Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 43 - Foto


__ADS_3

Selesai mandi, Shazia pergi ke lantai bawah, seperti biasa ia akan menyibukkan diri di dapur untuk memasak sarapan lalu setelahnya makan bersama.


Sama seperti hari-hari biasanya, kali ini pun Taran melewatkan sarapan, tapi Shazia tak mempermasalahkan hal itu, ia sudah senang bisa makan bersama anak dan mertuanya.


Setelahnya wanita itu mengantarkan sendiri sang anak untuk pergi sekolah lalu berangkat ke restorannya. Sedangkan Derya dan Defne keduanya bersantai di rumah.


Sesampainya di restoran Shazia mendapati semua karyawan telah datang dan mulai bekerja, tak ingin kalah Shazia juga segera memulai pekerjaan hariannya.


Melayani dan menyajikan adalah pekerjaan Shazia, dengan wajah riang menyambut pelanggan yang datang.


Waktu terus bergulir, hari hampir menjelang malam, dan restoran Shazia baru saja tutup.


“Huh, Shazia hari ini sangat melelahkan ya, banyak sekali pelanggan yang berdatangan.”


“Kau benar Aynur, tapi itu bagus, keuntungan kita akan semakin meningkat bulan ini.”


“Ya, jangan lupa memberikan bonus untuk kami,” balas Aynur yang tak sedikit pun menoleh dari ponselnya.


“Mama aku sudah selesai mandi, ayo kita pulang,” ajak Zihan sembari menuruni anak tangga perlahan.


Shazia dan Aynur pun menoleh ke arah Zihan secara bersamaan, melihat penampilan Zihan tentu mengundang gelak tawa Aynur.


“Astaga, Zihan kenapa kau mau saja memakai pakaian jadul seperti itu?”


“Shazia bisa-bisa kau kembali membuatnya seperti itu, ha, ha,”


“Bibi kau selalu saja menertawakanku, lagi pula ini bagus,” protes Zihan.


“Apanya yang bagus melihatmu seperti itu membuat bibi mengingat mas kecil bibi, ha, ha.”


“Bibi kau jahat sekali, aku kesal padamu,” balas Zihan sembari memalingkan wajahnya dari Aynur.


Gelak tawa Aynur semakin menjadi kala mendengar jawaban Zihan.


“Tidak papa, putra mama tetap tampan walau seperti apa pun pakaiannya,” ucap Shazia sembari merapikan pakaian putranya.


“Mau bagaimana lagi, mama lupa membawa pakaianmu dari rumah,”


“Tidak papa Mama, lagi pula bajunya nyaman untuk di bawa tidur.”


Shazia tersenyum mendengar jawaban Zihan, betapa putranya itu selalu berusaha mengikuti dan menyukai apa pun yang Shazia lakukan untuknya.


“Ayo mama sekarang kita pulang, aku ingin mengerjakan PR di rumah.”


“Ya, ayo kita pulang,” balas Shazia sembari memasang tas selempangnya.


“Hei, kalian ingin pulang begitu saja dan meninggalkanku di sini begitu, tunggu aku!” teriak Aynur yang segera membereskan barangnya.

__ADS_1


“Ayo bibi cepat, mama akan mengunci pintunya.”


“Heh, Kalian awas saja, ya.”


Aynur segera berlari ke luar.


“Kalian berdua sengaja bersekongkol ingin menjebakku, ya?”


Shazia dan Zihan tertawa.


“Siapa suruh kau sangat terlambat,” balas Shazia sembari mengunci pintu restoran.


“Kalau begitu sebagai gantinya kalian harus mengantarku pulang,”


“Ya, ya, baiklah, kami akan mengantarkanmu pulang.”


Shazia pun menaiki motornya di mana Aynur duduk di belakang dan Zihan duduk di depan.


“Mama, kau bisa membawa kami kan?” tanya Zihan yang merasa motor sang ibu sempit.


“Tentu saja bisa, Zihan tenang saja, padanglah ke depan, Zihan pasti akan suka.”


Ketiganya pun mulai menembus hiruk pikuk perkotaan dengan kecepatan sedang, angin yang bertiup kencang seolah menambah kesan khasnya malam itu.


“Shazia berhenti!”


Mendengar teriakan Aynur sontak membuat Shazia menghentikan kendaraannya. “Ada apa Aynur, apa ada masalah?”


“Aynur kau ini, aku pikir ada masalah.”


“He, he, maafkan aku Shazia, tampaknya sangat enak memakan Waffle di suasana yang seperti ini.”


Walau agak kesal, Shazia menyetujuinya, “Baiklah, ayo, lain kali jangan berteriak seperti itu lagi, itu mengejutkanku Aynur.”


“Ya, ya aku minta maaf.”


Shazia pun memarkirkan motornya di pinggir jalan, ketiganya lalu membeli Waffle dan memakannya di sana sembari menatap pemandangan.


“Suasana malam memang sangat indah, ya. Apalagi melihat pemandangan dari tepi sungai seperti ini, sungguh sangat menenangkan perasaan,” ucap Aynur sembari memakan Waffle.


“Bibi benar, ini menyenangkan sekali.”


“Ya, Aynur bersantai seperti ini memang menyenangkan.”


Shazia lalu menatap putranya, ia tersenyum kala melihat Zihan ikut tersenyum.


...****************...

__ADS_1


Tepat pukul 08.00 malam, Shazia dan Zihan baru pulang, saat memasuki rumah keduanya di sambut oleh Defne yang tengah bersantai di ruang tengah.


“Tumben kalian pulang terlambat?” tanya Defne sembari menyeruput teh.


“Ya, hari ini kebetulan restoran sedang ramai, ibu mertua.”


“Oh, begitu,”


“Nenek coba lihat penampilanku, baguskan?” tanya Zihan yang datang menghampiri sang nenek.


Defne yang awalnya kurang memperhatikan itu pun menatap sang cucu dadi ujung rambut sampai ujung kaki. Wanita tua itu tertawa melihat penampilan Zihan yang seperti itu.


“Zihan, cucuku. Dari mana kau mendapatkan baju seperti ini?”


“Mama yang memberikannya, nenek tahu ini baju bersejarah, ini adalah baju mama ketika kecil.”


“Ya, karena lupa membawa pakaian Zihan, aku terpaksa menyuruhnya memakai baju masa kecilku dulu,” jelas Shazia sembari berjalan menghampiri keduanya.


“Melihat Zihan memakai baju seperti ini mengingatkanku pada Taran saat kecil, dia sangat mirip dengan ayahnya,” balas Defne dengan wajah haru bercampur kerinduan.


“Zihan, cucuku bisakah nenek memelukmu?”


Zihan mengangguk, ia mendekatkan tubuhnya pada Defne dan memeluk Neneknya itu. Defne memeluk erat Zihan sembari mengusap punggung sang cucu.


“Nenek bisakah kau melepaskan pelukanmu aku sulit bernafas,”


Shazia hampir tak bisa menahan tawa mendengar kata-kata Zihan, tapi ia tetap berusaha terlihat tenang.


“Oh, maafkan nenek, cucuku,” Defne segera melepas pelukannya.


“Tidak papa nenek, aku tahu nenek merindukan masa lalu. Oh, ya Nek, bisakah aku melihat foto papa saat dia masih kecil dulu?”


“Kau ingin melihatnya, kalau begitu duduklah di samping nenek,”


Zihan mengangguk, ia segera duduk di samping Defne, sedangkan wanita itu segera memanggil pelayan untuk mengambil buku album di kamarnya.


“Shazia kau ingin melihatnya juga? Ayo duduklah di sampingku.”


Shazia menuruti ia duduk di samping kiri Defne, dan tak berapa lama pelayan tersebut kembali datang dengan membawa sebuah buku album. Ia segera memberikan itu pada Defne.


Dan benar saja, kala Defne membuka buku album, terdapat foto Taran di masa kecilnya. Dari anak-anak sampai remaja dengan latar yang berbeda.


“Lihatlah Zihan, foto yang ini benar-benar mirip denganmu kan.”


Shazia memperhatikan foto yang ditunjuk Defne, di foto tersebut Taran masih seusia Zihan, ia mengenakan model pakaian yang sama seperti yang dikenakan Zihan sekarang, dengan memegang buku di tangan dan tatapan serius ke kamera.


“Zihan benar-benar mirip dengan ayahnya, ya, ibu mertua.”

__ADS_1


“Ini bukan mirip lagi Shazia, tapi benar-benar tiruannya.”


Zihan terkesima memandang foto sang Ayah, ia tak percaya wajahnya sangat mirip dengan Taran


__ADS_2