
Malam yang dingin dan sunyi kembali datang, kali ini Shazia tak dapat tidur dengan nyenyak, ia memutuskan duduk di balkon sembari menyesap secangkir teh.
Bintang yang bertabur di langit malam seakan menemani kesendiriannya, ya, dia tak dapat tidur karna berkali-kali terus memikirkan keputusannya.
“Biasakah aku menjadi seorang ibu yang baik bagi Zihan?”
“Pantaskah aku ada di posisi itu? Sedangkan aku hanya wanita biasa yang sangat jauh berbeda dengan tuan Taran.”
“Belum lagi aturan keluarga dan orang-orang di sana bisakah aku menyesuaikan diri? Pasti banyak orang yang tak setuju dengan asal-usulku.”
“Ya, Allah, aku berharap semoga aku bisa melewati semuanya dengan baik.”
Tak lama ponsel yang berada di dekatnya bergetar, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Shazia pun membuka pesan tersebut, dan alangkah terkejutnya ia ketika membaca isi pesan.
...“Nona Shazia maaf mengirimkan pesan ini di tengah malam, setelah banyaknya rencana dan pembicaraan aku memutuskan bahwa pernikahan kita akan digelar bulan ini, kau tak perlu merasa pusing karna semuanya akan disiapkan oleh pihakku, karna lebih cepat akan lebih baik bagi kita.”
...
“Apa pria itu gila? Bulan ini hanya tersisa 8 hari lagi. Bagaimana caranya aku bisa mempersiapkan diri? Dengan waktu sesingkat itu aku akan menjadi istrinya, aku benar-benar tak bisa membayangkan itu!”
***
Keesokan harinya, Shazia membuka restorannya seperti biasa, ia membantu para karyawan melayani para pelanggan dan mengangkat piring ke dapur, akan tetapi Shazia tak fokus akan pekerjaan yang dilakukannya.
Hari ini Shazia tanpa sengaja menumpahkan minuman ke pakaian pelanggan, dan bukan sampai di situ ia juga tanpa sengaja memecahkan beberapa piring secara bersamaan.
“Shazia apa yang terjadi denganmu? Kenapa sejak pagi kau tak fokus akan pekerjaanmu?” tanya Aynur menghampiri Shazia yang tengah mengelap meja dengan tatapan kosong.
“Benar, apa yang terjadi denganmu kak? Kau seperti seorang yang tak bernyawa saja,” ucap Cemile menambahi.
“Aynur, Ce-cemile sebentar lagi aku akan menikah,” balas Shazia yang tak sedikit pun menengok dan hanya memandang ke arah jalanan dengan tatapan kosong.
“Apa!” Sontak semua karyawannya berteriak secara bersamaan, baik yang tengah berada di dapur maupun di tempat kasir, semuanya langsung menatap Shazia dan wanita itu pun langsung tersadar dari lamunannya.
Ya, mereka tak percaya, orang yang selama ini hanya fokus akan restorannya dan tak pernah terlihat memiliki kekasih kini malah memberikan kabar akan menikah.
“Ka-kalian mengejutkanku,” balas Shazia yang kini melihat semua karyawan telah berkumpul di dekatnya.
“Shazia katakan pada kami bagaimana bisa? Kau menyetujui perjodohan itu?” tanya Ceyda.
“Ka-kami berdua menyetujui perjodohan itu bibi,”
“Kau menyetujuinya? Kau kan tak mencintai orang itu, apa dia memaksamu?” tanya Aynur kemudian.
“Aku yang menyetujuinya Aynur, dia tidak memaksa,”
Ya, walaupun sebenarnya sedikit memaksa. Shazia.
__ADS_1
“Kakak jika kau menyetujuinya hanya karna kata-kata orang yang bertanya kapan kau menikah lebih baik batalkan saja, kak, aku tidak ingin kakak memilih orang yang salah untuk hidup kakak,” cerocos Cemile.
“Katakan padaku siapa orangnya Shazia, biar aku yang mengajarnya, tidak mungkin kau setuju hanya karna keinginanmu sedangkan kemarin saja kau terang-terangan menunjukkan penolakanmu itu,” tanya Aynur mengambil ancang-ancang seolah siap untuk menghajar seseorang.
“Aynur, ini mengejutkan tapi aku akan menikah dengan ... ayahnya Zihan, tuan Taran Savas.”
“Apa!” kini keenam karyawan Shazia kembali berteriak.
“Ayahnya Zihan, Taran Savas? Bukankah kau bilang Zihan anak kerabat jauhmu Shazia?” tanya Ceyda.
“Maaf bibi, aku berbohong soal Zihan, aku tak ingin ada banyak pertanyaan yang muncul tentang asal-usulnya.”
“Kakak benar-benar menikah dengan Taran Savas? Taran Savas yang sangat terkenal itu kan?” tanya Gona.
Shazia mengangguk.
“Shazia aku tak menyangka kau benar-benar menikah dengan tuan Taran. Benarkan apa yang kukatakan, doaku benar-benar terkabul!” teriak Aynur sembari menari-nari.
“Kak, kalau begitu selamat untukmu,” ucap Esra.
“Hm, aku pikir kau akan menjadi perawan tua karna tak sedikit pun kau tertarik akan pria, aku tak menyangka kau akan menikah akhirnya,” ucap Ceyda menambahi.
“Semoga kehidupan pernikahanmu akan berjalan bahagia, Kak.”
“Terima kasih untuk kalian semua, tapi aku sendiri sungguh belum siap menerimanya.”
“Ya, aku memang setuju, tapi aku tak menyangka pernikahannya akan secepat ini.”
“Memangnya kapan kakak akan menikah?” tanya Fusun.
“Katanya pernikahan dilaksanakan bulan ini.”
“Bulan ini, apa itu tidak terlalu cepat?” tanya Ceyda.
“Aku tidak tahu bibi, aku masih merasa belum siap menerima hal itu.”
Untuk sesaat keheningan terjadi, keenam karyawan Shazia menatap syok padanya.
“Kenapa kalian masih menatap syok padaku? Sekarang kembalilah ke pekerjaan kalian masing-masing, kenapa kalian masih di sini? Aku kan sudah menjelaskan semuanya pada kalian.”
“Ya, bos besar, bos cerewet, kami akan menuruti perintahmu,” balas Aynur dengan nada mengejek.
...****************...
Hari ini Erhan kembali mengunjungi putrinya, ia memencet bel restoran dan setelahnya melihat jam di tangannya.
“Sudah pukul 10.00 malam, semoga putriku masih bangun.”
__ADS_1
Tak lama pintu terbuka, menampilkan sosok Shazia yang telah mengenakan baju piama dengan mata sayu dan rambut acak-acak kan.
“Shazia, ada apa denganmu, kau kelelahan?”
“Ayah, sejak kemarin aku tak bisa tidur, jadinya seperti ini. Ayo, ayah masuklah,” ajak Shazia.
Keduanya pun duduk di salah satu meja, di mana setelahnya Shazia menyeduh teh untuk sang ayah.
“Ini teh untukmu ayah,” ucap Shazia sembari duduk di sebelah sang ayah.
“Terima kasih putriku,” balas Erhan sambil menyeruput teh yang dihidangkan.
“Shazia bagaimana dengan perjodohannya? Apa keputusanmu untuk itu, kau menolaknya kan?”
“Aku, aku menerimanya ayah.”
“Apa, kenapa?”
“Ya, itu hal yang bagus jadi aku menerimanya,” balas Shazia berdalih.
Erhan menghela nafas panjang, “Shazia, kau itu putri ayah. Ayah tahu semua sifat dan perilakumu, kau tidak akan mau mendengar atau menerima sesuatu yang dipaksakan untukmu, lalu sekarang dengan mudahnya kau menerima perjodohan itu? Jangan berbohong Shazia.”
“Ayah, masalahnya aku tidak bisa menolak perjodohan ini, dan lagi pula jika aku menikah dengan orang itu ada banyak hal yang akan menguntungkan bagi kita berdua ayah, usaha ayah tidak akan bangkrut lagi dan keinginan ayah pun juga tercapai.”
“Shazia, benar jika ayah berharap kau segera menikah, tapi tidak dengan cara yang seperti ini. Ayah ingin kau bertemu dengan orang yang benar-benar mencintaimu dan hidup bahagia.”
“Siapa yang bilang aku tak bahagia ayah, akan ada Zihan di sampingku dan dia akan jadi putraku setelah pernikahan ini.”
Mata Erhan melebar, “Jadi Zihan, dia anak keluarga Savas?”
“Ya, ayah, awalnya aku juga terkejut mengetahui hal itu, jika bukan karena anak itu sungguh aku akan berusaha mati-matian untuk menolak perjodohan ini,”
“Dan lagi pula ayahnya Zihan dia orang yang baik, aku yakin bahwa semuanya baik-baik saja, dan aku juga akan bahagia,” ucap Shazia lagi.
“Kau begitu menyayangi Zihan Shazia?”
“Ya, ayah, aku sangat menyayanginya, padahal tidak ada hubungan darah di antara kami, tapi aku sangat menyayanginya seperti putra kandungku sendiri,” balas Shazia dengan senyum yang timbul di wajahnya.
Erhan menatap lekat putrinya yang tampak bahagia ketika mengingat tentang Zihan, tetapi perlahan mata itu berubah sendu menatap putrinya.
“Ayah, kenapa kau diam, ada apa denganmu?”
“Tidak, Shazia, ayah hanya berharap kau bahagia. Dengar putriku karna kau yang memilih keputusan ini ayah tidak dapat berbuat apa-apa, ayah akan memberimu restu untuk pernikahan kalian berdua.”
“Ayah tahu siapa orangnya?”
“Ya, ayah tahu putra tuan Derya, saat dulu ayah secara bertahap membayar utang, beberapa kali ayah bertemu dengannya. Dia orang yang sopan dan baik. Ya, walaupun sekarang ayah tidak tahu dia seperti apa,”
__ADS_1
Shazia tersenyum, “Terima kasih ayah mau mendukung keputusanku.”