
Di kamarnya, Shazia terlihat tengah menyuapkan bubur untuk sang suami. Kali ini ia memutuskan untuk tidak membuka restoran dan fokus merawat Taran.
“Ayo, Taran, buka mulutmu dan makanlah buburnya.”
“Tidak perlu menyuapku Shazia. Biar aku yang memakannya sendiri,” balas Taran sambil menyandarkan tubuhnya.
“Tidak, aku yang akan menyuapmu.”
“Aku ingin kau cepat sembuh, apa kau lupa apa yang dikatakan dokter padamu.”
“Kau harus banyak istirahat!” peringat Shazia.
Taran tak membalas dan pasrah saja Shazia menyuapinya.
“Kau tidak pergi ke restoran?”
“Zihan dan Ece bagaimana dengan mereka?”
“Bagaimana aku bisa pergi jika kau sedang sakit begini.”
“Mereka berdua sudah diantarkan oleh paman sopir begitu juga dengan saat pulang nanti, mereka mudah mengerti keadaan kita. Jadi jangan khawatirkan tentang Zihan dan Ece.”
Untuk sesaat keheningan menguasai ruangan tersebut, hanya suara denting sendok yang terdengar memecah keheningan.
“Kenapa kau begitu peduliku padaku?” tanya Taran tiba-tiba.
“Kau masih bertanya kenapa? Tentu saja karna kau suamiku, suami dan istri itu harus saling membantu dan menguatkan, bukan?”
Taran kembali terdiam, apa yang dikatakan oleh Shazia benar, itu adalah tindakan wajar, tapi hanya ialah yang merasa asing akan itu.
Tangannya secara perlahan bergerak menyentuh pipi Shazia, dan untuk pertama kalinya Shazia dapat melihat seulas senyum terukir di wajah suaminya itu.
Karnanya Shazia juga ikut tersenyum, ia memegang lengan Taran yang menyentuh pipinya.
“Nah, sekali-kali tersenyumlah seperti itu, kau jadi semakin terlihat tampan.”
“Jadi kau mengakui jika aku tampan?”
Shazia tertawa, “Apa kau tidak menyadarinya, kau itu tampan seperti putra kita.”
**
Di luar kediaman Savas, seorang wanita tampak mencari-cari alamat di sekitarnya, tak lain dan tak bukan ialah Aynur yang ingin berkunjung menemui Shazia.
Kala Aynur melihat rumah kediaman Savas, ia tertegun. Ia tahu jika Taran adalah orang kaya, tapi Aynur tidak menyangka rumahnya akan sebesar ini.
Masih dengan rasa tak percaya Aynur mulai melangkahkan kakinya menuju gerbang. Satpam yang melihat Aynur segera datang menghampiri.
“Paman apa ini benar alamat nomor 15, rumah keluarga Savas?”
__ADS_1
Satpam tersebut mengangguk, “Benar Nona, Anda ingin mencari siapa?”
“Aku Aynur paman, ingin mencari Shazia Altair.”
“Oh, Anda temannya Nyonya Shazia, mari silakan masuk,” ucap satpam tersebut sembari membuka pintu gerbang.
“Tapi paman, kau tidak memastikan dulu siapa aku dan menerimaku masuk begitu saja?”
“Tidak papa Nona, karna nyonya Shazia sudah berpesan agar memperbolehkan masuk jika hari ini ada seorang wanita bernama Aynur datang.”
“Oh, begitu, ya, kalau begitu terima kasih paman.”
Satpam terebut mengangguk, dan mengantarkan Aynur masuk ke rumah Savas. Untungnya ketika masuk, Aynur langsung bertemu Shazia yang tengah duduk di ruang tengah.
“Sekali lagi terima kasih paman,” ucap Aynur lagi saat satpam tersebut kembali ke tempatnya.
Wanita itu kemudian datang menghampiri Shazia sembari melihat ke sekelilingnya, ia takjub akan isi rumah keluarga Savas yang mewah itu.
“Shazia kau benar-benar beruntung dapat menikah dengan tuan Taran.”
Shazia tersenyum, “Ya, seperti yang dulu kau harapkan, ternyata Allah mengabulkannya.”
“Ha, ha, ya kau benar.”
Aynur pun langsung duduk di samping Shazia.
“Jadi Aynur kenapa kau ingin bertemu denganku?”
“Ada apa dengan bibi Ceyda?”
“Dia meneleponku tadi pagi, katanya lusa ia akan kembali ke ibukota, ia menyuruhku menyampaikan permintaan maaf karna menitipkan Ece terlalu lama.”
“Bibi Ceyda kenapa seolah berbicara dengan orang asing saja, aku tidak masalah dia menitipkan Ece padaku berapa lama pun. Lalu kenapa dia tidak meneleponku langsung?”
“Bagaimana dia bisa menelepon jika jaringan di desanya saja sangat buruk, saat dia meneleponku pun sambungannya terputus-putus.”
“Oh, jadi itu sebabnya bibi Ece tak ada kabarnya sama sekali.”
“Baiklah aku mengerti.”
“Dan Shazia kau tidak ingin menyajikan tamumu ini teh?”
“Ha, ha, maafkan aku Aynur, aku hampir lupa, tunggu sebentar, ya,” balas Shazia sembari beranjak dari duduknya.
Tak lama Shazia membawa teh dan camilan untuk Aynur dan dirinya.
“Ini teh untukmu Aynur.” Shazia menyodorkan teh di nampan pada Aynur.
“Terima kasih Shazia, ngomong-ngomong sampai kapan restoran akan tutup, dan kau tidak akan memotong gaji kami kan?”
__ADS_1
“Aku juga belum tahu, kalau Taran sudah pulih baru aku akan membuka restoran, dan tentu saja aku tidak akan memotong gaji kalian.”
“Ya, aku hanya sekedar memastikan, kalau-kalau kau akan memotong gaji kami karna hari libur dadakan ini. Oh, iya, tadi aku ada membeli benang rajut, menurutmu warnanya bagus tidak jika dibuat untuk sweter?” tanya Aynur sembari menunjukkan benang rajut berwarna lilac dan putih.
“Ya, ini bagus, jangan lupa tunjukan padaku jika sudah jadi nanti,” balas Shazia sembari menatap lekat benang wol tersebut.
Lagi-lagi Shazia merasa pusing kala melihat benang wol itu, otaknya langsung memutar memori saat Shazia tengah merajut pakaian sembari duduk di jendela kamar miliknya dulu.
“Shazia ada apa denganmu? Apa yang terjadi?”
“Aynur aku tidak tahu, tiba-tiba aku merasa pusing.”
“Kenapa? Apa tekanan darah atau kolesterolmu naik?”
“Tidak Aynur, Entahlah, sejak aku terjatuh dari tangga kepalaku mudah sekali merasa pusing apalagi saat melihat benda-benda tertentu.”
“Jika kau sakit Shazia, kenapa kau tidak istirahat, aku akan pulang kalau begitu.”
“Tidak tunggu, Aynur. Aku tidak papa, rasa pusingnya hanya sesaat jadi ayo kita bicara lagi.”
“Benarkah, kau benar-benar tidak papa.”
“Ya, aku tidak papa.”
***
Bulan berlalu, tak terasa sudah setahun lamanya Shazia dan Taran menikah. Selama itu pula hubungan antara keduanya tak berubah sama sekali, masih tetap sama.
Hari itu Shazia dan Zihan tampak sibuk di dapur, ya, karna di hari itu adalah hari yang spesial bagi Taran, usianya akan bertambah satu.
Sehingga untuk merayakannya Ibu dan anak itu ingin membuat kejutan dan kue ulang tahun sendiri untuk Taran.
“Mama, tahu ini adalah kali pertamanya aku buatkan kejutan untuk papa.”
“Setiap ulang tahun papa, tidak ada yang terjadi sama sekali, hari berjalan seperti biasa dan papa selalu acuh meski tahu hari itu hari ulang tahunnya.”
“Benarkah?”
“Ya, tapi aku berharap papa akan senang dengan kejutan yang kita berikan ini.”
“Ya, semoga papa senang dengan kejutannya, ya.” Balas Shazia.
Setelah kue yang dipanggang masak, Shazia dan Zihan menghiasinya sedemikian rupa, dan menyiapkan meja khusus untuk kue tersebut. Bukan hanya itu, kedua ibu dan anak itu juga menghias ruang tengah untuk Taran.
“Mama menurut mama apa papa akan senang?”
“Ya, tentu saja papa akan senang.”
“Tapi sayang sekali kakek dan nenek malah pergi ke luar kota kali ini, jadinya kita kurang lengkap.”
__ADS_1
“Tidak papa, Zihan kau lihat di sini ada bibi Banou, paman Berkant dan yang lainnya, kenapa harus sedih, kakek dan nenek juga butuh liburankan, nanti jika mereka datang Zihan tinggal menceritakan saja apa yang terjadi sepeninggal kakek dan nenek.”
Zihan tersenyum, “ Iya, mama benar.”