Jadi Ibu Tiri Anak Ceo

Jadi Ibu Tiri Anak Ceo
Bab 64 - Kebahagiaan keluarga Savas


__ADS_3

Dua hari setelahnya, Taran yang kala itu telah menyelesaikan pekerjaannya di kota A memutuskan untuk kembali pulang hari itu juga.


“Semuanya sudah selesai kan Aslan?”


Aslan mengangguk, “Semuanya urusan sudah kita tangani, bahkan mainan untuk Zihan dan temannya itu pun sudah di beli.”


“Bagusnya, ayo kita pulang.”


“Apa! Aku tidak salah dengar? Ini sudah malam dan sejak pagi aku sama sekali tak melihatmu istirahat.”


“Alangkah lebih baiknya jika kau beristirahat lebih dulu, dan besok baru kita kembali.”


“Aku ingin kembali sekarang, jika kau ingin tinggal lebih lama di kota ini silakan.”


“Kenapa? Apa karena masa lalu burukmu terjadi di kota ini, jadinya kau tidak suka berlama-lama di sini.”


“Entahlah, aku hanya ingin cepat pulang menemui anak dan istriku.”


Taran melanjutkan langkahnya memasuki mobil, tapi Aslan kembali mencegatnya.


“Taran pikirkan kesehatanmu itu, jika kau benar-benar ingin pulang malam ini, ayo kita naik helikopter saja, itu lebih cepat daripada kau menaiki mobil .”


Taran menggeleng, “Aku akan pulang sendiri dengan mobil ini.”


Aslan akhirnya menyerah, ia tidak dapat mengerti jalan pikiran sepupunya yang keras kepala itu.


“Baiklah, kau bisa pulang malam ini, dengan syarat aku yang akan menyetir mobilnya,”


“Aku tidak butuh persetujuanmu untuk pulang Aslan.”


“Tetap saja, walaupun kau tidak butuh bersetujuanku, aku yang akan tetap menyetir mobilnya,” balas Aslan yang mendahului Taran duduk di kursi kemudi.


“Terserah kau saja,” sahut Taran yang kemudian duduk di kursi samping Aslan.


Keduanya pun melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalanan perkotaan, setelah mengambil beberapa barang dari hotel mereka kembali melanjutkan perjalanan ke ibukota.


Keduanya sampai di kediaman Savas tepat pada pukul 5 pagi, Shazia yang kala itu telah berada di dapur untuk memasak sarapan, segera pergi ke luar saat mendengar suara mobil Taran.


Wanita itu tersenyum ketika Taran keluar dari mobilnya. “Selamat datang kembali untukmu Taran.”


“Kakak kau tidak ingin menyapaku, hanya ingin menyapa Taran?”


Shazia tertawa, “Ya, selamat datang juga untukmu, Aslan. Ayo, kita masak sekarang, kalian pasti lelahkan menempuh perjalanan jauh.”


Setelah beberapa pembantu mengeluarkan barang-barang dari mobil, barulah ketiganya masuk ke rumah Savas. Di dalam Shazia mengarahkan Taran dan Aslan untuk duduk di meja makan.


“Sebelum kalian beristirahat, alangkah lebih baiknya kalian mengisi perut terlebih dahulu.”


Taran mengangguk, “Asalkan kau juga ikut makan bersama kami.”

__ADS_1


Jawaban Taran yang seperti itu tentu membuat Shazia bingung, biasanya pria itu selalu menolak jika diajak sarapan bersama, dan tidak mudah mendengarkan perkataan orang lain.


“Tentu saja kita akan makan bersama, karna sebentar lagi anak-anak juga ayah dan ibu mertua akan turun.”


Shazia pergi ke dapur dan kembali membawa troli makanan bersama Banou.


“Untung saja semua masakannya sudah masak, jadinya kita bisa makan lebih awal dari biasanya,” ucap Shazia sembari menyusun makanan ke meja makan.


Begitu pula dengan Banou sementara Shazia menghidangkan menu, ia menyusun alat-alat makan di meja.


“Baiklah Tuan, Nyonya, kalau begitu saya permisi,” ucap Banou sambil mendorong troli yang tadinya di bawa Shazia.


“Ya, terima kasih untuk bantuanmu Banou, kuharap kau menyukai masakan yang kubuat.”


“Ya, Nyonya, aku akan memakannya bersama yang lain, dan seperti biasa masakan Anda selalu enak.”


Shazia tertawa, “Tidak usah memuji seperti itu, aku tidak akan marah jika kalian tidak suka makanannya apa lagi sampai memotong gaji kalian.”


Banou tersenyum lalu mengangguk, “Ya, Nyonya. Jika tidak enak kami akan komplain pada Anda.”


Shazia pun duduk di kursi yang berhadapan dengan Taran, “Ayo, Taran, Aslan, kalian tidak makan?” tanya Shazia yang mulai mengaut masakan ke piringnya.


“Tentu saja aku akan makan, apa kau memasak semua ini sendiri Kakak?”


“Tidak, Aslan, Banou yang membantuku memasak di dapur,”


“Taran kau sudah datang, bagaimana pekerjaanmu di sana, apa baik-baik saja?” tanya Derya.


“Ya, semuanya baik-baik saja, Ayah.”


“Syukurlah kalau begitu, dan Aslan bagaimana kabarmu? Kau sudah lama tidak kemari apa semuanya baik-baik saja di rumah?” tanya Derya lagi pada Aslan.


“Ya, Paman semua baik-baik saja, akhir-akhir ini aku harus mengerjakan banyak perkerjaan karna seseorang makanya tidak bisa berkunjung,” balas Aslan dengan mata melirik ke arah Taran.


“Juga urusan di rumah sedikit memuakkan, ibu selalu saja ingin menjodohkanku dengan seseorang yang tidak aku sukai.”


Begitulah kehidupan dua saudara sepupu itu, bukan hanya Taran yang selalu dipaksa tapi juga Aslan. Walaupun keduanya telah dewasa para orang tua selalu saja ikut campur urusan mereka.


Defne tertawa, “Ternyata Aergul benar-benar gigih memaksakan kehendaknya.”


“Ya, begitulah ibu, sejak kembali dari luar negeri, ia semakin menjadi-menjadi, bahkan selalu ingin tahu apa yang kulakukan.”


Bibi Aergul itu benar-benar, ya. Dia ingin semua orang ada bawah kendalinya, kasihan sekali Aslan harus menghadapi ibu super cerewet dan protektif seperti bibi Aergul. Shazia.


“Lalu ayahmu dia diam saja?” tanya Derya lagi.


“Seperti yang paman tahu tentang ayah, dia tidak pernah mau ikut campur masalahku dengan ibu, dia hanya duduk tenang jika aku dan ibu beradu argumen.”


“Sejak dulu dia tidak pernah berubah, ya, selalu seperti itu,” komen Defne.

__ADS_1


“Ya itulah Ayah, Bibi,” balas Aslan sembari melanjutkan ritual makannya.


“Papa kau sudah pulang!” Zihan segera menuruni anak tangga dan datang menghampiri sang Ayah.


“Ya, ayah sudah pulang, ada apa?” tanya Taran kala melihat putranya datang menghampiri.


“Bisakah Papa berdiri dari tempat duduk?”


Taran menatap Zihan dan mengikuti saja apa yang diinginkan oleh putranya.


“Lalu apa?”


“Papa, bisakah kau menggendongku?”


Untuk sesaat Taran terdiam, tapi kemudian ia mengangkat Zihan dan menggendongnya.


Zihan tersenyum, ia mencium pipi sang Ayah dan memeluknya. “Terima kasih sudah menepati janjimu papa, aku senang kau kembali.”


Taran terpaku seketika, entah mengapa otaknya mulai memutar kembali memori saat ia menggendong Zihan untuk pertama kalinya, kini perasaannya sama seperti waktu itu.


Taran merasa rasa letihnya seolah hilang begitu saja saat Zihan tersenyum dan memeluknya, bayi kecil yang selalu menangis di pelukannya kini telah besar dengan tawa dan senyum di pelukannya lagi.


Baru kali ini Zihan bertingkah seperti itu padanya, dulu jika Taran pergi ke luar kota berapa lama pun, putranya itu tidak pernah peduli, apalagi jika Taran kembali dengan membawakannya banyak mainan, putranya itu hanya akan mengucapkan terima kasih lalu pergi tanpa terlihat sedikit pun raut senang di wajahnya.


“Ayah juga menyayangimu,” ucap Taran tanpa sadar.


Sedangkan Ece yang selalu di samping Zihan hanya diam menatap Taran menggendong sahabatnya itu.


Apakah sesenang itu rasanya jika punya ayah. Pasti menyenangkan bisa digendong oleh Ayah. Kapan ayah kembali dan memelukku seperti ayahnya Zihan? Aku juga ingin punya sosok ayah sepertinya. Ece.


Tentu saja Taran menyadari tatapan Ece, pria itu tidak tinggal diam, ia tanpa ragu langsung menggendong anak perempuan itu, sehingga kedua tangannya penuh untuk menggendong dua anak kurcaci Shazia.


“Sekarang apa kalian berdua senang?”


Zihan dan Ece tertawa lalu kembali memeluk Taran.


“Sangat senang Papa.”


“Sangat senang paman,” balas keduanya serentak.


Semua anggota keluarga yang ada di meja makan dan menyaksikan hal tersebut juga ikut senang. Senyum bahagia terukir di semua anggota keluarga.


Taran, kau memang bukan orang yang sempurna, tapi kau ayah yang sempurna, kau sangat menyanyangi Zihan melebihi aku. Shazia.


Setelahnya, Taran dengan tangannya langsung memberikan mainan yang ia beli di kota I pada Zihan dan Ece.


“Wah paman aku juga mendapatkan mainan.”


“Ya kalian berdua masing-masing mendapatkan satu.”

__ADS_1


__ADS_2