya.


“Salam kenal, Kakek, Nenek, namaku Ece, anak dari salah satu karyawan yang bekerja di restoran bibi Shazia, aku di titipkan pada bibi Shazia karena ibuku harus pergi ke desa selama beberapa hari,” ucap Ece sambil menyalami Defne dan Derya.


“Aih, anak ini sopan sekali, ya,” puji Defne.


Zihan yang melihat Ece segera beranjak dan datang menghampirinya, “Wah, Ece. Jadi kau akan tinggal di sini?”


Ece terdiam dan menatap Shazia, meminta sang bibi untuk memberi penjelasan


“Ya, sayang. Untuk sementara Ece akan tinggal di sini bersama kita.”


“Yey, berarti kita bisa bermain dan menghabiskan waktu bersama,”


Ece tersenyum, “Ya, tentu saja, bahkan kita bisa bermain banyak permainan setelah ini.”


“Jadi Ece temanmu?” tanya Derya pada sang cucu.


“Ya, Kakek, jika pergi ke restoran aku sering bermain dengan Ece dan teman-temannya yang lain.”


“Ace apa kau ingin kutunjukkan kamarku?”


“Jika boleh, aku setuju.”


“Tentu saja boleh, Ayo.” Ajak Zihan sembari menarik lengan Ece.


Saat keduanya tak lagi terlihat, Shazia mulai berbicara pada Derya dan Defne.


“Ayah mertua, ibu mertua, aku meminta izin pada kalian agar Ece diizinkan tinggal di sini selama beberapa hari.”


“Tidak apa-apa, kenapa kau harus minta izin pada kami? Inikan juga rumahmu, lagi pula dengan adanya Ece di rumah ini dia bisa menemani Zihan bermain.”


Shazia tersenyum senang.


“Karena Ece dekat dengan cucuku, anak itu bisa menggunakan kamar kosong di dekat kamar Zihan, aku akan menyuruh orang untuk membersihkannya.”


“Tidak perlu ibu mertua biar aku saja yang membersihkannya,”


“Kalau begitu Ayah mertua, ibu mertua aku lebih dulu pergi ke atas,” pamit Shazia.


...****************...


Keesokan harinya, Shazia yang telah selesai memasak sarapan terlihat menata masakan di atas meja, sedangkan Zihan dan Ece keduanya asyik menikmati makanan.


“Bagaimana apa makanannya Enak?” tanya Shazia pada keduanya.


“Seperti biasa Mama, ini enak!” puji Zihan.


“Ya, bibi masakanmu enak,” ucap Ece menambahi.


“Baguslah, kalau begitu habiskan sarapan kalian, ya.”


“Ya, mama.”


“Ya, bibi,” balas keduanya secara bersamaan.


Shazia merasa senang sekaligus puas, melihat Ece dan Zihan makan dengan lahap. Ia terus-menerus menatap keduanya tanpa peduli sarapan miliknya sendiri.


Tak lama, Taran turun ke lantai bawah, ia sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam dan rambut yang disisir ke belakang. Pria itu kemudian duduk di samping Shazia.


Mata Shazia pun beralih menatap Taran, ia merasa aneh akan Taran yang memilih duduk di sampingnya.


“Tuan kau ingin sarapan?”


“jika aku tidak ingin sarapan untuk apa aku duduk di sini?” balas Taran sembari mengaut masakan ke piringnya.


“Bibi Shazia bisa aku meminta tambahan yoghurt?”

__ADS_1


“Tentu saja sayang, ini ambillah,” balas Shazia sembari memberikan mangkuk yougurt pada Ece.


“Terima kasih, bibi.”


Melihat kehadiran seorang anak yang tak dikenalnya membuat Taran bertanya pada sang istri.


“Siapa anak itu, Shazia?”


“Dia anak dari salah satu bibi yang bekerja di restoranku, karena ibunya sedang pergi ke Desa, jadi untuk beberapa hari ia akan tinggal di sini bersama kita.”


“Oh.”


Jawaban sangat singkat itu membuat Shazia merasa geram.


Jika kau bukan ayahnya Zihan sudah kucekik lehermu itu. Shazia.


“Paman, paman ayahnya Zihan kan?” tanya Ece.


Taran mengangguk.


“Wah, pantas saja mirip, aku yakin jika Zihan besar nanti wajahnya tidak jauh berbeda dengan paman. Sungguh paman itu sangat tampan, sangat cocok dengan bibi Shazia yang cantik.”


Shazia tertawa kecil mendengar celotehan Ece, “Sungguh? Jadi menurutmu bibi cantik.”


“Ya, bibi tidak menyadarinya? Meski bibi sudah tua, bibi tetap cantik.”


“Ece kau itu berniat memuji bibi atau menghina bibi? Bibi ini masih sangat muda, tahun ini saja bibi masih berusia 17 tahun.”


Ece dan Zihan tertawa.”


“Mama berbohong, usia mama kan sudah 33 tahun, ha, ha.”


“Oke kalau paman ini? dia kan lebih tua dari bibi, usianya sudah 35 tahun sekarang.” tanya Shazia


“Kalau paman dia terlihat seperti anak sekolahan. Masih terlihat sang muda,”


“Oho, kau berbohong Ece mana mungkin anak sekolah punya wajah seperti ini, ha, ha,” sanggah Shazia.


Beberapa saat kemudian, Derya dan Defne datang dan ikut bergabung bersama mereka. Setelah selesai sarapan Shazia segera mandi dan mengatarkan Zihan juga Ece ke sekolah masing-masing.


Ia lalu berangkat ke restoran dan bekerja hingga sore, Wanita itu bersama dua anak kurcacinya kembali pulang kala waktu hampir menjelang malam.


***


Pagi kembali datang, Shazia yang telah terbangun dari tidur lelapnya mulai melakukan aktivitas paginya seperti biasa. Wanita itu menyiapkan sarapan juga bekal untuk Zihan dan Ece, lalu pergi ke restoran setelah mengantar keduanya ke sekolah.


Kali ini restoran Shazia akan tutup lebih awal, karena seperti yang dikatakan Taran, hari ini mereka harus pergi ke pesta keluarga Iskander.


“Shazia kau akan pergi ke pesta kan malam ini?”


“Ya, memangnya ada apa?”


“Apa kau sudah punya persiapan, maksudku ini kan pesta pertama yang akan kau hadiri bersama tuan Taran setelah menikah, jadi apa kau sudah menyiapkan gaun dan semacamnya?”


“Untuk apa susah-susah, aku tinggal mengenakan gaun yang saat itu kukenakan saat acara sekolah Zihan. Jadi tak perlu membeli gaun baru.”


Aynur menepuk jidatnya, “Ya, Allah. Shazia kau tahu bagaimana sifat orang kaya itu? Mereka pasti akan mencibirmu karna selalu menggunakan gaun yang sama, apa lagi kau pernah bertemu dengan orang itu saat di acara Zihan kan?”


“Apa yang mereka katakan nanti? Pasti mereka akan mencibirmu.”


“Uh, astaga kelaurga Savas itu benar-benar keterlaluan, ya, masa mereka tidak bisa membeli sebuah gaun untuk menantunya sendiri,” ucap Aynur sembari memperagakan cara bicara khas Nyonya kaya.


Shazia tertawa, “Aku tak peduli Aynur, mau mereka berbicara seperti apa pun itu, aku tak masalah. Selama gaunku masih ada, untuk apa membeli gaun baru? Itu hanya buang-buang uang.”


“Shazia kau ini benar-benar keras kepala.”


“Aynur, aku tahu apa yang kau bicarakan itu, kau ingin aku bisa tampil seperti nyonya-nyonya kaya lainnya kan? Aku jadi ingat bagaimana diriku dulu, saat aku masih gadis manja yang bergantung dengan orang tua, aku tidak ingin kalah dengan orang lain.”


“Apa yang menjadi tren, aku selalu ingin berusaha menjadi yang paling bersinar, aku tak ingin kalah dan aku harus menjadi yang terbaik. Aku ingat sekali bagaimana aku menghabiskan uang Ayah hanya untuk membeli banyak baju dan barang-barang tak berguna lainnya.”


Shazia tertawa kecil, “Tapi yang namanya takdir di masa depan itu tak pernah ada yang tahu. Setelah aku mulai mendirikan usaha sendiri, barulah aku menyadari bagaimana susahnya mencari uang itu, barulah aku sadar seperti inilah rasa susah yang dihadapi ayah hanya untuk melihatku hidup lebih baik.”

__ADS_1


“Beginikah rasa sakitnya? Beginikah rasa lelahnya? Itulah mengapa aku tak ingin menghabiskan uangku untuk membeli hal yang berlebihan, jika barang itu masih bisa dipakai kenapa harus membeli yang baru?”


Aynur tak dapat berkutik dengan apa yang dikatakan Shazia. Apa yang dikatakan Shazia memang benar adanya.


Jika aku mengatakan Shazia pelit itu benar-benar berbeda dengan faktanya. Jika dia pelit tidak mungkin ia mau memberikan bonus atau mentraktir kami makan. Aynur.


“Ya, sudahlah Shazia terserah kau saja,” balas Aynur pasrah sembari duduk di samping Shazia.


...****************...


Setelah Ece dan Zihan datang ke restoran, Shazia pun segera menutup restorannya dan pulang ke kediaman Savas.


“Ayo kalian berdua cepat mandi dan bersiap, hari ini kita harus pergi ke pesta,” ucap Shazia pada dua anak kurcacinya.


“Mama kita ingin pergi ke pesta siapa?” tanya Zihan.


“Pesta paman Iskander yang saat itu menyapa kita di acara sekolahmu.”


“Oh, ayah dari anak yang kelasnya bersebelahan denganku, Ya. Baiklah aku dan Ece akan bersiap-siap.”


“Kita akan pergi ke pesta Zihan?”


“Iya Ece, kita akan pergi ke pesta, ayo kita bersiap-siap,” ajak Zihan.


“Tapi aku tidak punya baju pesta, bagaimana aku bisa ikut?”


Shazia kenudian berjalan mendekati Ece, ia memeberikan tas belanjaan yang sendari tadi di pegangnya.


“Ini untukmu Ece, pakailah ini, kebetulan saat ingin pergi ke restoran, bibi melihat baju ini dan tampaknya sangat cocok untukmu, jadi bibi membelinya."


“Wah terimakasih bibi,” ucap anak itu sembari membuka tas belanjaan dan mengeluarkan baju dari dalamnya.


Itu adalah sebuah dress selutut berwarna hitam tanpa lengan dan berikat pita di bagian pinggangnya.


Ece terlihat senang dengan baju baru yang didapatkannya, ia kemudian pergi bersama Zihan ke kantai atas, sedangkan Shazia ia mengikuti dari belakang. Setelah memastikan dua anak kurcacinya masuk ke kamar masing-masing, Shazia pergi ke kamarnya.


Di sana Shazia mengambil gaun biru yang dulu pernah ia kenakan saat acara Zihan, juga mengambil sepatu high heels yang tak terlalu tinggi dari kotak sepatu.




(Gambaran gaun yang di pake Shazia, gaun dengan model mermaid. Dan digambar oleh Kleo sendiri 😅)


Wanita itu kemudian pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, saat ia keluar Shazia dikejutkan dengan dua pembantu yang menunggunya, kala itu Shazia telah mengenakan gaunnya.


“Hah, bisakah aku tahu apa yang kalian tunggu di sini?”


“Tentu saja kami menunggu Nyonya.”


“Menungguku, untuk apa?”


“Kami yang ditugaskan untuk mendandani Anda, Ayo ikutkah dengan kami.”


“Tidak perlu aku bisa berdandan sendiri,” tolak Shazia.


“Nyonya ini adalah tugas kami, percayakan saja pada kami, karna jika anda berdandan sendiri pasti hasilnya tidak terlalu bagus,”


Shazia merasa tertohok dengan kata-kata sang pelayan, bagaimana pun Shazia mencoba berdandan dengan mengikuti tutorial, hasilnya tetap saja mengecewakan. Bahkan saat acara Zihan pun Aynurlah yang mendandaninya.


“Em, Eh, kalau begitu terserah kalian saja,” balas Shazia pasrah sembari mengikuti dua pembantunya.


Shazia di arahakan ke ruangan yang terisi penuh perhiasan dan baju-baju mewah, juga alat kecantikan yang sangat lengkap.


“Dari pada sebuah tempat kecil, ini lebih mirip seperti toko gaun dan perhiasan yang disatukan,”


“Ini adalah tempat Nyonya Defne jika bersiap pergi ke suatu tempat, dan sekarang kami di tugaskan untuk mendandani anda sekarang.”


“Duduklah Nyonya kami akan mendandani anda,” ucap salah satu pembantu.


Shazia menuruti, ia duduk di bangku yang disebutkan, dan mempasrahkan saja wajahnya untuk di make-up.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain, Taran yang telah pulang tak mendapati istrinya ada di kamar, tapi pria itu tetap tak peduli, ia memilih untuk bersiap sama seperti yang lainnya.


__ADS_2