Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 41 - Penjelasan


__ADS_3

Selesai makan malam di salah satu restoran terdekat, Shazia dan Zihan pun berniat untuk pulang.


“Ma, hari ini aku sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama kalian.”


Shazia yang menggenggam erat lengan Zihan itu pun tersenyum ke arah putranya.


“Benarkah?”


“Ya, mama, aku sangat-sangat senang, ha, ha.”


“Kalau Zihan senang, mama juga senang.”


Perlahan terlihat wajah mengantuk Zihan, anak laki-laki itu tak lagi memperhatikan langkahnya.


“Zihan kau mengantuk? Ayo, mama akan menggendongmu.”


Saat tangan Shazia ingin meraih tubuh Zihan, Taran mencegat.


“Biar aku saja yang menggendong Zihan,” ucap Taran yang langsung menggendong putranya itu.


“Jika kau menggendongnya kakimu itu akan semakin sakit,” ucap Taran lagi.


Shazia terdiam, ia tak membalas perkataan Taran dan melanjutkan langkahnya mengikuti sang suami dari belakang.


Aku tidak ingin berada di dekatnya, setiap kali melihat wajahnya aku selalu teringat akan kejadian itu. Shazia.


Saat Zihan tertidur di gendongan sang Ayah, Shazia merasa suasana antara dirinya dan Taran semakin canggung, keduanya sama sekali tak banyak bercakap dan hanya fokus menatap jalanan.


Tapi tiba-tiba seorang anak laki-laki yang membawa kotak di tangannya berlari kencang menerobos kerumunan, akibatnya anak yang tak melihat sekitarnya itu tanpa sengaja menginjak kaki Shazia yang terluka.


“Maaf, Bibi, aku benar-benar tidak sengaja,” ucap anak itu yang kemudian kembali berlari.


Shazia meringis merasakan sakit di kakinya, “Aduh sakit sekali, kenapa anak itu harus menginjak kakiku yang terluka.”


Melihat sang istri yang meringis menahan sakit membuat Taran datang menghampiri, Shazia yang sadar akan itu langsung kembali berjalan tanpa memedulikan rasa sakitnya.


Taran sadar akan Shazia yang mulai menjaga jarak darinya, tapi ia tidak tahu alasan istrinya seperti itu.


“Bagaimana dengan kakimu masih sakit?”


“Ya, baik-baik saja,” kilah Shazia.


...****************...


Sesampainya di rumah Taran langsung merebahkan putranya di kamar, seperti sosok ayah pada umumnya Taran melepas sepatu dan menyelimuti putranya itu.


Di kamar, Taran mendapati Shazia tengah berada di kamar mandi, karna memiliki tujuan yang sama pria itu pun terpaksa menunggu, ia duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


Tak beberapa lama terlihat Shazia telah berganti dengan baju piama, wanita itu tak memperhatikan Taran dan sibuk memperhatikan langkah kakinya.

__ADS_1


“Kau ingin mengganti perbannya?” tanya Taran.


Shazia mendongak ke arah sang suami lalu mengangguk. “Ya, perbannya basah saat kubawa mandi.”


Wanita itu kemudian berjalan ke dekat almari, dan duduk di lantai, ia mengambil kotak obat dan mulai mengganti perbannya sendiri.


Taran yang melihat itu perlahan mendekati Shazia, ia ikut duduk di hadapan Shazia dan berniat untuk membatu istrinya mengganti perban.


Melihat lengan Taran hendak menyentuh perban di kakinya, Shazia segera menepisnya.


“Tidak perlu membantuku aku bisa menggantinya sendiri, kau fokus saja pada pekerjaanmu sendiri, Tuan.”


Taran tak membalas ia tetap mengganti perban di kaki Shazia, walau wanita itu mengoceh padanya.


“Tuan, apa kau tuli, aku bisa menggantinya sendiri tanpa perlu bantuanmu.”


“Diamlah jika kau tidak ingin kubawa ke dokter,” balas Taran yang fokus melilit perban.


Shazia pada akhirnya diam, saat Taran selesai mengganti perban dan memlester kakinya, Shazia buru-buru berdiri meninggalkan Taran.


Pria itu kemudian menyusun kotak obat dan mengembalikannya ke almari, Taran lalu berjalan mendekati Shazia yang berniat untuk tidur setelah mengambil selimut dari lemari.


Merasa jalannya dihadang oleh sang suami, Shazia pun protes, “Minggirlah Tuan, kau tidak bisa minggir?”


Taran tak menjawab, ia menatap lekat Shazia sembari langkah itu semakin mendekat ke arah sang istri.


Pada akhirnya Shazia semakin menempel ke dinding, ia tak dapat mundur lebih jauh ke belakang.


“Kau sudah tidak waras Tuan? Aku ingin lewat dan kau membuatku menempel di dinding seperti cecak begini? Minggirlah tuan!”


“Aku sungguh sangat waras, sampai aku dapat menyadari perubahan sikapmu Shazia.”


“Apa maksudmu, aku tidak berubah sama sekali, itu hanya prasangkamu saja,” bantah Shazia.


“Aku tidak berpikir jika itu hanya prasangkaku.”


“Sekarang aku bertanya padamu, saat kau mengantarkan berkas ke kantorku, apa kau melihatku berpelukan dengan wanita lain?”


“Tidak, aku sudah mengatakannya pada resepsionis kan jika aku ada keperluan lain,” balas Shazia yang melengos pergi.


“Wajahmu itu terlihat jelas tengah berbohong, katakan padaku yang sebenarnya.”


Shazia menghentikan langkahnya ia menatap kesal ke arah Taran. “Aku tidak berbohong!”


Taran kembali mendekati Shazia, “Kenapa kau selalu keras kepala Shazia?”


“Jika kau tidak berbohong, kenapa kau menjaga jarak dariku sejak hari itu? Jelaskan padaku alasanmu menjaga jarak?”


“Tidak ada yang perlu di jelaskan, Tuan. Aku hanya tidak ingin kau memberi perhatian lebih padaku,”

__ADS_1


“Aku tidak merasa itu perhatian yang berlebihan, wajar untuk saling membantu di antara kita.”


“Ya, sudah, kalau begitu aku ingin tidur.”


Shazia kembali melanjutkan langkahnya, tapi Taran langsung memegang erat lengan Shazia dan menarik wanita itu agar berbalik ke arahnya.


“Apa lagi yang ingin tuan dengar dariku?” teriak Shazia.


“Kebenaran, aku ingin kebenaran.”


“Baiklah, aku akan mengatakan kebenarannya. Aku memang melihatmu berpelukan dengan wanita lain. Aku memang melihatmu bersenang-senang dengan selingkuhanmu itu! Dengar Tuan, aku tahu jika kita memang menikah tanpa mencintai satu sama lain, tapi tolong hargai pernikahan ini,”


“Kalau memang Tuan memiliki seseorang yang dicintai di luaran sana, maka ceraikan dulu aku, Tuan. Aku tidak ingin tetap bertahan di pernikahan yang hanya membuat satu orang menderita sedangkan satu orangnya lagi bersenang-senang di luaran sana.”


Wajah penuh emosi Shazia sungguh berbeda dengan Taran yang masih memasang wajah datar.


“Dua hal yang tidak kusukai darimu adalah sifat keras kepala dan menyimpulkan semuanya sendiri, tanpa bertanya benar atau salahnya di mana.”


“Memangnya apa yang salah? Berpelukan mesra dengan seorang wanita di kantor, siapa saja pasti akan salah paham dengan itu. Bahkan jika aku langsung bertanya adakah seorang tukang selingkuh langsung mengakui perbuatannya?”


“Setelah semua itu tentu saja aku akan menyimpulkan semuanya sendiri,”


“Kau sudah selesai bicara?”


“Ya, aku sudah selesai, aku ingin tidur sekarang!”


Saat Shazia ingin berbalik Taran kembali menahannya, “Apa lagi yang Tuan inginkan aku sudah menjelaskan semuanya padamu!”


“Aku ingin kau mendengar penjelasanku, sekarang duduklah bersamaku.”


Taran menarik lengan Shazia agar duduk di sofa bersamanya, walau kesal Shazia hanya bisa mengikuti, karna menolak pun pasti Taran akan tetap memaksa Shazia mendengarkan penjelasan.


“Baiklah sekarang apa yang ingin kau jelaskan padaku?” tanya Shazia dengan wajah sinis.


“Wanita itu namanya Kadriye, dulunya dia adalah Brand ambasador di perusahaanku.”


“Ya, aku sudah hal itu, pada intinya saja sekarang.”


“Oh, jadi kau menggali informasi tentangnya?”


“Itu tidak penting, kau lanjutan saja penjelasanmu,” balas Shazia ketus.


Eh kenapa juga dia harus bertanya hal itu, aku kan juga tidak sengaja tahu tentang siapa wanita itu. Shazia.


“Kadriye dia orang yang memiliki obsesi padaku,”


“Oh, jadi maksudmu kau itu orang yang terkenal dan tampan jadi wajar banyak orang yang menyukaimu begitu?”


“Shazia bisakah kau mendengar penjelasanku tanpa menyela sedikit pun.”

__ADS_1


__ADS_2