
Shazia dan Taran juga Ece dan Zihan terlihat memasuki gedung tempat di mana pesta diadakan. Shazia takjub kala melihat dekorsi pesta yang sangat memanjakan mata, hal itu membuat rasa gugupnya sedikit berkurang.
Akan tetapi orang-orang yang menatap mereka tentu saja membuat rasa gugup dan gelisah Shazia semakin meningkat. Ia mempererat pegangannya di lengan sang suami, dan memasang senyum di wajahnya.
Ayo Shazia kau pasti bisa, jangan mempermalukan keluarga Savas. Shazia
Dengan kaki yang bergetar Shazia melangkah menyesuaikan dirinya dengan Taran.
“Baru kali ini aku melihat menantu dari keluarga Savas, aku tak menyangka dia bisa secantik itu, padahal aku mendengar rumor kalau menantu keluarga Savas itu biasa saja dan tak punya tata krama,” bisik seorang tamu.
“Tapi jika membandingkannya dengan Kadriye wanita itu tak ada apa-apanya. Dan lagi keluarga itu sangat berantakan, bagaimana dia baru menikah setelah anak mereka sebesar itu,” ucap tamu lainnya.
“Oh, jadi wanita itu Ibu kandung putranya?”
“Dari gosip yang terdengar memang seperti itu, kemungkinan wanita itu baru pulang ke negeri ini setelah lama di luar negeri.”
“Ya, aku ingat tuan Taran itu kan pernah berkata di salah satu wawancaranya, jika ibu kandung Zihan ada di luar negeri. Sungguh bisa-bisanya mereka baru menikah sekarang setelah putranya sebesar itu.”
“Dan katanya menantu keluarga Savas itu hanya wanita pemilik restoran kecil. Aku bingung bagaimana wanita seperti itu bisa mendapatkan pria seperti tuan Savas.”
“Jika tidak dengan kekuasaan tentu saja menjual dirinya sendiri,” balas seorang Tamu dengan diiringi tawa.
“Kasihan sekali keluarga Savas, mendapatkan menantu yang seperti itu. Andai saja tuan Taran menikah dengan Kadriye, pasti mereka menjadi pasangan yang sangat serasi dan dipuja banyak orang.”
“Benar sekali seorang Ceo tampan dan artis cantik terkenal, itu akan sangat sempurna.”
“Hei, bukankah Kadriye juga ada di pesta ini, aku penasaran bagaimana reaksinya melihat tuan Taran dan istrinya.”
“Ya, benar, itu akan menjadi pertunjukan yang seru untuk ditonton.”
Bisikan kecil yang samar-samar di dengar Shazia tentu saja membuat perasaan sedikit sakit mendengarnya.
Aku tak peduli kalian ingin berbicara apa tentangku, aku tak akan goyah hanya karena cibiran kalian. Shazia
__ADS_1
Melihat Taran dan keluarganya datang, Iskander dan istrinya yang berdiri di tengah kerumunan itu pun datang menghampiri.
“Selamat datang keluarga Savas, saya senang anda dapat hadir di pesta kecil yang kami adakan ini bersama keluarga Anda,” ucap Iskander sembari mengangkat lengannya.
Kecil katanya? Pesta sebesar ini di sebut kecil, jadi ini yang di sebut merendah untuk meroket? Shazia.
“Justru kamilah yang harusnya berterima kasih pada kalian, karena telah mengundang kami ke pesta ini. Dan selamat untuk ulang tahun pernikahan kalian, tuan Iskander,” balas Taran sembari menerima jabatan tangan Iskander dan Istrinya.
“Nyonya Shazia, Anda bertambah cantik, ya, sekarang.” Puji istri Iskander.
Shazia tertawa kecil, “Tapi tetap saja tak bisa mengalahkan kecantikan Anda, nyonya Iskander.”
Istri Iskander ikut tertawa, “Nyonya Savas, Anda selalu pandai bicara, ya. Dan siapa gadis cantik di samping Zihan ini?” tanya wanita itu sembari mencubit pipi Ece.
“Salam kenal bibi aku Ece, anak dari salah satu karyawan yang bekerja di restoran bibi Shazia,” balas Ece.
“Oh, benarkah, kalau begitu salam kenal gadis manis, namaku Gulbahar.” balas Istri Iskander.
“Nama bibi cantik sekali, ya, persis seperti wajah bibi.”
“Ayo Zihan, Ece, dari pada kalian hanya berdiri di sini, lebih baik kalian bermain bersama Mustafa, dia pasti senang jika teman-temannya bertambah.”
Gulbahar kemudian memanggil putranya untuk datang mendekat.
“Iya, Bu, ada apa?” tanya sang anak.
“Ayo, ajaklah Zihan dan Ece bermain, kau kan satu sekolah dengan Zihan.”
Mustafa mengangguk, meski kelasnya bersebelahan dengan Zihan tetap saja Mustafa tak mengenal Zihan dan hanya mengetahui namanya saja, tetapi anak itu tetap mengajak Zihan dan Ece berbicara.
“Ayo, kalian akan bosan jika hanya mendengar pembicaraan orang dewasa, lebih baik kalian ikut bersamaku dan bermain bersama,” ajak Mustafa.
Dengan lengkah berat Zihan mengikuti dari belakang, sangat berbeda dengan Ece yang terlihat bersemangat.
__ADS_1
“Karena acara masih belum dimulai, ayo duduklah dulu tuan Savas, Nyonya Savas,” ucap Iskander.
Shazia dan Taran pun di arahkan ke meja yang telah di beri nama keluarga Savas.
“Terima kasih Nyonya Iskander,” ucap Shazia.
Gulbahar mengangguk. “Baiklah kalau begitu, tuan Savas, nyonya Savas kami permisi untuk menyambut tamu lainnya.”
Taran mengangguk.
Setelahnya Iskander dan Istrinya datang menyapa beberapa tamu, dan kemudian memulai pestanya, Zihan dan Ece juga terlihat kembali dan duduk bersama Shazia dan Taran.
Pesta tersebut di buka dengan sambutan langsung dari sang empunya pesta, lalu dilanjutkan dengan pesta potong kue dan barulah dihadirkan tarian juga nyanyian dari artis terkenal.
Bersamaan dengan itu para tamu dihidangkan berbagai macam makanan, mulai dari makanan pembuka hingga penutup lengkap disajikan di atas meja masing-masing.
Sungguh pesta yang meriah bagi Shazia, ia dapat melihat beberapa artis terkenal secara langsung di pesta terebut secara gratis tanpa perlu mengeluarkan uang untuk membeli tiket, apa lagi makanan yang dihidangkan untuk para tamu juga benar-benar enak dan lezat.
Saat Shazia tengah menikmati makanannya, Mc memberitahukan siapa yang akan bernyanyi selanjutnya.
“Baiklah, sekarang kita akan melihat penampilan dari artis cantik yang sangat-sangat dinantikan oleh banyak orang, Kadriye!”
Mata Shazia melebar mendengar hal itu, ia merasa tertarik untuk melihat seperti apa sosok Kadriye.
Tak lama naiklah seorang wanita bertubuh sintal dengan rambut terurai mengenakan pakaian minim, memang benar apa yang dikatakan orang-orang, Kadriye yang dilihat secara langsung memang sangat cantik.
Matanya yang berwarna hijau itu menatap lembut orang-orang di depannya, hidungnya mancung, rambutnya lurus panjang, dan suaranya yang begitu halus benar-benar menyihir orang yang mendengarkannya.
Kadriye bernyanyi dengan begitu merdu, suara yang begitu jernih dan halus benar-benar membuat orang yang mendengarkannya terbawa suasana. Pantaslah jika ia menjadi artis terkenal di negeri ini, wanita yang ahli dalam drama, model, juga penyanyi, siapa yang tidak akan takjub?
Kadriye yang sesempurna itu kenapa Taran malah menolaknya? Dibandingkan dengan diriku yang hanya wanita biasa ini, aku benar-benar tidak ada apa-apanya di banding dia. Shazia.
Saat selesai bernyanyi Kadriye yang turun dari panggung terlihat datang menghampiri meja keluarga Savas.
__ADS_1
“Taran, apa kabar?”