Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 67 - Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Kala sore menjelang, Taran yang telah menyelesaikan pekerjaannya itu pun memutuskan untuk pulang. Ia tahu jika hari ini adalah tanggal ulang tahunnya, tapi itu tidak berarti apa-apa bagi pria tersebut.


“Aslan kau tak pulang?”


“Tumben kali ini kau yang bertanya padaku, biasanya aku yang bertanya hal itu padamu.”


“Ya, aku hanya ingin berada di kantor sedikit lama dari pada kembali ke rumah, kali ini ibu benar-benar gigih menjodohkanku dengan seseorang.”


“Kenapa kau tidak menerima saja apa yang diinginkan bibi?”


“Taran aku itu tidak sepertimu yang menikah karna dijodohkan, aku ingin mencari cintaku sendiri.”


“Ya, terserah kau saja.” Taran kembali memasang jasnya dan melangkahkan kakinya keluar dari kantor.


Sesampainya di kediaman Savas, dengan langkah gontainya Taran berjalan memasuki rumah. Ia terkejut kala Shazia dan Zihan meneriakinya ucapan selamat dan menyodorkan kue.


Secara bergantian Taran memandang wajah anak dan istrinya yang tampak senang.


“Ayo papa tiuplah lilinnya.”


Taran tak tahu harus bereaksi seperti apa, sedari kecil ia selalu menganggap hal seperti itu buang-buang waktu dan tak penting, ia tak menyangka Shazia dan Zihan menyiapkannya kejutan.


Wajah dingin yang selalu tanpa ekspresi itu akhirnya meniup lilin setelah terdiam beberapa saat.


Keduanya mengarahkan Taran ke meja ruang tengah, dan menyuruhnya memotong kue yang telah diletakan.


Taran diam saja dan mengikuti arahan Shazia dan Zihan. Ia memotong kue tersebut sama rata, lalu menaruh sepotong kue ke piring.


Tanpa disuruh Taran menyuap sesendok kue ke mulut putranya, Zihan tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, senyum bahagia terukir di wajah anak itu.


“Terima kasih papa!”


Selanjutnya Taran menyuapkan Shazia, itu kali pertamanya Shazia disuap oleh sang suami.


“Papa kue itu dibuat olehku dan mama, apa papa suka?” tanya Zihan kala Taran mulai memakan kuenya.


Taran mengangguk.


Pria itu kemudian menaruh satu-persatu kue ke piring dan membagikannya kepada para pembantu yang ikut menyaksikan.

__ADS_1


“Taran kenapa wajahmu selalu memasang ekspresi seperti itu, ini hari bahagiamu tersenyumlah,” ucap Shazia sembari membuat senyum di wajah Taran dengan tangannya.


“Nah seperti ini kan enak dilihat,” ucap Shazia lagi.


Melihat sisa krim kue, Shazia yang timbul niat jahil itu segera mengambil krim dengan jarinya dan mencoleknya di hidung Taran. Sontak Shazia dan Zihan tertawa melihat hal tersebut.


Tak ingin kalah, Taran melakukan hal yang sama pada Shazia, hingga keduanya pun saling balas membalas, baik wajah Taran maupun Shazia kini dipenuhi krim kue.


Zihan yang menyaksikan kelakuan mama dan papanya tak bisa berhenti tertawa, ia malah mengompor-ngompori agar keduanya saling membalas. Begitu pula dengan para pembantu yang menyaksikan, mereka terhibur dengan apa yang dilakukan tuannya.


“Ayo, Mama, jangan kalah dari Papa, ha, ha!”


“Papa, Ayo balas Mama.”


Hingga ketika Taran mengambil segumpal krim kue dan ingin melemparkannya pada Shazia, dengan cepat Shazia berlari menghindar.


“Ha, ha, ayo kejar aku, kau bisa mengejarku?” ucap Shazia sembari berlari.


Taran mengejar Shazia, karna tak melihat ke depan, Shazia yang terus berlari tak menyadari telah berada di depan kolam renang dan akibatnya Shazia kehilangan keseimbangan, dengan cepat Taran memegang lengan Shazia.


Akan tetapi Taran malah ikut kehilangan keseimbangan dan tercebur bersama ke kolam. Hal itu semakin mengundang gelak tawa Zihan dan para pembantu.


Shazia segera berdiri begitu pula dengan Taran, kini keduanya berdiri di tengah kolam sembari menatap wajah satu sama lain. Tentu saja hal itu membuat Shazia dan Taran yang bertemu pandang saling tersenyum.


Beberapa saat setelah kepulangan Taran, Aslan yang masih mengerjakan pekerjaannya di ruangan Taran pun memutuskan untuk pulang.


Ia sudah sangat siap untuk menghadapi ocehan dari Aergul yang selalu ingin menjodohkannya, pria itu segera membereskan barangnya dan pergi menuju lantai bawah.


Kala Aslan berjalan menuju areal parkir, manik matanya itu tak sengaja menangkap sosok yang sangat dikenalinya.


“Aynur?”


Pria itu menghentikan langkahnya dan berjalan ke seberang, untuk memastikan apakah wanita itu benar-benar Aynur atau bukan.


Dan benar saja kala wanita berambut ikal panjang itu menoleh, senyum Aslan langsung mengembang, ia segera datang menghampiri Aynur.


“Aynur lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?” sapa Aslan.


Aynur memandang sinis Aslan, “Lama tidak bertemu katamu? Kita baru bertemu kemarin Aslan, jika kau ingin mencari obrolan carilah yang masuk akan sedikit.”

__ADS_1


“Ya, memang kita bertemu, tapi hari ini kita baru bertemu sekarang, dan apa yang kau lakukan di sini?”


“Kau tidak melihat apa yang ada di depanku ini, aku sedang menunggu pesanan kumpir.”


“Apa itu kumpir?”


“Kau tidak pernah membelinya? Padahal tempatnya hanya di seberang kantor Savas masa kau tidak pernah membelinya.”


Aslan menggeleng.


“Memang, ya tidak keponakan tidak pamannya sama saja,” keluh Aynur sembari menepuk jidatnya.


“Sekarang begini saja, kau mau juga ingin mencobanya atau tidak, jika tidak pergilah jangan menggangguku.”


Aslan mengangguk, “Ya, aku ingin mencobanya.”


“Paman tolong buat satu kumpir lagi dengan isian yang sama dengan pesanan yang tadi,” pinta Aynur.


“Ya, silakan menunggu.”


Aynur pun mengajak Aslan menepi di dekat pembatas sungai.


“Lihat cuaca sore sangat indah bukan?”


“Ya, seindah wajahmu,” balas Aslan.


Aynur tertawa mendengarnya, “Aslan jangan bercanda. Aku cukup tahu diri seperti apa wajahku ini.”


“Aynur setelah ini ingin pergi ke mana?”


“Niatnya aku ingin pergi mengunjungi Shazia, karna hari ini tuan Taran ulang tahun, jadi aku ingin memberikan hadiah.”


“Oh, iya, hari ini Taran berulang tahun. Kau memberikan apa untuk Taran?” tanya Aslan.


“He, he, karna tuan Taran sudah kaya, jadi aku ingin memberikan hadiahnya pada Shazia saja, lokum kan makanan kesukaannya.”


“Kalau begitu bagaimana jika kita pergi bersama? Kau mau ikut denganku?”


“Kau juga ingin pergi ke sana?”

__ADS_1


“Ya, tapi setelah kita membeli hadiah untuk Taran.”


“Oke, baiklah, aku jadi bisa mengirit uang transportasi karnamu.”


__ADS_2